... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Umat Yang Terinjak Tarian Politik Oligarki

Foto: Presiden Joko Widodo (kanan) berjabat tangan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kiri) saat tiba di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta, Sabtu (13/7/2019). Kedua kontestan dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 lalu ini bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus dan selanjutnya naik MRT dan diakhiri makan siang bersama-sama. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/foc.

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET“Hubungan kami baik, bisa dikatakan kami mesra, bukan begitu, pak?” kata Prabowo, Jumat, 11 Oktober 2019.

“Sangat mesra,” Jokowi menimpali sambil tertawa.

“Banyak yang gak suka mungkin,” ucap Prabowo lagi

Dalam pertemuan empat mata itu, kata Jokowi, keduanya membahas soal koalisi ke depan. “Ini belum final tapi kami bicara banyak mengenai kemungkinan Gerindra masuk ke koalisi kami,” tutur Jokowi.

Demikian pembicaraan dua figur yang sedang mesra. Merenda hubungan politik di atas rakyat yang terlanjur terbelah oleh polarisasi politik. Tentu hal ini mungkin tak bisa dibayangkan sebagian benak masyarakat akar rumput ketika beberapa bulan lalu. Sejak 2014 hingga pertengahan 2019 ini bumi Indonesia terasa panas seperti beberapa senti dari gunung berapi yang hendak meletus.

Dan ketika letusan itu terjadi di aksi protes 22 – 23 Mei 2019, korban berjatuhan. Nyawa menjadi tak ada harganya. Ibu-ibu yang menangisi anak-anaknya. Masyarakat yang terlanjur beranggapan bahwa politik dalam panggung demokrasi di Indonesia adalah soal hidup dan mati, maka nyawa pun menjadi pertaruhan. Retorika-retorika pada masa menjelang dan saat Pilpres dipompa terus-menerus pada masyarakat yang (sudah) terbelah. Hitam dan putih. Pancasila versus anti-Pancasila. Moderat lawan Radikal. Baik lawan jahat.

Maka tak heran jika ada masyarakat kemudian rela mati membela salah satu kandidat. Kondisi diciptakan seakan ini adalah pertarungan hidup mati seperti di arena gladiator atau medan jihad seperti Perang Badar.  Dianggap sebagai satu kebenaran mutlak. Sayangnya semua ini adalah panggung sandiwara politik.

Politisi kita terlalu licin untuk diikat dalam prinsip dan kebenaran. Politik adalah seni memperoleh kekuasaan. Lawan bertukar menjadi kawan dalam sekejap. Cacian menjadi pujian. Oposisi bertukar pakaian menjadi koalisi. Lampu kuning praktek demokrasi di Indonesia diterabas. Politik semakin nyata tanpa oposisi yang berimbang. Koalisi-konsesi dan komunikasi berjalin erat masa-masa ini. Beberapa pihak sudah mengingatkan resiko ini. Manuver Prabowo dan Gerindra menjajaki opsi koalisi berarti akan menjadi jalan tol pemerintahan tanpa oposisi kuat.

BACA JUGA  Pelajaran dari Guru Imam Syafi'i untuk Gus Muwafiq

Pengamat Politik dari LIPI, Siti Zuhro mengatakan gemuknya koalisi berpotensi negara akan dikuasai elit semata. Sistem Presidensial idealnya mengedepankan azas check and balances. Hanya saja, kasak-kusuk berbagi kursi akan menjadi sistem presidensial yang pincang pengawasan. Siti Zuhro mengingatkan hal ini harus menjadi alaram bagi masyarakat sipil untuk mewaspadai kekuasaan, karena ini adalah sinyal menuju oligarki.

Oligarki. Demikian kata tersebut hanya sayup-sayup terdengar ketika pemilu. Umat Islam terlalu riuh dalam politik orang baik melawan orang jahat. Melihat tokoh yang diusungnya adalah jalan keselamatan. Padahal oligarki adalah aktor, bukan sistem. Oligarki menurut Jeffrey Winters dalam Oligarchy and Democracy in Indonesia (2013) menyatakan bahwa “Oligarki bukan merujuk pada sistem kekuasaan oleh aktor tertentu.”

Oligarki adalah proses politik dan pengaturan oleh sekelompok individu kaya yang tidak hanya disokong oleh sumber daya material, tetapi juga terpisahkan dalam perbuatan yang membuat mereka berkonflik dengan sebagian besar segmen masyarakat (bahkan kadang sesama mereka). Oligarki berpusat pada tantangan poltik untuk mempertahakan kekayaan mereka.

Oligarki-lah sekelompok orang di balik kuasa politik di Indonesia. Kadang kaum oligark ini juga ikut bermain dalam panggung politik. Maka kita tak perlu mengenyitkan dahi ketika panggung politik mesra-mesra saat ini kembali terjadi. Winters bahkan menunjuk, sejak pilgub DKI 2012, Joko Widodo sudah didukung oleh oligarki. Salah satunya tentu saja adalah Prabowo Subianto. (Jeffrey Winters (2013) Jika saat ini terjadi kembali hubungan yang mesra, maka ini hanyalah tarian politik lama dalam pentas oligarki.

Sumber kekayaan memang menjadi basis dari kekuatan oligarki. Mereka adalah aktor yang didukung oleh kekayaan. Oligarki seperti amfibi. Mereka dapat hidup dalam dua alam, baik itu alam otoritarian maupun alam demokrasi. Menurut Winters, “Baik dalam demokrasi atau sistem otoritarian, semakin lebar kesenjangan kekayaan, maka semakin besar kekuatan dan pengaruh individu tersebut dan semakin intens kesenjangan materi itu mewarnai motif politik dan tujuan para oligark.” (Jeffrey Winters (2013)

BACA JUGA  Komentari PMA Majelis Taklim, MUI Sumbar: Kenapa Umat Islam Selalu Ditarget?

