... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

7 Amal Shalih yang Dianjurkan pada 10 Awal Dzulhijjah

Oleh: Dr. Tgk. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA.*

KIBLAT.NET, – Merupakan suatu nikmat dan anugerah besar dari Allah Subhanahu Wata’ala yang telah menyediakan momen tertentu untuk beramal shalih dan menyediakan pahala yang besar. Di antara momen tersebut, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sejak hari pertama Dzulhijjah sampai dengan hari kesepuluh Dzulhijjah (hari raya Iedul Adha). Hari-hari ini memiliki keutamaan dan kemuliaan melebih dari hari-hari lainnya.

Adapun keutamaan hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah adalah Allah Subhanahu Wata’ala sangat mencintai amal shalih pada hari-hari tersebut melebihi hari-hari lainnya. Rasullullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Tiada hari-hari yang amal shalih padanya paling dicintai disisi Allah melainkan hari-hari ini.” Yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidakkah jihad di jalan Allah (paling dicintai Allah)?. Beliau menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar (dari rumahnya untuk berjihad) dengan jiwa dan hartanya, Lalu dia tidak pulang dari itu dengan apapun.” (HR. Al-Bukhari).

Mengenai keutamaan sepuluh pertama awal Dzulhijjah ini, Imam An-Nawawi menjelaskannya di dalam kitabnya Riyadhush Shalihin dengan memberi judul “Baabu Fadhli As-Shaumi wa Gairihi fii Al-‘Asyri Al-Awwal min Dzilhijjah” (Bab: Keutamaan Puasa dan Sebagainya pada Sepuluh Hari Pertama Dzulhijjah), dengan menukilkan hadits tersebut. Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah mengomentari hadits tersebut: “Tampaknya sebab yang menjadikan istimewanya sepuluh hari (pertama) Dzulhijjah adalah karena padanya terkumpul ibadah-ibadah induk (besar), yaitu: shalat, puasa, sedekah dan haji, yang (semua) ini tidak terdapat pada hari-hari yang lain.” (Fathul Baari: 2/460)

Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Qur’an. Allah Subhanahu Wa a’ala berfirman: “Demi fajar, Dan demi malam yang sepuluh”. (QS. Al-Fajr: 1-2). Makna “malam yang sepuluh” yaitu sepuluh malam pertama bulan Dzulhijjah. Inilah pendapat yang dipilih dan ditarjih oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullahu dan Imam Ibnu Rajab rahimahullahu serta menjadi pendapat mayoritas ulama. Karena besarnya keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah ini, maka Allah Subhanahu Wata’ala bersumpah dengannya.

Mengingat keutamaan amal shalih pada sepuluh hari pertama tersebut, maka kita sangat dianjurkan untuk memperbanyak melakukan amal shalih padanya. Di antara amal-amal shalih yang sangat dianjurkan pada hari-hari ini, yaitu:

Pertama: Memperbanyak takbir, tahlil dan tahmid. Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Tiada hari-hari di mana amal shalih paling utama di sisi Allah dan paling dicintai-Nya melainkan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Maka perbanyaklah pada hari-hari itu dengan tahlil, takbir dan tahmid.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi). Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan: ”Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah pergi ke pasar sambil bertakbir dan orang-orang pun mengikuti takbir keduanya”.

Kedua: Melakukan puasa-puasa sunnah, terutama puasa ‘Arafah (hari 9 Dzulhijjah) bagi yang tidak berhaji. Di antara puasa-puasa sunnat yang dapat dilakukan pada hari-hari yang mulia dan berkah ini adalah puasa Nabi Daud (puasa sehari dan berbuka sehari), puasa Senin dan Kamis, dan puasa ‘Arafah. Mengenai keutamaan puasa Nabi Daud, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud dan shalat yang paling dicintai di sisi Allah adalah shalat Daud. Ia tidur setengah malam dan bangun pada sepertiganya kemudian tidur pada seperenamnya, dan dia puasa sehari dan berbuka sehari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Adapun keutamaan puasa Senin dan Kamis, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda, “Semua perbuatan akan diperiksa setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku ingin semua perbuatanku diperiksa dan ketika itu aku sedang berpuasa.” (HR. At-Tirmizi). Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam selalu memperhatikan puasa hari Senin dan Kamis.”(HR. At-Tirmizi).

