... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Khazanah

Khutbah Jumat: Dakwah Tauhid, Upaya Menundukkan Manusia kepada Aturan Allah

Foto: Khutbah Jumat

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ،

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

قال تعالى: يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وقال رسول الله:

اتَّقِ اللهِ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ

أَمَّا بَعْدُ مَعَاشِرَ المُؤْمِنِيْنَ: اِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَرَاقِبُوْهُ مُرَاقَبَةً مَنْ يَعْلَمُ أَنَّ رَبَّهُ يَسْمَعُهُ وَيَرَاهُ ثُمَّ أَمَّا بَعْدُ،

Khutbah Pertama

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

laailaha illallah adalah konten dakwah para Nabi. Karena mendakwahkan inilah para Nabi mendapat penolakan, pengusiran bahkan pembunuhan dari kaumnya. Dan tidaklah para Nabi diutus oleh Allah SWT melainkan membawa misi menjaga dan mendakwahkan tauhid.

Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُم مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS An-Nahl : 36)

Kalimat tauhid bukanlah kalimat tanpa makna yang diucapkan oleh lisan, namun kalimat tauhid adalah kalimat agung yang memiliki konsekuensi. Konsekuensi dari kalimat tauhid inilah yang tidak diinginkan oleh musuh para Nabi. Ketika Musa dan Harun datang kepada Firaun dengan mengatakan bahwa kami utusan dari Rabbul Alamin (Rabb semesta alam), maka ketika itu pula Firaun menolak dengan penuh kesombongan.

Karena dia sadar, ketika dia menerima risalah Musa, maka dia akan kehilangan kontrol kekuasaannya terhadap rakyat Mesir. Firaun mengerti, ketika manusia beriman kepada risalah tauhid yang dibawa Musa, maka manusia akan melepaskan segala bentuk ketaatan dari dirinya, menuju ketaatan kepada Allah dan segalan aturannya.

Hal inilah yang membuat Firaun mengerahkan segala daya dan upaya untuk memberangus dakwah Tauhidnya Nabi Musa. Membungkam narasi-narasi dakwah Nabi Musa. Dia mengerahkan tukang sihirnya untuk membangun opini bahwa Musa adalah musuh Negara Mesir, karena Musa dengan dakwahnya akan membuat kekacauan di tanah Mesir.

Hal yang sama juga terjadi ketika Rasulullah SAW mendakwahkan tauhid di tengah-tengah Qurasiy. Para pembesar Quraisy yang memegang jabatan-jabatan strategis, mengontrol aturan kehidupan manusia, menghidupkan dan menjaga ritual-ritual kesyirikan, khawatir jika manusia mengikuti risalah nabi Muhammad, mereka akan kehilangan pengaruh di tengah masyarakat.

Padahal jejak sejarah menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tahu dan paham bahwa apa yang dibawa Nabi Muhammad adalah wahyu dari Allah SWT. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa sebenarnya Abu Jahal mengakui kenabian Muhammad SAW, namun dia menolak syariat yang dibawa olehnya. Abu Jahal berkata :

أن أبا جهل قال للنبي صلى الله عليه وسلم : إنا لا نكذبك ولكن نكذب ما جئت به

Artinya, “Sesungguhnya Abu Jahal berkata kepada Nabi SAW, ‘Sesungguhnya kami tidak menganggapmu pendusta, tapi kami mendustai ajaran yang kamu bawa.” (Al-Jami’ Liahkmil Quran 4/416)

Itulah kalimat tauhid, kalimat ikrar seorang hamba akan ketundukan dan ketaatan terhadap aturan Allah dalam semua aspek kehidupan.Ikrar yang merupakan komitmen seorang hamba untuk mempersembahkan ibadah hanya kepada Allah SWT. Yang dengannya segala macam bentuk sekutu Allah harus dihilangkan. Baik sekutu itu berupa berhala-berhala sesembahan Quraiys, maupun aturan-aturan kehidupan seperti aturannya Firaun.

