... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

RAND CORPORATION: Dari Radikalisme ke Imperialisme AS

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

 “Terimakasih kepada pemerintah Indonesia dan Presiden Soeharto atas dukungan yang diberikan kepada kaum Mujahidin dalam perjuangannya melawan Uni Soviet. Demikian juga atas sumbangan yang diberikan masyarakat dan pemerintah Indonesia terhadap pengungsi Afghanistan di Pakistan.”

Kalimat itu disampaikan oleh Mangal Husain, salah satu dari dua perwakilan mujahidin Afghanistan yang datang ke Indonesia pada bulan Februari 1987. Bersama Mangal Hussain, Janbaz Safaraz Mohammad Rasoul, mereka bertemu dengan Menkokesra Alamsyah Ratu Prawiranegara, Menteri Agama Munawir Sadzali, Ketua MPR/DPR Amir Machmud dan Majelis Ulama Indonesia.

Siapa sangka, para Mujahidin Afghanistan yang kemudian salah satunya dikenal dengan kelompok Taliban ini kembali mengunjungi Indonesia tahun ini. Wakil Pemimpin Taliban, Mullah Abdul Ghani Baradar, menjadi figur penting yang mewakili kelompok Taliban bertemu dengan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla dan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

Pertemuan itu tak lepas dari pembicaraan ikhtiar proses perdamaian di Afghanistan. Tentu banyak hal yang didapat dari pertemuan ini. Ada berbagai aspek yang menarik melihat bertemunya perwakilan Taliban dengan Pemerintah Republik Indonesia. Salah satunya adalah wacana tentang radikalisme di Indonesia.

Sudah hampir 20 tahun ini, kata Taliban selalu dikaitkan dengan radikalisme. Termasuk di Indonesia. Padahal jika kita melihat peristiwa yang terjadi tahun 1987 tadi, Mujahidin Afghanistan disambut hangat oleh para petinggi negeri ini. Namun hal itu berubah 180 derajat beberapa tahun belakangan. Taliban adalah semacam ‘monster ‘yang selalu diberitakan dengan negatif di berbagai media massa. Begitu pula wacana yang dikaitkan oleh berbagai pihak di tanah air. Terorisme hingga radikalisme.

Pertemuan Wapres RI Jusuf Kall dan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi tentu saja berdampak luas. Mau tak mau kita harus meninjau lagi penilaian kita tentang Taliban. Masihkah relevan mengaitkan Taliban dengan radikalisme yang selalu menjadi hantu di tanah air? Sebab bagaimana mungkin Wakil Presiden Republik Indonesia sudi ber-ramah tamah, makan malam dan sholat berjamaah dengan pengusung radikalisme?

Radikalisme memang menjadi satu pokok persoalan yang harus dikaji. Termasuk sebenarnya memahami betapa rentannya istilah ini dipakai untuk satu persoalan yang sangat politis di Indonesia. Wacana radikalisme di Indonesia beranak-pinak menjadi kebijakan ‘Islam radikal’ – ‘Islam moderat’.

Wacana ini bisa dilacak kembali pada tahun 2007, sekitar 13 ribu km dari Indonesia, tepatnya di Amerika Serikat. Tahun itu, RAND Corporation, sebuah think-thank di Amerika Serikat, mengeluarkan sebuah laporan yang berjudul Building Moderate Muslim Networks.

Laporan yang disusun oleh Angel Rabasa, Cheryl Benard, Lowell H. Schwartz dan Peter Sickel ini mengurai satu jalan (road map) untuk membangun jaringan yang mereka sebut Muslim moderat dan liberal. Bahasan dalam laporan ini mencakup wilayah yang cukup luas, mulai dari Amerika Serikat sampai dengan Asia Tenggara.

Pada dasarnya laporan ini melanjutkan pandangan mereka tentang ancaman kelompok yang mereka sebut Islam radikal dan hendak mendorong tampilnya Islam moderat. Hal ini tergambar dari laporan sebelumnya oleh Angel Rabasa yang berjudul The Muslim World After 9/11 (2004) dan laporan Cheryl Benard dalam Civil and Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies (2003).

Angel Rabasa dalam pernyataannya di depan United States House of Representatives (DPR Amerika Serikat) pada November 2005, menyebutkan bahwa Islam radikal dapat dilihat dari beberapa kriteria, seperti; Apakah mereka ingin menegakkan negara Islam atau menerima bentuk pemerintahan yang sekular? Kedua, apakah mereka memaksakan untuk menerapkan hukum syariat Islam atau mereka menerima sumber hukum lain? Ketiga, apakah mereka menolak hak-hak perempuan termasuk partisipasi politik? Apakah mereka mendukung pendidikan dan kemajuan untuk perempuan? Apakah mereka membolehkan kemerdekaan beribadah? (Angel Rabasa: 2005)

Cara pandang Rabasa tentang Islam dan kriteria radikal di atas tentu saja bermasalah. Misalnya, untuk negara Republik Indonesia, bukanlah negara sekular. Meski bukan negara Islam. Para founding fathers Indonesia menolak bentuk negara sekular. Kedua soal penerapan syariat Islam di Indonesia nyatanya diterapkan misalnya di Aceh.

