... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mengapa Terorisme Global Menurun?

Foto: Terorisme

Lanjutan dari artikel “Terorisme Global Menurun, Apa Saja Tren yang Terjadi?”

Kita patut bertanya, ketika statistik menunjukkan penurunan terorisme dari segi kuantitas, apa penyebab sebenarnya? Apakah strategi kontraterorisme AS dan PBB yang telah berhasil, atau justru kelompok-kelompok teroris yang melemah? Atau kombinasi keduanya?

Tak ada yang tahu secara pasti, sebab, menurut Robert Muggah, pengukuran ancaman dan pemetaan terorisme adalah ilmu yang tidak pernah sempurna. Sementara, saat garis tren yang mengacu pada GTD dan sumber-sumber lain menunjukkan bahwa jumlah total dan tingkat insiden terorisme dan korban telah menurun, ada faktor-faktor lain yang menunjukkan bagaimana tingkat risiko tetap tinggi. Robert menyebutkan pentingnya menggunakan berbagai metrik untuk mengukur ancaman nyata dan relatif (dan tidak hanya insiden dan jumlah korban yang dilaporkan).

Robert Muggah melanjutkan artikelnya dengan mencoba mengurai beberapa penyebab penurunan tingkat terorisme. Sayangnya, uraian Robert hanya berfokus pada penyebab dari satu sisi, yaitu AS, PBB, dan pemerintahan negara setempat. Ia tidak menyebutkan penyebab internal dari sisi kelompok terorisme. Berikut ini adalah beberapa penyebab menurunnya angka terorisme secara global, menurut Robert:

Pertama, terlokalisirnya perang di Suriah, dan hilangnya wilayah ISIS di Irak dan Suriah.

Robert Muggah menulis bahwa terdapat lebih dari 50 persen penurunan dalam insiden terorisme terkait ISIS pada tahun 2017, dan penurunan yang berkelanjutan pada tahun 2018 dan 2019. Melemahnya keberadaan dan kemampuan fisik ISIS telah memiliki dampak global. Salah satunya, jumlah keseluruhan korban yang dikaitkan dengan ISIS telah menurun. Meskipun begitu, banyak pakar kontraterorisme masih bersikukuh bahwa ISIS masih belum dikalahkan, dan sebagian juga memprediksi bahwa pendekatan desentralisasi / franchise akan menghasilkan ancaman baru di masa depan.

Kedua, adanya peningkatan kerja sama dan investasi dalam mengacaukan dan menggulung kelompok-kelompok teroris, meskipun mungkin hanya memiliki efek jangka pendek.

BACA JUGA  The Habibie Center Dianggap Islamophobia Gara-gara Poster Diskusi Buku Memberantas Terorisme

Robert menyebut bahwa AS memperluas operasi militer dan anti-terorisme selama dua dekade terakhir. Negara-negara Eropa Barat, yang tergabung dalam NATO, juga telah memperluas operasi keamanan dan intelijen, termasuk di dataran Sahel dan Timur Tengah. Efek-efek ini kemungkinan bersifat jangka pendek karena mereka menekankan pengacauan dan menggulung jaringan teroris, yang tidak serta merta mengalahkan ideologi Jihadis atau ideologi kelompok ekstremis sayap kanan.

Ketiga, pemerintah, PBB, dan perusahaan teknologi semakin banyak berkolaborasi.

Pemerintah mendukung penelitian, bekerja dengan perusahaan teknologi untuk mengurangi konten terorisme (dan ekstremisme), dan mendukung pedoman literasi digital / narasi alternatif. Negara-negara G7 (Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS) dan perusahaan-perusahaan teknologi seperti Facebook, Microsoft, Twitter dan Youtube membentuk Forum Internet Global untuk Menangkal Terorisme (Global Internet Forum to Counter Terrorism) bersama dengan Royal United Services Institute (RUSI) dan 8 lembaga think-tank pada tahun 2017.

Direktorat kontra-terorisme PBB dan program PBB yang bertajuk Tech Against Terrorism diklaim telah melibatkan lebih dari 100 perusahaan teknologi di empat benua.

Keempat, perusahaan teknologi telah mengambil beberapa tindakan, tetapi juga menghadapi tantangan terkait regulasi, out-linking, dan migrasi ke platform alternatif.

Perusahaan teknologi sedang ditekan untuk mengambil tindakan lebih proaktif untuk menangani konten / akun teroris. Facebook menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi / menghapus foto / video yang terhubung ke konten terorisme. Youtube mengklaim bahwa 98 persen dari ribuan video yang telah dihapus diidentifikasi menggunakan algoritma machine learning. Twitter telah menangguhkan setidaknya satu juta akun karena mempromosikan terorisme sejak 2015.

Tantangan yang dihadapi oleh perusahaan media sosial adalah ‘out-linking’, atau tautan ke web di luar platform induk. Ketika konten-konten mereka dibatasi, Robert menyebut, kelompok teroris biasanya memposting ulang konten ke platform lain seperti justpaste.it, sendvid.com dan archive.org.

BACA JUGA  The Habibie Center Dianggap Islamophobia Gara-gara Poster Diskusi Buku Memberantas Terorisme

Tantangan lain yang ditemui adalah termasuk platform terenkripsi seperti Telegram dan WhatsApp, dan lebih sulit lagi untuk memonitor ekosistem digital seperti Darknet. Mengingat fokus yang tidak proporsional pada ISIS dan al-Qaidah, ada juga kekhawatiran bahwa banyak gerakan ekstremis brutal yang tidak diawasi, seperti kelompok ekstremis sayap kanan.

