... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Editorial: Selamat Datang Taliban!

Foto: Jokowi dengan perwakilan Taliban.

KIBLAT.NET – Bunga-bunga telah bermekaran di sepanjang wilayah Afghanistan sejak bulan April lalu. Biasanya musim semi adalah waktu yang sangat menegangkan. Sebab, di waktu itulah saat yang paling tepat bagi Taliban untuk mengeluarkan deklarasi perang. Setiap tahun, Taliban selalu mengeluarkan pengumuman serangan jika musim semi datang. Tapi berbeda dengan musim semi kali ini.

Kali ini, warga Afghanistan sedang harap-harap cemas menanti proses perdamaian. Karenanya, Taliban pun menggelar gencatan senjata pada musim semi tahun ini. Proses perjanjian damai memang telah diwacanakan sejak bertahun-tahun lalu. Namun, Februari 2019 kelihatannya mulai ada titik terang. Perwakilan Taliban duduk satu meja dengan Amerika sang pencaplok wilayah, di Doha.

Desakan publik Amerika agar fokus dalam urusan dalam negeri dan perang tak berkesudahan mendorong pemerintahan Trump mau tak mau mengakui Taliban sebagai pihak yang perlu duduk sama rata. Utusan khusus Amerika untuk Rekonsiliasi Afghanistan Zhalmay Khalilzad mengatakan, kekerasan di Afghanistan perlu dikurangi. Pernyataan ini jelas bikin mayoritas rakyat Afghan tertawa. “Lha yang bikin kekerasan ada di Afghanistan itu siapa?”

Jubir Taliban Zabihullah Mujahid sejak awal tegas punya sikap. Mereka mau berdamai asal terpenuhi satu syarat. Pasukan Amerika harus pulang. Syarat itu tak bisa ditawar. Banyak negara juga mendukung sikap tegas Taliban. Misalnya Rusia dan Cina. Tapi keduanya bukannya tulus membela. Sejak lama mereka juga punya kepentingan dengan Kabul, ibukotanya para special agen dan mata-mata.

BACA JUGA  Meski Dilarang, Ratusan Mahasiswa Tetap Turun ke Jalan

Taliban bukannya tak paham situasi ini. Meski tinggal di gunung-gunung terjal berbatu, para tetua Taliban tak buta politik. Mereka adalah manusia yang tinggal di dataran paling strategis di muka bumi. Perebutan wilayah dan politik tahta adalah makanan sehari-hari. Sebagai satu bangsa, mereka berabad-abad telah berhasil survive dari satu penaklukan ke penaklukan lain. Kaisar Cina, Hulagu Khan, Alexander The Great, Uni Soviet hingga pasukan Amerika yang menenteng senjata modern menggali kuburannya di Afghanistan.

Selagi proses perdamaian berlangsung. Taliban melakukan multitasking. Di dalam negeri, Taliban berupaya merekonsiliasi suku-suku yang kerap berkonflik. Inilah prioritas yang paling dikejar para pemimpin proto-state warisan Mullah Umar. Tiga suku utama, Safi, Mamond dan Shinwari diakurkan. Instrumen pemersatu seperti Jirga dibangun kembali dan dioptimalisasi. Kemudian, di luar negeri mereka mencari negara mediator yang tak memihak dua gajah besar yang selalu bertarung, Amerika dan Rusia. Pilihan itu rupanya jatuh ke Indonesia.

Pada Sabtu pekan lalu (27/07), Mullah Abdul Ghani Baradar menemui Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Menurut Taliban, pertemuan itu merupakan relasi politik yang baik antar kedua negara, dan rintisan kerja sama di masa mendatang. Jakarta juga dikabarkan akan menggelar konferensi ulama dan akademisi Islam secara trilateral (Afghanistan-Pakistan-Indonesia) di bulan Juli 2019 ini.

Pilihan Taliban kepada Indonesia tentu bukan berasal dari tebak-tebak buah manggis atau hasil lempar dadu, tetapi berasal dari kesadaran penuh atas konstelasi politik yang multipolar. Taliban tahu bahwa proses perdamaian bisa berlarut-larut, makanya mereka menggandeng mitra yang strategis secara politis. Indonesia dipilih bukan hanya sekadar negeri mayoritas berpenduduk Muslim yang diharapkan dukungannya secara jumlah. Melainkan posisi Indonesia yang dianggap netral. Tidak terang-terangan jadi proksi Amerika atau Rusia-China.