BACA JUGA  Meski Dilarang, Ratusan Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan

Sistem peradilan di Indonesia nyata mengakui adanya pengadilan agama yang khusus bagi umat Islam. Atau hadirnya UU Perbankan Syariah di Indonesia. Mengacu kriteria Angel Rabasa tentu sulit menilai Indonesia. Apakah karena menolak negara sekular lantas para foundhing fathers Indonesia dapat disebut radikal? Apakah seluruh rakyat Aceh adalah radikal karena mereka menuntut ditegakkannya syariat Islam?

Jika kita cermati dan – meminjam istilah Bung Hatta,- menukik lebih dalam, RAND Corporation dalam rekam jejaknya memang tak membangun satu kiprah yang murni ilmiah. Sebaliknya, rekam jejak RAND Corporation justru sangat terkait dengan isu keamanan Amerika Serikat (security affairs).

Alex Abella dalam Soldiers of Reason: The RAND Corporation and The Rise of the American Empire (2008) menyebutkan bahwa sepak terjang RAND Corporation dimulai pada era perang dingin, tahun 1940-an. Awalnya RAND adalah sebuah Lembaga yang dibentuk oleh Angkatan Udara Amerika Serikat. Lembaga ini dibentuk sebagai Lembaga riset untuk menunjang Angkatan Udara AS. Maka riset awal mereka bersifat lebih teknis seputar dirgantara dan persenjataan militer.

Berikutnya, RAND mulai terlibat dalam riset manusia, terutama perilaku penerbang (pilot). Tak perlu menunggu lama untuk membuat RAND merambah lebih jauh. Kontstalasi perang dingin antara ideologi kapitalis (Amerika Serikat) dan Komunis (Uni Soviet) membuat RAND terlibat konflik perang dingin. RAND menjadi contoh bagaimana ilmu pengetahuan dimanfaaatkan untuk tujuan politik. (Alex Abella: 2008)

Tindak tanduk RAND bahkan sudah merambah ke Indonesia setidaknya pada tahun 1960-an dalam riset mengenai komunisme di Indonesia. Sebagai negara adidaya yang terlibat perang dingin, Amerika Serikat sangat berkepentingan untuk mendapatkan informasi (dan nantinya) mempengaruhi situasi politik di Indonesia yang kala itu sangat condong ke kiri.

Kehadiran RAND Corporation di Indonesia diwakili oleh Guy Pauker. Seorang peneliti yang mengkaji politik di Indonesia. Pauker, adalah seorang yang sangat perhatian dengan politik di Indonesia. Setidaknya dalam situs RAND, karya Pauker telah ada sejak tahun 1960. Dan menariknya sebagian besar tentang politik Indonesia. Tahun 1960 Pauker menulis The Role of Military in Indonesia. Kemudian Recent Communist Tactics in Indonesia. Pada tahun 1964, Pauker juga menulis Communist Prospects in Indonesia. Dan masih ada puluhan lain riset Pauker hingga tahun 1998 dan mayoritas tentang Indonesia.

Jika kita membaca karya Pauker tentang komunis di Indonesia, maka kita dapat menyimpulkan Pauker memiliki pengetahuan mendalam tentang komunisme di Indonesia. Persoalannya Pauker bukan hanya pengamat. Tetapi ia juga seorang konsultan CIA. Bukan rahasia RAND Corporation kala itu didukung oleh CIA. (Budiawan: 2006)

Pauker secara pribadi juga dikenal sebagai kalangan yang dekat dengan CIA dan Pentagon. Ia di-brief dan mem-brief mereka. Selain itu, posisi Pauker bukan saja sebagai pengamat, tetapi juga sebagai pembuat keputusan. (Budiawan: 2006)

Bukan hanya itu, Pauker juga dekat dengan Jenderal Suwarto, direktur dari Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (Seskoad). Di California, ketika Suwarto bertemu dengan Pauker, Pauker menjadi orang yang mengarahkan dan memberi saran tentang isu-isu internasional. Pauker menunjukkan pada Suwarto bagaimana RAND Corporation memanfaatkan sumber daya akademik sebagai konsultan ekonomi dan politik. (Wijaya Herlambang: 2013)

Sepulang dari California, Suwarto mulai membentuk kelompok teknokrat sipil yang sebagian anggotanya dikenal sebagai ekonom ‘Mafia Berkeley.’ Para ekonom ini yang nantinya merumuskan resep ekonomi orde baru. Dari sini kita dapat melihat betapa strategis peran RAND Corporation dalam politik Indonesia yang dibentuk untuk condong pada AS.