Keutamaan puasa ‘Arafah adalah menghapuskan dosa setahun yang lalu dan yang akan datang, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam ketika ditanya tentang puasa ‘Arafah, beliau bersabda: “Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).

Ketiga: Memperbanyak shalat-shalat sunnat. Di antara berbagai nikmat Allah Subhanahu Wata’ala adalah ditetapkannya bagi para hamba-Nya shalat tambahan (shalat sunnat) selain shalat fardhu untuk menyempurnakan shalat fardhu. Karena shalat fardhu kita tidak lepas dari kekurangan. Jika shalat fardhu kita ada kekurangan atau tidak benar, maka shalat sunnah merupakan penambal dan penutup kekurangan tersebut. Maka pada hari-hari ini kita sangat dianjurkan memperbanyak shalat-shalat sunnat seperti rawatib, ghair rawatib, shalat setelah wudhu, tahiyatul masjid, dhuha, tahajjud, dan witir, terutama melakukan shalat Ie’dul Adha menurut pendapat sebahagian ulama yang mengatakan sunnat muakkad.

BACA JUGA  Arab Saudi dan Rusia Tandatangani 20 Kesepakatan Baru

Shalat sunnat Rawatib adalah shalat sunnat yang mengiringi shalat fardhu, baik sebelum maupun sesudah shalat fardhu. Dinamakan rawatib karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam selalu mengerjakannya, maka hukumnya sunnat muakkad. Shalat sunnat Rawatib itu 12 rakaat dalam sehari semalam yaitu 2 rakaat sebelum shalat Shubuh, 4 rakaat sebelum shalat Dzuhur dengan salam setiap 2 rakaat, 2 rakaat setelah Dzuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya. Adapun shalat sunnat Ghair Rawatib (kadangkala Rasulullah mengerjakannya) yaitu 2 rakaat sebelum shalat Ashar, 2 rakaat sebelum shalat Maghrib, dan 2 rakaat sebelum shalat Isya.
Keutamaan shalat rawatib yaitu dibangunkan rumah di surga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan shalat karena Allah setiap hari dua belas rakaat sebagai shalat sunnah bukan shalat fardhu, melainkan Allah membangunkan baginya sebuah rumah di dalam surga atau melainkan dibangun untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim).

Keutamaan shalat sunnat Dhuha adalah pahalanya senilai dengan sedekah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam: “Pada pagi hari, setiap persendian salah seorang di antara kalian berkewajiban bersedekah. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, perintah kepada kebaikan adalah sedekah, larangan dari kemungkaran adalah sedekah, semua itu cukup digantikan dua raka’at shalat Dhuha.” (HR. Muslim).

Keutamaan shalat sunat setelah wudhu, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda kepada Bilal: “Hai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang paling kamu harapkan pahalanya yang telah kamu kerjakan sejak masuk Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara kedua sandalmu di hadapanku di surga.” Bilal menjawab, “Tidak ada amalan yang paling aku harapkan pahalanya kecuali setiap kali selesai berwudhu, baik di waktu siang maupun malam, aku melakukan shalat sunnah dengan wudhu itu semampuku.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Keutamaan shalat sunnat Fajar (sebelum shalat shubuh) adalah pahalanya lebih baik dari dunia dan isinya. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Shalat dua rakaat sebelum shalat fajar lebih baik di sisi Allah dari dunia dan isinya.” (HR. Muslim).

Keempat: Memperbanyak tadarus Al-Quran, baik dengan membaca, memahami, mengkhatakan, menghafal dan mempelajari Al-Qur’an. Membaca Al-Quran merupakan kewajiban setiap muslim. Banyak sekali keutamaan orang yang bertadarus Al-Qur’an, di antaranya yaitu; Pertama: mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat (HR. Muslim). Kedua, orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya adalah orang yang terbaik. (HR. Al-Bukhari). Ketiga, orang yang pandai membaca Al-Qur’an dimasukkan ke dalam surga bersama para malaikat yang suci. Sedangkan orang belum pandai membaca namun ia mau membaca, maka ia akan diberi dua pahala. (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Keempat, orang yang membaca dan mendengar Al-Qur’an memperoleh sakinah, rahmat, doa malaikat dan pujian dari Allah Subhanahu Wata’ala. (HR. Muslim). Kelima, mendapat pahala yang berlipat ganda yaitu setiap huruf yang dibaca dihitung satu pahala dan satu pahala itu dilipat gandakan menjadi sepuluh ganda. (HR. At-Tirmizi), dan sebagainya.