BACA JUGA  Habib Rizieq Sampaikan Lima Amanat Perjuangan di Reuni 212

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Mendakwahkan, menjaga dan menjelaskan konsekuensinya kepada umat di satu sisi adalah tugas yang mulia karena dia adalah misi kenabian dan di sisi yang lain adalah tugas yang penuh onak dan duri. Karena tidak ada para Nabi yang membawa kalimat ini melainkan akan diuji, dimusuhi, diusir bahkan dibunuh. Tapi inilah misi kenabian, dia bukanlah misi yang seperti jalan tol bebas hambatan, tapi misi ini seperti melewati rimba besar yang penuh halangan dan rintangan.

Misi menundukkan manusia kepada Allah, menundukkan manusia kepada aturan wahyu, menundukan manusia kepada Al-Quran dan As-Sunnah, sebuah warisan agung yang menjadi garansi bagi umat ini. Adalah Rasulullah SAW bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلَّا هَالِكٌ وَمَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِمَا عَرَفْتُمْ مِنْ سُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْن

Artinya, “Aku sudah meninggalkan kalian di atas (petunjuk) sangat terang, malamnya seperti siangnya, tidak ada seorangpun yang melenceng darinya kecuali dia sendiri yang celaka dan siapa saja diantara kalian yang masih hidup (nanti) akan melihat banyak sekali perselisihan, maka hendaklah kalian berpegang dengan apa yang kalian ketahui dari sunnahku dan sunnah para khulafa’ rasyidin. [HR Ahmad, Musnad Ahmad 4/126 hadits, No.17182]

Allah SWT berfirman:

لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنزيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

Al-Quran tidak pernah disentuh oleh kebatilan baik dari depan atau belakang (masa lalu atau yang akan datang), ia turun dari (Allah) yang Maha bijaksana dan terpuji.” (QS. Fushilat: 42)

Namun hari ini, kita melihat kesombongan-kesombongan manusia, meskipun lisan mereka melantunkan kalimat tahlil, namun mereka menolak aturan-aturan Allah, mereka meninggalkan syariat-syariat Allah, bahkan mereka memusuhi dan menista syariat Allah. Yang mana seharusnya, kalimat tahlil yang diucapkan bukanlah ucapan penghias bibir, tapi dia adalah ucapan yang mengandung konsekuensi untuk tunduk dan patuh terhadap aturan dan syariat Allah.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Secara prinsip, kalimat tauhid adalah kalimat yang membedakan antara Islam dengan kekufuran, kalimat yang menjadi kunci surga, kalimat yang menjadi tolak ukur loyalitas dan antipati seseorang, kalimat yang melambankan wala’ dan baro seorang muslim, kalimat yang menjadi tujuan kenapa manusia diciptakan, kalimat yang menyatukan kaum muslimin sebagai umat yang satu di bawah naungan syariat tanpa mengenal suku, ras, bangsa dan tapal batas wilayah. Allah SWT berfirman :

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (52)

Sesungguhnya (din Tauhid) inilah din kalian, din yang satu, dan hanya Akulah Rab kalian, maka bertakwalah kepadaku.” [QS. Al-Mukminun: 52]

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (92)

Sesungguhnya (din tauhid) inilah dinmu, din yang satu, dan hanya Akulah Rab-mu maka beribadalah kepadaku.” [QS. Al-Anbiya’: 92]

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah

Kalimat tauhid adalah tujuan dan muara dari setiap perjuangan umat Islam, oleh karena itu predikat fie sabiilillah hanya disematkan untuk perjuangan muslim yang tujuannya menegakkan lailaahaillallah agar berkibar tinggi memimpin dunia, sebaliknya setiap perjuangan dengan motif selainnya, apalagi tujuannya untuk memadamkan lailaahaillallah maka perjuangan tersebut dikategorikan jahiliyyah apapun benderanya.

عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا الْقِتَالُ فِي سَبِيلِ اللهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ- قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلاَّ أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا – فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Abu Musa Al-Asy’ari berkata, ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: apa yang dimaksud dengan berperang fi sabiilillah, karena di antara kami ada yang berperang karena motif kemarahan (dendam), ada pula karena motif fanatisme, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kepalanya, -Abu Musa berkata beliau tidak mengangkat kepalanya kecuali berdiri- dan bersabda : barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi tegak tinggi maka disebut fi sabiilillah Azza Wajalla. [Shahih Al-bukhari, 1/43, hadits No.125]

BACA JUGA  Pria Ini Rela Nge-camp di Monas Demi Tepat Waktu Ikuti Reuni 212

Tidak disebut fi sabiilillah orang yang berjuang karena fanatisme berhala, baik berhala batu, ideologi, kelompok, Negara, bangsa atau raja, semua perjuangan untuk membela semua berhala tersebut kematiannya adalah jahiliyyah.

 وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ

“Dan barang siapa yang berperang di bawah bendera ‘Ummiyyah, marah karena fanitisme, atau mengajak kepada fanatisme, atau membela fanatisme lalu dia terbunuh maka kamatiannya adalah kematian jahiliyyah.” [Shahih Muslim, 6/20, hadits No.4892]

Imam An-Nawawi berkata: “Al-‘Immiyah artinya adalah urusan buta, yang tidak jelas arahnya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ahmad bin Hanbal dan Jumhur, Ishaq bin Rahawaih berkata, itu maksudnya seperti kaum yang berperang karena fanatisme kebangsaannya.” [Al-Minhaj Fi Syarhi Shahih Muslim, 6/322]

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَظِيْمِ الإِحْسَانِ وَاسِعِ الفَضْلِ وَالْجُوْدِ وَالْاِمْتِنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ؛ صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Kalimat tauhid adalah gerbang keislaman, lambang ketundukan dan ketaatan. Dan kita berdoa kepada Allah SWT, agar setiap upaya kita untuk membumikan, mendakwahkan, memperjuangkan dan membela kalimat tauhid diberi ganjaran oleh Allah SWT. Dan sebagaimana kita membela kalimat tauhid di dunia, kita berharap agar nanti di akhirat kalimat tauhid juga menjadi pembela dan pelindung kita dari pedihnya siksa neraka.

Sedangkan kepada mereka yang berusaha menghalangi tegaknya kalimat laailahaillallah di muka bumi, membantu musuh-musuh Islam dalam memadamkan cahaya tauhid, menistakan kalimat-kalimat tauhid, maka kita ingatkan bahwa Allah Maha Tahu, Maha Melihat dan Maha Mendengar atas apa yang kalian lakukan dan pembalasan Allah terhadap orang-orang yang memusuhi dan menista syariatnya nyata adanya, baik di dunia maupun di akhirat. Marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa kepada Allah SWT

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَلْأَئِمَّةَ المَهْدِيِيْنَ؛ أَبِيْ بَكْرِ الصِّدِّيْقِ، وَعُمَرَ الفَارُوْقِ، وَعُثْمَانَ ذِيْ النُوْرَيْنِ، وَأَبِيْ الحَسَنَيْنِ عَلِيٍّ, وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي أَندُونِسِيَا و الشَامَ و اليَمَن و رُوهِنغيَا وَفِي كُلِّ مَكَانٍ، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ حَافِظاً وَمُعِيْنًا وَمُسَدِّداً وَمُؤَيِّدًا، اَللَّهُمَّ كُنْ لَنَا وَلَهُمْ وَلَا تَكُنْ عَلَيْنَا، وَانْصُرْنَا وَلَا تَنْصُرْ عَلَيْنَا، وَامْكُرْ لَنَا وَلَا تُمْكِرْ عَلَيْنَا، وَاهْدِنَا وَيَسِّرْ الهُدَى لَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا، اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيْنَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَكَ ذَاكِرِيْنَ، لَكَ شَاكِرِيْنَ، إِلَيْكَ أَوَّاهِيْنَ، لَكَ مُخْبِتِيْنَ، لَكَ مُطِيْعِيْنَ. اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ تَوْبَتَنَا، وَاغْسِلْ حَوْبَتَنَا، وَثَبِّتْ حُجَّتَنَا، وَاهْدِ قُلُوْبَنَا، وَسَدِّدْ أَلْسِنَتَنَا، وَاسْلُلْ سَخِيْمَةَ صُدُوْرِنَا

