Saudara Pemimpin Taliban Terbunuh dalam Serangan Bom di Masjid

KIBLAT.NET, Balochistan – Saudara kandung Amir Imarah Islam Afghanistan (Taliban) Haibatullah Akhunzadah, Hafidz Hamdallah, tewas dalam serangan bom di masjid di provinsi Balochistan, Pakistan, pada Jumat (16/08/2019. Setidaknya empat orang tewas dalam serangan yang belum diketahui pelakunya itu.

Sejumlah sumber terpercara, yang dilansir AFP, mengonfirmasi bahwa salah satu korban adalah Hafidz Hamdallah, yang merupakan saudara kandung Haibatullah Akhunzadah. Hamdallah adalah imam masjid yang menjadi sasaran serangan teror tersebut.

Sumber pemerintahan juga mengonfirmasi salah satu korban saudara kandung Akhunzadah. “Dapat dipastikan (salah satu korban) adalah saudara kandung Haibatullah yang sejak 2016 memimpin Taliban,” kata sumber pemerintah dengan meminta namanya tidak disebut kepada AFP.

Berdasarkan data resmi korban yang dikeluarkan rumah sakit tercantum nama Hamdallah bin Maulawi Muhammad Khan. Data tersebut sebagaimana yang dilihat oleh AFP.

Maulawi Muhammad Khan merupakan ayah Haibatullah Kahunzadah.

Pakar Pakistan untuk urusan Taliban, Rahimullah Yousufazi, menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, Haibatullah memimpin sekolah Al-Quran dan imam shalat. Akan tetapi, setelah ditunjuk sebagai amir Taliban ia meninggalkan tempat yang menjadi sasaran bom tersebut.

Saudaranya paling kecil, imbuh Rahimaullah, menggantikan posisinya untuk mengelola sekolah tersebut. Namun saat ini ia meninggal, sebagaimana kabar yang saya terima.

Para sumber dari kalangan warga mengatakan bahwa masjid yang di dalamnya juga kompleks sekolah Al-Quran itu milik keluarga pemimpin Taliban.

Sementara itu, kepala polisi Balochistan Muhsin Hasan But mengatakan bahwa ledakan bersumber dari bom yang diletakkan di bawah kursi mimbar.

“Imam masjid dan sejumlah lainnya tewas serta 25 lainnya terluka akibat bom tersebut,” katanya.

Abdul Razzaq Shima, seorang pejabat polisi lainnya, mengkonfirmasi ledakan itu terjadi di kota Kushlak, sekitar 20 kilometer dari ibukota provinsi Quetta.

Sampai saat ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Sumber: AFP
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat