... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Peran Ulama dalam Memperjuangkan Kemerdekaan

Foto: Kemerdekaan RI. (Indoberita)

KIBLAT.NET, – Peran ulama, santri dan tokoh-tokoh Islam dalam perjuangan menegakkan kedaulatan bangsa dan Negara sangat besar. Mereka bahkan rela mengorbankan harta, tenaga serta jiwa mereka dalam berjuang dan mempertahankan kemerdekaan.

Namun, generasi muda dewasa ini telah kehilangan ruh dan akarnya. Karena, mereka telah lupa dengan sejarah kepahlawanan pendahulunya. Kita tidak akan menemukan pohon yang besar sampai mencakar langit tanpa ditopang dengan akar yang kuat. Kita tidak akan mampu membangkitkan semangat kepahlawanan dalam diri generasi kita, jika mereka buram dalam sejarah perjuangan kaum muslimin dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

Ketidakpahaman seseorang dengan sejarah maka ia tak akan mengenal tentang dirinya. Sebab tak ada seorang manusia yang dapat dikatakan menyadari dirinya sendiri jika ia tidak mengenal leluhur-leluhurnya. Ketidaktahuan kita terhadap sejarah, kita tak akan mengenal semangat yang menghidupkan mereka, pengorbanan yang mereka hadapi, prestasi-prestasi mereka dalam kehidupan ekonomi, politik, jihad, pemerintahan dan yang lainnya.

Dampaknya, ketika seseorang tak mengenal sejarah para generasi dan leluhurnya. Mereka tidak akan tergugah oleh duka nestapa, tragedi-tragedi mereka, perjuangan dan pengorbanan mereka, kegemilangan-kegemilangan dan kemenangan-kemenangan mereka. Serta tidak mendapatkan inspirasi, harapan dan cita-cita mereka.

Bahkan, ketidakpahaman kita terhadap sejarah maka kita tidak akan mampu merajuk masa depan. Sejarah telah jelas, bahwa ia sangat memiliki peran penting dalam kehidupan seseorang, pandangan seseorang akan jauh menatap kedepan jika mengenal sejarahnya. Tahu tentang cita-cita para pejuang Islam dalam kemerdekaan, semangat mereka dalam dakwah dan kerinduan mereka dalam jihad.

Salah satu penyebab generasi muda Islam hari ini tak mengenal sosok pahlawannya, karena pengajaran dan penulisan sejarah bertolak dari dasar pemikiran deislamisasi. Peran ulama dan santri dalam membela bangsa dan Negara dipinggirkan dan ditiadakan.

Selain deislamisasi sistem penulisan sejarah Indonesia di zaman orde lama dan orde baru, yang lebih mengutamakan Hindum’sasi dan Buddhanisasi berdampak dalam penerbitan buku sejarah SD, SMP dan SMA, hampir 95% berisikan sejarah Hindu dan Buddha walapun penduduknya hanya kisaran 2,5% dari penduduk Indonesia.

Realitas penulisan sejarah Indonesia yang dengan sengaja meminggirkan Islam, Ulama dan santrinya sebagai pelaku sejarah cukup lama terbiarkan. Olehnya itu, sejarah Indonesia dalam berbagai peristiwa yang dilaluinya mesti diajarkan secara konfrhensif dengan pengajaran yang jujur.

BACA JUGA  Budaya IDI Sebagai Strategi Ciptakan Generasi Muslim Cerdas dan Berilmu

Peranan ulama dan tokoh-tokoh Islam dalam mengawal perjuangan merebut kemerdekaan hingga mempertahankannya. Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia mengusir kaum imperialis (penjajah) dari tanah air Indonesia tidak lepas dari pernanan besar ulama, santri dan tokoh-tokoh Islam negeri ini.

Bahkan, tidak sedikit di antara mereka menjadi lini terdepan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Sehingga, tak sedikit pula di antara mereka yang gugur sebagai seorang syuhada. Tak terhitung jumlah ulama, santri dan tokoh-tokoh Islam sebagai pahlawan. Namun, diantaranya oleh pemerintah Republik Indonesia ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Kita ketahui Pangeran Diponegoro, Tuangku Imam Bonjol, Teuku Umar serta masih banyak lagi yang mengobarkan semangat jihad dalam mengusir dan membuat hengkang para penjajah dari bumi pertiwi ini.

Begitupun dengan resolusi jihad yang dikumandangkan oleh KH. Hasyim Asy’ari. Munculnya resolusi jihad pada 22 oktober 1945 erat kaitannya dengan kedatangan pasukan sekutu (Inggris) ke Indonesia yang tujuan awalnya adalah melucuti senjata tentara Jepang yang kalah dalam Perang Dunia II dan memulangkan mereka ke Negara asal mereka yaitu Jepang.

Namun, ternyata pasukan sekutu yang dalam hal ini adalah pasukan AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) secara diam-diam membawa pasukan NICA (Belanda), maka timbullah rasa curiga dan tidak percaya pada pasukan sekutu, karena memang NICA atau Belanda masih mempunyai keinginan untuk berkuasa kembali di Indonesia.

Resolusi yang diserukan langsung oleh KH. Hasyim Asy’ari berisi perintah untuk berjuang mempertahankan tegaknya Republik Indonesia yang sifatnya jihad fi sabilillah serta mempunyai hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap orang Islam di Indonesia. Hal tersebut memiliki dampak yang sangat luar biasa, terlihat dari penguatan kembali laskar Hizbullah yang dibentuk pada zaman Jepang dan pembentukan laskar militer seperti laskar Sabilillah.