Winters menunjuk munculnya kaum oligarki di Indonesia. Sistem kolonialisme Belanda di Indonesia tidak menciptakan lahirnya para oligark. Namun mereka lahir sejak berkuasanya orde baru. Pengelolaan ekonomi Indonesia yang condong kapitalistik melahirkan para pengusaha kaya yang mendekat pada kekuasaan Orde Baru. Namun Suharto dapat menjinakkan para oligark ini dan menggenggam mereka lewat kekuasaaannya (Jeffrey Winters (2013).

Perlahan-lahan Keluarga Cendana lewat anak-anak Suharto kemudian menjadi kaum oligark itu sendiri dan menggangu sistem pertahanan kekayaan para kaum oligark lainnya. Suharto menolak untuk menahan anak-anaknya dan membuat mereka ikut terjun ke dalam bisnis yang melibatkan kekuasaan ayahnya.

Ironisnya Jenderal Prabowo Subianto saat itu menerima ganjaran pahit ketika berani untuk bersuara mengenai sepak terjang anak-anak Suharto. Cendana telah menjadi ancaman sumber kekayaan ketimbang pusat untuk mempertahankan kekayaan para oligark (Jeffrey Winters: 2013).

Ketika rezim Orde Baru tumbang, para oligark tetap bertahan, kecuali segelimtir loyalis Suharto. Para oligark kemudian beradaptasi dengan sistem demokrasi yang baru di era reformasi. Mereka dengan cepat bertahan dan beradaptasi dalam kekuasaan karena sumber kekayaan mereka. Para oligark mempunyai uang, kerajaan media, jaringan dan sebagian posisi dalam partai politik yang membuat mereka mendominasi sistem demokrasi yang baru dan mengejar tujuan mereka. (Jeffrey Winters: 2013)

Sistem politik di Indonesia tak menyediakan perangkat untuk mengekang kaum oligark. Di Indonesia para oligark malah mempertahankan eksistensi mereka dalam kancah politik dengan membangun dinasti politik. Meski demokrasi Indonesia saat ini condong liberal, namun kaum oligark lama (termasuk dalam politik lokal) dapat mempertahankan posisi mereka lewat kooptasi sumber daya dan akumulasi kekayaan. Sistem elektoral menjadi pertarungan yang tak imbang. Akhirnya dinasti oligarki ini mampu mempertahankan diri dan menciptakan demokrasi yang semu. (Dede Mariana dan Luthfi Hamzah Husin : 2017)

Baca halaman selanjutnya: Perkawinan antara oligarki dan...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Irak

Konvoi Penarikan Pasukan AS dari Suriah Tiba di Irak

Iring-iringan tentara AS itu meninggalkan Suriah melalui penyeberagan perbatasan jembatan Fishkhabour yang berbatasan dengan segitiga Irak-Suriah-Turki

Selasa, 22/10/2019 07:14 0

Opini

Bahaya Disertasi “Zina” Abdul Aziz

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA* KIBLAT.NET – Disertasi Abdul Azis mahasiswa program doktoral...

Senin, 21/10/2019 18:44 0

Indonesia

Berikut Lima Prioritas Kerja Jokowi-Ma’ruf Amin

Jokowi dalam pidato pelantikannya menyampaikan lima hal yang menjadi prioritas kerja untuk lima tahun ke depan.

Senin, 21/10/2019 18:06 0

Download

Alkitab Berubah, Benarkah?

Alkitab berubah, benarkah?

Senin, 21/10/2019 17:15 0

Suriah

AS Tinggalkan Pangkalan Militer Terbesarnya di Suriah Utara

Lima hari setelah serangan dimulai, Washington mengumumkan pada 14 Oktober bahwa sekitar 1.000 tentara AS di wilayah itu telah diperintahkan untuk mundur.

Senin, 21/10/2019 16:07 0

Asean

Bangladesh Mulai Pindahkan Pengungsi Rohingya ke Pulau Tak Layak Huni

pulau itu terpencil dan hancur oleh angin topan.

Senin, 21/10/2019 10:11 0

Indonesia

Jokowi Dilantik, Komisi III: Banyak Persoalan Hukum Belum Selesai

Anggota Komisi III DPR RI, Aboe Bakar Al-Habsy berharap Presiden Jokowi dan Kyai Ma'ruf akan segera dapat mengimplementasikan visinya setelah dilantik.

Ahad, 20/10/2019 13:34 0

Indonesia

Presiden Jokowi Dilantik, PKS Ingatkan Janji Kampanye Periode Pertama

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera mengucapkan selamat kepada Presiden Jokowi atas pelantikan periode ke II bersama Kiyai Ma'ruf

Ahad, 20/10/2019 13:22 0

Indonesia

Ini Susunan Sidang Paripurna MPR Pelantikan Jokowi-Ma’ruf

Kepala Biro Humas MPR Siti Fauziah merinci rangkaian susunan acara Sidang Paripurna MPR dalam rangka pelantikan Presiden dan Wakil Presiden masa jabatan 2019 – 2024.

Sabtu, 19/10/2019 21:25 0

Indonesia

Prabowo-Sandi Hadiri Pelantikan Jokowi

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) akan menggelar Sidang Paripurna MPR dalam rangka pelantikan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia

Sabtu, 19/10/2019 21:13 0

Close