... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Telaah Sanad Hadits “Tetap Taat Meski Punggungmu Dipukul” (Bagian 2)

Foto: Hadits taat Ulil Amri

KIBLAT.NET – Jikalau sebelumnya kita membahas riwayat dan redaksi yang diriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, maka pada pembahasan kali ini kita akan membahas redaksi dan riwayat serupa yang berasal dari Ubadah bin ash-Shamit. Kasus riwayat dari Ubadah agak mirip dengan kasus riwayat Hudzaifah, dimana pada beberapa riwayat terdapat tambahan redaksi sementara pada riwayat lainnya tidak. Riwayat asal yang masyhur diriwayatkan oleh para imam adalah Ubadah bin ash-Shamit mengatakan:

أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

“Rasulullah membaiatkan kami untuk mendengar dan taat, baik ketika kami sedang semangat, ketika sedang kendur (semangatnya), dalam keadaan sulit, dan dalam keadaan lapang agar tetap mengutamakan (perintah yang diperintahkan) atas kami dan agar kami tidak menentang perintah dari para pemimpin, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah (mengenai kekufuran tersebut).”

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari: 7056, Muslim: 1709, al-Bayhaqi dalam al-Kubra: 16553 dari jalur Busr bin Said, dari Junadah bin Abi Umayyah, dari Ubadah bin ash-Shamit. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah secara mauquf dari Bukair bin Abdullah bin al-Asyaj, dari Junadah bin Abi Umayyah, dari Ubadah ash-Shamit dalam al-Mushannaf: 37258.

Redaksi di atas juga diriwayatkan secara marfu oleh Ahmad dalam al-Musnad: 22735 dan Ibn Abi Ashim: 1028 dari Umair bin Hani, dari Junadah bin Abi Umayyah, dari Ubadah bin ash-Shamit, dan asy-Syasyi dalam Musnad-nya: 1222 dari Mujahid, dari Junadah bin Abi Umayyah, dari Ubadah bin ash-Shamit, dari Nabi tanpa tambahan redaksi “kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah (mengenai kekufuran tersebut).” Hanya saja pada redaksi asy-Syasyi terdapat tambahan: “Agar engkau mengarahkan lisan kalian untuk menegakkan keadilan.”

Hadits serupa juga diriwayatkan dari Yahya bin Sa’id, dari Ubadah bin al-Walid bin Ubadah bin ash-Shamit, dari ayahnya, dari kakeknya (Ubadah bin ash-Shamit) oleh an-Nasai: 4149, Ibn Majah: 2866, Ahmad dalam al-Musnad: 15653, al-Bazzar dalam musnadnya: 2700, al-Bayhaqi dalam al-Kubra: 16551, Ibn Zanjawaih dalam al-Amwal: 25, dan Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah: 1029, namun dengan tambahan:

وَأَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا، لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ

“…Agar kami senantiasa mengatakan kebenaran dimana pun kami berada dan tidak takut celaan orang-orang yang mencela dalam (menjalankan perintah) Allah.”

Sampai disini tidak ada masalah sebab hadits-hadits di atas adalah hadits yang masyhur lagi shahih derajatnya. Jika kita simpulkan, yang meriwayatkan dari Ubadah bin ash-Shamit ada 2 perawi, yaitu cucu Ubadah sendiri yakni Ubadah bin al-Walid dan Junadah bin Abi Umayyah. Adapun Ubadah bin al-Walid, ditsiqahkan oleh Abu Zur’ah dan an-Nasai. (Tahdzib al-Kamal XIV/199) serta al-Hafizh Ibn Hajar (Taqrib at-Tahdzib I/292). Sedangkan Junadah bin Abi Umayyah, para ulama berselisih pendapat apakah ia termasuk shahabat atau tabiin. Sebagian merajihkan bahwa ia adalah shahabat, sebagian lagi menyebutkan ia adalah tabiin. (lihat al-Ishabah I/608). Ibn Hibban dan diikuti oleh al-Hafizh merajihkan bahwa ia bukan shahabat. (Lihat al-Ishabah I/608). Al-Mizzi menyebutkan bahwa al-Ijli dan al-Waqidi mentsiqahkannya (Lihat Tahdzib al-Kamal V/135). Ibn Sa’ad juga mentsiqahkannya (Thabaqat Ibn Sa’ad VII/306). Cukuplah bersepakatnya al-Bukhari dan Muslim dalam meriwayatkan darinya menunjukkan ketsiqahannya.