Berkembangnya internet dan menjamurnya berbagai platform media sosial memang telah mengubah banyak hal tentang ancaman terorisme. Selama dasawarsa terakhir, kelompok-kelompok Jihadis telah beralih dari operasi ‘mirip mafia’ monolitik dan mem-waralaba kegiatan mereka. Seperti terbukti dalam serangan dari Mumbai (2008) ke Nairobi (2019), mereka sangat mahir dalam menyebarkan platform digital untuk mendorong perekrutan, radikalisasi, dan mengelola operasi secara real-time.

Bukan hanya jaringan Jihadis seperti ISIS, al-Qaidah, Boko Haram, atau al-Shabaab yang telah memperluas keterampilan digital mereka. Ada banyak tanda bahwa individu dan kelompok supremasi kulit putih / sayap kanan telah memperluas jejaring transnasional mereka, dimungkinkan oleh alat digital dan polarisasi yang semakin dalam. Pemicu satu ini adalah hal yang kompleks dan memungkinkan lebih banyak individu mengalami radikalisasi.

Selain tantangan dari kelompok Jihadis dan kelompok supremasi kulit putih, ada ancaman jangka pendek dan potensial tambahan di cakrawala yang menimbulkan kekhawatiran negara-negara Barat. Salah satunya yaitu kembalinya pejuang asing dan militan dari Timur Tengah, setelah kehilangan wilayah secara fisik, yang dialami oleh ISIS ini di Suriah dan Irak. Banyak pejuang asing yang dipenjara selama 10-20 tahun terakhir juga akan bebas setelah selesai menjalani masa tahanannya, dan memunculkan kekhawatiran baru.

Maka, tren penurunan terorisme secara global ini sebenarnya bukanlah hal yang amat menggembirakan bagi AS, PBB, dan negara-negara Barat, selama mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka sebut dengan terorisme. Ibarat dokter, mereka hanya mengobati gejala, tanpa benar-benar menyembuhkan penyakit.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Palestina

Survei: Mayoritas Warga Israel Menolak Gencatan Senjata

Mayoritas warga Israel menentang perjanjian gencatan senjata yang saat ini berlaku antara Israel dan faksi-faksi Palestina di Jalur Gaza yang diduduki.

Kamis, 25/07/2019 11:18 0

Video News

Dubes: Organisasi Internasional Diam Saat Zionis Hancurkan Pemukiman Palestina

KIBLAT.NET, Jakarta – Zionis Israel dilaporkan telah menghancurkan sejumlah rumah warga Palestina di sekitar tembok...

Rabu, 24/07/2019 19:06 0

Myanmar

Utusan PBB Tegaskan Rakhine Tak Kondusif untuk Repatriasi Muslim Rohingya

Ada wacana pengungsi Rohingya di Bangladesh akan dipulangkan kembali ke wilayah Myanmar

Rabu, 24/07/2019 18:50 0

Indonesia

Jamaah Haji Indonesia Diimbau Tidak Beli Makanan di Luar Katering PPIH

Makanan yang dibeli di luar katering tak terjamin kebersihan dan kesehatannya

Rabu, 24/07/2019 18:12 0

Indonesia

Prabowo Bertemu Megawati, Pengamat: Gerindra Kemungkinan Gabung Koalisi Jokowi

Pengamat Politik, Ujang Komarudin menilai pertemuan Prabowo dan Megawati hari ini merupakan upaya untuk mempermudah rekonsiliasi pasca Pilpres.

Rabu, 24/07/2019 15:26 0

China

Cina Sebut Akan Bentuk Pasukan Berteknologi Canggih

Rencana tersebut menyerukan lebih banyak teknologi mutakhir dalam gudang senjata Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), meskipun diakui "masih jauh di belakang militer terkemuka dunia".

Rabu, 24/07/2019 15:00 0

Indonesia

Pakar Pidana: Pengibaran Bendera Tauhid Tidak Perlu Dipermasalahkan

Menurut Pakar Hukum Pidana Universitas Al-Azhar, Suparji Ahmad, tindakan tersebut bukan perbuatan pidana.

Rabu, 24/07/2019 14:54 0

Indonesia

Temuan TGPF Lemah, Penyerang Novel Mustahil Ditangkap Dalam Tiga Bulan

Pakar Hukum Pidana Universitas Al-Azhar, Suparji Ahmad menanggapi sikap presiden Jokowi yang meminta kasus Novel diungkap dalam tiga bulan.

Rabu, 24/07/2019 14:43 0

India

Selama 3 Bulan Tidak Ada Bayi Perempuan Lahir di India, Ada Apa?

India melarang aborsi selektif janin perempuan pada tahun 1994, meskipun praktiknya masih banyak terjadi.

Rabu, 24/07/2019 14:39 0

Amerika

Aksi Terorisme di AS Sebagian Besar Dilakukan Ekstremis Sayap Kanan, Bukan Muslim

Meski begitu, aksi terorisme ekstremis sayap kanan yang digagalkan polisilebih sedikit daripada penggagalan aksi teror kelompok lain

Rabu, 24/07/2019 14:32 0

Close