... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Wamena, Merdeka, dan Darah Saudara Kita

Foto: Salah satu bangunan yang terbakar dalam kerusuhan di Wamena. (Foto: Kompas)

KIBLAT.NET –  “Janganlah kita di sini mengeluarkan alasan-alasan yang agak menyerupai semangat imperialistis. Biarlah kita hidup dalam lingkungan kita sendiri. Seumur hidup kita menentang imperialisme, janganlah kita memberi kepada pemuda kita anjuran atau semangat imperialisme, semangat ‘meluap keluar’,” ujar Bung Hatta dalam sidang Badan Penyelidik Usaha -Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau yang disingkat BPUPKI.

Ketika membahas persoalan terkait batas-batas wilayah Indonesia, Bung Hatta mengingatkan para anggota BPUPKI agar lebih cermat dan hati-hati terutama dalam persoalan Papua atau yang lebih tenar dengan sebutan Irian Jaya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Haji Agus Salim, beliau mengusulkan agar Jepang sebagai pemegang kuasa atas Papua saat itu memberi jalan kepada masyarakat di daerah itu agar dapat memberikan suaranya untuk memilih bergabung atau tidak dengan Indonesia. Ketiadaan wakil Papua dalam tubuh BPUPKI menjadi dalil atas argumen beliau.

Pendapat tersebut diamini oleh Alex Andrie Maramis sebagai perwakilan Kristen, dia menambahkan bahwa persoalan Papua haruslah dilihat dari sudut pandang hukum internasional.

Silang pendapat soal Papua membuat sidang BPUPKI memutuskan untuk melakukan  pemungutan suara dengan pilihan pertama bahwa wilayah Indonesia adalah bekas wilayah Hindia Belanda, lalu piihan kedua wilayah Indonesia adalah bekas wilayah Hindia Belanda ditambah Malaka Borneo Utara, Papua, Timor, dan kepulauan di sekitarnya. Dan pilihan ketiga adalah bekas wilayah Hindia Belanda ditambah Malaka minus Papua.

BACA JUGA  Ubah Indonesia Jadi Lebih Baik, K.H. Ma’ruf Amin Ingin Teladani Perjuangan Rasulullah

Hasilnya, dari 66 anggota sidang BPUPKI, 19 anggota memilih opsi pertama, 39 anggota memilih opsi kedua, 6 anggota memilih opsi ketiga, 1 orang abstain, dan 1 orang memilih lain-lain.

Sampai di sini, persoalan Papua ternyata belum selesai, justru semakin carut marut. Setelahnya Indonesia malah terlibat dalam berbagai perselisihan dengan Belanda dan status Papua pun menggantung hingga tahun 1962. Amerika Serikat pun hadir sebagai penengah dan pada 15 Agustus 1962 diputuskan dalam Perjanjian New York bahwa dalam waktu enam minggu UNTEA akan memerintah di Papua dan dalam kurun waktu kurang dari sembilan bulan akan diserahkan kepada Jakarta.

Pada masa transisi inilah seruan Papua merdeka mulai menyeruak, situasi malah semakin memanas. Berbagai konflik terjadi, pada 13 Januari 1963 misalnya pecah konflik antara orang-orang Papua pendukung dan anti-Indonesia di Kaimana.

Pada 14 Juli hingga 2 Agustus 1969 akhirnya di Papua diadakan Penentuan Pendapat Rakyat atau Pepera yang menghasilkan suara dukungan untuk bergabung dengan Indonesia. Namun seruan untuk merdeka tetap belum padam. Terlebih pasca Pepera, rezim Orde Baru justru mengeksploitasi habis bumi Papua dan melakukan represi terhadap masyarakatnya.

Lalu pada tahun 2001, pemerintah melalui Undang-undang Nomor 21 Tahun 2001 memberikan status otonomi khusus terhadap Papua. Namun tetap saja seruan merdeka tak kunjung padam, konflik terus terjadi, dari waktu ke waktu perlawanan Organisasi Papua Merdeka justru semakin menjadi-jadi.