Tambahan redaksi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, an-Nasai, Ibn Majah dan lainnya dari Ubadah bin al-Walid diriwayatkan oleh banyak rawi, diantaranya adalah:

Yahya bin Said al-Anshari. Diriwayatkan oleh an-Nasai: 4149, Ibn Majah: 2866, Ahmad dalam al-Musnad: 15653, al-Bazzar dalam musnadnya: 2700, al-Bayhaqi dalam al-Kubra: 16551, Ibn Zanjawaih dalam al-Amwal: 25, dan Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah: 1029. Para ulama sepakat mengenai ketsiqahannya. (Tahdzib al-Kamal XXXI/352-356).

Sayyar Abu al-Hakam al-Anzi. Diriwayatkan oleh an-Nasai: 4154, Ahmad: 15653, Ibn Abi Ashim: 1032, al-Bazzar: 2700. Ia ditsiqahkan oleh Ahmad bin Hanbal, Ibn Main, dan an-Nasai. (Tahdzib  al-Kamal XII/315).

Ubaidullah bin Umar. Diriwayatkan oleh Ibn Majah: 2866, Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah: 1029, Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 37257, al-Bayhaqi dalam al-Kubra: 16552 Para ulama sepakat mengenai ketsiqahan dan kemuliaannya. (Tahdzib al-Kamal XIX/127-129)

Yazid bin Abdullah bin al-Had. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah: 1030. Ditisiqahkan oleh Ibn Main, an-Nasai, Abu Hatim, Ibn Sa’ad, dan Ibn Hibban. (Lihat Tahdzib al-Kamal XXXII/171).

Al-Walid bin Katsir. Diriwayatkan oleh an-Nasai: 4153. Ditsiqahkan oleh Yunus bin Isa, Abu Dawud, Ibn Main, Ibn Uyainah. (Tahdzib al-Kamal XXXI/74-75)

Muhammad bin Ishaq. Diriwayatkan oleh Ahmad: 22700, Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf: 37257, an-Nasai: 4152. Para ulama berselisih pendapat mengenainya dan mayoritas ulama senior mentsiqahkannya. (Tahdzib al-Kamal XXIV/411-429) Ibn Ishaq menegaskan penyimakannya dari Ubadah bin al-Walid. Ini menunjukkan keterlapasannya dari tadlis dalam Musnad Ahmad.

Masih ada beberapa rawi lagi. Namun ini sudah cukup menunjukkan keshahihan redaksi tersebut. Pada riwayat Ubadah bin al-Walid ini, tidak ada satu pun rawi kecuali semua sepakat dengan redaksi yang sama atau semisal. Tidak ada penambahan sama sekali. Inilah kesimpulan pertama. Penambahan redaksi itu hanya terdapat pada riwayat Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi dari Ubadah bin ash-Shamit.

Di awal pembahasan, sudah kita paparkan bahwa periwayatan Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi dan Ubadah ash-Shamit diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim. Tentunya tidak diragukan lagi keshahihannya. Namun redaksinya hanya sampai pada: kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian memiliki bukti dari Allah (mengenai kekufuran tersebut).” Tidak ada penambahan lagi pada riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Tetapi penambahan itu muncul dari riwayat lain yang inilah menjadi inti pembahasan kita disini. Redaksinya adalah:

“اسْمَعْ وَأَطِعْ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَكْرَهِكَ، وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ، وَإِنْ أَكَلُوا مَالَكَ، وَضَرَبُوا ظَهْرَكَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ مَعْصِيَةً لله بواحا

“Tetap mendengar dan taat, baik ketika dalam sulitmu maupun lapangmu, ketika masa-masa semangatmu dan masa-masa kendurmu. Tetap utamakan atasmu (perintah para pemimpin) meski mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu, kecuali jika (perintahnya tersebut adalah) maksiat yang nyata

Redaksi ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya: 4566, Ibn Zanjawaih dalam al-Amwal: 24, asy-Syasyi dalam Musnad-nya: 1221. Juga Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah: 1026 tanpa ada lafaz: kecuali jika (perintahnya tersebut adalah) maksiat” dari Hayyan Abu Nashr, dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, dari Ubadah bin ash-Shamit.

