Akan Ada Aksi Sejuta Umat Jika RUU P-KS Disahkan

KIBLAT.NET, Jakarta- Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menuntut agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) tidak disahkan oleh DPR. Jika lembaga legislatif tetap menyetujui RUU tersebut, KAMMI mengancam akan melakukan aksi sejuta umat bersama seratus lebih ormas.

Koordinator Lapangan (KORLAP) aksi tersebut, Reviana Revitasari mengatakan bahwa RUU P-KS merupakan sebuah RUU yang terlalu memaksa untuk disahkan. Hal itu dikarenakan RUU tersebut sudah ada sejak tahun 2014.

“Kalau bisa kita ibaratkan, RUU P-KS ini seperti bola yang digelindingkan ke DPR yang memaksa untuk dibahas. Padahal ini dari 2014, dan sepanjang pembahasan enggak nemu-nemu enggak ada perubahan yang signifikan,” kata Reviana saat ditemui di depan gedung DPR RI, Senin (26/08/2019)

Pembahasan RUU P-KS, lanjut Reviana, seperti tidak memiliki titik temu dan hanya saling ngotot-ngototan aja. “Dan itu sudah jelas kita kasih kajiannya. Ini sudah ada di hukum mana, ini sudah ada di KUHP bagian mana,” katanya

Reviana pun menegaskan jika RUU P-KS tetap disahkan maka pihaknya akan melakukan aksi sejuta umat dalam rangka menolak RUU tersebut. “Kalau misal digolkan kita akan adakan aksi sejuta umat kalau bisa. Kita akan tuntut, kita akan adakan aksi lagi yang lebih besar kalau bisa,” ujarnya.

“Karena kita sebelumnya sudah kirim surat pernyataan bersama dengan 110-an ormas yang menyatakan menolak ini. Jadi kalau ini tetap dilanjutkan dan mereka mengabaikan ini, berarti semua ini sia-sia,” pungkasnya.

BACA JUGA  Tolak Ajakan Dialog, Istana Anggap Habib Rizieq Bukan Level Jokowi

KAMMI dengan tegas menolak pengesahan RUU P-KS karena dinilai tak sesuai dengan moralitas bangsa Indonesia. “Dengan ini Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI) menyatakan penolakan pengesahan RUU P-KS karena sarat dengan nilai liberalisme yang mengabaikan Pancasila, ketahanan keluarga, agama dan moralitas bangsa Indonesia,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) KAMMI Irvan Ahmad Fauzi.

Reporter: Fanny Alif
Editor: Imam S.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat