... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Waspadai Penggunaan Ponsel Pintar untuk Cegah Kejahatan Seksual pada Anak

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan keprihatinan makin banyaknya anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual di dunia maya maupun nyata. Untuk melindungi anak dari kejahatan seksual, KPAI menekankan untuk mewaspadai pengguaan ponsel pintar.

Ketua KPAI bidang Pendidikan, Retno Listyarti membagikan beberapa tips untuk melindungi anak dari kejahatan seksual. Ia menegaskan, pendidikan seks kepada anak-anak bukan hal yang tabu, tetapi harus dilakukan sejak dini.

“Pendidikan ini agar anak-anak kita tahu jika dirinya dilecehkan atau akan berpotensi menjadi korban kekerasan seksual,” kata Retno melalui keterangan tertulisnya pada Senin (29/07/2019).

Ia menuturkan, tips yang pertama adalah untuk menggunakan sebutan yang tepat untuk menyebut anggota tubuh. Ia juga mengimbau orang tua agar tidak menggunakan sebutan yang dibuat-buat ketika menyebut kemaluan. Sejak anak-anak masih kecil isarankan penggunaan kata yang sebenarnya untuk menyebut kemaluan laki-laki dengan penis dan kemaluan perempuan dengan vagina.

“Jangan menggunakan nama yang dibuat-buat agar terlihat lucu, atau malah menyamarkan maknanya,” imbaunya.

Jika menggunakan sebutan lain, menurut Retno malah akan membuat anak kebingungan menyebut apa yang dilakukan pelaku pada anggota tubuhnya, saat sesuatu terjadi dan perlu dilaporkan. Pemberian istilah yang samar pada anggota tubuh juga membuat stigma negatif terhadap bagian tubuh tersebut.

Yang kedua, anak harus mengetahui perbedaan antara sentuhan aman vs sentuhan nakal. Retno menjelaskan, sentuhan yang aman biasanya adalah sentuhan yang diberikan pada area dimana tidak ditutupi oleh baju renang atau handuk. Seperti bahu, kepala, dan kaki. Sentuhan yang aman juga memberikan rasa tenang dan nyaman, seperti pelukan seorang ibu.

BACA JUGA  Kunci Sehat: Jaga Pola Makan!

Sebaliknya, sentuhan nakal dilakukan pada area yang ditutupi oleh pakaian dalam. Sentuhan ini juga membuat seseorang merasa gugup, takut atau cemas dan khawatir.

“Jika orang yang lebih besar menyentuhmu di tempat yang membuatmu merasa tidak nyaman, itu artinya sentuhan berbahaya. Selalu katakan pada orangtuamu atau orang dewasa lain jika kamu menerima sentuhan nakal atau ada seseorang yang ingin melihat organ intimmu. Anak-anak juga harus tahu bahwa mereka ‘tidak akan pernah’ mendapat masalah jika memberitahu seseorang,” imbuh Retno.

Yang terakhir, waspadalah jika anak melihat ponsel pintar atau tablet. Retno menyebut, ketika anak mulai menggunakan ponsel pintar atau gawai lain terlalu sering dengan posisi yang sangat dekat, maka orang tua harus waspada.

Ia menambahkan, ketika anak masih usia 0-18 tahun, maka ponsel pintar sebaiknya jangan diberikan sebagai hadiah, tetapi ‘dipinjamkan’. Karena dipinjamkan, maka ponsel tersebut tidak boleh di password dan orangtua boleh mengecek sewaktu-waktu.

“Lakukan selama orangtua masih membayar pulsa dan anaknya berusia dibawah 18 tahun. Ketika orangtua memberikan ponsel pintar dan fasilitas wifi di rumah, maka orangtua berkewajiban mendampingi dan mengawasi penggunaan ponsel tersebut, sebagai bentuk perlindungan terhadap anak-anak dari potensi menjadi korban kejahatan di dunia maya,” ujarnya.

Retno menegaskan, merupakan tanggung jawab orangtua untuk mengawasi kegiatan anak di media sosial. Menurutnya, ada banyak sekali cara-cara pintar yang anak lakukan untuk menyembunyikan aktifitas daringnya, dan orangtua hampir selalu terkecoh dengan taktik anaknya.

BACA JUGA  Ditangkap Saat Rusuh 21-22 Mei, Kader Muhammadiyah: Suruh Buka Baju dan Perut Saya Dipukul

Reporter: Qoid
Editor: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Setengan Pemilih AS Anggap Donald Trump Seorang Rasis

Setengah dari pemilih Amerika berpikir Presiden Donald Trump adalah seorang rasis. Demikian menurut sebuah jajak pendapat Universitas Quinnipiac.

Rabu, 31/07/2019 15:52 0

Prancis

Interpol Tolak Permintaan India Tangkap Zakir Naik

Putusan itu diketuk oleh Komisi Interpol selama pertemuan ke-109 Sekretariat Kepolisian Internasional.

Rabu, 31/07/2019 10:58 0

Palestina

Setelah Balita, Penjajah Israel Interogasi Bocah Palestina Enam tahun

Surat itu meminta bocah enam tahun itu hadir ke markas penyelidikan polisi di Al-Quds pada Rabu pagi pukul delapan.

Rabu, 31/07/2019 10:28 0

Turki

Turki Akan Kirim Tim Pengawas ke Xinjiang, China

Hal ini disampaikan dalam sebuah pernyataan kepada para wartawan di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri ke-52 KTT Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Bangkok, Thailand.

Rabu, 31/07/2019 09:11 0

Suriah

Indonesia dan 9 Anggota DK PBB Minta Penyerangan Fasilitas Medis di Suriah Diselidiki

Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Jerman, Belgia, Peru, Polandia, Kuwait, Republik Dominika, dan Indonesia

Rabu, 31/07/2019 07:29 0

Myanmar

Aneh, Myanmar Akan Beri Rohingya Status Warga Negara Asing Jika Kembali

Sampai tahun 1982 etnis muslim Rohingya berstatus warga negara Myanmar

Selasa, 30/07/2019 19:43 0

Suara Pembaca

One Care Suplai Air Bersih untuk Pengungsi Petobo

Warga korban bencana dan likuefaksi Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu Sulawesi Tengah sangat membutuhkan air bersih di lokasi pengungsian.

Selasa, 30/07/2019 15:11 0

Malaysia

Sultan Abdullah Resmi Diangkat Jadi Raja Baru Malaysia

Dia menekankan bahwa persatuan dan kerukunan adalah pilar dan kekuatan bangsa. "Bermain dengan api akan membakar tidak hanya diri sendiri tetapi juga seluruh desa," katanya.

Selasa, 30/07/2019 14:27 0

China

Pejabat Cina Klaim Bebaskan 90 Persen Tahanan Kamp Konsentrasi Xinjiang

Alken Tuniaz, wakil ketua pemerintah wilayah Xinjiang, mengatakan 90 persen orang yang ditahan dalam "pusat pelatihan kejuruan" telah dikembalikan ke masyarakat.

Selasa, 30/07/2019 13:49 0

Afghanistan

PBB: Mayoritas Warga Sipil Tewas oleh Militer Afghan dan NATO

Sebagian besar korban sipil jatuh selama operasi militer oleh Afghanistan dan NATO, seperti serangan udara dan serangan malam hari di tempat persembunyian gerilyawan.

Selasa, 30/07/2019 13:25 0

Close