Dari Junadah bin Abi Umayyah, terdapat 4 rawi yang meriwayatkan darinya secara marfu’, yakni Busr bin Sa’id, Umair bin Hani, dan Hayyan Abu Nadhr, serta satu lagi dari Bukair bin al-Asyaj. Namun rawi yang terakhir disebut meriwayatkan secara mauquf.

Ringkasnya yang meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah adalah:

Busr bin Said. Diriwayatkan oleh al-Bukhari: 7056, Muslim: 1709, al-Bayhaqi dalam al-Kubra: 16553. Ditsiqahkan oleh Ibn Main, an-Nasai, Abu Hatim, Ibn Sa’ad, dan al-Ijli (Tahdzib at-Tahdzib I/437-438)

Umair bin Hani. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam al-Musnad: 22735 dan Ibn Abi Ashim: 1028. Ditsiqahkan oleh al-Ijli dan disebut oleh Ibn Hibban dalam ats-Tsiqat. (Tahdzib al-Kamal XXII/389). Adz-Dzahabi menukil dari al-Fasawi: “Tidak mengapa (meriwayatkan darinya).” (Siyar A’lam V/421). Al-Hafizh mentsiqahkannya dalam at-Taqrib I/431.

Mujahid bin Jabr. Diriwayatkan oleh asy-Syasyi dalam Musnad-nya: 1222. Para ulama sepakat akan kemasyhuran Mujahid. Ia ditsiqahkan oleh Yahya bin Main, Abu Zur’ah, Ibn Sa’ad, al-Ijli, dan Ibn Hibban. (Lihat Taqrib at-Tahdzib X/43-44)

Bukair bin al-Asyaj secara mauquf. Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah al-Mushannaf: 37258. Bukair bin al-Asyaj ditsiqahkan oleh para ulama hadits. (Lihat Tahdzib al-Kamal IV/245). Hanya saja, tidak didapati bahwa Junadah termasuk orang yang diriwayatkan haditsnya oleh Bukair, meski tidak menutup kemungkinan mereka hidup sezaman. Namun sanad dari Bukair ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Ajlan, yang dimasukkan oleh al-Hafizh termasuk dari para pelaku tadlis tingkat ketiga yang riwayatnya tidak bisa diterima jika tidak menegaskan sama’nya atau ia meriwayatkan dengan an-anah (lihat Thabaqat al-Mudallisin I/44) dan ternyata Ibn Ajlan meriwayatkannya dari Bukair bin Al-Asyaj dengan an-anah dalam al-Mushannaf Ibn Abi Syaibah. Bisa jadi ini adalah riwayat Ibn Ajlan dari Ubadah bin al-Walid cucu Ubadah bin ash-Shamit. Bukair meriwayatkannya juga dengan lafal “Ubadah mengatakan” yang mengindikasikan tiadanya penyimakan, baik dari Junadah maupun dari Ubadah. Jika demikian adanya, maka sanadnya terputus (munqathi’) yang termasuk bagian hadits mursal menurut kalangan mutaqaddimin. Wallahu a’lam

Hayyan Abu an-Nadhr. Diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya: 4566, Ibn Zanjawaih dalam al-Amwal: 24, asy-Syasyi dalam Musnad-nya: 1221. Juga Ibn Abi Ashim dalam as-Sunnah: 1026. Al-Mizzi tidak menyebutkan tentangnya sama sekali dalam Tahdzib al-Kamal. Kita tidak tahu apakah karena beliau (al-Hafizh al-Mizzi) luput darinya atau memang rawi tersebut kurang masyhur. Kredibilitas Hayyan diketahui dalam al-Jarh wa at-Ta’dil Ibn Abi Hatim III/245, Ibn Abi Hatim menukilkan bahwa Yahya bin Main mentsiqahkannya, sementara ayahnya (Abu Hatim) berkomentar: “Shalih.” Ibn Hibban menyebutnya dalam ats-Tsiqat IV/171.

Dari Hayyan Abu an-Nadhr terdapat 4 rawi yang meriwayatkan hadits darinya, yakni Hisyam bin al-Ghaz, al-Walid bin Sulaiman, Said bin Abdul-Aziz, dan Mudrik bin Abi Sa’d al-Fazari. (Al-Jarh wa at-Ta’dil Ibn Abi Hatim III/245). Rawi yang bernama Said bin Abdul-Aziz tidak disebutkan oleh Ibn Abi Hatim, tetapi terdapat dalam Musnad Ahmad XXXVII/404.

