Komdak MUI Kritisi Rencana Penghapusan Materi Perang di Kurikulum Madrasah

KIBLAT.NET, Jakarta – Wakil Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat, Fahmi Salim mengkritisi rencana Kementrian Agama yang kabarnya akan menghapus materi perang dari kurikulum Madrasah. Menurut Fahmi, kejayaan Islam yang diperoleh pada zaman keemasan, tentunya tidak bisa dilepaskan dari kekuatan militernya yang melindungi umat Islam.

“Apakah kejayaan Islam bisa diraih hanya dengan penguasaan iptek dan kemakmuran ekonomi dan perdagangan di dunia Islam tanpa ada kekuatan militer yang  melindungi umat Islam dan capaian-capaiannya dari agresi dan gangguan negara-negara kafir,” ujar Fahmi dalam rilis yang diterima Kiblat, Senin (16/09/2019).

Fahmi mempertanyakan apakah kejayaan Islam hanya diukur dengan indikator iptek dan ekonomi, tanpa memperhatikan aspek futuhat islamiyah (penaklukan negeri-negeri), sehingga mereka masuk ke dalam naungan cahaya Islam.

“Semua bangsa dan peradaban dunia bangga dengan kekuatan militernya dan strategi cegah tangkal terhadap ancaman eksistensial dan kedaulatannya dari ancaman luar. Ini kok malah mau menghapus materi sejarah penaklukan Islam. Di mana dan bagaimana bisa masa kejayaan Islam itu dapat dihadirkan secara utuh kepada peserta didik,” ungkap Fahmi.

“Apakah rela bangsa Indonesia menghapus sejarah perjuangan dan revolusi perang untuk mengusir penjajah asing dr negeri ini selama berabad-abad, Di manakah kejayaan Indonesia dan Nusantara mau diletakkan,” lanjutnya.

Ia pun mengatakan jika pemerintah melalui Kemenag ingin menghapus kesan minor dan pandangan negatif terhadap perang jihad dalam sejarah Islam, ia pun menyarankan Kemenag membantah pandangan orientalis itu dengan membuat narasi cerdas lagi mencerahkan, yang menjelaskan apa tujuan perang jihad dan prakteknya.

Menurut Fahmi, Kemenag bisa menjelaskan tujuan perang jihad dalam ajaran Islam yang sahih bersumber dari Al- Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW dan empat khalifah Islam yang pertama.

BACA JUGA  Jemput Habib Rizieq, Bahar dan Rombongan Jalan Kaki ke Bandara

“Bagaimana bisa Kemenag berani mencerabut sejarah Islam dari akarnya seperti dipraktekkan oleh para sahabat dan salafussaleh,” ujarnya.

Fahmi pun mengutip kisah sahabat Rasulullah yang bernama Saad bin Abi Waqqash, ia berkata, “Kami dahulu mengajarkan kepada anak-anak kami sejarah peperangan Nabi seperti kami mengajarkan mereka bacaan Qur’an”.

“Sungguh lancang dan biadab jika para ulama membiarkan ini terjadi di dalam rumah kita, NKRI yang tegak akibat perang-perang jihad para pahlawan nasional yang terdiri dari para ulama, zuama, dan kaum santri nasionalis. Sebelum terlambat, mari kita cegah rencana tersebut sebagai bagian dari upaya liyundziruu qaumahum,” tutupnya.

Sebelumnya, Kemenag menyatakan tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah. Hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020.

“Kita akan hapuskan materi tentang perang-perang di pelajaran SKI tahun depan. Berlaku untuk semua jenjang, mulai dari MI (Madrasah Ibtidaiyah, red.) sampai MA (Madrasah Aliyah),” kata Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Umar, di Jakarta, Jumat (13/09/2019).

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Rusydan Abdul Hadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat