... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Merdeka Bersama Toedjoeh Kata

KIBLAT.NET – Merdeka!!! Teriakan itu senantiasa terdengar di seantero negeri ini setiap pertengahan bulan Agustus. Berbagai ekspresi kegembiraan terumbar dimana-mana, mulai dari ruang publik luas hingga ruang privat paling sempit. Dari menonton siaran langsung upacara bendera di Istana Negara bersama keluarga hingga adu cepat makan kerupuk di tanah lapang depan balai desa.

Namun sayang, sebagian besar ekspresi tersebut nyatanya hanya menyentuh kulit-kulit saja, tak lantas mencerminkan subtansi kemerdekaan yang komprehensif. Seremonial belaka, tak memberi asupan jiwa yang membuat kualitas manusia-manusia Indonesia semakin membaik setiap tahunnya.

Bagi umat Islam Indonesia khususnya, hal semacam itu tak seharusnya terjadi. Mengingat dalam mempersiapkan kemerdekaan, para pendahulu kita, tokoh-tokoh Islam telah memikirkan bagaimana agar Negeri ini menjadi tempat yang memberikan kenyamanan dan ketentraman kepada umat Islam, terutama  aspek rohani. Hal itu tercermin dalam redaksi sila pertama Pancasila: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Sila tersebut merupakan hasil kompromi antara tokoh-tokoh Islam dalam panitia sembilan pada tanggal 22 Juni 1945 yang diwakili oleh K.H. Wachid Hasyim, Haji Agus Salim, Abdul Kahar Moezakkir, dan Abikoesno Tjokrosoejoso dengan tokoh-tokoh nasionalis sekular yang diwakili Soekarno, Moh. Hatta, Moh. Yamin, Alexander Maramis, dan Achmad Soebarjo.

Sila tersebut mungkin terdengar sangat tajam dan terkesan sangat ekstrim dan radikal. Sebagaimana tanggapan seorang Johannes Latuharhary, sebagai seorang Kristiani dia keberatan dengan tujuh kata dalam sila tersebut, menurutnya hal itu dapat membawa akibat atau dampak yang besar khususnya terhadap agama selain Islam. Namun keberadaan seorang Maramis di panitia sembilan yang ikut mengamini tujuh kata tersebut boleh saja ditafsirkan bahwa kekhawatiran Latuharhary tidak sepenuhnya mewakili pemeluk-pemeluk agama selain Islam.

BACA JUGA  Jokowi Kritisi Kebijakan Impor Pacul

Keberatan juga datang dari Wongsonegoro, menurutnya tujuh kalimat tersebut mungkin menimbulkan fanatisme, seolah-olah memaksa muslim menjalankan syariat Islam. Namun hal ini dibantah oleh K.H. Wachid Hasyim. Menurutnya, tajam itu relatif, bagi sebagian pihak tujuh kata tersebut mungkin dianggap terlalu tajam, tetapi bagi sebagian pihak bisa saja dianggap kurang tajam.

Ucapan Wachid Hasyim terbukti, muncullah seorang Ki Bagus Hadikusumo yang masih merasa tidak puas dengan hasil kompromi panitia sembilan. Bahkan Kahar Muzakkir yang turut membidani kompromi tersebut pada akhirnya sepakat dengan Ki Bagus dan mengusulkan agar semua kata yang menyebutkan Islam dihapus saja. Bagi mereka dasar Negara tidak boleh samar-samar; seratus persen Islam atau tidak Islam sama sekali.

Memang pada akhirnya tujuh kata tersebut dihapuskan pada tanggal 18 Agustus 1945, sehari setelah proklamasi kemerdekaan. Penghapusan tersebut dilatari oleh pertemuan Hatta dengan sosok misterius yang mengaku sebagai perwakilan Jepang, sosok misterius tersebut menyampaikan keberatan wakil Katolik dan Protestan di Indonesia Timur, dimana mereka mengancam akan memisahkan diri jika Pancasila tetap disahkan.

Hatta terpengaruh ancaman tersebut, eksistensi Maramis di panitia sembilan menjadi terabaikan. Pada akhirnya sila pertama berubah menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa” dan sila sebelumnya dengan tujuh kata menjadi sebuah ornamen sejarah yang hari ini kita kenal sebagai Piagam Djakarta.

