Dialog Intra-Afghanistan: Taliban Sepakat Hindari Jatuhnya Korban Sipil

KIBLAT.NET, Doha – Pembicaraan damai dua hari antara delegasi Afghanistan dan perwakilan Taliban di ibukota Qatar, Doha, telah berakhir. Kedua belah pihak sepakat untuk mengurangi korban sipil menjadi “nol” di tengah meningkatnya korban tewas di negara yang dilanda perang itu.

Dialog intra-Afghanistan, disponsori oleh Qatar dan Jerman, berlangsung antara politisi Afghanistan, anggota masyarakat sipil, termasuk perempuan, dan Taliban. Pertemuan ini dipandang sebagai langkah substantif menuju perdamaian di Afghanistan.

“… Berkomitmen untuk menghormati dan melindungi martabat orang, nyawa dan harta benda mereka dan untuk meminimalkan korban sipil menjadi nol,” kata sebuah pernyataan bersama yang dirilis pada akhir pembicaraan di Doha, Senin (08/07/2019) malam.

Kedua pihak juga sepakat untuk menjamin keamanan lembaga-lembaga publik. “Memastikan keamanan institusi publik, seperti sekolah, madrasah agama, rumah sakit, pasar, bendungan air, dan lokasi kerja lainnya,” kata pernyataan itu.

Qari Din Mohammad Hanif, anggota delegasi Taliban, mengatakan bahwa delegasi Afghanistan yang juga termasuk anggota dari pemerintah Afghanistan, bersepakat menganai status warga sipil.

“Orang Afghanistan akan dilindungi, kami selalu menginginkan ini, mereka tidak pernah menjadi target,” katanya.

“Kami semua sepakat dengan fakta bahwa warga sipil tidak boleh terpengaruh, perang berlanjut, tetapi tujuan kami adalah mengurangi korban sipil menjadi nol.”

Pertemuan ini dilangsung seiring dengan enam hari perundingan langsung Amerika Serikat-Taliban. Sekitar 50 politisi dan aktivis Afghanistan hadir di dalamnya, termasuk 10 delegasi perempuan.

BACA JUGA  Pertama Kalinya, Mesir dan UEA Ijinkan Penerbangan dari Qatar

Pertemuan itu diselenggarakan untuk memulai dialog langsung antara pihak-pihak yang berseteru yang telah berperang satu sama lain sejak invasi pimpinan AS setelah serangan 11 September 2001 di AS.

Pembicaraan itu juga bertujuan mempertahankan perdamaian setelah penarikan pasukan NATO pimpinan AS.

Utusan khusus AS untuk Afghanistan, Zalmay Khalilzad, telah mengadakan beberapa putaran pembicaraan dengan Taliban di Doha untuk menandatangani kesepakatan damai.

Taliban, yang telah berulang kali menolak untuk berunding dengan pemerintah Kabul yang didukung Barat, setuju untuk bergabung dalam pertemuan dengan syarat bahwa para peserta yang hadir dalam kapasitas pribadi.

Rincian Kesepakatan Bersama

Setelah siaran pers pada hari Senin, beberapa delegasi dan diplomat berbeda pendapat tentang rincian pernyataan bersama tersebut.

Beberapa mengatakan pernyataan itu bukan kesepakatan tetapi rekomendasi untuk perdamaian, sementara yang lain mengatakan itu adalah “panggilan untuk perdamaian dan stabilitas” atau “peta jalan untuk perdamaian”.

“Kami tidak bisa menyebutnya sebagai perjanjian damai, itu hanya seruan untuk pengurangan korban sipil dan perlindungan tempat-tempat dan lembaga-lembaga publik,” kata Anwar-ul-haq Ahadi, mantan menteri keuangan.

“Ini adalah langkah pertama ke arah yang benar dalam mengurangi permusuhan dan yang penting. Ini lebih dari apa yang saya harapkan dari pembicaraan ini.”

Markus Potzel, utusan Jerman Jerman yang menjadi tuan rumah pembicaraan dengan Qatar, mengatakan pernyataan bersama itu berisi “seruan dan janji untuk mengurangi kekerasan di Afghanistan”.

BACA JUGA  Pertama Kalinya, Mesir dan UEA Ijinkan Penerbangan dari Qatar

Sher Mohammad Abbas Stanikzai, kepala perunding Taliban, mengatakan pertemuan ini sebagai tempat semua orang mengekspresikan pandangannya mengenai perdamaian di Afghanistan.

Dia kemudian mengklarifikasi serangan bom mobil hari Minggu di Ghazni dengan mengatakan bahwa serangan itu sebagai “perjuangan untuk kebebasan” melawan “pendudukan asing”.

“Target kami bukan warga sipil, mereka yang terbunuh dalam serangan itu adalah pasukan intelijen, hanya rumah-rumah di dekatnya yang terkena dampak ledakan yang melukai warga sipil.”

Pembicaraan AS-Taliban akan dimulai lagi pada hari Selasa, yang bertujuan untuk merinci perincian perjanjian kerangka kerja yang dicapai pada Januari.

Perjanjian membahas jadwal untuk penarikan pasukan AS dari Afghanistan, gencatan senjata dan jaminan Taliban untuk tidak mengizinkan pasukan asing menggunakan negara itu sebagai tempat pementasan serangan asing.

Sumber: Al-Jazeera
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat