... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Imajinasi Kolonial di Balik Budaya ‘Asli’ Nusantara

Foto: Pakaian kebaya dan cadar (sumber: Facebook)

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

KIBLAT.NET – Sebuah gambar beredar luas di media sosial Facebook, kolase foto menampilkan perempuan berpakaian kebaya dan foto lainnya menampilkan muslimah bercadar. Foto-foto lain dengan kampanye serupa juga berkeliaran di media sosial.

Di Facebook juga terdapat halaman sebuah Gerakan Nasional Kembali ke Busana Nasional Identitas Bangsa. Laman ini hanya menjelaskan “Mengajak segenap rakyat Indonesia untuk kembali mencintai busana nasional Indonesia, sebagai salah satu identitas sebagai bangsa Indonesia.”

Di laman petisi change.org, muncul petisi “Ayo dukung gerakan nasional kembali berpakaian asli nusantara.” Sampai hari Kamis, 4 Juli 2019 pukul 14.30, petisi ini telah ditandatangani 20.387 orang. Keterangan petisi tersebut singkat. Hanya menyebutkan mengembalikan pakaian tradisional sebagai pakaian sehari-hari. Namun alasan para pendandatangan sangat beragam.

Sebagian menyebutkan kecintaan kepada budaya Indonesia, kearifan lokal dan sebagainya. Sebagian lain sangat terang benderang: Menyebutkan penolakannya terhadap yang disebut budaya Arab atau pakaian Arab. Seorang penanda tangan misalnya menyebut alasan: “Indonesia is not Arab.” Ada pula yang menulis : “Benci sm wahabi dan paham radikal!!”

Tentu tak ada yang salah dengan gerakan mencintai busana nasional. Termasuk jika busana yang dimaksud adalah kebaya. Hanya saja kita tidak dapat memungkiri kampanye-kampanye tersebut ditunggangi oleh para penebar kebencian terhadap busana muslimah (baik jilbab maupun cadar).

Propaganda kolase foto yang beredar adalah salah satunya. Komentar-komentar bernada rasis-islamofobis yang membenci Arab, menyamakan jilbab dengan budaya asing, Ada banyak persoalan yang kronis dalam kampanye-kampanye kebencian terhadap busana jilbab atau cadar, atau simbol lainnya.

Pertama, kebencian terhadap busana-busana tersebut sebagai salah satu simbol dalam beragama. Yang kedua, imajinasi akan sebuah budaya Nusantara atau Indonesia yang terpisah dari Islam. Kampanye-kampanye kebencian terhadap penampilan seperti celana cingkrang, jenggot, jilbab dan cadar ini kembali marak dan kerap berulang-ulang.

Tak ada siklus yang pasti hanya saja ini bukan kampanye yang pertama. Beberapa tahun yang lalu masyarakat diramaikan dengan persekusi terhadap para pemakai cadar di kampus-kampus Islam. Tahun lalu pula terjadi perundungan di media sosial (online bullying) terhadap video anak-anak Taman Kanak-kanak yang berpawai dengan kostum cadar pada perayaan 17 Agustus di Probolinggo. Caci maki yang sampai hati menyebut kanak-kanak tersebut dengan teroris, mengusir mereka ke Afghanistan ini meluas di media sosial.

Terjadi pula bentuk-bentuk stigmatisasi terhadap jenggot dan lainnya. Tanpa disadari ada orang-orang yang menjadi membenci penampilan seperti ini meski hal-hal ini sebenarnya penampilan ini memiliki tuntutan dalam Islam.

Kampanye-kampanye kebencian seperti ini adalah bentuk islamophobia yang meluas belakangan dan ironisnya terjadi di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam.Islamofobia, mengutip kembali Khaled A. Beydoun, dapat diidap pula pada seorang muslim.

Praktik-praktik islamophobia ini terus berkembang biak dan menjalar seiring dengan persoalan yang kedua, imajinasi akan sebuah budaya dan identitas Indonesia yang terpisah dari Islam. Asumsi yang dikemukakan dalam kampanye-kampanye tersebut adalah akan adanya sebuah kebudayaan yang ‘asli’ Nusantara.

