Refleksi 1 Oktober: Behind The Scene Kesaktian Pancasila

Konstituante 1957

Situasi yang tercipta akibat peristiwa-peristiwa politik pasca penghapusan tujuh kata nyatanya tidak memungkinkan untuk menggelar Majelis Permusyawaratan Rakyat. Agresi militer Belanda dengan segala perundingannya serta pemberontakan PKI di Madiun pada 18 September 1948.

Sepuluh tahun berselang, barulah tercipta Majelis Konstituante yang anggotanya merupakan perwakilan partai peserta Pemilu 1955. Majelis Konstituante membahas dan memutuskan banyak hal terkait Negara, terutama perihal dasar Negara.

Sebagaimana BPUPKI dulu, anggota Konstituante juga terbagi dua kubu, Partai-partai Islam seperti Masyumi, NU, Perti, dan PSII bergabung dalam satu fraksi mengusulkan Islam sebagai dasar negara. Sedangkan partai lain seperti Partai Nasional Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, Partai Komunis Indonesia dan lainnya mengajukan Pancasila sebagai dasar negara.

Salah satu perwakilan kubu Islam, Muhammad Natsir dari Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dengan penuh percaya diri menyatakan kehendaknya supaya negara Republik Indonesia ini berdasarkan Islam. Dalam pidatonya, Natsir mengutarakan sanggahannya terhadap pihak-pihak yang menghendaki Pancasila sebagai dasar negara.

Natsir menyanggah narasi yang sering kita dengar pada hari ini: Jangan gunakan Islam sebagai dasar negara, sebab Islam hanyalah satu paham hidup milik satu golongan saja, sedangkan di Indonesia terdapat golongan-golongan lain selain Islam.

Natsir menilai penolakan tersebut tidak subtantif. Penolakan tersebut, menurutnya telah mengabaikan merites, isi, dan sifat dari paham hidup Islam serta mengabaikan kenyataan bahwa paham Islam telah berakar dalam kehidupan mayoritas rakyat Indonesia.

Bahkan Natsir malah balik bertanya:

“Apa alasan umat Islam harus menerima Pancasila sebagai dasar negara, sedangkan Pancasila itupun sesungguhnya juga miliknya satu pihak saja, yang tidak mewakili lain-lain golongan yang ada di Indonesia ini? Sehingga, paham-hidup kami umat Islam tidaklah tercerminkan oleh Pancasila itu.”

Moch. Raliby dalam sidang Pleno tanggal 21 Mei 1957 mengutip surat Al Maidah ayat 45 sebagai dalil argumentasinya. Beliau menyampaikan bahwa dalam pandangan Islam, segala kedaulatan de jure adalah kepunyaan Allah, yang kedaulatan de facto-nya inheren dan jelas tampak di dalam segala gerak dan kerja alam semesta. Pun kedaulatan politik adalah punya-Nya.

BACA JUGA  Wanita Palestina Keguguran Akibat Serangan Gas Air Mata Israel

Raliby juga menegaskan bahwa jika nantinya Islam menjadi dasar Negara, maka tidak tepat jika disebut sebagai Negara teokrasi.

“Menurut kamus Oxford, nomocracy itu ialah “a system of government based on a legal code” atau “the rule of law in a community”. Dan karena dalam Islam itu undang-undang atau hukum itu adalah lebih dulu ada dari Negara, dan menjadi dasar dari Negara itu, maka pemerintahan yang berkedaulatan seperti itu sesungguhnya dapatlah kita namakan nomocracy, bukan theocracy.”

Menyambung Natsir, Hamka mengungkapkan bahwa orang Kristen tak perlu khawatir jika Islam menjadi dasar Negara. Beliau mengutip surat Al Maidah ayat 47 yang memerintahkan penganut injil untuk memutuskan hukum berdasarkan injil.

“Dengan itu positif lah jaminan Islam atas Kristen dan bukan orang Islam yang mengurusnya, tetapi pemeluk Kristen sendiri bebas menjalankannya, mengaturnya, menyiarkannya menurut tata cara sendiri.”

Kasman Singodimejo, yang masih membawa beban hutang terhadap Ki Bagus Hadikusumo yang telah berpulang menegaskan bahwa peletakan Islam sebagai dasar Negara sudah menjadi keharusan dan tidak ada ruang dan waktu lagi untuk berkompromi.

“…apabila pada waktu itu (tanggal 18 Agustus tahun 1945) pemimpin-pemimpin Islam tidak berkepala batu, tetapi bahkan menerima baik untuk menunda pembicaraan mengenai materi-materi Islam itu, mengingat suasana waktu itu, saudara ketua, maka hal itu menjadi bukti untuk kesekian kalinya bahwa umat Islam memang berlapang dada. Semoga pada waktu sekarang ini di Dewan Konstituante sini dada itu tidak harus dilapangkan lagi. Sebab, saudara ketua, pelapangan dada itu telah maksimal. Paling banyak dada itu tinggal meledak!”          

Pada Akhirnya

BACA JUGA  Disuntik Vaksin Sinovac, Jokowi Mengaku Agak Pegal

Majelis Konstituante 1957 memang menyajikan perdebatan yang sangat seru mengenai dasar negara. Di satu pihak, Masyumi, NU, Perti, dan Sarekat Islam menghendaki Islam sebagai dasar negara. Di pihak lain, golongan Nasionalis, Komunis, Sosialis, Kristen, dan Katholik menghendaki Pancasila.

Majelis Konstituante 1957 nampaknya menjadi panggung intelektual paling mutakhir sekaligus terakhir yang mepertemukan gagasan antar pemuka golongan di Indonesia. Karena Dekrit Presiden Soekarno pada 5 Juli 1959 berisikan antara lain; kembali kepada UUD 1945, pembubaran dewan konstituante hasil pemilu 1955, dan tentu saja menetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

Sejak itu Presiden Soekarno yang dalam sistem Parlementer Kabinet pemerintahan menurut UUD Sementara 1950 adalah lambang negara, berubah menjadi kepala pemerintahan menurut UUD 1945.

Dalam perkembangan selanjutnya Presiden Soekarno diberi gelar-gelar kebesaran bahkan pada suatu waktu nampak seperti sedang dikultuskan. Soekarno juga mendapatkan dukungan dari partai dan negara-negara komunis, terutama Cina di bawah Mao Tse Tung.

Pancasila yang menjadi dasar negara dari hari ke hari diwarnai dengan warna komunis, dan oleh Soekarno ditafsirkan dalam konsep Nasakom yang melegenda itu. Puncaknya ialah terjadinya peristiwa G-30-S-PKI yang mengakhiri kekuasaan Soekarno, dan digantikan oleh Orde Baru di bawah kepemimpinan Jenderal Soeharto.

Soeharto mempunyai tafsir Pancasila sendiri yang jauh berbeda dengan Nasakom, Orde Baru giat menyelenggarakan penataran P4 sebagai ajang indoktrinasi yang wajib diikuti segenap lapisan masyarakat. Tapi kemudian berujung pada upaya memperkokoh kekuasaan yang didukung oleh tentara ABRI.

Akibat dari segala tipu daya itu, Soeharto akhirnya dijatuhkan oleh rakyat yang dipelopori oleh mahasiswa.

Referensi:

Penulis: Azzam Diponegoro

 

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat