... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ali Syari’ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Marxisme menurut Syari’ati telah merendahkan nilai kemanusiaan. Seperti filsafat realis lainnya, marxisme juga terperosok ke dalam lubang yang sama:

“Dengan analisis sok ilmiah yang tanpa perasaan dan tanpa belas kasihan kaum realis merusak kesucian esensial, kebajikan nilai-nilai dan membedahnya seperti orang yang memotong-motong suatu sistem yang hidup dan indah hingga menjadi zat mati dan komponen-komponen material yang rendah.” (Ali Syari’ati: 1988)

Masyarakat dalam sistem komunis menurut Marx meski mencapai satu ekonomi yang relatif maju tetapi malah menjadi seperti borjuis barat dalam hal perilaku sosial, psikologi sosial, pandangan hidup dan tabiat kemanusiaan. Kemanusiaan dalam sistem kapitalis atau komunis nyatanya menurut Syari’ati sama saja, telah mencampakkan kemanusiaan. Seakan-akan sebagai suatu benda sosial ke dalam organisasi yang kasar, tetapi serba melingkupi. Terasing dari politik dan intelektualitas. “Bukankah Marxisme sebenarnya hanyalah sisi lain dari kapitalisme Barat?” tanya Syari’ati. (Ali Syari’ati: 1988)

Pandangan ateistik Marx juga disorot oleh Syari’ati. Ketika Marx mengatakan irasionalitas adalah dasar dari eksistensi Tuhan, menurut Syari’ati, Marx terpengaruh filsafat Yunani. Marx juga amat terpengaruh oleh pemikir yang ateis, Ludwig Feuerbach. Ungkapan Marx yang merasa jijik dengan Tuhan menurut Syari’ati juga suatu yang tak wajar dan lebih mengedepankan emosional ketimbang ilmiah dan rasional. (Ali Syari’ati: 1988)

Marx sangat jelas bagi Syari’ati “…seperti pelajar abad pertengahan yang tegar atau pemeras politik, mengambil pandangan ajaran pemikiran lawan yang sangat tidak dikuasainya, paling kasar dan menyimpang sebagai bulan-bulanan untuk diserang dan dihina.”

Buku Ali Syariati tentang Marxisme

Kritik Ali Syari’ati selain ditujukan kepada paham-paham barat, juga ditujukan kepada para pemuka agama syi’ah yang dianggapnya sebagai penyebab kejumudan dan pro-status quo. Dalam Islam Agama Protes, ia berpendapat penafsiran terhadap ajaranlah yang membuat Islam terbebas dari kejumudan. Dalam ajaran imamah Syi’ah misalnya, ia menganggap konsep imamah adalah benar, penafsiran yang keliru yang membuat nasib umat menjadi hina. (Ali Syari’ati: 1996)

Secara tak langung Syari’ati sebenarnya sedang menggugat otoritas pemuka agama dalam perkara ijtihad. Bagi Syari’ati, ijtihad tak lagi identik dengan wewenang para pemuka tersebut, tetapi (juga) milik para intelektual.

Syari’ati menafsirkan ajaran-ajaran agama sebagai satu titik tolak untuk aksi yang menolak penindasan dan pembelaan terhadap kaum lemah. Dari ibadah haji misalnya, tata cara ibadah itu ditafsirkan kembali oleh Syari’ati dalam kerangka perlawanan tersebut. Dalam mengutip surat Al-Qashash ayat 5 misalnya, ia menafsirkan sebagai satu bentuk perintah perlawanan terhadap eksploitasi, kolonialisme dan lainnya. (Ali Syari’ati: 1983)

Penafsiran seperti inilah yang kemudian membuat Ali Syari’ati diminati oleh pemuda Islam pada tahun 1980-an. Revolusi Iran telah membuat berbagai negara berpenduduk muslim melihat ada peluang untuk melakukan satu perlawanan terhadap sistem barat (tanpa harus mengadopsi sistem yang dipakai Iran atau ajaran Syi’ah). Hal ini terlihat misalnya dari reaksi awal Ikhawnul Muslimin di Mesir pada masa itu. Begitu pula yang terjadi di Malaysia atau Filipina dan termasuk di Indonesia.

BACA JUGA  Sukmawati Harus Sadar, Soekarno Bukanlah Manusia Sempurna

Reaksi terhadap revolusi Iran tersebut bukan berarti sebagai bentuk penerimaan terhadap ajaran Syi’ah. Dan tulisan ini tentu tidak bermaksud mengupas ajaran Syi’ah yang misalnya sudah dikupas dengan tajam dalam buku Teologi Dan Ajaran Shi’ah Menurut Referensi Induknya (2014) . Tetapi secara sosiologis kita dapat melihat peristiwa Revolusi Iran juga membawa pengaruh ke dalam pemuda Islam termasuk masuknya literatur-literatur pemikir Syi’ah.

Seperti yang telah disebutkan Von der Mehde, di Indonesia tulisan-tulisan Syari’ati-lah yang masuk ketimbang Khomeini. Tulisan Syari’ati lebih menekankan pada aspek perlawanan dan penindasan, kritik terhadap barat ketimbang doktrin dalam ajaran Syiah secara kaku. Benar Syari’ati dalam beberapa tulisannya juga membahas tentang aspek dalam doktrin Syiah seperti peristiwa Karbala. Tetapi tulisannya menekankan pada kerangka yang sama tentang perlawanan.

Poster Ali Shariati dan Khomeini saat revolusi Iran.

Syari’ati sebagai seorang penganut Syi’ah tentu tak perlu dibantah lagi. Namun seperti pemikir Iran sebelumnya, Ahmad Kasravi, Syari’ati juga mengkritik pemuka agama Syi’ah sebagai penyokong status quo. Kasravi bahkan bertindak lebih jauh dengan mengkritik ajaran Syi’ah. Perbedaannya, jika Kasravi menempatkan diri sebagai ‘orang yang keluar dari Syi’ah maka Syari’ati menempatkan diri sebagai ‘di dalam Syi’ah.’ (Ali Rahmena: 2002)

Tulisan-tulisan Syari’ati menjadi sasaran kritik hingga kecaman dari para pemuka agama Syi’ah. Syari’ati memang keras mengkritik para mereka bahkan menafsirkan kembali ajaran-ajaran syi’ah. Syari’ati membagi Syi’ah menjadi dua, ‘Syiah Ali’, dan ‘Syiah Safawi.’ ‘Syi’ah Ali’ dianggap sebagai ‘agama rakyat’, yang dianggap mewakil ‘keindahan dan kebaikan.’ Sedangkan ‘Syiah Safawi’ dianggap Syari’ati sebagai agama monarki-kependetaan, lambang ‘kejahatan dan keburukan.’

‘Syi’ah Safawi’ dimulai menurut Syari’ati ketika Syi’ah diubah menjadi agama resmi negara di Iran (pada masa Dinasti Safawi). Pemuka agama menjadi anggota aktif kelas penguasa dan pembela status quo. Mereka menjadi kaki tangan para raja-raja bengis. Hal yang sama ia pandang pada Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni). ‘Sunni Muhammad’ menurutnya berakhir ketika lahirnya ‘Sunni Umayyah.’

Tak heran jika Syari’ati menulai kecaman, hingga ia dicela oleh pemuka agama Syiah sebagai sunni, bahkan wahabi. Syari’ati dianggap tidak mau mencela tiga khalifah sebelum Ali bin Abi Thalib R.A. (Abu Bakar, Umar dan Usman R.A.). Sebenarnya tidak demikian juga. Syari’ati dalam Pemimpin Mustadh’afin (2001) menyalahkan Usman bin Affan R.A. karena membuka jalan bagi Bani Umayyah mencapai kedudukan politik. Ali Syari’ati menuding Kekhalifahan Usman bin Affan R.A. sebagai “…alat Bani Umayyah, musuh Islam yang paling keji dalam sejarahnya.”

Meski demikian, Syari’ati menolak ikut larut ke dalam permusuhan Syi’ah pada Ahlussunnah wal jama’ah. Syari’ati menurut Ali Rahmena “…menegaskan bahwa persesuaian antara Syi’isme Ali dan Sunnisme Muhammad adalah wajar karena mereka mengikuti tujuan yang sama dan berbagi arah yang sama. Dia menganggap kebencian antar saudara Sunni dan Syi’ah berasal dari wakil-wakil agamawan Syi’isme Safawi dan Sunnisme Umayyah.” (Ali Rahmena: 2002)

BACA JUGA  Di Balik Pekik Takbir Bung Tomo

Syari’ati dianggap para pemuka agama Syi’ah juga serampangan dalam menafsirkan ajaran Syi’ah, ayat-ayat Qur’an, bahkan Syari’ati juga dikecam karena ia lebih memilih memakai sumber karya At-Thabari atau Ibnu Hisyam (yang dikenal sebagai ulama Ahlu Sunnah) sebagai rujukan sejarah ketimbang karya pemuka agama Syi’ah. (Ali Rahmena: 2002)

Secara garis besar, gagasan Syari’ati mencoba membongkar kemapanan doktrin-doktrin Syi’ah yang telah berakar dan melembaga di Iran. Otoritas ulama-ulama Syi’ah digoyang oleh gagasan-gagasan Syari’ati yang revolusioner dan lebih menekankan pada aspek perlawanan pada penindasan dan menitikberatkan pada keadilan sosial.