RAND Corporation bukan saja mampu mengarahkan haluan politik di Indonesia, tetapi mengubah jalannya poltik di dunia, terutama lewat sepak terjang para anggotanya dalam invasi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003.

Salah satu nama yang pantas disebut berpengaruh dalam RAND adalah Albert Wohlsetter, seorang pakar nuklir ini menjadi figur penting dalam invasi Amerika Serikat ke Irak pada 2003.

Banyak pemimpin dari industri militer di AS seperti Richard Perle dan Donald Rumsfeld menyebut diri mereka sebagai murid dari Wohlsetter. Wohlsetter adalah seorang pendukung gigih Israel. Ia menyebut Israel sebagai satu-satunya negara yang menjalankan demokrasi di Timur Tengah. Sejak tahun 1990-an ia percaya bahwa Amerika Serikat harus menancapkan kukunya di Timur Tengah. (Alex Abella: 2008)

BACA JUGA  Guyub Rukun Warga Jogokariyan Sukseskan Muslim United

Seorang murid Albert Wohlsetter, Zalmay Khalilzad, asisten professor Ilmu Politik di Columbia University, yang juga tergabung dalam RAND Corporation (1993-2000) menjadi figur lain RAND yang terkait dengan invasi AS ke Irak. (Alex Abella; 2008)

Sejak tahun 1990-an Albert Wohlsetter, bersama Ahli Timur Tengah Bernard Lewis dan Paul Wolfowitz mendukung Ahmad Chalabi untuk menggantikan Saddam Hussain di Irak. Wohlsetter, Lewis dan Wolfowitz punya kesamaan: Mereka adalah Yahudi sekular pro Israel yang gigih mendukung untuk menyebarkan ‘nilai-nilai Amerika.’ (Alex Abella; 2008)

Koneksi lain, Albert Wohlsetter mengenal Jacob Wolfowitz, seorang ahli teori infomasi yang juga ayah dari Paul Wolfowitz, mantan wakil Menteri Pertahanan AS (2001 – 2005). Menariknya Wolfowitz juga pernah menjadi Presiden Bank Dunia (2005-2007) dan Duta Besar AS untuk Indonesia (1986-1989). Bukan kebetulan kalau Paul Wolfowitz adalah murid Albert Wohlsetter. Bahkan disertasi Paul Wolfowitz dibimbing oleh Wohlsetter. Pemikiran mereka sejalan.

Alex Abella dalam Soldier of Reason: The RAND Corporation and the Rise of the American Empire menyebutkan bahwa ketika Chalabi tahu ia tak dapat mengalahkan Saddam Hussein dengan senjata, Chalabi berpaling pada orang-orang Amerika untuk melakukannya. Pekerjaan yang tepat bagi orang semacam Wohlsetter, Wolfowitz, Lewis dan orang-orang di RAND Corporation. (Alex Abella; 2008)

Lewat bantuan Wohlsetter dan Richard Perle, suara Chalabi kemudian didengar oleh dua orang mantan Menteri Pertahanan AS, Presiden Halliburton, Dick Cheney dan Donald Rumsfeld, anggota Dewan Komisaris RAND Corporation. Ia juga bekerja erat dengan mantan direktur CIA, James D. Woolsey. (Alex Abella; 2008) Jejaring RAND dimulai untuk memuluskan jalan menumbangkan Saddam Hussein, sejak tahun 1997 dibentuk Project for the New American Century (PNAC) yang didukung beberapa orang RAND sebagai pendirinya. (Alex Abella; 2008)

Pada tahun 1998, PNAC mengirimkan surat pada Presiden AS saat itu, Bill Clinton, dan mendesaknya untuk menyingkirkan Saddam Hussein. Surat itu ditandatangani oleh Wolfowitz, Perle, Cheney, mantan Presiden RAND, Donald Rumsfeld, dan Direktur RAND Pardee School of Policy, Khalilzad. (Alex Abella; 2008)

Saat George W. Bush dilantik menjadi Presiden AS tahun 2001, anggota PNAC banyak yang mendapat posisi strategis. Wolfowitz menjadi wakil Menteri Pertahanan, Perle menjadi Badan Perencana Pertahanan, Khalilzad menjadi Dubes AS untuk orang Irak di pengasingan, kemudian menjadi Dubes AS di Afghanistan dan selanjutnya Irak. Dick Cheney menjadi wakil Presiden AS. (Alex Abella; 2008) Selanjutnya kita pun paham, Cheney, Rumsfeld, Wolfowitz menjadi figur-figur yang mendorong invasi AS ke Irak. Sebuah invasi atas nama perang melawan terror. Sebuah kedok dari usaha untuk menjarah minyak di Irak.