Khusus riwayat hadits yang kita bahas ini, dari Hayyan Abu an-Nadhr hanya ada 2 rawi yang meriwayatkan, yaitu Said bin Abdul-Aziz dan Mudrik bin Sa’d al-Fazari. Adapun Said bin Abdul-Aziz, ditsiqahkan oleh an-Nasai, Abu Hatim, Yahya bin Main, Ibn Hanbal, al-Ijli (Lihat Tahdzib al-Kamal X/542-544). Terkait Said bin Abdul-Aziz at-Tanukhi ketika ditelusuri, meski ditsiqahkan oleh para ulama, namun tidak didapati bahwa ia mendengar riwayat dari Hayyan Abu Nadhr. Al-Hafizh Ibn Hajar juga memasukkannya ke dalam kumpulan rawi yang melakukan tadlis (penyisipan rawi atau redaksi hadits) di tingkatan kedua (Thabaqat al-Mudallisin I/31).

Tingkatan kedua menurut al-Hafizh adalah para rawi yang menurut para imam memiliki kemungkinan melakukan tadlis, namun mereka masih memperhitungkannya sebagai rawi yang shahih karena keimamannya –dalam hadits- dan karena sedikitnya tadlis yang mereka riwayatkan seperti ats-Tsauri atau mereka tidak melakukan tadlis kecuali dari rawi yang tsiqah seperti Ibn Uyainah.” (Thabaqat al-Mudallisin I/13). Jika seperti ini, maka ada 2 kemungkinan terhadap periwayatan Said bin Abdul-Aziz dari Hayyan Abu an-Nadhr, yaitu adanya keterputusan sanad (munqathi’) karena Said tidak mendengar atau bertemu dengan Hayyan –sebab para ulama tidak ada meriwayatkan Said termasuk dari orang yang mendengar dari Hayyan Abu an-Nadhr-, atau adanya tadlis dari yang dilakukan Said dari Hayyan –jika seandainya ada kemungkinan bertemu-.

Ibn Shalah menuturkan tentang tadlis: “Tadlis ada dua. Pertama, tadlis dari segi sanad. Yakni, apabila seorang rawi meriwayatkan dari orang yang ia temui namun ia tidak mendengar darinya, disebabkan kekeliruannya yang beranggapan ia mendengar dari orang tersebut. Atau orang yang ia hidup semasa dengannya namun tidak ia tidak pernah bertemu dengannya, karena ia keliru dan beranggapan bahwa ia pernah bertemu dan mendengar dari orang tersebut. Kemudian adakalanya diantara ia dengan orang yang riwayatkan terdapat satu rawi atau adakalanya terdapat banyak rawi. Diantara tanda-tandanya ia tidak mengatakan: “si fulan memberitakan kepadaku dari si fulan”… (menegaskan penyimakan). Ia hanya mengatakan: “Fulan berkata atau dari (an-anah) fulan” dan semisalnya….” (Muqaddimah Ibn Shalah I/157)

Said sendiri meriwayatkannya dengan an-anah (tidak menegaskan adanya penyimakan) dalam Musnad Ahmad: 22736. Bahkan ada kemungkinan ketiga, yakni kekeliruan. Sebab Abu Mashar menyebutkan: “Said bin Abdul-Aziz mengalami iktilath (ketercampuran hafalan) sebelum ia meninggal.” (Tahdzib al-Kamal X/544). Bisa jadi ini merupakan periwayatan Said bin Abdul-Aziz dari al-Walid bin Sulaiman, namun ia keliru. Sebab, Said bin Abdul-Aziz memiliki riwayat mendengar dari al-Walid bin Sulaiman.  Wallahu a’lam

Kedua adalah Mudrik bin Abi Sa’d al-Fazari. Ditsiqahkan oleh Yahya bin Main (Tarikh ad-Darimi I/212). Abu Hatim dan Abu Dawud mengatakan: “Tidak mengapa.” Ibn Hibban memasukkannya ke dalam ats-Tsiqat (Tahdzib al-Kamal XXVII/351). Kesimpulannya, dari Hayyan Abu an-Nadhr ditsiqahkan oleh Ibn Main dan terdapat 2 rawi yang meriwayatkan hadits ini darinya, yakni Said bin Abdul-Aziz dan Mudrik bin Abu Sa’d al-Fazari. Adapun Said bin Abdul-Aziz masih diragukan, bahkan dipastikan tidak meriwayatkan dari Hayyan Abu an-Nadhr. Yang dipastikan meriwayatkan dari Hayyan Abu an-Nadhr hanya Mudrik bin Abu Sa’ad al-Fazari.