Hal ini sesungguhnya hanya menampakkan kesamaran dan kebutaan akan sejarah. Apakah yang dimaksud dengan budaya ‘asli’ Indonesia? Kapankah masa yang disebut ‘asli’ tersebut? Jika kita membandingkan dengan ujaran-ujaran kebencian pada Islam, maka mungkin yang dimaksud adalah masa-masa Nusantara sebelum Islam berpengaruh di masyarakat (pra-Islam).

Seperti apakah budaya dan kebiasaan masyarakat pra-Islam di Nusantara? Kita dapat melihatnya melalui mata dari Tome Pires, seorang penjelajah berkebangsaan Portugis yang menelusuri berbagai wilayah di Nusantara pada abad ke-16.

Saat itu hanya di sebagian wilayah Nusantara yang telah mendapat pengaruh Islam. Di Pasai misalnya telah lama berdiri kekuasaan Islam. Tetapi di utara Sumatera, terutama di wilayah pegunungan, menurut Tome Pires masih banyak kaum ‘pagan’. Kaum pagan inilah yang menurutnya melakukan praktik kanibal alias memakan daging manusia. (Tome Pires: 2018)

Di Kerajaan Sunda, tepatnya di Banten, Tome Pires menyebutkan praktik mengerikan yang terjadi di sana. Masyarakat pra-Islam tersebut memiliki tradisi jika para suami meninggal, maka istri-istrinya menjalani tradisi meloncat ke kobaran api untuk mengikuti jejak suaminya. (Tome Pires: 2018)

Bagaimana dengan soal pakaian? Rasanya kita tak perlu berkhayal untuk memikirkan bahwa pakaian masyarakat pra-Islam di Jawa adalah semacam kebaya. Sebaliknya, di abad kesembilan, dari relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur, tercermin cara pakaian perempuan yang tidak menutupi (maaf) bagian dadanya.

BACA JUGA  Perjuangan Penegakan Islam di Aljazair, dari Era Kolonialisme Hingga Kebangkitan FIS

Bagi rakyat jelata, pakaian sehari-harinya hanyalah selembar kain dari pinggang sampai lutut. Terkadang jika status sosialnya lebih tinggi akan dikenakan perhiasan,namun tetap saja tidak menutupi tubuh dari pinggang ke atas. Hal ini sesungguhnya terus berlangsung bahkan hingga awal abad ke-20 di Bali.

Kampanye membandingkan kebaya sebagai busana asli Indonesia dan cadar sebagai budaya asing

Maka sebuah kekeliruan membayangkan kebaya adalah busana masyarakat Nusantara ‘asli’ (pra-Islam). Apalagi jika kita melihat pakaian di Timur Indonesia, melalui foto-foto masa kolonial (bahkan setelahnya), kita dapat mengetahui beberapa suku justru masih berpakaian tanpa menutupi dada mereka. Sangat mungkin, mereka merasa tidak terwakili simbol berupa kebaya.

Jika kita mau berpikir jernih, justru lewat kedatangan Islam-lah masyarakat di Nusantara perlahan-lahan meninggalkan tradisi lama mereka. Busana perempuan perlahan-lahan menutupi bagian dada. Tradisi yang tidak manusiawi seperti kanibalisme dan melompat ke dalam kobaran api bagi para istri tak lagi dilakukan.

Kedatangan Islam bukan saja mengubah tradisi-tradisi lama yang tidak manusiawi, tetapi lebih dalam daripada itu, Islam mengubah cara pandang masyarakat yang sebelumnya mengenal kasta, menjadi lebih egaliter. Dalam penjelasan Syed Naquib al-Attas, Islam telah membawa orang-orang di Nusantara pada tradisi literasi dan ilmiah. Islam-lah yang membawa nusantara bersentuhan dengan pemikiran barat yang rasionalistik dalam bentuk filsafat Yunani. (Syed Naquib al-Attas: 1976)

Pengaruh Islam merambah jauh sampai pada aspek bahasa. Bahasa Melayu menyerap istilah-istilah kunci dari bahasa Arab yang kental dengan pandangan hidup Islam. Bahasa Melayu menjadi bahasa lingua franca yang bukan saja dipakai berbagai komunitas di wilayah Nusantara, tetapi juga membawa nilai-nilai yang mengikat berbagai suku di Nusantara.

Huruf Jawi (huruf dengan aksara Arab yang dimodifikasi) dipakai di berbagai wilayah di Nusantara. Huruf Jawi bukan saja menghubungkan antar wilayah di Nusantara, tetapi selama berabad-abad, huruf Jawi menjadi jembatan yang menghubungkan masyarakat di Nusantara dengan ilmu pengetahuan. Berbagai karya dari luar Nusantara di terjemahkan atau disadur dan disebarluaskan dalam berbagai naskah dengan huruf Jawi.

Islam-lah yang mempengaruhi budaya berbagai komunitas (masyarakat) di Nusantara. Bukan saja sekadar pakaian atau busana, tetapi juga cara pandang yang kemudian juga meresap ke dalam bahasa masyarakat kita di Nusantara, sehingga bahasa tersebut menjadi identitas yang mempersatukan.

Identitas yang dipengaruhi oleh Islam inilah yang perlahan-lahan coba dicabut akarnya oleh para kaki tangan penjajahan. Ketika kolonialisme sudah menancapkan kekuasaannya di berbagai wilayah di Nusantara, maka politik kebudayaan menjadi jalan memisahkan Islam dari identitas masyarakat di Indonesia.

Politik budaya kolonial ini salah satunya terjadi di tatar Sunda (wilayah Barat pulau Jawa) di abad ke-19. Para tokoh dan pejabat kolonial mulai merekonstruksi identitas Sunda yang dimulai dengan membangun kesadaran Sunda sebagai satu suku yang berbeda dari lainnya (terutama Jawa).

Thomas Stamford Raffles (1817) misalnya, menganggap Sunda sebagai etnis tersendiri, meski ia menganggap Sunda sebagai dialek. Sedangkan John Crawfurd, seorang residen di Jogjakarta (1811-1816) dan Andrie De Wilde (1841) menganggap bahasa Sunda sebagai sebuah bahasa. Namun akhirnya Sunda diakui sebagai bahasa dan kemudian etnis tersendiri.

Pemerintah memang berkepentingan untuk memajukan kajian bahasa Sunda, bukan hanya untuk keperluan administrasi kolonial dan interaksi dengan orang pribumi (Sunda) semata, tetapi bahkan lebih jauh, kajian ini bermanfaat untuk mendefinisikan identitas orang Sunda dan budayanya.

Identitas ‘baru’ yang menjauhkan Sunda dari Islam. Oleh karena itu, kajian bahasa semakin jauh dengan berupaya mendefinisikan Bahasa Sunda yang murni. Bahasa Sunda yang terbebas dari campuran bahasa-bahasa asing, yang tidak tercampur bahasa Jawa, Melayu dan Arab.(Mikihiro Moriyama: 2001)

Hal ini berdampak pada masyarakat pribumi kala itu. Seorang intelektual Sunda, Moehammad Moesa pada tahun 1867 misalnya menulis sebuah syair yang mencerminkan dampak kebijakan tersebut;

Anoe matak basa Soenda, (Sebabnya bahasa Sunda),
Diseboetkeun hoedang gering, (disebut baru sembuh dari sakit),
Tapi tatjan djagdjag pisan, (tapi belum sehat benar),
Boektina tatjan walagri, (kesehatannya belum sempurna),
Basana tatjan beresih, (bahasanya belum bersih),
Tjampoer Djawa djeung Malajoe (bercampur Jawa dan Melayu),
Soewmawoena basa Arab, (bahkan bahasa Arab),
Eta noe reja teh teuing, (demikianlah kata-kata yang banyak itu),
Malah aja noe enggeus leungit djinisna (bahkan ada yang sudah hilang bentuknya)

BACA JUGA  Muncul Partai Indonesia Beradab, Usung Misi Lanjutkan Perjuangan Ulama

Pemerintah kolonial sendiri akhirnya menentukan pada tahun 1872 bahwa bentuk bahasa Sunda murni dituturkan di Bandung. Maka Bahasa Sunda murni telah dipilih dan mulai diajarkan disekolah-sekolah. Pemikiran Moesa tak bisa dilepaskan dari sosok Karel Fredriech Holle, seorang pengelola perkebunan yang menjadi penasihat pemerintah kolonial di Priangan. Di bawah pengaruh Holle pula pemerintah kolonial berupaya menghilangkan eksistensi aksara arab di tanah Sunda.(Mikihiro Moriyama: 2004)

Holle menyarankan kepada pejabat kolonial agar aksara Jawa dan Latin-lah yang digunakan di institusi-institusi pendidikan di wilayah Sunda. Ia bersikeras agar elemen-elemen Islam (termasuk aksara Arab) dijauhkan dari pendidikan di wilayah Sunda. Usul ini dipatuhi dengan taat oleh Pemerintah kolonial. Latinisasi berlangsung begitu massif sehingga lambat laun tak ada lagi pengajaran huruf Jawi kecuali di pesantren-pesantren.

