... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Rezim Afghanistan Khawatir terhadap Draft Perjanjian AS-Taliban

Foto: Presiden Afghanistan Ashraf Ghani.

KIBLAT.NET, Kabul – Pemerintah Afghanistan menyatakan keprihatinan tentang rancangan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Taliban. Kabul mengatakan bahwa para pejabatnya membutuhkan informasi lebih lanjut tentang “risiko” yang ditimbulkan dari kesepakatan itu.

“Kabul merasa prihatin dan selanjutnya kami ingin klarifikasi pada dokumen (perjanjian) ini sehingga kami dapat secara akurat menganalisis risiko dan kemungkinan konsekuensi negatif dan mencegah segala bahaya yang ditimbulkan,” tulis jubir Presiden Ashraf Ghani, Siddiq Siddiqui, di Twitter pada Rabu (04/08/2019).

Teks kesepakatan yang dicapai pada negosiasi ke-9 itu mengkhawatirkan banyak para petinggi rezim Afghanistan. Mereka takut Washington mengorbankan kepentingan mereka sebagai imbalan penarikan pasukan untuk mengakhiri konflik 18 tahun. Secara khusus, mereka merasa terpinggirkan dalam proses negosiasi AS-Taliban.

Perlu dicatat, ini merupakan reaksi resmi pertama dari Kabul terhadap rancangan kesepakatan, yang disampaikan Khalilzad pada Senin kepada para pejabat Afghanistan.

Utusan khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, mengunjungi Kabul pekan ini dan mempresentasikan poin-poin rancangan perjanjian yang dinegosiasikan antara Amerika Serikat dan Taliban kepada para pejabat Afghanistan.

Berdasarkan kutipan dari draft perjanjian yang dirilis, Pentagon akan menarik ribuan dari 13.000 tentaranya dari lima pangkalannya di Afghanistan pada awal tahun depan, jika Taliban mematuhi jaminan keamanan.

Di bawah fase pertama ini, sebanyak 8.600 tentara AS akan tetap berada di Afghanistan.

BACA JUGA  Delegasi Taliban Bertemu Utusan Khusus AS untuk Afghanistan di Pakistan

Sebagai imbalannya, Taliban bersumpah untuk “mengurangi kekerasan” di beberapa daerah, tetapi bukan gencatan senjata. Selain itu, Taliban harus memastikan bahwa wilayah yang mereka kuasai tidak digunakan sebagai tempat yang aman bagi organisasi “teroris” dan untuk pertama kalinya meluncurkan negosiasi damai langsung dengan pemerintah Kabul. Klausa terakhir dikaitkan dengan keputusan oleh Taliban untuk menghormatinya atau tidak.

Draft tersebut diharapkan akan disampaikan kepada Presiden AS Donald Trump minggu ini.

Namun prospek tanda tangan yang akan datang belum mengurangi tingkat kekerasan di negara ini.

Sementara itu, Taliban tak menghentikan serangan. Bahkan, saat Khalilzad mengunjungi Kabul pada Senin lalu Taliban meluncurkan serangan ke kompleks asing di pusat kota Kabul. Sejumlah orang tewas akibat serangan pada tengah malam itu.

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

HRS Center Akan Investigasi Pencekalan Habib Rizieq

Menurutnya, investigasi itu penting dilakukan untuk menilai apa dan bagaimana permasalahan Habib Rizieq itu terjadi.

Rabu, 04/09/2019 16:20 0

Indonesia

Muslim Life Festival Akan Digelar Lagi Tahun Depan

Pagelaran Muslim Life Festival telah berakhir.

Rabu, 04/09/2019 15:59 0

Indonesia

Anggaran Basarnas Dipotong, Anggota Komisi V DPR: Pemerintah Tak Perdulikan Nyawa Masyarakat

Pemerintah kembali memotong anggaran Badan SAR Nasional (Basarnas).

Rabu, 04/09/2019 15:41 0

Indonesia

HRS Center: Syariat Islam Dapat Diterapkan dalam Sistem Hukum Nasional

Lembaga Kajian Strategis HRS Center sudah berumur satu tahun.

Rabu, 04/09/2019 14:40 0

Munaqosyah

Pemikiran Syahrur dan Problem Otoritas dalam Studi Islam

Kekacauan terjadi ketika seseorang yang tidak ahli memaksa diri untuk berbicara ilmu. Dalam konteks ilmu agama, jumlah alim-ulama semakin sedikit. Dalam jumlah yang sedikit itu muncul orang-orang yang jahil berbicara agama.

Rabu, 04/09/2019 14:08 0

Indonesia

Fahira Idris: Pemerintah Miskin Gagasan Tangani Defisit BPJS Kesehatan

Fahira Idris mengatakan bahwa opsi kenaikan iuran justru akan menjadi preseden tidak baik dalam perjalanan BPJS Kesehatan ke depan

Rabu, 04/09/2019 12:46 0

Indonesia

Naikkan Iuran BPJS Kesehatan, Fahira Idris Anggap Pemerintah Lempar Tanggung Jawab

Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan pemerintah tidak sungguh-sungguh menyelematkan BPJS Kesehatan.

Rabu, 04/09/2019 12:33 0

Indonesia

GNPF Ulama: Kita Tunggu Ketegasan Pemerintah Sikapi Ricuh Papua

Ketua Umum GNPF Ulama, Yusuf Martak menuntut pemerintah berlaku tegas terhadap permasalahan di Papua.

Selasa, 03/09/2019 19:54 1

Indonesia

Lieus Sungkharisma: Tangkap Dalang Rusuh Papua Dong, Masukin Sel Tikus!

Lieus Sungkharisma meminta pemerintah menangkap dalang kerusuhan Papua.

Selasa, 03/09/2019 19:41 0

Indonesia

Lima Terdakwa Ricuh 21-22 Mei Sujud Syukur Atas Vonis Hakim, Ada Apa?

Dari 27 terdakwa yang ditangani Tim Advokasi Tragedi 21-22 Mei, lima terdakwa divonis tiga bulan lima belas hari kurungan

Selasa, 03/09/2019 18:13 0

Close