Setelah penjelasan ini semua, barulah kita masuk ke inti pembahasan, yakni versi redaksi hadits. Perlu dicatat, seluruh perawi yang meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah, baik yang marfu yaitu Busr bin Said, Umair bin Hani, dan Mujahid maupun yang mauquf munqathi yakni dari Bukair bin al-Asyaj, selain Hayyan Abu Nadhr, meriwayatkan hadits tanpa ada redaksi: “Tetap utamakan atasmu (perintah para pemimpin) meski mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu, kecuali jika (perintahnya tersebut adalah) maksiat.”

Redaksi tambahan di atas hanya ada pada periwayatan sanad dari Mudrik bin Sa’d al-Fazari, dari Hayyan Abu an-Nadhr, dari Junadah bin Abi Umayyah al-Azdi, dari Ubadah bin ash-Shamit, dari Nabi. Adapun periwayatan lain dari Busr bin Said, Umair bin Hani, Mujahid bin Jabr, dari Junadah bin Abi Umayyah, maupun yang terindikasi munqathi’ yakni riwayat Hayyan Abu an-Nadhr melalui Said bin Abdul-Aziz dan Bukair bin al-Asyaj dari Junadah tidak ada sedikit pun memuat redaksi tersebut. Demikian juga periwayatan melalui jalur Ubadah bin al-Walid bin Ubadah bin ash-Shamit (cucu Ubadah bin ash-Shamit sendiri). Seluruh rawi yang meriwayatkan darinya tidak ada sedikit pun menambahkan redaksi di atas. Maka, riwayat Mudrik al-Fazari, dari Hayyan Abu an-Nadhr, dari Junadah bin Abi Umayyah sendiri dalam hal ini. Dalam istilah ilmu hadits disebut tafarrud atau infirad. Inilah illat (cacat) dari riwayat yang mengandung tambahan redaksi tersebut.

Tidak ada yang meriwayatkan redaksi ini dari Hayyan Abu Nadhr selain Mudrik bin Sa’ad al-Fazari. Dari Mudrik terdapat 2 rawi yang meriwayatkan, yaitu Hisyam bin Ammar dan al-Haitsam bin Kharijah. Kedua jalur ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Shahihnya: 4562 dan 4566 serta asy-Syasyi dalam musnadnya: 1221 dan 1225. Dari sinilah kita dapat menguraikan masalahnya, yakni tambahan redaksi tersebut hanya berasal dari Mudrik bin Sa’ad, dari Hayyan Abu an-Nadhr, dari Junadah bin Abi Umayyah. Dalam ilmu hadits ini terkenal dengan tafarrud (berkesendirian dalam meriwayatkan redaksi hadits). Riwayat yang tafarrud, besar indikasinya terjatuh pada hadits syadz, sebab para rawi yang lebih tsiqah dan disepakati ketsiqahannya serta hafalannya sepakat meriwayatkan satu redaksi yang menyelisihi rawi yang berada di bawahnya. Mudrik bin Sa’ad tidak mendapatkan penilaian tautsiq secara jelas kecuali dari Yahya bin Main. Demikian juga Hayyan Abu an-Nadhr. Ibn Hajar dalam at-Taqrib I/524 mengatakan tentang Mudrik: “tidak mengapa.”

Sementara rawi-rawi lainnya yang masyhur ketsiqahannya seperti Busr bin Said yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Umair bin Hani, dan Mujahid bin Jabr, dari Junadah bin Abi Umayyah tidak meriwayatkan tambahan redaksi tersebut sama sekali. Para rawi masyhur dan mutqin dari jalur lain, yakni dari Ubadah bin al-Walid bin Ubadah bin ash-Shamit juga sepakat tidak meriwayatkan redaksi tambahan dari hadits tersebut. Ini sudah cukup menunjukkan keganjilan tambahan redaksi itu dan kelemahan redaksinya. Al-Hafizh Ibn Hajar mengatakan tentang hadits syadz: “Apa yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (di bawah tingkatan tsiqah) menyelisihi riwayat yang lebih utama darinya.” (Nuzhah an-Nadzhar I/213). Penyelisihan itu bisa dalam bentuk kredibilitas rawi atau jumlah rawi dan sisi-sisi lainya. (Lihat Nuzhah an-Nadzhar I/213).

