... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Unjuk Rasa Mahasiswa dan Kebangkitan Budaya Digital

Foto: Unjuk rasa mahasiswa.

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

“Hati ku Kosong Kaya Otak DPR”

“DPR udah paling bener Tidur; Malah Disuruh Kerja,”

“Assalamualaikum…waalaikumsalam… LSPR datang…bawa selebgram.”

KIBLAT.NET – Rangkaian kata-kata dalam poster aksi-aksi protes mahasiswa (dan siswa) dan video viral yel-yel yang unik menjadi massif penyebarannya di media sosial belakangan ini. Kemunculannya seiring denga penyebaran foto dan poster demonstran mahasiswa ini. Seluruh rangkaian aksi ini tak urung menuai simpati. Peserta aksi ini semakin meluas diikuti berbagai kampus dan di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Makassar.

Menariknya, para demonstran ini bukan saja diikuti aktivis kampus tetapi berbagai kelompok pemuda. Jika kita mengikuti tagar #mahasiswabergerak di media sosial Instagram, maka akan terlihat foto seakan mereka menikmati demonstrasi sebagai satu macam ‘festival.’ Foto selfie, poster dengan kalimat unik, ‘liputan’ live di Instastory, hanyalah sebagian kecil ekspresi generasi baru ini berdemonstrasi.

Hal ini tidak akan ditemukan misalnya 20 tahun lalu saat terjadinya gelombang demonstrasi mahasiswa yang merubuhkan rezim orde baru. Seperti di Hong Kong, demonstrasi kali ini didorong oleh generasi Z yang lahir di era digital. Michael Dimmock dalam artikelnya di Pew Research menyebut generasi Z sebagai generasi yang lahir sejak tahun 1997 hingga saat ini. Bayi-bayi yang lahir di era krisis ekonomi yang mendorong reformasi kini menjadi lokomotif demonstrasi mahasiswa 20 tahun kemudian.

Instagram, Meme dan Budaya Digital

Tak salah jika kita merujuk pada protes pelajar dan mahasiswa di Hong Kong. Di tangan mereka, aksi protes besar-besaran meletus terlebih dahulu. Lewat jejaring media sosial seperti Twitter hingga Telegram dan aplikasi pesan singkat Whatsapp hingga Signal para demonstran membagikan informasi, menyebarkan pesan ajakan dan mengorganisir demonstrasi.

Luisa Tam (2019) menyebutkan setidaknya media sosial bahkan membentuk identitas warga (muda) Hong Kong begitu lugas. Media sosial mendorong penggunanya untuk membentuk ekspresi pemakainya. Budaya media sosial mendorong penggunanya untuk percaya pada diri mereka sendiri.

BACA JUGA  Telaah Kritis Disertasi "Zina" Abdul Azis

Hal yang sama terjadi di Indonesia. Liputan Reuters menunjukkan bahwa tagar (hashtag) yang menonjol, urunan dana (crowd funding) untuk membantu demonstran hingga pengalaman demonstran dari Hong Kong menginspirasi para demonstran di tanah air.

Ismail Fahmi dari Drone Emprit menunjukkan pada minggu lalu, ada 300 ribu hashtag #ReformasiDikorupsi membahana di twitter. Penelitian Drone Emprit menunjukkan generasi-Z memainkan peran penting dalam demonstrasi kali ini. Influencer yang berpengaruh di Gen-Z seperti @awkarin dan @BEAUTIFULYOONGO, @chitralka dan lainnya adalah jejaring dari gen-Z dan fans K-Pop meramaikan dengan tagar #DiperkosaNegara.

@awkarin bahkan ikut turun ke jalanan dan membantu logistik para demonstran. Mereka membagikan peristiwa yang dialaminya di lapangan lewat foto dan cuitan. Mereka adalah sosok-sosok yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya bahkan untuk sekedar peduli masalah politik.

Kenyataan yang terjadi foto, cuitan dan tagar menyebar secara massif. Satu hal yang menarik adalah foto-foto poster para demonstran yang tak lazim, setidaknya jika dibandingkan dengan demonstrasi masa-masa sebelumnya. “Hati ku Kosong Kaya Otak DPR”, “Skincareku Mahal Dipake panas2an, tapi gapapa..lebih mahal NKRI soalnya”, “DPR udah paling bener Tidur; Malah Disuruh Kerja,” adalah sebagian rangkaian kalimat-kalimat protes unik. Kita tidak akan menemukan hal ini di masa-masa demonstrasi 1998.

Di sinilah budaya digital membuktikan pengaruhnya. Poster-poster tadi menjadi semacam meme politik yang membuat tawa sekaligus simpati. Meme sebagai bagian dari budaya pop saat ini memiliki pengaruh yang besar dalam penyebaran pesan. Meme tak hanya menjadi ajang humor semata tetapi juga kritik politik yang efektif.