Kelima: Berinfak di jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Tidak diragukan lagi bahwa berinfak dan bersedekah merupakan amal shalih yang dicintai Allah Subhanahu Wata’ala. Terlebih lagi bila dilakukan pada hari-hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah). Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits yang memerintahkan untuk berinfak dan menjelaskan keutamaannya. Di antaranya; Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Orang-orang yang menginfakkan hartanya malam dan siang hari (secara) sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada diri mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 274). Allah Subhanahu Wata’ala juga berfirman: “Dan apa saja yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kalian sendiri.” (QS: Al-Baqarah: 272).

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Berinfaklah wahai anak cucu adam, niscaya kamu akan mendapatkan gantinya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam juga bersabda: “Setiap hari, dua malaikat turun kepada seorang hamba. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak. Dan yang lain berdoa, “Ya Allah, hilangkan harta orang yang menolak infak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

BACA JUGA  Pakar: Crosshijaber Bisa Berubah Orientasi Seksualnya

Keenam: Shalat ‘Idul Adha, mendengarkan khutbah dan berqurban pada hari raya ‘Idul Adha (10 Dzulhijjah). Allah Subhanahu Wata’ala Ta’ala berfirman: “Maka dirikanlah shalat karena (mengharap Tuhanmu; dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2). Di antara makna perintah shalat di sini adalah shalat Iedul Adha. Imam Ar-Rabi’ rahimahullah berkata: “Jika engkau selesai shalat di hari ‘Idul Adha, maka berkurbanlah.”

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam selalu melakukan shalat ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha dan memerintahkan umat Islam, baik laki-laki maupun wanita, anak-anak maupun dewasa untuk melakukan shalat ‘Ied. Bahkan beliau juga memerintahkan kaum wanita dan anak-anak, baik gadis, janda, remaja, orang lanjut usia, dan wanita-wanita yang haid untuk keluar mendatangi tempat shalat ‘ied. Namun, para wanita haid dilarang memasuki tempat shalat. Oleh karena itu, shalat dua hari raya idul Fitri dan ‘Idul Adha merupakan syi’ar Islam yang mesti dilakukan.
Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam berangkat pada hari raya ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha ke tempat shalat. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian berbalik dan berdiri menghadap jama’ah sedangkan mereka tetap duduk di shaf mereka masing-masing. Setelah itu, beliau berkhutbah memberikan nasehat, wasiat, dan perintah kepada mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Ummu ‘Athiyyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan, “Kami diperintahkan agar mengeluarkan para gadis dan wanita yang haid di dua Hari Raya agar mereka menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin. Akan tetapi orang yang berhaid tidak memasuki tempat shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengeluarkan para istri dan anak-anak perempuan beliau pada saat kedua hari raya.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi).

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum kedua shalat ‘ied (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha). Sebahagian ulama berpendapat hukumnya sunnat muakkad. Sebahagian ulama lain berpendapat fardhu kifayah. Dan sebahagian ulama lainnnya berpendapat fardhu’ain. Pendapat yang terakhir inilah yang dipilih dan ditarjih (dikuatkan) oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Imam Asy-Syaukani, Al-‘Allamah Syaikh Nashiruddin Al-Albani dan lainnya. Meskipun demikian, terlepas dari persoalan khilafiah, namun para ulama semua sepakat mengatakan bahwa shalat dua hari raya itu merupakan syi’ar Islam yang mesti dilakukan.

Ketujuh: bertakbir dan berkurban di hari-hari Tasyriq yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman: “Dan berdzikirlah (mengingat dan menyebut) Allah pada hari-hari yang telah yang telah ditentukan jumlahnya.” (QS. Al-Baqarah: 203 ). Para ulama sepakat bahwa beberapa hari yang telah ditentukan jumlahnya adalah hari-hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Imam Al-Bukhari memasukkan hari Tasyriq pada hari sepuluh pertama Dzulhijjah, dan memiliki keutamaan yang sama sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani rahimahullah memberikan komentar dalam kitabnya Fathul Bari: Pertama, bahwa kemuliaan hari-hari Tasyriq mengiringi kemuliaan ayyamul ‘asyr (sepuluh hari pertama Dzulhijjah); Kedua, bahwa keduanya terkait dengan amal ibadah haji; Ketiga, bahwa sebagian hari-hari Tasyriq adalah sebagian hari ayyamul ‘asyr yaitu hari raya ‘Idul Adha. Pada hari-hari Tasyriq juga masih disunnahkan untuk berkurban. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Seluruh hari Tasyriq adalah hari penyembelihan (kurban).” (HR. Ahmad).