Kesimpulannya, riwayat yang menyebutkan redaksi: “Tetap utamakan atasmu (perintah para pemimpin) meski mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu, kecuali jika (perintahnya tersebut adalah) maksiat” adalah redaksi yang syadz dan ganjil seperti yang telah kami jelaskan. Redaksi ini juga tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari kitab-kitab hadits yang masyhur seperti Kutub as-Sittah dan Musnad Ahmad selain Ibn Hibban dan redaksi ini tetap tidak bisa dijadikan sebagai penguat terhadap hadits Hudzaifah yang sebelumnya juga sudah kita bahas, karena cacat yang terdapat pada sanadnya. Wallahu a’lam

Catatan Penting

Terdapat masalah penting yang harus diperhatikan disini. Perbedaan antara hadits syadz dan ziyadah ats-tsiqah (penambahan yang dilakukan oleh rawi tsiqah) sangat tipis sekali. Ini diperingatkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani dalam an-Nukat dan adanya beberapa ulama yang bermudah-mudah dalam hal ini. Bisa jadi sebagian orang akan berusaha menshahihkan tambahan redaksi ini atau menghasankannya dengan dalil ziyadah ats-tsiqat. Sebab, kita tidak menafikan adanya sebagian ulama yang menshahihkan tambahan redaksi ini dengan dalih yang serupa. Sebagaimana alasan yang tampak disebutkan oleh an-Nawawi ketika menshahihkan tambahan redaksi pada hadits Hudzaifah, tetapi pada saat yang sama an-Nawawi mendukung pernyataan ad-Daruquthni yang menetapkan kemursalan hadits tersebut: “Akan tetapi matannya shahih muttashil (bersambung hingga ke Nabi) melalui jalur yang pertama (yakni dari Jalur Abu Idris al-Khaulani, dari Hudzaifah). Muslim menyebutkan hadits ini hanya sebagai mutabaah (hadits pengiring)…kami sendiri telah jelaskan dalam banyak penjelasan dan pada tempat-tempat lainnya bahwa hadits mursal apabila diriwayatkan dari jalur lain yang muttashil (sanadnya bersambung hingga ke Nabi) menunjukkan shahihnya hadits mursal tersebut dan bolehnya berhujjah dengan hadits mursal tersebut, sehingga jadilah terdapat 2 hadits shahih dalam masalah ini.” (Syarh Shahih Muslim XII/238).

Dari uraian an-Nawawi tersebut, beliau tampak tidak mempermasalahkan adanya tambahan redaksi pada hadits Hudzaifah yang diriwayatkan dari jalur Abu Sallam (yang mursal), padahal tambahan redaksi tersebut tidak terdapat pada riwayat Hudzaifah dari Abu Idris al-Khaulani (yang muttashil). Ini merupakan manhaj Imam an-Nawawi, beliau mengatakan: “madzhab jumhur (mayoritas) para pakar fikih dan hadits adalah menerima tambahan (redaksi) dari rawi tsiqah secara mutlak.” (at-Taqrib wa at-Taysir I/40). Manhaj an-Nawawi ini dianut oleh ulama-ulama sebelum beliau semisal al-Hakim dan Ibn Hibban. (Lihat an-Nukat II/687). Manhaj di atas sejatinya juga tidaklah berasal dari an-Nawawi saja. Hal yang sama juga disebutkan oleh Khathib al-Baghdadi dalam al-Kifayah I/424.

Ungkapan “mayoritas” ini ditampik oleh al-Hafizh Ibn Hajar. Beliau menyebutkan bahwa para imam dari kalangan mutaqaddimin tidak memberlakukannya secara mutlak. (An-Nuzhah I/212). Al-Hafizh juga mengkritik manhaj ini secara detail: “Manhaj ini perlu dikaji dalam banyak sisi…. Bagaimana bisa tambahannya itu dapat diterima, sementara rawi-rawi tsiqah lainnya yang tidak mungkin lalai dari adanya tambahan tersebut karena kuatnya hafalan mereka dan banyaknya jumlah, ternyata telah menyelisihi periwayatan darinya (rawi yang berkesendirian)?!…” (an-Nukat II/688). Al-Hafizh juga mengatakan: “Karena itu, aku merasa heran terhadap kebanyakan ulama Syafiiyah yang berpendapat diterimanya tambahan (redaksi atau sanad) dari rawi tsiqah secara mutlak, padahal ucapan Imam Syafii malah menunjukkan selain itu…” (Nuzhah an-Nadzhar I/212-213). Asy-Syafii mengatakan: “hafalan dari rawi yang banyak harus diutamakan daripada hafalan seorang rawi saja.” (an-Nukat II/688).

