... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Dari Negeri ke Negeri: Derita Pengungsi Tanpa Henti

Foto: Pengungsi Suriah

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

KIBLAT.NET – 6 Juli 1995, Saliha Osmanovic begitu berduka. Ia menguburkan putra bungsunya Edin yang tewas akibat ledakan granat dari pasukan Bosnia-Serbia. Ternyata duka Saliha belum berakhir. Lima hari kemudian suami dan putranya yang lain mengalami nasib yang sama.

Saliha adalah salah seorang yang mengungsi ke Srebrenica, setelah desanya dibakar pada bulan Mei tahun 1993 oleh pasukan Serbia-Bosnia. Resolusi Dewan Keamanan PBB menetapkan pada 16 April 1993 bahwa Srebrenica adalah zona aman pertama bagi wilayah Bosnia dan Herzegovina. Menampung lebih dari 40 ribu pengungsi.

Saliha menyangka PBB akan melindungi mereka di zona aman tersebut. Nyatanya tidak. Sejak 8 Maret 1995, Radovan Karadzic, Presiden Republik Srpska memerintahkan pasukannya untuk membuat situasi mencekam tanpa pengecualian untuk keselamatan bagi penduduk Srebrenica dan Zepa.

Menindaklanjuti perintah itu, pada 6 Juli 1995, Komandan Pasukan Serbia-Bosnia, Zlatko Mladic memerintahkan agar melakukan serangan total ke Srebrenica. Tanpa perlawanan pasukan Mladic memasuki Srebrenica yang seharusnya dilindungi oleh Pasukan Belanda di bawah PBB.

Perempuan dan anak-anak serta orang tua dengan panik mencari perlindungan di bawah Markas Pasukan Belanda (PBB) di Potocari. 11 Juli 1995, Jenderal Ratko Mladic memerintahkan untuk mengosongkan kota Srebrenica. Di depan kamera televisi ia mengatakan: “akan ada pembalasan terhadap orang-orang Turk.” Sebutan mengejek untuk muslim Bosnia.

Sore harinya Mladic mengadakan pertemuan dengan Komandan Batalion Belanda, Thom Karremans di Hotel Fontana. Mladic menawarkan pilihan: “Keselamatan atau Lenyap.” Keesokan harinya, Mladic kembali dilakukan pertemuan di Hotel Fontana. Mladic kembali menawarkan opsi yang sama. “Keselamatan atau lenyap.”

BACA JUGA  Unjuk Rasa Mahasiswa dan Kebangkitan Budaya Digital

Sore harinya hanya perempuan dan anak-anak serta orang lanjut usia yang boleh keluar dari Srebrenica. Pria dewasa dan anak laki-laki dipisahkan. Rombongan itu keluar naik bus dari Potocari. Pria dan anak laki-laki yang tinggal dibantai. Genosida dimulai.

Bosnia

Kuburan massal korban pembantaian Muslim Bosnia di Srebrenica, pada Juli 1995

Sebagian dieksekusi di wilayah terpisah. Seribu orang yang ditahan di Sekolah Orahovac misalnya, diesksekusi dekat rel kereta. Lainnya dieksekusi dekat bendungan. Begitu pula di berbagai tempat lainnya. Satu persatu ditembak atau diberondong dengan muntahan peluru dari belakang.

Nedzad Advic, yang saat itu berusia 17 tahun, adalah salah seorang korban yang selamat. “Saya pikir saya akan mati cepat tanpa menderita. Sambil berpikir ibuku tak akan pernah tahu di mana aku mati. Mereka mulai menembaki kami dari belakang. Aku tak tahu apakah sadar atau tidak, tapi aku terbaring dengan perut berdarah. Perut dan lengan kananku ditembak. Penembakan terus berlangsung. Dan aku melihat sebaris orang berjatuhan,” demikian kenang Nedzad Advic.

Setelah eksekusi berakhir, Nedzad Advic bersama beberapa orang yang terluka namun masih selamat, melarikan diri. Bersembunyi di sungai, tidur di pekuburan, dan dengan susah payah mereka berhasil mencapai wilayah yang dikuasai pemerintah Bosnia. Ayah, paman, dan kerabatnya tewas di penampungan Potocari yang seharusnya dilindungi PBB.

7 ribu orang tewas dalam penjagalan massal di Srebrenica ini. 25 ribu dipaksa pergi dari rumah mereka. Karadzic dan Mladic telah diadili oleh pengadilan internasional. Tetapi luka itu tidak akan menghilang. Terlebih saat ini di berbagai negara sekitar Bosnia, kebencian terhadap muslim masih membara.

BACA JUGA  Hari Pertama Muslim United, Masjid Gedhe Kauman Dipenuhi Hadirin

Satu hal yang penting digarisbawahi adalah banyak dari korban di Srebrenica berstatus sebagai pengungsi. Sebagai orang yang dipaksa (atau terpaksa) keluar dari kampung halaman mereka, pengungsi terlebih di situasi konflik berdarah sangat rentan dipersekusi.

