... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Kemerdekaan Menurut H.O.S. Tjokroaminoto

Foto: HOS Tjokoraminoto

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

KIBLAT.NET – Hindia Belanda, khususnya di Jawa pada akhir abad ke-19 ditandai dengan berhembusnya angin perubahan. Sistem tanam paksa yang telah menghancurkan pertanian masyarakat pedesaan, membuat para petani kehilangan tanahnya dan mencari pekerjaan pada industri-industri yang sedang berkembang.

Gelombang pemikiran ekonomi liberal yang mendera pemerintah kolonial membuka pintu seluas-luasnya bagi investasi asing di Jawa. Modal-modal besar mengalir ke perusahaan-perusahaan perkebunan milik swasta asing.

Bermunculan pula kantor-kantor pelayanan publik, perusahaan-perusahaan swasta di Hindia Belanda. Menopang industri besar seperti gula dan temabakau. Hasil eskpor panen dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta tumbuhnya pelabuhan, perusahaan dagang dan bank membuka urbanisasi lebih luas. Di Surabaya, Semarang dan Batavia, pelabuhan menjadi titik pengangkutan hasil panen dari Jawa ke seluruh dunia. (John Ingleson: 2013)

Orang-orang Pribumi keturuan priyayi perlahan mampu merayap mengecap pendidikan yang diselenggarakan pemerintah kolonial. Tentu saja pendidikan ini bukan untuk tujuan mencerdaskan bangsa pribumi kala itu, tetapi membuat mereka menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam sistem ekonomi kolonial. Meski demikian, bagi orang pribumi, pendidikan tersebut mampu menjadi pendongkrak status sosial dan dianggap menjanjikan bagi masa depan.

Setidaknya lewat pendidikan dan pergaulan dengan orang Barat, mereka dapat mengenal media massa dan organisasi. Media-media massa lokal seperti Ratna Doemillah, Bintang Hindia, Medan Prijaji atau Sinar Djawa bermunculan.

Di masa-masa ini Oemar Said Tjokroaminoto hadir. Ia bukanlah anak sembarangan. Secara genealogi, ia keturunan priyayi sekaligus keturunan ulama. Sosoknya memang ‘keras pendirian.’ Ia menolak segala macam feodalisme jawa hidup dalam dirinya. Kekerasan pendiriannya juga yang membuatnya memboyong istrinya ke Surabaya. Di sana ia menjadi sosok yang dikenal karismatik.

Ia menyaksikan perubahan di perubahan Surabaya yang menjadi kota industri, namun masyarakatnya tetap berada dalam lapis terendah dan direndahkan baik oleh sistem kolonial yang rasialis maupun oleh feodalisme Jawa.

Satu pertemuan dengan pengurus Sarekat Dagang Islam (SDI) mengubah jalan hidup Tjokroaminoto. Ia diberi amanah untuk memimpin perkumpulan tersebut. Bukan hanya itu, ia menyusun kembali anggaran dasar perkumpulan itu, menyesuaikan dengan aturan kolonial yang berlaku saat itu. Nama perkumpulan pun diubah menjadi Sarekat Islam. (Tempo: 2011)

Tjokroaminoto segera membawa Sarekat Islam (SI) menjadi penentu jalannya sejarah di negeri ini. SI segera menjadi organisasi besar di bawah kepemimpinan Tjokroaminoto. Anggota SI bukan saja dari kalangan ulama, tetapi juga priyayi, pedagang, buruh, petani dan rakyat jelata lainnya.

Islam memang menjadi ikatan yang kuat dalam SI. Pada kesehariannya, SI dianggap mampu mengangkat harkat rakyat pribumi kala itu. Dari perasaan tertindas menjadi satu kebanggaan akan diri. Hal ini misalnya terlihat dari sikap rakyat yang menjadi pekerja di perkebunan, menolak perlakuan semena-mena majikannya, karena mereka merasa memiliki harga diri dan kekuatan bersama SI.

BACA JUGA  Kedudukan Hari Asyura dalam Islam

Kesadaran yang timbul dalam SI ini sebetulnya berasal dari pemikiran Tjokroaminoto tentang kesetaraan. Kesamaan harkat manusia di hadapan Allah. Tjokroaminoto pada permulaannya melakukan serangan terhadap feodalisme Jawa. Ia secara demonstratif menunjukkan dirinya tidak tunduk pada feodalisme Jawa. Ia menanggalkan gelar kebangsawanannya (Tempo: 2011) dan menolak duduk di bawah di hadapan para priyayi Jawa.