Di Jawa, tepatnya di Surakarta, pemerintah kolonial di bawah Gubernur Jenderal Van Den Bosch mendirikan Instituut voor het Javaansche Taal (Lembaga Bahasa Jawa), pada 27 Februari 1832. Lembaga ini menjadi tempat berkumpulnya para Javanolog. Mereka berusaha mendefinisikan kembali identitas Jawa. Mengembalikan tradisi Jawa kuno (Jawa pra-Islam). Javanolog Belanda-lah yang “menemukan”, “mengembalikan” dan “memberikan makna terhadap Jawa masa lalu. Jika orang Jawa ingin kembali ke masa lalunya, mereka harus melalui screening pemikiran Javanolog Belanda. (Arif Wibowo: 2015)

Hasilnya, mulai muncul sastra-sastra anonim dari budayawan Jawa yang menunjukkan kebenciannya pada Islam. Misalnya seperti seperti Darmogandhul dan Gatholoco yang mengolok-olok syariat Islam. Kecenderungan mengolok-olok Islam lewat sastra ini menjadi ciri khas orientalis pada abad ke 17-19. (Arif Wibowo: 2015)

Ingatan tentang Indonesia seringkali dikaitkan dengan kebesaran Majapahit. Sesungguhnya, ingatan tersebut juga menjadi satu gambaran yang dibangkitkan oleh para indolog di masa kolonial. Karya Thomas Stamford Raffles “The History of Java” menjadi karya penting di masa lalu yang menyebutkan pengaruh besar India terhadap Jawa. (Andrik Purwasito: 2002)

Imajinasi para indolog (masa kolonial) tentang nusantara pra-Islam terus digali dan direkonstruksi. Salah satu karya yang banyak mempengaruhi tokoh-tokoh nasionalis sekular di Indonesia adalah buku Geschidenis van Java (jilid I & II) karya W. Fruin Mess. (Andrik Purwasito: 2002)

Dalam karya tersebut Jawa ditampilkan sebagai puncak peradaban Indonesia sejak masa Candi Borobudur. Padahal Candi Borobudur sebenarnya telah pernah lenyap dari ingatan kolektif penduduk Nusantara.(Susiyanto : 2015)

Candi Borobudur baru ditemukan kembali pada tahun 1814, setelah kurang lebih delapan abad dilupakan orang dan terpendam di dalam tanah. Saat ditemukan, candi ini telah berujud menjadi sebuah gunung kecil atau bukit yang telah ditutupi oleh semak belukar. (Susiyanto : 2015)

Begitu pula imaji akan kemegahan Kerajaan Majapahit. Salah satu sumber penting akan kehadiran Majapahit adalah Negarakertagama. Padahal naskah Negarakertagama baru ditemukan oleh pasukan Belanda secara tak sengaja saat mereka menyerbu Kerajaan Lombok di Puri Cakranegara pada tahun 1894. Diantara tumpukan emas seberat 250 kg yang dijarah dari puri tersebut. (Andrik Purwasito: 2002)

Naskah beraksara Jawa-Bali kuno yang ditulis pada abad ke-14 ini lalu dianalisis oleh J.L.A Brandes dan dipublikasikan pada tahun 1902 dengan judul Negarakertagama, meskipun judul aslinya adalah Desawarna. Pada tahun 1919 kemudian baru diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda. (Andrik Purwasito: 2002)

Artinya sejak lama sebenarnya naskah tersebut sudah dilupakan oleh penduduk Nusantara, mengingat aksara Jawa-Bali kuno sudah tidak familiar lagi sejak berabad-abad digantikan oleh huruf Jawi. Berkat rekonstruksi para orientalis inilah bayangan akan kemegahan Majapahit diangkat kembali oleh para tokoh nasionalis sekular seperti Moh. Yamin, meskipun sebenarnya telah lama terkubur dari ingatan penduduk di Nusantara.