Keterlibatan figur-figur RAND dalam invasi AS ke Irak telah mengubah nasib Irak (menjadi hancur lebih dan porak -oranda). Bukan hanya itu, di berbagai negara berpenduduk mayoritas muslim seperti Indonesia, Malaysia, Turki, Jordania dan Mesir, citra Amerika Serikat menjadi terpuruk.  Alih-alih mencoba memperbaiki kebijakan politiknya, AS justru melihat ada yang salah dari umat Islam.

Pada tahun 2003 The White House National Security Council (NSC) mengeluarkan satu program yang bernama Muslim World Outreach. Program ini bertujuan untuk ‘mengubah Islam dari dalam’ (transforming Islam from within): Sebuah upaya utuk menggali, mengidentifikasi, dan menopang organisasi dan gerakan yang sudah ada dalam sebuah negara muslim, yang dianggap pemerintah AS moderat, toleran, dan mendukung nilai demokratis.(Saba Mahmood: 2006)

Program Muslim World Outreach mencoba mengubah apa yang mereka sebut sebagai muslim ‘tradisionalis’ untuk tujuan mereka. Tentu saja istilah ‘tradisionalis’ ini mengacu pada laporan dari RAND yang berjudul Civil and Democratic Islam: Partners, Resources, and strategies. (Saba Mahmood: 2006)

Baca halaman selanjutnya: RAND menganggap Muslim...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Hadiri Ijtima’ Ulama IV, Ketum DDI: Perjuangan Tidak Hanya di Pilpres

"Mereka harus terus berjuang. Tujuan utama bukan hanya untuk menjadikan Prabowo presiden. Peluangnya tidak hanya di politik. Perjuangan tidak hanya selesai di sini," jelasnya.

Senin, 05/08/2019 20:00 0

Fikih

Bolehkah Meniatkan Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal?

Catatan: Perbendaan pendapat ini pada kondisi orang yang mengurbankan sudah berkurban untuk dirinya sendiri.

Senin, 05/08/2019 17:29 0

Indonesia

ICMI Usul Perubahan Nama RUU PKS

"Sebaiknya kata 'penghapusan' ditiadakan saja. Yang lebih tepat memang kejahatan seksual. Cakupannya lebih luas dan dalam," ujar Wakil Ketua Umum ICMI, Sri Astuti Buchari, dalam diskusi media dialektika di Euro Management, Jakarta Pusat, Senin 5 Agustus 2019.

Senin, 05/08/2019 16:55 0

Indonesia

Ijtima’ Ulama IV Kaji Ulang Bekerja Sama dengan Parpol

Ia menekankan bahwa umat Islam harus berjuang berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist. Bukan hanya memandang politik yang mengesampingkan agama.

Senin, 05/08/2019 16:04 0

Qatar

Negosiasi Kedelapan AS-Taliban Masuki Hari Kedua, Ini Harapan Washington

"Kami menginginkan republik, bukan emirat. Taliban ingin membentuk kembali sebuah emirat Islam yang serupa dengan yang didirikan pada 1996,” tulisnya lagi.

Senin, 05/08/2019 14:08 0

Indonesia

Haikal Hassan: Ijtima Ulama IV Musyawarahkan Urusan Umat

Haikal meminta pihak lain menghilangkan pikiran negatif terhadap ijtima ulama

Senin, 05/08/2019 12:53 0

India

India Tutup Sekolah dan Larang Perkumpulan Massa di Kashmir

Pernyataan itu tidak mengatakan berapa lama pembatasan tersebut akan berlaku.

Senin, 05/08/2019 12:47 0

Indonesia

YLKI Desak PLN Beri Konsumen Ganti Rugi Akibat Pemadaman Listrik

Pemadaman listrik total yang berlangsung selama berjam-jam bisa menjadi sinyal buruk bagi daya tarik investasi di Jakarta dan bahkan Indonesia

Senin, 05/08/2019 12:06 0

Indonesia

Perwakilan 28 Provinsi Dipastikan Hadiri Ijtima Ulama IV

Diperkirakan Ijtima Ulama dan Tokoh Nasional IV akan diikuti oleh 1.000 peserta

Senin, 05/08/2019 11:46 0

Rusia

Polisi Rusia Tangkap 800 Demonstran Anti-Pemerintah

Aksi massa ini merupakan rangkaian aksi protes atas pelarangan sejumlah kandidat oposisi, beberapa sekutu Navalny, untuk mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif September di Moskow.

Senin, 05/08/2019 11:21 0

Close