Tjokroaminoto bukannya menyerang budaya Jawa. Ia menghrormati budaya Jawa, bahkan secara simbolis ia mengenakan blankon sebagai tanda hormatnya pada Budaya Jawa. Ia hanya menyerang feodalisme Jawa tepat pada jantungnya, secara demonstratif di depan para priyayi. Hal inilah yang meluapkan perasaan setara pada pengikut SI.

Kebijakan politik ras pemerintah kolonial kala itu memang menempatkan masyarakat pribumi pada lapisan kasta terbawah, di bawa orang Eropa dan di bawa orang Timur Asing. Orang-orang pribumi kala itu dipandang sebelah mata sebagai ‘seperempat manusia.’

Tjokroaminoto menolak perbedaan status di antara sesama manusia. Mengambil hikmah dari kehidupan Rasulullah SAW dan para Sahabat, Islam justru melahirkan kesetaraan sesama manusia.

““…kaum muslimin pada zaman dulu bukan saja semua menganggap diri mereka sama, tetapi mereka menganggap semua merupakan satu kesatuan. Diantara orang-orang Muslimin tidak ada sesuatu perbedaan yang mana pun juga macamnya. Dalam pergaulan hidup bersama diantara mereka tidak ada perbedaan derajat dan tidak ada pula sebab-sebab yang menimbulkan perbedaan kelas.” (H.O.S. Tjokroaminoto: 2008)

Tidak ada manusia yang lebih tinggi status sosialnya. Tiap-tiap manusia adalah mahluk yang merdeka. Bebas dari rasa takut pada sesamaanya. Dalam Islam dan Sosialisme, Haji Omar Said Tjokroaminoto menekankan kemerdekaan manusia membebaskannya dari belenggu ketakutan pada apa pun juga.

“Tiap-tiap orang Islam tidak harus takut kepada siapa atau apa pun juga, melainkan diwajibkan takut kepada Allah saja.” (H.O.S. Tjokroaminoto: 2008)

Banyak pelajaran yang diambil oleh Tjokroaminoto dari kehidupan Rasulullah S.A.W. dan para sahabat. Kebesaran dan atribut duniawi tidak menjadi nilai lebih sedikitpun di mata para Sahabat. Di sinilah Tjokroaminoto mengutip kisah para sahabat tersebut. Menurutnya,

.”..meskipun radja-radja ini mempertundjukkan kekuasaan dan kebesarannja, orang-orang Arab (utusan Rasulullah Clm) tadi tidaklah sekali-sekali suka menundukkan badannja apalagi kepalanja, dan menampak tidak takut sedikitpun djuga di muka radja-radja jang tersebut. Bagi mereka ta’ada sesuatu pun jang ditakutinja melainkan Allah Ta’ala belaka, dan kepada Allah sadjalah mereka merasa menanggung djawab atas perbuatannja. Mereka itu merdikalah seperti udara dan sungguh-sungguh merasakan seluas-luasnja kemerdekaan jang orang dapat memikirkannja.” (Tjokroaminoto dalam Amelz: 1952)

BACA JUGA  Suasana Haru Iringi Sholat Jenazah Rozian

Politik kolonial memang hanya melihat Hindia Belanda sebagai sumber kekayaan yang harus dikeruk dan dieksploitasi. Oleh sebab itu pada dalam Sarekat Islam, Tjokroaminoto sudah mengingatkan hal ini:

“Tidaklah layak Hindia-Belanda diperintah oleh Holland. Zoals een landheer zijn percelen beheert. (sebagai tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya). Hindia-Belanda tidaklah layak lagi dianggap sebagai een melkoe, die slechts teeten krijgt ter wille van haar melk (seekor sapi perahan , yang hanya diberi makan demi susunya). Dan sebagai een plats, waar de mensen slechts heengan met het doel om voordeel te behalen (tempat dimana orang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan. “

Pada masa itu bukan hal yang aneh melihat buruh atau tani bekerja hanya untuk menyambung hidup. Pendapatan mereka jelas tidak cukup untuk hidup layak. Buruh-buruh yang bekerja di galangan kapal di Semarang misalnya, merasakan kehidupan yang keras dan tidak layak. (John Ingleson: 2013)

Mereka meninggalkan keluargaanya di kampung, dan hidup di pondok kecil di atas perahu, dengan Sembilan buruh lainnya, berhimpit-himpitan tiap malam atau tidur dengan beratapkan langit.  Di perkotaan, buruh-buruh lainnya tinggal di lingkungan yang buruk, pemukiman padat, diantara gang-gang yang tidak dapat masuk sinar matahari, sehingga menjadi sarang tikus. Rumah-rumah itu umumnya beratapkan rumbia dan berdinding bambu. (John Ingleson: 2013)

Kongres SI di Bandung tahun 1916 misalnya menuntut kepada pemerintah agar mengizinkan wakil-wakil SI untuk meneliti soal nasib buruh di Deli. Kongrs ini juga menyoroti kehidupan buruh di Deli, Sumatera Timur, yang menjadi korban praktek jahat kontrak kerja di Deli dan permainan para calo yang merekrut buruh-buruh tersebut.

