... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Jenderal Israel: Kita Kalah Hadapi Serangan “Balon Api” Hamas

Foto: Pejuang Palestina menyiapkan balon-balon yang membawa api untuk diterbangkan ke wilayah Israel

KIBLAT.NET, Tel Aviv – Para jenderal dan pejabat Israel terus mengkritik pemerintahannya yang dinilai gagal mencegah serangan “balon api” para pejuang Palestina. Senjata sederhana itu menciptakan teror bagi Israel yang belum dapat diatasi.

Purnawiran jenderal Israel, Tzvika Fogel, mengatakan bahwa kegagalan pemerintah menghadapi serangan balon api berarti kemenangan bagi Hamas. Melalui ancaman balon-balon tersebut, kita dipaksa meneken kesepakatan yang mengharuskan kita tunduk pada persyaratan mereka.

Fogel melanjutkan, kesepakatan itu sama saja memberi ruang pada Hamas untuk terus membunuh kita. Hamas saat ini mendapat suntikan dana melalui kesepakatan itu, memperluas wilayah penangkapan ikan di laut dan pasokan bahan bakar.

Ia menambahkan dalam wawancara dengan TV 7 Israel, yang dilansir Arabi21.com pada Senin (01/07/2019), kita tidak bisa membeli pencegahan Israel dengan uang. Karena jika kita terus menghadapi balon api Hamas dengan logika petugas pemadam kebakaran, kita tidak akan pernah berhasil mencapai kemenangan atas mereka.

“Hamas mengeksploitasi kelemahan yang kita lihat sejak lama hingga saat ini. Semakin kita menunjukkan kelemahan ini, Hamas tidak akan menghentikan strateginya itu untuk memerangi kita,” ujar Fogel.

Mantan komandan wilayah selatan tentara Israel ini menjelaskan bahwa Hamas memahami lebih dari analis politik Israel mana pun. Mereka tahu bagaimana menggunakan beberapa indikator yang Anda lihat di panggung Israel, seperti kata pepatah” ambil lemon Israel, dan buatkan jus yang diminta. Hal ini mengharuskan para pemimpin politik Israel bersatu dan terjun bersama-sama ke militer untuk menghadapi Hamas.

BACA JUGA  Hamas: Saudi Tangkap Pemimpin Senior Kami di Jeddah

Pada bagiannya, Avigdor Lieberman, mantan menteri perang dan pemimpin Yisrael Beiteinu, juga turut melontarkan kritik tajam Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah ditekennya kesepakatan baru-baru ini dengan Hamas.

“Kesepakatan ini merupakan perjanjian baru untuk menyerah kepada Hamas, yang elemen-elemennya tampaknya berhutang budi kepada Netanyahu karena menyediakan fasilitas ini. Pada akhirnya, balon peledak, bukan yang terbakar, mulai jatuh pada pemukim Israel dari Gaza,” kata Lieberman.

Pemerintah Israel, ia melanjutkan kritiknya, memilih jalan pelarian bukan respon terhadap serangan Palestina baru-baru ini. Serangan balon api telah menyebabkan hingga 100 kebakaran dalam satu pekan. Seolah-olah kita berbicara tentang 100 ledakan nuklir di Iran. Karena, mereka yang tidak dapat menghadapi balon api Hamas ini dengan perbuatan, bukan perkataan, niscaya mampu menghadapi nukli Iran.

Jenderal Tal Bar-On, seorang pakar strategis, mengatakan bahwa balon api yang terus membakar permukiman meningkat dalam beberapa hari terakhir. Meskipun media Israel tidak lagi memberikan bahaya ini pada liputan mereka, tetapi kenyataannya masih terus mengancam.

Ia menegaskan bahwa kesepakatan dan kesepahaman terbaru antara Hamas dan Israel melalui Mesir tidak menghentikan balon api yang membakar ladang pertanian di Negev dan menimbulkan lebih banyak bahaya bagi para pemukim. Tak hanya lahan pertanian, balon-balon itu juga mengancam taman umum.

Israel kesulitan menghadapi balon dan layang-layang api yang digunakan pejuang Gaza untuk menyerang Israel. Strategi yang ditemukan tidak sengaja ini sulit dideteksi. Sistem pertahanan udara Israel pun tak mampu mencegahnya.

BACA JUGA  Tingkat Kecanduan Narkoba Warga Israel di Dekat Gaza Meningkat

Balon dan layang-layang api mulai digunakan pejuang Gaza dalam beberapa tahun terakhir menyusul aksi protes berbulan-bulan di perbatasan Gaza-Israel. Pejuang sebelumnya tidak menyangka jika senjata sangat sederhana ini cukup merepotkan penjajah.

Sumber: Arabi21.com
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Tahfizh Leadership Wisuda Calon Pemimpin dan Penghafal Al-Quran Angkatan 5

Sebanyak 38 santri Tahfizh Leadership angkatan 5 resmi diwisuda hari ini, di Griya Sukses Mulia, Tanjung Barat, Jakarta.

Senin, 01/07/2019 18:26 0

Indonesia

MUI Desak Polisi Ungkap Motif Perempuan Bawa Anjing Masuk Masjid Al Munawaroh

Kasus perempuan yang membawa anjing masuk ke Masjid Al Munawaroh Sentul City ditangani Polres Bogor

Senin, 01/07/2019 17:02 0

Indonesia

Ajak Masyarakat Indonesia, One Care Bangun Gaza Water Station

One Care mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mewujudkan Humanity Project di Gaza dalam bentuk pendirian Gaza Water Station

Senin, 01/07/2019 15:24 0

Indonesia

Sambut Muktamar Muhammadiyah Ke-48, UMS Bangun Gedung Senilai Rp284 Miliar

"Pembangunan itu murni dari UMS dari PP belum ada," katanya.

Senin, 01/07/2019 13:41 0

Artikel

Membangun Peradaban dari Dunia Instan

Sesungguhnya fenomena seperti ini hanyalah fenomena gunung es. Otoritas keilmuan tak lagi berharga di hadapan dugaan berbalut teori konspirasi. Semua bangunan keilmuan, metode ilmiah yang telah  disusun dan diuji sekian lama, runtuh di atas hamparan dugaan-dugaan.

Ahad, 30/06/2019 17:40 0

Indonesia

Lima Pesan Ketua Muhammadiyah di Apel KOKAM, Salah Satunya untuk Pemegang Amanah Negara

Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) menggelar apel dan long march menyambut Muktamar Muhammadiyah tahun 2020.

Ahad, 30/06/2019 17:18 0

Indonesia

KOKAM Solo Raya Gelar Apel Persiapan Muktamar Muhammadiyah ke-48

Muktamar Muhammadiyah ke-48 tahun 2020 akan diselenggarakan di Surakarta

Ahad, 30/06/2019 14:27 0

Indonesia

Komentari Putusan MK, Din Syamsuddin: Rasa Keadilan Saya Terusik

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin mengatakan bahwa rakyat berhak menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal sengketa Pilpres.

Sabtu, 29/06/2019 15:00 6

Video News

Apa Salah Mursi Bila Dibandingkan Dengan Sistem Militer Indonesia?

KIBLAT.NET- LP3ES menyelenggarakan Diskusi dengan tema: Demokrasi dan Peranan Militer dalam Politik (Kasus Kematian Mursi),...

Sabtu, 29/06/2019 13:01 0

Indonesia

Pasca Putusan MK, Mardani: Saatnya Membangun Oposisi Kritis dan Konstruktif

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menekankan bahwa saat ini waktunya untuk membangun oposisi kritis dan konstruktif.

Jum'at, 28/06/2019 21:19 0

Close