BACA JUGA  Gus Sholah: Sukmawati Seakan Tak Suka Islam

Hingga detik ini, bulan Oktober 2019 konflik masih berkobar di tanah Papua. Konflik paling berdarah kali ini terjadi di Wamena, kota terbesar di pegunungan Jayawijaya. Dalam konflik tersebut, 31 orang warga sipil menjadi korban meninggal, mayoritas pendatang, dan mayoritas beragama Islam.

Pertanyaan yang perlu dijawab dalam persoalan Papua terkini terkhusus Wamena adalah bagaimana sikap seorang muslim memandang realitas tersebut?

Seorang muslim, ketika melihat darah saudaranya tertumpah, bukankah hal itu harus menjadi perhatian utamanya. Sebagaimana ungkapan Raliby dalam sidang Konstituante bahwa hukum Allah sudah lebih dulu ada sebelum Negara itu ada, maka bukankah sudah seharusnya kewajiban menjaga saudara sesama muslim agar tidak tertumpah darahnya lebih diutamakan ketimbang segala pembicaraan terkait merdeka-merdeka itu?

Lagipula, bukankah kemerdekaan yang hakiki itu ketika kita bisa dengan leluasa tanpa intervensi siapapun dan apapun dalam menyembah Rabb kita?

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Opini

Hukum yang Terbaik

Oleh: Princess Deaan, ibu rumah tangga, tinggal di Lampung KIBLAT.NET – Tujuan diturunkannya syariat atau...

Rabu, 02/10/2019 12:39 0

Indonesia

17 Ribu Pengungsi Kerusuhan Wamena Tunggu Antrean Evakuasi

"Mereka sedang menunggu antrian untuk dievakuasi dari Wamena menuju Sentani. Mereka mendaftar ke TNI AU secara berkelompok 120-150 orang, mereka harus terdaftar dalam kelompok melampirkan KTP dan KK, baru bisa diangkut," jelasnya.

Rabu, 02/10/2019 11:36 0

Indonesia

Gubernur Sumbar Sebut Tidak Ada Konflik Etnik di Wamena

Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno mengklaim bahwa tidak ada konflik etnik di Wamena, Papua.

Rabu, 02/10/2019 11:32 0

Indonesia

Ini Pesan UAS untuk Warga Minang Korban Kerusuhan Wamena

"Oleh sebab itu, Minang mesti bangkit. Kau jihad awak kini (ini jihad kita), tapi jihad awak ndak bantuak urang sabalah membaka (tapi jihad kita tidak seperti orang sebelah, membakar), jihad awak manolong (jihad kita menolong). Maka, buatlah posko-posko," ujar UAS serak.

Rabu, 02/10/2019 11:19 0

Indonesia

Gubernur Sumbar Gelar Penggalangan Dana untuk Warga Minang Korban Kerusuhan Wamena

Pemerintah Daerah Sumatera barat bersama masyarakat Minang yang berada di Jakarta menggelar penggalangan dana untuk korban kekerasan di Wamena.

Rabu, 02/10/2019 11:14 0

Indonesia

KLHK Akan Kejar Pelaku Karhutla ke Mana Pun

“Ini kejahatan yang sangat serius," lanjutnya.

Rabu, 02/10/2019 11:02 0

Afrika

Mali: 25 Tentara Tewas dan 60 Hilang Akibat Serangan Kelompok “Ekstremis”

Sebelumnya pemerintah mengatakan bahwa lokasi militer di Polkisi dan Mondoro di Mali tengah diserang, tetapi tidak mengatakan berapa banyak yang terbunuh atau terluka.

Rabu, 02/10/2019 10:12 0

Irak

Protes Anti Pemerintah Meletus di Irak, 2 Tewas Ratusan Cedera

Basis protes berada di ibukota Baghdad. Warga di kota-kota lainnya juga menggelar aksi protes dengan tuntutan serupa.

Rabu, 02/10/2019 09:16 0

Artikel

Refleksi 1 Oktober: Behind The Scene Kesaktian Pancasila

Sejauh mana kesaktian Pancasila?

Selasa, 01/10/2019 15:55 0

China

Di HUT ke-70, China Pamerkan “Senjata Pamungkas”

Dongfeng-41, rudal balistik antarbenua yang dikatakan memiliki jangkauan paling jauh dari semua rudal nuklir dan dapat mencapai Amerika Serikat dalam 30 menit.

Selasa, 01/10/2019 15:32 0

Close