... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Benarkah Ali Bin Abi Thalib Pernah ke Garut?

Kedua, cerita yang berkarakter too good to be true ini segera akan ketahuan ketika ditarik ke wilayah yang wajar. Wilayah yang wajar ini adalah wilayah nalar dan akal pikiran yang sehat. Seandainya ini wilayah gaib yang tidak bisa dijangkau nalar seperti persoalan surga dan neraka, mungkin wilayah wajarnya adalah keimanan dan sumber yang otentik berasal dari Sang Mahatahu Allah Swt. Akan tetapi, karena ini adalah kisah sejarah, maka wilayah nalarnya secara sederhana distandarisasi dengan metode-metode ilmiah yang menjadi rambu untuk membatasi apakah manusia mungkin mendapatkan pengetahuan tentang peristiwa ini atau tidak. Dalam hal peristiwa sejarah, ada metode-metode sejarah yang harus diujikan pada cerita ini.

Ketiga, batu uji ilmiah yang pertama dan mendasar untuk kisah ini adalah “sumber cerita”. Dalam sejarah, suatu kisah tanpa sumber jelas hanya khayalan. Perkara khayalan setiap orang bisa mengarang sebebas-bebasnya. Itulah sebabnya karya fiksi seperti novel tidak mempersyaratkan sumber ceritanya, karena tidak dituntut membuktikan apakah kisah yang diangkat dalam novel ini benar-benar terjadi di dunia nyata atau tidak. Berlainan dengan sejarah. Sejarah adalah kisah tentang hal-hal yang “seharusnya” sungguh-sungguh terjadi di masa lalu.

Oleh sebab itu, setiap kisah sejarah yang paling pokok adalah membuktikan dari mana kisah itu berasal. Sekarang, silakan cek sendiri oleh para pembaca dari mana sumber cerita itu? Penulis BC itu hanya menyebutkan bahwa sumbernya semua bermuara ke bukunya Habib Bahruddin Amatkhan berjudul Qishshatud-Dakwah fî Arahbiliyyah (Nusantara) yang berangka tahun 1929. Artinya buku ini adalah buku baru, terbit tahun 1929.

Keempat, mari kita telusuri penulis dan buku ini. Penulis buku ini adalah seorang “habib” keturunan Yaman yang menurut salah seorang keturunannya yang juga seorang “habib” Shahibul Faroji Azmatkhan, Bahruddin ini baru meninggal tahun 1992 (dapat ditelusuri secara online di https://id.wikipedia.org/wiki/Shohibul_Faroji tentang nasab cucunya ini). Artinya tokoh ini adalah tokoh yang hidup di zaman kita sekarang ini. Jadi, buku yang ditulisnya sudah pasti bukan sumber utama (primer) kisah tentang para sahabat yang datang ke tanah Jawa dan Sumatra ini.

BACA JUGA  Pasca Kematian Soleimani, Sejumlah Negara Eropa Larang Warganya Bepergian ke Iran

Harusnya bila penulisnya bertanggung jawab secara ilmiah atas klaimnya, ia akan mencantumkan dari mana kisah ini ia dapatkan. Sayang hingga saat ini saya sudah berusaha untuk mendapatkan buku tulisan Bahrudin Azmatkhan di atas, namun belum mendapatkannya, baik hard copy maupun soft copy. Bila saya sudah mendapatkan dan membacanya paling tidak saya bisa menilai kualitas buku tersebut; lebih jauh lagi saya bisa mendapatkan informasi darimana Bahruddin Azmatkhan mendapatkan kisah tersebut.

Kelima, tentu bukan berarti bila saya tidak mendapatkan buku Badruddin Azmatkhan di atas, maka otomatis semua kisah dari buku itu tertotak. Jelas itu logika bodoh. Hanya saja, ada metode lain yang dikenal di dalam penelitian sejarah untuk mengecek keabsahan suatu berita. Nama tehniknya adalah koroborasi atau melakukan perbandingan satu sumber dengan sumber lainnya. Semakin banyak sumber yang mendukung kisah itu, maka kemungkinan kisah itu benar semakin kuat. Dari mana kita dapat menemukan sumber-sumber primer mengenai kisah para sahabat ini? Mereka yang berlajar ilmu hadis tidak terlalu sulit untuk melacak sumber-sumber kisah tentang perjalanan hidup para sahabat ini, terutama sumber-sumber primernya. Sebab, para sahabat termasuk kategori perawi hadis yang paling pokok.

Sumber-sumber mengenai kisah para sahabat semula adalah kisah dari mulut ke mulut orang-orang yang bersentuhan langsung dengan mereka. Disampaikan lagi ke generasi berikutnya hingga masa pembukuan riwayat-riwayat (ashrut-tadwîn). Kini kisah-kisah para sahabat ini cukup dengan mudah diakses dalam kitab-kitab biografi para sahabat dengan metode dan model penulisan yang sangat beragam.

Keenam, mari kita ambil satu tokoh untuk proses koroborasi ini, yaitu Ali bin Abi Thalib. Buku biografi tentang Ali bin Abi Thalib termasuk salah satu yang paling mudah ditemukan, karena yang menulisnya sangat banyak. Jumlahnya mungkin bisa sampai ribuan orang yang menulis tentang beliau ini. Di sanalah kita dapat mencari data pembanding ke mana saja Ali bin Abi Thalib pernah bepergian. Beliau ini termasuk sahabat yang aktif dan banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat.