Kesimpulan

Berkesendiriannya rawi dalam meriwayatkan sebuah redaksi yang berbeda dengan redaksi rawi-rawi lainnya tidaklah diterima secara mutlak. Redaksi yang berkesendirian itu diterima jika rawi yang meriwayatkan secara berkesendirian memiliki derajat yang sama dalam hal hafalan dan kekuatan hafalan. Inilah yang dianut oleh para pakar hadits terdahulu (mutaqaddimin). Jika tidak sederajat dalam hafalan –meski tsiqah-, maka jatuh kepada syadz (ganjil). Demikianlah panduan yang diberikan oleh al-Hafizh dalam an-Nukat ‘ala Kitab Ibn Shalah II/689.

Jika demikian adanya, pokok permasalahannya hanya ada pada dua rawi yang berkesendirian, yaitu Hayyan Abu an-Nadhr dan Mudrik bin Sa’ad al-Fazari. Sebab yang meriwayatkan dari Hayyan hanya ada dua rawi, Said bin Abdul-Aziz dan Mudrik bin Sa’ad. Mengenai Said bin Abdul-Aziz telah kita jelaskan di atas perihal tadlis maupun inqitha’ yang terjadi pada periwayatannya. Andaikan pun dipaksakan shahih, tetapi redaksinya sama persis dengan redaksi rawi-rawi lainnya yang meriwayatkan dari Junadah bin Abi Umayyah. Maka satu-satunya yang dapat dipastikan meriwayatkan dari Hayyan bin Abu an-Nadhr hanya Mudrik bin Sa’ad.

Mengenai Hayyan, Ibn Abi Hatim menukil dari ayahnya (Abu Hatim) tentang Hayyan: “Shalih.” Dalam muqaddimah kitabnya (al-Jarh wa at-Ta’dil), Ibn Abi Hatim mengatakan: “Apabila disebut “shalih al-hadits”, maka haditsnya hanya boleh ditulis sebagai pengiring (pendukung)” (al-Jarh wa at-Ta’dil II/37). Artinya hadits yang diriwayatkan oleh rawi tersebut tidak shahih jika berkesendirian. Oleh sebab itu, Hayyan Abu an-Nadhr tidak tsiqah menurut Abu Hatim, meski ditsiqahkan oleh Ibn Main[1].

Sedangkan Mudrik hampir sama. Hanya ditsiqahkan oleh Ibn Main saja dan derajatnya sedikit di atas Hayyan. Sebab, al-Hafizh hanya mengatakan tentang Mudrik: “Tidak mengapa” (at-Taqrib I/524). Lafal “tidak mengapa” dari al-Hafizh Ibn Hajar merupakan tingkatan rawi keempat yang mendapatkan ta’dil (penilaian positif), namun berada di bawah tingkatan tsiqah. Beliau mengatakan dalam Muqaddimah at-Taqrib I/80: “Tingkatan ketiga, rawi yang secara individu mendapatkan penilaian tsiqah, atau mutqin (kuat dan bagus hafalannya), tsabat (teguh hafalannya), atau adil. Tingkatan keempat, yaitu rawi yang derajatnya sedikit di bawah tingkatan ketiga. Pada tingkatan inilah diisyaratkan ungkapan shaduq (jujur), tidak mengapa, dan tidak apa-apa meriwayatkan dengannya.”

Dengan demikian, Mudrik al-Fazari bukanlah rawi yang tsiqah. Apatah lagi rawi yang memiliki hafalan kuat (mutqin). Demikian juga Hayyan Abu an-Nadhr. Bahkan Mudrik sedikit lebih tinggi tingkatannya dari Hayyan, karena Mudrik mendapatkan penilaian “tidak mengapa” yang setara dengan penilaian shaduq (jujur) menurut Abu Hatim, dimana penilaian tersebut merupakan tingkat kedua setelah tsiqah. (Lihat al-Jarh wa at-Ta’dil II/37)

