... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Ratusan Ribu Pengungsi Rohingya Gelar Peringatan Dua Tahun Pengusiran

Foto: sumber: AFP

KIBLAT.NET, Sri Lanka – Sekitar 200.000 muslim Rohingya menggelar demonstrasi di sebuah kamp pengungsi di Bangladesh pada Ahad (25/08/2019). Aksi ini untuk memperingati dua tahun terusirnya mereka dari kampung halaman di negara bagian Rakhine, Myanmar.

Mereka menamakan peringatan ini sebagai “Hari Genosida”. Anak-anak, wanita dan laki-laki berkumpul di Kutupalong, kamp pengungsi terbesar di dunia. Mereka meneriakkan yel-yel “Maha Besar Allah yang masih memberi kehidupan pada Rohingya.”

“Saya datang untuk menuntut keadilan setelah dua putra saya terbunuh. Saya akan terus berjuang sampai nafas terakhir,” kata Taiba Khatun (50) di lokasi aksi sambil mengusap air mata di pipinya.

Para penyelidik PBB menyebut kampanye militer Myanmar sebagai “genosida” dan menyerukan penuntutan para jenderal negara yang sebelumnya bernama Burma itu. Burma telah menolak tuduhan itu, dengan mengatakan pihaknya “mempertahankan diri dari serangan pemberontak Rohingya”.

Salah satu pemimpin Rohingya, Mohebullah, menjelaskan pada Ahad bahwa warga Rohingya bersedia pulang ke kampung halaman mereka namun dengan tiga syarat. Yaitu, keselamatan mereka dijamin, mendapat status warga negara Myanmar dan bisa hidup kembali di desa kelahiran.

“Kami telah meminta pemerintah Burma untuk membuka dialog tetapi kami belum menerima tanggapan sejauh ini,” jelasnya.

“Kami dipukuli, dibunuh, dan diperkosa di Rakhine. Tapi itu tidak masalah. Ada tanah kami dan kami masih ingin kembali ke sana,” lanjut Mohebullah.

BACA JUGA  Bangladesh Mulai Pindahkan Pengungsi Rohingya ke Pulau Tak Layak Huni

Para siswa Rohingya di sekolah-sekolah, yang didirikan oleh badan-badan bantuan, berbaris dengan membawa bendera dan meneriakkan slogan-slogan “Kami Rohingya, bukan Bangali”, merujuk pada pelabelan Rohingya di Myanmar.

Warga Rohingya juga menggelar doa bersama kepada para korban kebengisan pemerintah. Mereka membawa tulisan besar berbunyi “Bicaralah dengan kami tentang kewarganegaraan dan etnis Rohingya kami.”

Pasukan keamanan Bangladesh menjaga ketat jalannya aksi.

Sekitar 740.000 Rohingya melarikan diri dari Negara Bagian Rakhine di Myanmar barat pada Agustus 2017 setelah penumpasan tentara di negara yang mayoritas beragama Budha itu.

Sekitar satu juta Rohingya tinggal di lebih dari 30 kamp di daerah Cox Bazar di perbatasan tenggara Bangladesh.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Oknum Polisi Beri Miras ke Mahasiswa Papua, Fahira Idris: Saya Nggak Habis Pikir

Fahira Idris menyayangkan adanya oknum polisi yang memberikan dua dus minuman keras ke pada Sekretariat Ikatan Mahasiswa Papu

Ahad, 25/08/2019 13:16 0

Indonesia

Komunitas Warteg Nusantara Ikut Tolak Pemindahan Ibu Kota

Komunitas Warteg Nusantara menyatakan semestinya pemerintah fokus mengatasi masalah ekonomi

Sabtu, 24/08/2019 13:01 0

Info Event

Basic Training Tanggap Darurat Bencana Wahdah Peduli Resmi Dibuka

Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah Wahdah Islamiyah Sulawesi Tengah, Nur Hadi membuka kegiatan Basic Training Wahdah Peduli

Sabtu, 24/08/2019 12:32 0

Indonesia

Pria Ini Ditahan Polisi Usai Aksi 22 Mei Setelah Ditemukan Kata “Jihad” di Ponselnya

Terdakwa ditahan saat hendak pulang setelah mengikuti aksi damai di Depan Gedung Bawaslu

Sabtu, 24/08/2019 12:03 0

Foto

Ini Peta Terbaru Wilayah Kontrol Pejuang Suriah di Idlib

Daerah-daerah di sekeliling pos tersebut berhasil direbut oleh militer Assad.

Sabtu, 24/08/2019 09:18 0

Indonesia

Soal Kasus UAS, Mardani Ali Sera: Ulama Harus Dijaga

Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera minta Polisi usut tuntas pengunduh potongan video ceramah Ustadz Abdul Somad (UAS).

Jum'at, 23/08/2019 21:15 0

Indonesia

Kashmir Memanas, PKS Tegaskan PBB Tidak Boleh Diam

Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini merasa prihatin, pasalnya kondisi Kashmir yang mencekan dan menimbulkan derita masyarakat sipil.

Jum'at, 23/08/2019 21:01 0

Artikel

Papua di Mata Kita

Persoalan Papua adalah persoalan yang rumit. Ini bukan satu persoalan yang dapat selesai dengan teriakan harga mati. Ada persoalan harga diri, kekecewaan, aspirasi politik, penindasan, eksploitasi hingga ekonomi yang membebani Papua.

Jum'at, 23/08/2019 16:44 0

Indonesia

Saat Tiga Terdakwa Kompak Bantah Kesaksian Polisi

"Saya keberatan dengan keterangan saksi. Demi Allah saya tidak melakukan pelemparan satu pun," tegas Aziz.

Jum'at, 23/08/2019 08:07 0

Indonesia

Keterangan Saksi Polisi di Sidang Ricuh 21-22 Mei Berbeda dengan BAP

Demikian keterangan dari kuasa hukum.

Jum'at, 23/08/2019 07:42 0

Close