BACA JUGA  Warga Bekasi Gotong Royong Bersihkan Masjid Pasca Banjir

Sayang sekali, beberapa kali saya berusaha untuk membaca berbagai kitab biografi Ali bin Abi Thalib, belum satu pun yang menginformasikan bahwa beliau sudah pernah sampai ke Tanah Jawa atau Sumatera. Apakah para penulis biografi itu sepakat untuk menghilangkan persentuhan sahabat mulia ini dengan Tanah Jawa dari zaman ke zaman; dan baru pada abad ke-20 saja ada yang menuliskannya? Itu pun penulisnya entah mendapatkan informasi dari mana. Rasanya terlalu naif untuk mengiyakan.

Ketujuh, suatu perjalanan, baik masa lalu maupun masa sekarang, adalah salah satu momen yang penting diabadikan dalam hidup seseorang. Apalagi kalau perjalanan tersebut terbilang istimewa. Contohnya perjalanan ibadah haji dari Indonesia yang mungkin hanya dilakukan sekali seumur hidup. Saya yakin pada abad ke-7 M, perjalanan dari Madinah atau Kufah bisa sampai ke Tanah Jawa adalah sesuatu yang sangat istimewa dan penting.

Apakah mungkin Ali bin Abu Thalib atau murid-murid dan sahabat-sahabatnya melupakan perjalanan penting ini? Apalagi hasilnya Tanah Jawa menjadi Islam karenanya. Perjalanan Muadz bin Jabal ke Yaman yang dekat dari Madinah saja begitu melegenda, apalagi perjalanan ke Pulau Jawa. Oleh sebab itu, kemungkinan besar perjanalan Ali bin Abi Thalib sampai ke Tanah Jawa ini, saya hampir yakin tidak pernah terjadi. Begitu juga perjalanan sahabat lain yang dikisahkan dalam BC di atas. Wallahu Alamu bi Al-Shawwâb.

Penulis: Dr. Tiar Anwar Bachtiar (Pemerhati Sejarah Islam Nusantara)

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

New York Times Sebut Qatar Manfaatkan Milisi “Ekstremis” di Somalia

Surat kabar AS itu mengaku memperoleh rekaman percakapan telepon yang disadap oleh badan intelijen anti-Qatar, tanpa menyebutkan kewarganegaraan badan tersebut, yang menegaskan hal tersebut

Rabu, 24/07/2019 10:08 0

Suriah

PBB Dokumentasikan Kematian 400 Sipil di Barat Laut Suriah

Serangan pada Senin lalu merupakan paling mematikan di wilayah tersebut.

Rabu, 24/07/2019 08:27 0

Palestina

Israel Robohkan 12 Gedung Tempat Tinggal Warga Palestina

Pejabat Palestina menyatakan kemarahan atas pembongkaran tersebut.

Rabu, 24/07/2019 07:32 0

Artikel

Quo Vadis, Umat Islam Indonesia Setelah Pilpres 2019

Politik elektoral sudah menjadi titik tumpu umat Islam Indonesia selama tiga tahun belakangan ini. Seakan-akan dunia terbagi menjadi dua dalam kubu. Menafikan satu dengan lainnya. Menjadikan pilihan politik elektoral sebagai satu-satunya acuan kebenaran.

Selasa, 23/07/2019 21:01 2

Myanmar

Pengadilan Pidana Internasional Selidiki Kejahatan Kemanusiaan Militer Myanmar

Jaksa penunut Pengadilan Pidana Internasional (ICC) melakukan pertemuan dengan pengungsi Rohingya di Cox's Bazar, Bangladesh

Selasa, 23/07/2019 17:05 0

China

China Berterima Kasih pada UEA Karena Dukung Kebijakan di Xinjiang

Terima kasih itu disampaikan di sela-sela pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Putra Mahkota UEA, Mohammed bin Zayed Al Nahyan, di Beijing, pada Senin (22/07/2019). Mohammed ke China dalam rangka kunjungan kenegaraan.

Selasa, 23/07/2019 13:49 0

Amerika

Trump Sebut Iran Berbohong soal Penangkapan Mata-mata CIA

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga meragukan penangkapan dalam sebuah wawancara televisi sebelumnya pada hari Senin. Dia mengatakan, "Rezim Iran memiliki sejarah panjang berbohong."

Selasa, 23/07/2019 13:45 0

Turki

Soal Pembelian S-400 Rusia, Menlu Turki: Kami Akan Balas Jika AS Beri Sanksi

Turki telah berselisih dengan Amerika Serikat selama berbulan-bulan karena rencana pembelian sistem pertahanan rudal Rusia oleh Ankara.

Selasa, 23/07/2019 13:17 0

Eropa

Marak Teror Bom di Masjid-masjid Jerman, Siapa Pelakunya?

Setidaknya lima masjid menerima ancaman bom bulan ini, memicu kekhawatiran di kalangan penduduk Muslim di negara itu.

Selasa, 23/07/2019 12:48 0

Wilayah Lain

Listrik Venezuela Padam, Pemerintah: Penyebabnya “Serangan Elektromagnetik”

Lebih dari separuh dari 23 negara bagian Venezuela mengalami mati listrik. Menurut laporan Reuters dan di media sosial, Senin (21/07/2019), pemadaman dilakukan pemerintah karena terjadi "serangan elektromagnetik".

Selasa, 23/07/2019 11:28 0

Close