Maka jelas dan amat jelas sekali bahwa penambahan redaksi yang sedang kita bahas merupakan redaksi yang janggal dan ganjil (syadz). Karena, perawi berkesendirian yang meriwayatkan redaksi tersebut bukanlah rawi yang tsiqah dan mutqin (kuat) dari segi hafalan serta menyelisihi periwayatan para rawi yang jauh lebih tsiqah dan disepakati ketsiqahannya oleh mayoritas para ulama. Ibn Shalah menukil ungkapan dari Imam asy-Syafii: “Syadz bukanlah hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi tsiqah, dimana hadist tersebut tidak diriwayatkan oleh rawi selainnya. Namun, syadz adalah periwayatan seorang rawi tsiqah yang menyelisihi periwayatan orang banyak –dalam jalur periwayatan yang sama-.” (Muqaddimah Ibn Shalah I/163). Ini jika perawinya tsiqah, lantas bagaimana jika derajatnya tidak sampai pada tingkatan tsiqah?? Wallohu a’lam

Penulis: Fatria Ananda

[1] Walau demikian lafal Abu Hatim ini tidak mutlak. Jika Abu Hatim mengatakan: “Shalihul-hadits tsiqah”, yaitu ada penambahan setelah lafal “shalihul-hadits”, maka rawi tersebut dapat dipastikan ketsiqahannya oleh beliau. Ini beliau lakukan pada beberapa rawi sebagaimana penukilan Ibn Abi Hatim dalam kitab yang sama.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Puluhan Warga Meninggal Pasca Gempa Ambon

20 korban dinyatakan meninggal dunia pascagempa

Sabtu, 28/09/2019 17:03 0

Indonesia

Ada Korban Meninggal, Komisi III DPR Minta Polri Tangani Aksi Massa Sesuai Prosedur

Ada Korban Meninggal, Komisi III DPR Minta Polri Tangani Aksi Massa Sesuai Prosedur

Sabtu, 28/09/2019 15:52 0

Indonesia

Din Syamsuddin: Kekerasan di Wamena Seharusnya Bisa Diantisipasi Pemerintah

Din Syamsuddin: Kekerasan di Wamena Seharusnya Bisa Diantisipasi Pemerintah

Sabtu, 28/09/2019 14:59 0

Indonesia

Komnas HAM Ingatkan Polri: Jurnalis Harus Diperlakukan Manusiawi

Komnas HAM menyoroti kekerasan yang dilakukan sebagian oknum aparat terhadap jurnalis.

Sabtu, 28/09/2019 14:25 0

Indonesia

Mahasiswa Meninggal Saat Demo, Komnas HAM: Jika Pelakunya Polisi Harus Disanksi

Mahasiswa Meninggal Saat Demo, Komnas HAM: Jika Pelakunya Polisi Harus Disanksi

Sabtu, 28/09/2019 13:18 0

Indonesia

6000 Polisi Amankan Parade Tauhid 2019

Sedikitnya 6000 Personel gabungan Polri dan TNI disiagakan untuk mengamankan Aksi Mujahid 212 Selamatkan NKRI

Sabtu, 28/09/2019 12:56 0

Indonesia

Ribuan Umat Islam Ikuti Parade Tauhid 2019 di Jakarta

Ribuan umat Islam menghadiri acara Parade Tauhid 2019.

Sabtu, 28/09/2019 11:46 0

Amerika

Jumlah Tentara AS Bunuh Diri Saat Tugas Meningkat

Pentagon menunjukkan, total tentara aktif bunuh diri pada 2018 sebanyak 541. Cara bunuh diri dengan menembak diri sendiri paling banyak terjadi.

Sabtu, 28/09/2019 09:04 0

Afrika

AS Gencarkan Serangan Udara di Libya Selatan

Amerika Serikat mengatakan tidak akan membiarkan gerilyawan mengeksploitasi konflik antara faksi-faksi yang bermarkas di timur dan barat negara itu di sekitar ibukota Tripoli untuk melindungi diri mereka sendiri.

Sabtu, 28/09/2019 08:12 0

Suriah

Warga Idlib Turun ke Jalan Tolak Komisi Konstitusi Suriah Bentukan PBB

Di sisi lain, oposisi politik Suriah yang tergabung dalam Komite Tinggi Suriah untuk Negosiasi menganggapnya sebagai pintu gerbang ke solusi di Suriah sesuai dengan resolusi internasional.

Sabtu, 28/09/2019 07:24 0

Close