اَللَّهُمَّ وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُبَنَا كُلَّهُ؛ دِقَّهُ وَجِلَّهُ، أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، سِرَّهُ وَعَلَّنَهُ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ العَمَلَ الَّذِيْ يُقَرِّبُنَا إِلَى حُبِّكَ

اَللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِيْنَةِ الإِيْمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةَ مُهْتَدِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَأَخْرِجْنَا مِنَ الظُلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ. اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرَ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ: أُذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

MUI Minta Korban Asap Karhutla Gelar Sholat Istisqa

Wakil Dewan Pertimbangan MUI, Prof. Didin Hafiddudin mengatakan bahwa pihaknya prihatin dengan kebakaran hutan yang terjadi di beberapa daerah

Kamis, 19/09/2019 15:07 0

Indonesia

Komisi VIII DPR dan MUI Tegaskan Produk Impor Harus Berlabel Halal

produk halal untuk meningkatkan kualitas kehidupan umat Islam.

Kamis, 19/09/2019 14:38 0

Indonesia

Ada Kebakaran Hutan, WALHI Heran Presiden Jokowi Tetap Genjot Investasi

WALHI juga mengkritisi presiden Joko Widodo yang masih sempat menegaskan dorongan perbaikan ekosistem investasi di tengah bencana yang melanda.

Kamis, 19/09/2019 14:25 0

Indonesia

Kesaksian Mahasiswi Asal Riau: Dalam 12 Jam, 2 Kali Masuk Rumah Sakit Karena Asap

Aulia menceritakan pengalamannya ketika merasakan Pekanbaru terdampak kebakaran hutan.

Kamis, 19/09/2019 14:00 0

Indonesia

Kolom Komentar Instagram Imam Nahrawi Tiba-tiba Dihapus, Ada Apa?

Kolom komentar di akun instagram Menpora Imam Nahrawi tiba-tiba dimatikan.

Kamis, 19/09/2019 13:26 0

Afghanistan

Taliban: Kami Hanya Punya Dua Cara Lawan Penjajah; Jihad dan Dialog

“Jika Trump ingin menghentikan negosiasi, maka kami akan menempuh cara pertama. Dan mereka akan segera menyesal,” lanjut Mujahid mengancam.

Kamis, 19/09/2019 10:48 0

Amerika

DK PBB Akan Voting Dua Proposal terkait Idlib

Proposal pertama diajukan oleh Kuwait, Jerman dan Belgia. Proposal kedua diajukan oleh Rusia dan didukung China

Kamis, 19/09/2019 09:03 0

Afghanistan

Taliban: Pintu Negosiasi dengan AS Masih Terbuka

Hal itu dikatakan setelah Taliban meluncurkan dua serangan mematikan

Kamis, 19/09/2019 07:31 0

Indonesia

Pakar Pidana: Imam Nahrawi Harus Segera Ditahan

, Suparji Ahmad menegaskan bahwa Menpora Imam Nahrawi segera ditahan KPK.

Rabu, 18/09/2019 19:04 0

Indonesia

Menpora Jadi Tersangka KPK

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan suap terkait dana hibah KONI dari Kemenpora.

Rabu, 18/09/2019 18:56 0

Close