Demikianlah di antara amal shalih yang dapat kita lakukan pada hari-hari sepuluh pertama Dzulhijjah yang mulia dan berkah ini. Mengingat keutamaannya tersebut, maka sudah sepatutnya kita memperbanyak amal shalih pada hari-hari ini sesuai dengan petunjuk sunnah Nabi, agar kita mendapat ridha Allah Subhanahu Wata’ala dan diterima ibadah kita, karena Allah Subhanahu Wata’ala sangat mencintai amal shalih pada hari-hari yang mulia ini melebihi hari-hari lainnya. Maka sangat disayangkan bila keutamaan di sepuluh hari pertama ini berlalu begitu saja tanpa kita raih. Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberi taufiq-Nya kepada kita dan memudahkan kita untuk melakukan amal shalih pada hari-hari ini dan menerima amal shalih kita tersebut. Amin…!

* Penulis adalah Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Prov. Aceh, Dosen Fakultas Syari’ah & Hukum UIN Ar-Raniry, Doktor (PhD) bidang Fiqh & Ushul Fiqh International Islamic University Malaysia (IIUM), Anggota Ikatan Ulama dan Da’i Asia Tenggara.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kampung Siaga Bencana dan Tagana Dikerahkan Bantu Gempa Banten

Tagana melakukan evakuasi warga dari wilayah pesisir pantai menuju ke tempat yang lebih tinggi

Ahad, 04/08/2019 10:30 0

Indonesia

API Yogyakarta Adakan Safari Dakwah Bersama Imam Palestina

Jelang Idul Adha, Aman Palestin Indonesia (API) cabang wilayah Yogjakarta kembali mengadakan Safari Dakwah Imam Palestina.

Sabtu, 03/08/2019 19:54 0

India

Ribuan Orang Tinggalkan Kashmir Setelah Muncul Kabar Rencana Serangan Militan

Pihak keamanan India menyebut adanya informasi intelijen terkait rencana serangan saat musim ziarah umat Hindu

Sabtu, 03/08/2019 19:28 0

Indonesia

Korban Gempa Pandeglang Meningkat, Lima Orang Meninggal Dunia

Plh. Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo mengatakan bahwa korban meninggal pasca gempa Banten beberapa waktu lalu menjadi lima orang.

Sabtu, 03/08/2019 18:20 0

Arab Saudi

Arab Saudi Bebaskan Perempuan Urus Paspor dan Pergi ke Luar Negeri Tanpa Izin Wali

Sebelumnya Arab Saudi telah mencabut larangan mengemudi bagi perempuan

Sabtu, 03/08/2019 18:17 0

Indonesia

Dua Warga Lebak Meninggal Akibat Gempa M 6,9 pada Jumat Malam

Lokasi pusat gempa berada 164 km barat daya Pandeglang, Banten

Sabtu, 03/08/2019 14:37 0

Afrika

Militer dan Oposisi Sudan Sepakat Bentuk Pemerintahan Transisi

Dewan Transisi Militer (TMC) yang berkuasa di Sudan dan koalisi oposisi utama telah mencapai kesepakatan untuk membentuk pemerintahan transisi.

Sabtu, 03/08/2019 14:29 0

Amerika

AS Keluar dari Kesepakatan Pengurangan Rudal Jelajah dengan Rusia

Perjanjian itu, yang ditandatangani pada tahun 1987 oleh Presiden AS Ronald Reagan dan pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev, memberikan pengurangan rudal konvensional dan nuklir dari kedua kekuatan.

Sabtu, 03/08/2019 10:08 0

Indonesia

Banyak PR, Mardani Ali Sera Minta Jokowi Segera Bekerja

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Mardani Ali Sera menyarankan kepada Presiden Jokowi untuk mulai bekerja cepat dari sekarang.

Jum'at, 02/08/2019 16:05 0

Indonesia

Komisi XI DPR RI: Pemindahan Ibu Kota Jangan Bebani APBN

Michael Jeno mendesak agar pemerintah tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)

Jum'at, 02/08/2019 14:54 0

Close