Hal ini yang menjadi sorotan Tjokroaminoto dalam melihat nasib buruh dan petani di Hindia Belanda. Menurutnya, ”…boleh dikatakan habislah kaum tukang dan tani merdeka yang masih mendapat kecukupan dari pada pekerjaannya, maka menjadilah hampir segenap rakyat hindia sebagai kaum buruh, yng mencapai pencarian sekedar cukup dimakan, akan tetapi kurang sekali akan meninggikan derajat kemanusiaannya.” (H.O.S. Tjokroaminoto: 2008)

Selama awal-awal pergerakan Sarekat Islam, gagasan Tjokroaminoto sangat mewarnai organisasi tersebut. Namun secara umum yang dilakukan Tjokroaminoto tidaklah muluk-muluk. Ia memulai dengan membangkitkan kesadaran dan harkat rakyat pada saat itu.

Baca halaman selanjutnya: Secara politik, Sarekat Islam...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Kemerdekaan Menurut H.O.S. Tjokroaminoto”

  1. Anggis wahyudi

    Cita2 beliau utk keadilan sosial blm tercapai Krn knytaannya sistem kapital bs berjalan di tanah air

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kashmir Memanas, Menlu RI Panggil Kedutaan India dan Pakistan

Indonesia meminta kedua negara menyelesaikan masalah di Kashmir dengan dialog

Jum'at, 16/08/2019 16:53 0

Indonesia

Sandiaga Uno Sebut Pemindahan Ibu Kota Belum Jadi Prioritas

Sandiaga Uno menanggapi wacana Presiden Jokowi yang ingin memindah ibu kota Indonesia ke Kalimantan.

Jum'at, 16/08/2019 16:53 0

Arab Saudi

Puncak Haji Berakhir, 169 Jemaah Haji Indonesia Meninggal

Jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya

Jum'at, 16/08/2019 16:36 0

Indonesia

74 Tahun Indonesia Merdeka, Muhammadiyah: Masalah Ekonomi Masih Jadi PR

Jangan sampai, kata dia, ekonomi di negeri ini hanya dikuasai oleh segelintir orang.

Jum'at, 16/08/2019 16:19 0

Indonesia

Sekjen MUI: Isi Hari Kemerdekaan dengan Mengingat Perjuangan Ulama

perjuangan mereka tidak bisa dilepaskan dari kemerdekaan bangsa ini.

Jum'at, 16/08/2019 16:11 0

Indonesia

Sandiaga Uno Jalan Kaki Menuju Gedung DPR/MPR, Didoakan Jadi Wakil Presiden

"Jalanan macet total dan sudah tidak lagi menggunakan fasilitas pengawalan, maka jalan kaki pun jadi,"

Jum'at, 16/08/2019 14:59 0

Myanmar

Pemulangan Pengungsi Rohingya di Bangladesh Akan Dimulai Pekan Depan

"Kelompok pengungsi pertama akan kembali ke Myanmar minggu depan. Kami telah menyetujui pemulangan 3.540 orang pada 22 Agustus," kata Menteri Luar Negeri Myanmar, Myint Thu.

Jum'at, 16/08/2019 13:38 0

Pakistan

Tentara Pakistan dan India Baku Tembak di Kashmir

Pakisan menakan, tiga tentaranya dan lima tentara India tewas dalam pertempuran itu

Jum'at, 16/08/2019 08:48 0

Suriah

Oposisi Suriah Luncurkan Serangan Balik

Hammoud menambahkan bahwa pengiriman pasukannya diputuskan dimulai pada Jumat ini.

Jum'at, 16/08/2019 08:25 0

Indonesia

Ini Pesan Muhammadiyah kepada Para Kadernya yang Terpilih Anggota Dewan

“Hormati Muhammadiyah, posisikan Muhammadiyah sebegai ormas kemasyarakatan dan dakwah, kalau bisa didukung, diringankan bebannya,” tutup Haedar.

Jum'at, 16/08/2019 07:30 0

Close