... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Spanduk Tolak RUU P-KS Nampang di Hotel Fairmount Jakarta, Begini Bunyinya

Foto: spanduk penolakan RUU P-KS dan Poin RKUHP

KIBLAT.NET, Jakarta – Aliansi Cerahkan Negeri (ACN) memasang spanduk yang berisi penolakan terhadap RUU P-KS dan beberapa poin RKUHP di Hotel Fairmount, Jakarta. Spanduk yang dipasang di hotel tersebut berbunyi “RKUHP Bilang, FREE SEX Boleh Asal Ada Janji Menikahi. Apakah DPR Setuju?”.

Salah satu Jubir ACN, Mira menegaskan bahwa sampai tanggal 15 September mendatang, akan ada agenda konsinyering RKUHP di hotel ini. Hal ini dilakukan agar tidak ada paham liberalisme dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia.

“Kami memasang spanduk ini sebagai bentuk aksi agar peserta konsinyering mempertimbangkan aspirasi kami dan mengedepankan sikap kehati-hatian dalam merumuskan Revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) agar jauh dari paham liberalisme yang bertentangan dengan Pancasila,” terang Mira dalam siaran pers yang diterima Kiblat.net pada Jumat (13/09/2019).

“Pasal-pasal krusial di dalam RKUHP yang ditolak ACN beraroma RUU P-KS. Diantaranya adalah pasal 416, 417, 418, 419, 427, 480, 600 dan beberapa pasal lainnya,” sambung Mira.

Oleh sebab itu, ia berharap para dewan di DPR yang saat ini sedang melaksanakan rapat dapat mendengarkan aspirasi mereka. Selain itu, ia mengimbau agar legislator bisa membersihkan RKUHP dari perumusan norma semacam pasal 418 yang jelas sangat melecehkan Pancasila.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Inggris

Sekelompok Muslim Serukan Penarikan Investasi Sektor Minyak dan Gas

Ketiga organisasi itu juga mengatakan komunitas Muslim harus berkomitmen untuk bertindak atas perubahan iklim.

Jum'at, 13/09/2019 14:18 0

Amerika

Kecanduan Vape, Paru-paru Remaja Ini Seperti Usia 70 Tahun

Akhir bulan lalu, mahasiswa berusia 18 tahun di Gurnee, Illinois, itu dirawat di rumah sakit setelah menggunakan vape selama lebih dari satu setengah tahun.

Jum'at, 13/09/2019 11:17 2

Afghanistan

Pengamat: AS Memberikan Janji-janji Palsu di Afghanistan

Mantan Presiden Afghanistan Hamid Karzai, juga menyatakan bahwa AS menggunakan dalih terorisme di Afghanistan sebagai alasan untuk tetap di negara itu.

Jum'at, 13/09/2019 11:00 0

Afghanistan

Taliban: Trump, Hati-hati! Anda Tak Tau Siapa yang Anda Perangi

Imarah Islam Afghanistan (Taliban) memperingatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertindak hati-hati.

Jum'at, 13/09/2019 09:22 0

Opini

Slogan NKRI Harga Mati (Masih) Menjadi Alat Gebuk

Slogan NKRI harga mati memang masih populer hingga saat ini, bahkan sangat melambung di media sosial.

Kamis, 12/09/2019 18:01 1

News

BJ Habibie, Profil Muslim Jenius yang Dikhianati

Pelopor tidak diterimanya pertanggungjawaban Habibie justru dari Fraksi Golkar. Golkar saat itu dipimpin Akbar Tanjung, yang pernah menjadi Ketum PB HMI. Padahal Habibie sendiri dari Golkar.

Kamis, 12/09/2019 16:37 1

Artikel

Ali Syari’ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Secara garis besar, gagasan Syari’ati mencoba membongkar kemapanan doktrin-doktrin Syi’ah yang telah berakar dan melembaga di Iran. Otoritas ulama-ulama Syi’ah digoyang oleh gagasan-gagasan Syari’ati yang revolusioner dan lebih menekankan pada aspek perlawanan pada penindasan dan menitikberatkan pada keadilan sosial.

Kamis, 12/09/2019 15:10 0

India

Kashmir yang Terdampar

Sekitar 8 juta warga Kashmir masih terisolasi dari dunia luar hingga saat ini.

Kamis, 12/09/2019 15:01 0

Lebanon

Pengungsi Palestina di Lebanon “Lirik” Australia dan Negeri Eropa

Aktivis di kamp-kamp pengungsi Palestina di Lebanon telah melakukan aksi protes yang ketiga pada hari Rabu (11/09/2019). Mereka menuntut dipindahkan ke negara ketiga.

Kamis, 12/09/2019 13:01 0

Eropa

Penyelidik PBB: Koalisi AS, Rusia, Suriah dan Milisi Kurdi Lakukan Kejahatan Perang

Komisi Penyelidikan PBB mengatakan bahwa koalisi internasional pimpinan AS, Rusia, rezim Suriah dan milisi Kurdi melakukan pelanggaran yang bisa masuk dalam kejahatan perang.

Kamis, 12/09/2019 11:08 0

Close