Ali Syariati

Anomali Syari’ati

Syari’ati di Indonesia masuk lewat dampak revolusi Iran. Tak bisa dipungkiri, Syari’ati adalah salah satu inspirator dari revolusi Iran. Namun di sinilah letak anomali Ali Syari’ati di Indonesia. Di satu sisi, literatur Syari’ati menjadi salah satu pintu masuk literatur syi’ah di Indonesia. Namun di lain sisi, dalam perkembangannya, cara pandang Syari’ati bukanlah yang muncul dipermukaan. Bahkan tokoh yang memberi pengantar dalam karya Syari’ati seperti Jalaluddin Rahmat justru menelurkan karya yang menista para Sahabat, dengan menyebut para Sahabat telah murtad pasca wafatnya Rasulullah SAW. (M. Irfanudin Kurniawan: 2014)

Fenomena yang terjadi, peristiwa-peristiwa yang bertolak belakang dengan sikap Syari’ati terus terjadi. Celaan pada para sahabat adalah salah satunya. Seperti kasus Tajul Muluk di Sampang yang mencela para sahabat. (Kholili Hasib: 2014)

Di lain sisi, gagasan-gagasan revolusioner, kritik terhadap paham barat, ideologi anti-penindasan dan visi keadilan sosial Syari’ati begitu diminati kaum muda. Di sinilah tantangan ulama dan cendikiawan Ahlussunnah wal Jamaah agar menghasilkan karya-karya yang memperhatikan aspek ini. Karya yang bisa menjelaskan bahwa Islam juga menolak bentuk-bentuk penindasan dan menyokong keadilan sosial. Diperlukan lebih banyak karya yang dapat menjadi bacaan alternatif selain karyakarya Syari’ati. Sayyid Quthb misalnya, pernah menulis Keadilan Sosial dalam Islam. Namun sayangnya karya seperti ini sudah sangat sulit ditemukan terjemahannya di rak-rak toko buku.

Bercermin dari kenyataan ini, diperlukan gerakan-gerakan literasi di kalangan umat Islam untuk terus memumpuk kecintaan pada para sahabat seraya mengenalkan ajaran Islam yang menekankan pada keadilan sosial di kalangan para pemuda Islam. Seraya melakukan kajian-kajian sosial perkembangan syi’ah di Indonesia.

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

India

Kashmir yang Terdampar

Sekitar 8 juta warga Kashmir masih terisolasi dari dunia luar hingga saat ini.

Kamis, 12/09/2019 15:01 0

Indonesia

Haedar Nasir: BJ Habibie Sosok Moralis yang Memadukan Imtaq dan Iptek

Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya Mantan Presiden RI Ke-3, BJ Habibie.

Kamis, 12/09/2019 13:55 0

Indonesia

RUU P-KS Dinilai Mengabaikan Adat

Salah satu alasan ditolaknya Rancangan Undang-undang P-KS (Penghapusan Kekerasan Seksual) adalah karena bertentangan dengan nilai Islam dan norma yang berlaku di masyarakat.

Kamis, 12/09/2019 13:39 0

Lebanon

Pengungsi Palestina di Lebanon “Lirik” Australia dan Negeri Eropa

Aktivis di kamp-kamp pengungsi Palestina di Lebanon telah melakukan aksi protes yang ketiga pada hari Rabu (11/09/2019). Mereka menuntut dipindahkan ke negara ketiga.

Kamis, 12/09/2019 13:01 0

Eropa

Penyelidik PBB: Koalisi AS, Rusia, Suriah dan Milisi Kurdi Lakukan Kejahatan Perang

Komisi Penyelidikan PBB mengatakan bahwa koalisi internasional pimpinan AS, Rusia, rezim Suriah dan milisi Kurdi melakukan pelanggaran yang bisa masuk dalam kejahatan perang.

Kamis, 12/09/2019 11:08 0

Palestina

Tingkat Kecanduan Narkoba Warga Israel di Dekat Gaza Meningkat

Surat kabar Israel Maariv melaporkan kemarin bahwa tingkat konsumsi obat penenang di antara orang Israel di daerah sekitar Jalur Gaza meningkat

Kamis, 12/09/2019 11:06 0

Amerika

Ribuan Penyintas dan Petugas Penyelamatan Serangan 9/11 Terserang Kanker

"Kita harus mengakui bahwa ada korban selain mereka yang meninggal pada 11 September," kata Joanna Reisman,

Kamis, 12/09/2019 09:26 0

Afghanistan

Pertempuran di Afghanistan Kembali Berkobar

pertempuran meletus di setidaknya 10 provinsi.

Kamis, 12/09/2019 08:14 0

Indonesia

Indonesia Kecam Netanyahu Atas Janji Kampanye Caplok Lembah Yordania

Pemerintah Indonesia pun langsung angkat suara, mengecam pernyataan kontroversial tersebut.

Kamis, 12/09/2019 07:28 0

Indonesia

MUI: Bangsa Indonesia Berduka Atas Meninggalnya BJ Habibie

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas menegaskan bahwa bangsa Indonesia merasa kehilangan atas wafatnya BJ. Habibie.

Rabu, 11/09/2019 21:01 0

Close