Saat ini begitu banyak muslim yang menyandang status pengungsi. Refik Hodzic, seorang Jurnalis asal Bosnia menulis bahwa apa yang dialami pengungsi Suriah saat ini menghadapi situasi yang sama yang mendorong genosida di Srebrenica.

“Memaksa pengungsi yang beroposisi pada rezim al-Assad (Bashar Assad) untuk kembali ke Suriah tanpa memberi mereka kondisi yang diperlukan untuk keamanan dan hidup yang bermartabat, jaminan dan diawasi oleh mekanisme internasional, artinya akan membuat mereka akan mengalami nasib yang sama seperti orang-orang Bosnia yang diserahkan pada Karadzic,” jelas Refik.

“Kebanyakan orang Suriah yang Aku kenal yakin bahwa kebanyakan pengungsi yang kini di Lebanon memilih untuk mengambil resiko nyawa mereka untuk mencapai Eropa ketimbang balik ke kampung halaman dan mencoba untuk bertahan hidup di bawah belas kasihan al-Assad,” lanjut Refik.

Kenyataannya memang menyedihkan. Menurut badan PBB yang mengurus soal pengungsi, UNHCR, ada 70,8 juta orang di dunia yang dipaksa keluar dari rumahnya. 25,9 juta orang berstatus pengungsi. 57% berasal dari tiga wilayahl; Suriah (6,7 juta orang), Afghanistan (2,7 juta), dan Sudan Selatan (2,3 juta). 85% tinggal di wilayah negara berkembang tidak makmur dan tidak kebal dari krisis.

Turki menjadi negara paling banyak menampung para pengungsi. Ada 3,7 juta orang ditampung oleh Turki. Pakistan mendapat urutan kedua dengan menampung 1,4 juta orang. Berikutnya ada Uganda (1,2 juta), Sudan (1,1 juta) dan baru Jerman dengan 1,1 juta orang.

Baca halaman selanjutnya: Secara umum, umat Islam-lah...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Kelompok Muslim Kanada Tolak Hadiri Konferensi Kebebasan Beragama AS

Alasan utama penolakan karena larangan perjalanan Muslim ke AS oleh Donald Trump.

Selasa, 16/07/2019 12:20 0

Video News

Munarman: Semua Kasus Habib Rizieq Sudah SP3

KIBLAT.NET- Jakarta, 15 Juli 2019, Sekjen FPI, Munarman dan Sekjen GNPF Ulama, Edy Mulyadi kembali...

Selasa, 16/07/2019 12:08 0

Video News

Jika Ijtima Ulama 4 Tak Dizinkan Polisi? Ini Jawaban Munarman

KIBLAT.NET- Jakarta, 15 Juli 2019, Sekjen FPI, Munarman menjawab pertanyaan media tentang bagaimana jika Ijtima...

Selasa, 16/07/2019 11:40 0

Video News

Ijtima Ulama 4 Bakal Digelar, Ini Agenda Acaranya Menurut Munarman

KIBLAT.NET- Jakarta, 15 Juli 2019, Ketua GNPF Ulama, Yusuf Muhammad Martak dan Sekjen FPI, Munarman,...

Selasa, 16/07/2019 11:08 0

Indonesia

Produksi S-400 Bareng Rusia, Turki Tak Khawatir Sanksi AS?

Komponen pertama peralatan S-400 Rusia dikirim ke Turki dalam beberapa hari terakhir, meskipun AS berulang kali memperingatkan untuk membatalkan kesepakatan atau menghadapi sanksi.

Selasa, 16/07/2019 10:39 0

Indonesia

Pornografi Dapat Membunuh Produktivitas Seseorang

Eljawad menyebutkan bahwa menonton pornografi termasuk Gangguan Perilaku Seksual Kompulsif dan sudah diklasifikasi secara internasional merupakan penyakit (ICD-11).

Selasa, 16/07/2019 10:24 0

Indonesia

GNPF Ulama Berencana Adakan Ijtima’ Ulama IV

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Yusuf Muhammad Martak mengatakan bahwa pihaknya berencana akan mengadakan Ijtima Ulama yang keempat kalinya.

Selasa, 16/07/2019 01:07 0

Indonesia

Pasca Gempa Maluku, Dua Orang Meninggal dan Ribuan Warga Mengungsi

Gempa bumi magnitudo 7,2 yang terjadi pada Minggu (14/07/2019) di Maluku Utara mengakibatkan dua orang meninggal dunia.

Selasa, 16/07/2019 00:17 0

Indonesia

Mardani Ali Sera Kritisi Pidato Visi Misi Presiden Jokowi

Mardani Ali Sera, Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) langsung mengkritisi dan memberikan berbagai masukan konstruktif pada visi misi yang di sampaikan Presiden Jokowi.

Selasa, 16/07/2019 00:06 0

China

37 Negara Bela Tindakan Cina terhadap Uighur, Ini Daftarnya

Duta besar yang mewakili 37 negara memuji Cina atas "pencapaian luar biasa di bidang hak asasi manusia," hanya sehari setelah sekelompok 22 negara lainnya secara resmi mengecam negara itu atas penahanan massal etnis dan agama minoritas di wilayah Xinjiang.

Senin, 15/07/2019 18:11 1

Close