Kebijakan membangkitkan dan merekonstruksi ingatan pra-Islam sebagai budaya Nusantara adalah buah dari kebijakan nativisasi penjajah yang hendak memisahkan Islam dari identitas bangsa kita. Baik di tatar Sunda, di Jawa, dan banyak daerah lainnya, identitas itu perlahan digali dan dibentuk untuk menciptakan satu identitas yang baru, terpisah dari Islam.

Kebudayaan tercipta melalui proses saling mempengaruhi. Kehadiran Islam justru diterima oleh masyarakat Nusantara dan selama berabad-abad sudah menjadi identitas yang melekat pada kita. Mencari-cari budaya asli adalah satu perbuatan ahistoris dan sia-sia sebab tak ada kebudayaan yang asli dan bebas dari berbagai pengaruh manapun.

Penggalian ‘budaya asli’ akhirnya hanyalah satu imajinasi yang diciptakan oleh para orientalis yang dahulu hendak melanggengkan penjajahan. Maka sungguh menyedihkan jika sebagian orang tanpa disadari kini hendak melestarikan imajinasi kolonial tersebut.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Asia

Tanah Longsor Hancurkan Kamp-kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Musim hujan yang memicu tanah longsor di kamp-kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh telah menewaskan satu orang dan menyebabkan lebih dari 4.500 orang kehilangan tempat tinggal.

Senin, 08/07/2019 17:33 0

Foto

Potret Jamaah Haji Tiba di Arab Saudi

"Jamaah pertama tiba dari Indonesia, Bangladesh, India, dan Pakistan," Saudi Press Agency melaporkan.

Senin, 08/07/2019 16:35 0

Palestina

Warga Palestina Tabrak Gerombolan Tentara Israel, Lima Terluka

Warga Palestina melakukan perlawanan dengan berbagai upaya, salah satunya dengan operasi nekad menabrak tentara penjajah di jalan. Sejumlah operasi serupa menyebabkan tentara Israel tewas dan terluka.

Senin, 08/07/2019 10:14 0

Video Kajian

Kiat Menjadi Guru Keluarga- Ust. Adian Husaini

KIBLAT.NET- Keluarga merupakan tempat pertama pendidikan karakter dan akhlak pada manusia. Bagaimana cara kita menerapkan...

Senin, 08/07/2019 08:45 0

Video News

Komnas HAM Akan Evaluasi Polri Soal Hukuman 10 Polisi Pengeroyok Pemuda

KIBLAT-JAKARTA, Ketua Komnas HAM, Ahmad Taufan Danamik akan mengevaluasi keputusan polri yang mengadili anggotanya karena...

Senin, 08/07/2019 08:37 0

Indonesia

Wahdah Islamiyah Sultra Gelar Pelatihan Tanggap Bencana

“Sultra ini rawan dengan bencana laut dan kasus-kasus banjir. Maka seluruh peserta harus terus sigap dan siap melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan, utamanya siap dipanggil kapan saja,” jelas Ikhwan.

Senin, 08/07/2019 07:58 0

Suriah

Eskalasi Idlib Terbaru: 544 Sipil Tewas, 2.000 Terluka dan 300 Ribu Terusir

“Militer Rusia dan sekutu Suriah mereka secara sengaja menargetkan warga sipil dan juga ada sejumlah catatan mereka membom fasilitas medis,” kata ketua SNHR, Fadel Abdul Ghany, baru-baru ini.

Senin, 08/07/2019 07:38 0

Indonesia

Sutopo Purwo Nugroho Meninggal Dunia, Warganet Sampaikan Belasungkawa

Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia saat menjalani pengobatan kanker paru stadium 4b di Guangzhou, Cina.

Ahad, 07/07/2019 15:56 0

Indonesia

Penghapusan Pendidikan Agama di Sekolah Bertentangan dengan Konstitusi

Setelah menuai tangggapan banyak kalangan, pihak Jababeka Group memberikan klarifikasi tentang pernyataan SD Darmono soal pendidikan agama ditiadakan di sekolah

Ahad, 07/07/2019 14:48 0

News

Konsumsi Susu dan Produk Susu Dapat Mencegah Penyakit Kronis

Mengonsumsi susu dan produk susu dalam berbagai tahap kehidupan dapat membantu mencegah berbagai penyakit kronis, termasuk risiko kelemahan dan sarkopenia, penyakit kardiovaskular, sindrom metabolik, kanker usus atau kandung kemih, dan diabetes tipe 2.

Ahad, 07/07/2019 14:11 0

Close