BACA JUGA  Pakar: Crosshijaber Bisa Berubah Orientasi Seksualnya

Bagi masyarakat Indonesia, merangkul Taliban juga akan mendatangkan keuntungan tersendiri. Pertama, stigma buruk masyarakat Indonesia terhadap Afghanistan dan Taliban secara perlahan akan terkikis. Barangkali, setelah utusan Taliban datang, publik Indonesia akan simpati dan tidak lagi alergi melihat julukan Novel Baswedan sebagai ‘Polisi Taliban’ di KPK. Kedua, jika relasi politik ini berjalan lebih serius, Indonesia bisa membuka kantor perwakilan Taliban di Jakarta setelah Doha.

Upaya itu akan mendorong dukungan penuh Indonesia terhadap entitas politik Muslim lain, seperti Hamas misalnya. Jika selama ini Indonesia terkesan ragu membela Palestina, kini setelah menyambut Taliban, mungkin akan berjuang sepenuh hati. Ini bukan langkah yang baru dari kebijakan Polugri Indonesia. Sebab sudah tertuang dalam pembukaan UUD 1945: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Maka, pak Jokowi tak perlu lagi ragu nyatakan: Selamat Datang, Taliban!

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

2 comments on “Editorial: Selamat Datang Taliban!”

  1. Sulaiman hud hud

    Alhamdulillah

  2. ley

    Wait n see

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Inggris

Muslim Inggris Ingin Vaksin Halal untuk Anak-anak Mereka

Para orang tua Muslim secara khusus prihatin dengan vaksin semprot hidung Fluenz karena mengandung gelatin yang berasal dari babi

Senin, 29/07/2019 17:00 0

Indonesia

Kemenag Gelar Sidang Isbat Awal Zulhijjah 1440H pada 1 Agustus

Kementerian agama melakukan pengamatan hilal di 90 titik lokasi

Senin, 29/07/2019 16:21 0

Indonesia

14 Komunitas Berkolaborasi Gelar Solo Hijrah Day

Yuk Ngaji Solo raya bersama tiga belas komunitas lainnya menggelar acara bertajuk 'Solo Hijrah Day'

Senin, 29/07/2019 14:54 0

Arab Saudi

Proyek Investasi Cina di Arab Saudi Semakin Meningkat

Setelah kunjungan delegasi Cina ke SAGIA, Kamis lalu, Mufti menjelaskan bahwa kedua negara berbagi kemitraan strategis.

Senin, 29/07/2019 14:35 0

Indonesia

Program Qurban Kemanusiaan Jelajahi Negeri Laznas AQL Fokus ke Wilayah Bencana

"Laznas AQL tak hanya mendistribusikan hewan kurban, tapi juga membawa semangat nilai dakwah"

Senin, 29/07/2019 13:07 0

Amerika

Selain di California, Aksi Penembakan Juga Terjadi di New York

Satu orang dilaporkan tewas dan 11 lainnya terluka, sementara ratusan orang berlarian mencari perlindungan.

Senin, 29/07/2019 13:02 0

Amerika

Tiga Orang Tewas dalam Aksi Penembakan di California, Pelaku Masih Buron

Departemen Kepolisian Gilroy mengonfirmasi penembakan, sembari memperingatkan bahwa penembak masih buron

Senin, 29/07/2019 12:12 0

Indonesia

Kemenristekdikti Minta Data Warga Kampus, Muhammadiyah: Bisa Memasung Kritisisme

Ketua Muhammadiyah, Anwar Abbas mengkritisi sikap Kemenristekdikti yang akan mendata nomor telepon dan medsos warga kampus.

Senin, 29/07/2019 11:58 0

Arab Saudi

Arab Saudi Tunda Pengadilan Salman al-Audah hingga Desembar

Putra al-Audah mengungkapkan, ayahnya dapat dituntut hukuman mati atas tuduhan terkait terorisme.

Senin, 29/07/2019 11:24 0

Indonesia

Muhammadiyah: Kemenristekdikti Harus Jelaskan Apa Itu Radikalisme

ia menilai pernyataan menteri ini oleh sebagian pihak dirasakan terlalu berlebihan

Senin, 29/07/2019 11:21 0

Close