... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Ditolak di Bandung, RUU P-KS Dinilai Dapat Timbulkan Masalah Baru

Foto: Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Bandung menggelar aksi penolakan RUU P-KS, Ahad (21-07-2019)

KIBLAT.NET, Bandung – Aksi penolakan terhadap Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS) kembali digelar di Bandung. Dikomandoi Gerakan Peduli Perempuan (GPP) Bandung, aksi itu menyatakan RUU tersebut dapat menimbulkan masalah baru.

Aksi penolakan terhadap RUU P-KS berlangsung di arena car free daya (CFD) Bandung, Ahad (21/07/2019). Sebelum melakukan orasi dan penandatanganan petisi, puluhan orang pesrta terlebih dahulu melakukan Long March dari SMAN 1 Bandung sampai Pertamina di jalan Dago. Mereka kompak melakukan penolakan karena poin-poin di RUU P-KS dianggap berbenturan dengan norma-norma di masyarakat.

Menurut juru bicara aksi Andri Oktavianas, penolakan tersebut disuarakan bukan disebabkan pihaknya tidak memahami RUU P-KS, melainkan karena tahu siapa pengusung dan apa agenda terselubung dari RUU tersebut. Kajian bersama para ahli dan akademisi sudah lama dilakukan.

“Sehingga kesimpulan dari penelitian-peneltian tersebut adalah RUU ini berbahaya jika disahkan, karena banyak istilah-istilah yang multitafsir seperti makna dari kekerasan seksual itu sendiri, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah baru,” ungkap Andri Oktavianas, sebagaimana dalam rilis yang diterima Kiblat.net, Senin (22/07/2019).

Ami, salah seorang peserta aksi, menyatakan bahwa penolakan terhadap RUU ini penting untuk dilaksanakan. Menurutnya, aksi penolakan tersebut bukan untuk kepentingan golongan tertentu, tetapi untuk kepentingan seluruh masyarakat Indonesia.

“Masyarakat harus diberikan pencerahan soal RUU ini. Dilihat sekilas, RUU ini seolah menawarkan solusi atas permasalahan yang terjadi disekitar kita. Tetapi kalau dilihat dari naskah akademiknya terdapat poin-poin yang bermasalah sehingga agenda-agenda yang bertentangan dengan nilai-nilai sosial di masyarakat akan mudah dilegalkan seperti, zina, prostitusi, bahkan keberadaan kaum homoseksual,” tegas Ami.

BACA JUGA  Meski Pindah Tempat, UAS Tetap Isi Kajian Muslim United

Seorang peserta lainnya, Erlin menilai jika RUU P-KS memang memihak kepada rakyat Indonesia, dalam penyusunan naskahnya pun harusnya lebih memperhatikan kondisi Indonesia yang memegang nilai-nilai tertentu. “Tidak bisa kita mengadopsi utuh frame kekerasan seksual yang di usung PBB, harus di kaji agar tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku di sini,” ujar mahasiswa psikologi di Bandung itu.

Aksi tersebut juga diwarnai penyebaran pamflet poin-poin penolakan RUU P-KS. Tak hanya dari kalangan mahasiswa, peserta aksi penolakan ini juga datang dari kalangan pekerja dan ibu rumah tangga.

Reporter: Muhammad Jundii
Editor: Imam

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Timur Tengah

Kotoran Unta Jadi Pendorong Industri Semen Uni Emirat Arab

"Orang-orang mulai tertawa, percayalah," kata manajer umum Perusahaan Semen Gulf, Mohamed Ahmed Ali Ebrahim, menggambarkan saat agen manajemen limbah mengusulkan ide tersebut.

Senin, 22/07/2019 14:20 0

Suriah

Wartawan Anadolu Terbunuh dalam Serangan Udara Rusia di Idlib

Anas Diab, berusia 22 tahun, tewas ketika melaporkan serangan udara Rusia di kampung halamannya di Khan Sheikhun.

Senin, 22/07/2019 13:49 0

Afrika

Jadi Kontroversi, Riyad Mahrez Tak Salami PM Mesir saat Penyerahan Trofi Piala Afrika

Bintang sepak bola Aljazair Riyad Mahrez kemungkinan akan dilarang memasuki Mesir menyusul tindakan yang dianggap menghina perdana menteri dan menteri olahraga Mesir.

Senin, 22/07/2019 13:20 0

Info Event

Ma’had Aly Ilman Nafian Gelar Wisuda Perdana

Ma'had Aly Ilman Nafian Bekasi mencetak kader dakwah yang hafal Al Quran 30 juz, 500 Hadits, dan menguasai bahasa Arab

Senin, 22/07/2019 13:03 0

Palestina

Qatar Kembali Distribusikan BLT kepada Warga Gaza

"Hari ini mulai pencairan bantuan tunai kepada 60.000 keluarga miskin di Jalur Gaza dengan nominal $ 100 per keluarga," kata pernyataan Komite Rekonstruksi, seperti dilansir AFP.

Senin, 22/07/2019 09:43 0

Turki

Ancaman Mengintai Erdogan Usai Mantan Sekutu “Berbalik Arah”

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berisiko kehilangan lebih banyak pemilih karena mantan sekutu telah mendeklarasikan perbedaan dan berencana membentuk partai baru.

Ahad, 21/07/2019 14:55 0

Amerika

Hampir 150 Juta Warga AS Terdampak Gelombang Panas Mematikan

Gelombang panas telah merenggut setidaknya tiga nyawa, termasuk dua di awal pekan ini di negara bagian Maryland timur.

Ahad, 21/07/2019 13:47 0

Palestina

Dalam Setengah Tahun, Lebih 900 Warga Palestina Ditangkap Otoritas Israel

Tidak hanya pria, kampanye penangkapan oleh Israel juga ditujukan kepada kaum wanita dan anak-anak.

Ahad, 21/07/2019 13:25 0

Opini

Islam, Kebudayaan, dan Peradaban: Dari Barat Hingga Melayu

Islam bukanlah sebuah kebudayaan tetapi agama yang diwahyukan. Justru Islam merupakan inspirasi lahirnya kebudayaan dan peradaban sehingga disebut Kebudayaan Islam

Sabtu, 20/07/2019 16:27 0

Iran

Iran Sita Kapal Tanker Inggris Saat Melintas di Selat Hormuz

Stena Polk, pemilik kapal tanker minyak Inggris Stina Empero, mengatakan kehilangan kontak dengan kapalnya setelah diserang selama pelayarannya di Selat Hormuz.

Sabtu, 20/07/2019 10:53 0

Close