BACA JUGA  Menyingkap Peran Bollywood dalam Menutupi Kejahatan Israel

Vasiliki Plevriti (2014) menyebutkan bahwa budaya pop berfungsi sebagai bahasa, oleh sebab itu meme dapat dianggap sebagai bentuk ekspresi. Meme dibuat dan menyebar di internet dan dipakai menyuarakan pendapat. Meme menjadi wadah generasi muda untuk mencerminkan politik yang dianggap serius sebagai hiburan sesama mereka. Pembuatan meme dan penyebaran meme menjadi wadah untuk ekspresi diri sekaligus partisipasi politik. (Vasiliki Plevriti :2014)

Politik modern kerap diidentikkan dengan minimnya komitmen kepada institusi tradisonal dan ketidakpercayaan pada pemerintah. Poster-poster unik yang beredar selama demonstrasi kemarin menjadi meme dan menyebarkan pesan yang efektif untuk menggugah generasi Z.

Lewat budaya populer seperti meme politik, indvidu ini menemui titik awal yang menjadikan mereka mengeksplorasi isu yang terkait dengan komunitas mereka dan mengembangkan kesadaran mereka sebagai warga. (Vasiliki Plevriti :2014)

Penyebaran pesan yang viral termasuk meme-meme poster tersebut memang efektif, tetapi apakah itu satu-satunya alasan generasi ini tiba-tiba bangkit turun ke jalan? Tentu saja tidak. Sebaliknya, generasi Z yang selama ini dianggap apolitis, hanya peduli dengan kesenangan, tiba-tiba bergelombang turun ke jalan. Tak pernah sebelumnya demonstrasi ini menarik begitu banyak kampus yang beragam.

Mahasiswa yang sebelumnya disindir-sindir agar turun ke jalan untuk peduli dengan isu-isu ketidakadilan, tiba-tiba saja bergerak. Tampaknya karena isu kali ini secara umum terkait dengan hal yang tak sulit dicerna kezalimannya: Pelemahan terhadap KPK yang dianggap institusi masih diharapkan melawan korupsi.

Bisa jadi, pada isu-isu sebelumnya masyarakat terlalu terpolarisasi antara dua kubu, pendukung Joko Widodo atau pendukung Prabowo, sehingga mereka enggan diidentikkan dengan kedua orang tersebut. Namun setelah pemilu berakhir, maka mahasiswa dapat bergerak tanpa khawatir dikaitkan dengan kubu tersebut.

Baca halaman selanjutnya: Mitos Politik “Orang...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kepala BPJH: Kewajiban Sertifikat Halal Dilakukan Bertahap

Penyelenggaraan layanan sertifikasi halal akan mulai berlaku tanggal 17 Oktober 2019.

Kamis, 03/10/2019 20:00 0

Indonesia

Pengangkatan Puan Sebagai Ketua DPR Bentuk Nepotisme? Ini Kata Pengamat Politik

Pengamat Politik, Ujang Komarudin menilai bahwa check and balances antara DPR dan Pemerintah tidak akan terjadi di bawah kepemimpinan Puan.

Kamis, 03/10/2019 19:27 0

Indonesia

Di Tangan DPR RI 2019-2024, Penyelamatan Lingkungan Hidup Semakin Suram

agenda penyelamatan lingkungan hidup akan semakin suram kedepannya terlebih dengan komposisi anggota DPR RI 2019-2024.

Kamis, 03/10/2019 19:18 0

Inggris

Studi: Banyak Aktor Pemerintah dan Parpol Manipulasi Opini Publik di Medsos

Bukti manipulasi ditemukan di 70 negara dan wilayah, termasuk tujuh di Asia Tenggara - Kamboja, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

Kamis, 03/10/2019 14:09 0

Indonesia

Puan Jadi Ketua DPR, Pengamat Politik: Terpilih Belum Tentu Terbaik

memang ada masyarakat yang mempertanyakan prestasi Puan ketika jadi Menko PMK

Kamis, 03/10/2019 13:09 0

Suriah

Uji Coba Sistem Rudal Baru S-500, Rusia Gunakan Wilayah Suriah

Rusia berhasil menguji sistem pertahanan udara terbarunya, S-500 Prometey, di Suriah. Kata sebuah laporan pada Rabu (02/10/2019).

Kamis, 03/10/2019 12:49 1

Indonesia

ACT Mulai Gelombang Pertama Pemulangan Pendatang dari Wamena

Lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap) mengagendakan pemulangan warga pendatang di Wamena menuju kampung halamannya

Kamis, 03/10/2019 12:11 0

Afrika

Pasca Penggulingan Al-Bashir, Sudan Resmikan Liga Sepak Bola Wanita

"Tidak semua masyarakat Sudan menerima (sepakbola wanita), tetapi kelompok kecil melakukannya dan mereka mendukung kami," kata pemain Eltahadi Nariman Lino.

Kamis, 03/10/2019 12:10 0

Indonesia

ACT Buka Posko Pengaduan Orang Hilang & Informasi Kondisi Wamena

Lembaga kemanusiaan ACT (Aksi Cepat Tanggap) membuka media dan crisis center terkait konflik yang terjadi di Wamena

Kamis, 03/10/2019 11:42 0

Yaman

Iran Mulai Mengakui Dukungan untuk Pemberontak Syiah Hutsi Yaman

"Kami pergi ke Irak dan Suriah atas permintaan pemerintah setempat. Kami memberikan dukungan penasihat, senjata dan peralatan. Pengawal Revolusi, tentu saja, bertanggung jawab atas misi itu," kata Baqeri.

Kamis, 03/10/2019 11:30 0

Close