Bagi seorang muslim, Piagam Djakarta tak seharusnya sekedar dipandang sebagai ornamen sejarah. Karena dibalik tujuh kata tersebut terdapat sejarah panjang perjuangan pemikiran para pendahulu. Di balik tujuh kata tersebut terkandung ribuan ijtihad yang hanya dimaksudkan untuk kemaslahatan umat Islam Indonesia. Toh perubahan tersebut hanya bersifat redaksional, bukan pada makna dan subtansi.

BACA JUGA  Menko PMK: Diet Berlebihan Bahayakan Kesuburan Wanita

Maka sudah seharusnya umat Islam Indonesia memaknai kemerdekaan dengan menghargai jerih pemikiran para pendahulu, yaitu merdeka dengan tunduk pada kewajiban menjalankan syariat bagi pemeluk-pemeluknya atau lebih tepatnya merdeka bersama toedjoeh kata.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Pejuang Oposisi Kembali Derita Kemunduran di Pinggiran Idlib

Koresponden Enabbaladi.net mengatkan bahwa rezim memotong jalan internasional ke Aleppo. Pemutusan jalan ini bertujuan untuk mengepung Khan Sheikhoun dari utara.

Selasa, 20/08/2019 08:59 0

Turki

Pemerintah Turki Pecat 3 Walikota Atas Tuduhan Terlibat Terorisme

Pernyataan Dalam Negeri Turki menjelaskan bahwa ketiganya dituduh sebagai bagian dari "organisasi teroris" dan melaksanakan "propaganda teroris."

Selasa, 20/08/2019 07:21 0

Indonesia

Dalam Sehari, Ustadz Abdul Somad Dilaporkan Tiga Kali

Ormas yang menamakan diri Brigade Meo di kota Kupang, melaporkan Ustaz Abdul Somad (UAS) ke Polda NTT terkait kasus dugaan penistaan terhadap simbol agama.

Senin, 19/08/2019 23:40 1

Indonesia

DPR Periode 2014-2019 Segera Berakhir, AILA Berharap RUU P-KS Tak Buru-buru Disahkan

Aliansi Cinta Keluarga (AILA) meminta agar RUU P-KS tidak buru-buru disahkan.

Senin, 19/08/2019 23:13 0

Indonesia

Saksi dari Polisi Bantah Dakwaan JPU di Sidang Ricuh 21-22 Mei

Wisnu Rakadita mengungkapkan bahwa hari ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan empat saksi dari kepolisian.

Senin, 19/08/2019 22:59 0

Pakistan

Pasukan India Tewaskan Dua Warga Sipil Kashmir

Pakistan menyebut penembakan pada Ahad (18/08/2019) juga melukai dua warga sipil lain

Senin, 19/08/2019 21:32 0

Indonesia

Din Syamsuddin: Pernyataan Mahfud MD Soal Ulama Radikal Meresahkan

Din Syamsuddin mengkritisi pernyataan Mahfud MD yang mengatakan ada orang radikal dari Arab Saudi yang ke Indonesia.

Senin, 19/08/2019 16:13 1

Eropa

Lumpuhkan Teroris Penyerang Masjid, Dua Muslim Norwegia Dianggap Pahlawan

Mohamed Rafiq dan Mohamed Iqbal Jave melumpuhkan Philip Manshaus yang merupakan pelaku penyerangan

Senin, 19/08/2019 13:59 0

Indonesia

KSHUMI Nilai Ceramah Salib Ustadz Abdul Somad Tak Bisa Dipidana

Menurutnya, ceramah UAS yang viral adalah bentuk kajian tauhid.

Senin, 19/08/2019 13:45 0

Indonesia

Komisi Dakwah MUI: Ceramah UAS Bukan Menista Agama Lain

Ustadz Abdul Somad (UAS) dilaporkan ke Kepolisian Daerah (Polda) NTT atas dugaan penistaan simbol-simbol agama Katolik dan Kristen dalam ceramahnya

Senin, 19/08/2019 12:11 0

Close