Selain itu, para kyai dan ulama kemudian mengirimkan para santrinya untuk bergabung dengan laskar militer seperti Hizbullah dan Sabilillah untuk ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Guna mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia maka para ulama bersama para santrinya ikut angkat senjata dalam organisasi kemiliteran, baik dalam laskar Hizbullah, Sabilillah, bersama BKR, TKR, TRI dan TNI selama perang kemerdekaan 1945-1950, melawan tentara sekutu Inggris dan NICA.

BACA JUGA  Pemuda Islam, Go International!

Banyak dari para ulama menjadi tokoh sentral baik dalam kepemimpinan laskar militer ataupun sebagai penggerak santri atau masyarakat untuk ikut berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kiprah ulama, santri dan tokoh-tokoh Islam dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia begitu panjang, nama mereka telah tercatat dengan tinta emas sebagai seorang syuhada. Kemerdekaan Indonesia hari ini yang telah sampai di usia 74 tahun adalah warisan para ulama yang mesti dijaga dengan baik.

Sebab, mereka telah membasahi negeri ini dengan tetesan darah, keringat dan air mata. Sejarah perjuangan mereka seharusnya membangkitkan kesadaran dan semangat bagi setiap generasi Islam di negeri ini. Ustadz Bachtiar Nasir pernah mengatakan, “Seandainnya bumi nusantara (Indonesia) ini dibelek (dibelah) menjadi dua, maka yang keluar adalah darahnya para ulama.”

Tapi kini, ruh perjuangan para ulama itu hampir tak terwariskan dalam diri generasi muda hari ini. Mereka kehilangan semangat dalam melanjutkan cita-cita perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berjuang dalam menegakkan aqidah Islamiyah, mendekatkan masyarakat kepada Islam.

Menurut saya, bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hanya melepaskan diri dari penjajah, tetapi juga melepaskan diri dari segala bentuk kesyirikan dan penyembahan kepada selain Allah, memberantas kezaliman dan menegakkan keadilan sesuai dengan wahyu Allah. Dan itu adalah kemerdekaan hakiki bagi setiap muslim.

Salah satu upaya dalam mempertahankan perjuangan ulama dahulu adalah menyeru kepada masyarakat untuk mentauhidkan Allah. Kembali kepada Islam secara kaffah, menjadikan Islam sebagai jalan hidup dan solusi terhadap seluruh masalah yang di hadapi saat ini.

Sebab, Islam dan NKRI suatu kesatuan yang telah menyatu dan tak bisa dipisahkan. Kita bisa ber Islam secara kaffah, menjadi mukmin yang sholeh dan juga bisa menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan worldview Islam. Wallahu ‘alam bishowab…

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd (Penulis Buku, Teacher, Pendiri Madani Institute dan Founder www.mujahiddakwah.com)
Editor: Hunef Ibrahim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Kemerdekaan Menurut H.O.S. Tjokroaminoto

Satu pertemuan dengan pengurus Sarekat Dagang Islam (SDI) mengubah jalan hidup Tjokroaminoto. Ia diberi amanah untuk memimpin perkumpulan tersebut. Bukan hanya itu, ia menyusun kembali anggaran dasar perkumpulan itu, menyesuaikan dengan aturan kolonial yang berlaku saat itu.

Sabtu, 17/08/2019 00:04 1

Indonesia

Kashmir Memanas, Menlu RI Panggil Kedutaan India dan Pakistan

Indonesia meminta kedua negara menyelesaikan masalah di Kashmir dengan dialog

Jum'at, 16/08/2019 16:53 0

Indonesia

Sandiaga Uno Sebut Pemindahan Ibu Kota Belum Jadi Prioritas

Sandiaga Uno menanggapi wacana Presiden Jokowi yang ingin memindah ibu kota Indonesia ke Kalimantan.

Jum'at, 16/08/2019 16:53 0

Arab Saudi

Puncak Haji Berakhir, 169 Jemaah Haji Indonesia Meninggal

Jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya

Jum'at, 16/08/2019 16:36 0

Indonesia

Sandiaga Uno Jalan Kaki Menuju Gedung DPR/MPR, Didoakan Jadi Wakil Presiden

"Jalanan macet total dan sudah tidak lagi menggunakan fasilitas pengawalan, maka jalan kaki pun jadi,"

Jum'at, 16/08/2019 14:59 0

Myanmar

Pemulangan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Akan Dimulai Pekan Depan

"Kelompok pengungsi pertama akan kembali ke Myanmar minggu depan. Kami telah menyetujui pemulangan 3.540 orang pada 22 Agustus," kata Menteri Luar Negeri Myanmar, Myint Thu.

Jum'at, 16/08/2019 13:38 0

Pakistan

Tentara Pakistan dan India Baku Tembak di Kashmir

Pakisan menakan, tiga tentaranya dan lima tentara India tewas dalam pertempuran itu

Jum'at, 16/08/2019 08:48 0

Suriah

Oposisi Suriah Luncurkan Serangan Balik

Hammoud menambahkan bahwa pengiriman pasukannya diputuskan dimulai pada Jumat ini.

Jum'at, 16/08/2019 08:25 0

Indonesia

Ini Pesan Muhammadiyah kepada Para Kadernya yang Terpilih Anggota Dewan

“Hormati Muhammadiyah, posisikan Muhammadiyah sebegai ormas kemasyarakatan dan dakwah, kalau bisa didukung, diringankan bebannya,” tutup Haedar.

Jum'at, 16/08/2019 07:30 0

Iran

Khamenei Tegaskan Dukungan untuk Pemberontak Syiah Hutsi Yaman

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei sekali lagi menegaskan dukungannya kepada pemberontak Syiah Hutsi di Yaman.

Kamis, 15/08/2019 17:31 0

Close