... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Membangun Peradaban dari Dunia Instan

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

“Menurut pandangan Islam, ilmu harus bebas dari pertimbangan-pertimbangan politik.Demikianlah maka di dalam riwajat kita didapati, bahwa angkatan pertama dari pada ummat Islam dahulu kala, tidak menundukkan politik kepada ilmu.” (K.H. Wahid Hasyim : 1985)

KIBLAT.NET – Ruangan dalam Bale Asri PUSDAI Bandung itu riuh. Perhelatan macam ini mungkin jarang digelar. Silaturahmi meski orang mungkin berekspektasi sebagai sebuah perdebatan. Sebuah pertemuan antara Ridwan Kamil dan Ustad Rahmat Baequni. Antusiasme masyarakat yang tak tertampung bahkan diwadahi dengan siaran langsung dari PUSDAI di media sosial.

Detil atau kronologis peristiwa itu tak perlu diceritakan kembali. Satu hal yang pasti, kita sebenarnya sedang menyaksikan satu peristiwa menyedihkan alih-alih mencerahkan. Peristiwa tersebut adalah buntut dari tudingan soal pengaruh iluminati dalam arsitektur masjid al-Safar karya Ridwan Kamil.

Ridwan Kamil adalah salah satu sosok yang otoritatif dalam bidang arsitektur. Selain perancang masjid itu sendiri, ia juga menjadi praktisi dan pengajar dalam bidang arsitektur. Latar belakang pendidikannya pun menjelaskan kedudukannya saat ini. Siapa pun boleh mempertanyakan satu karya. Terlebih karya tersebut diakses publik seperti masjid. Namun sayangnya kritik pada karya Ridwan Kamil tersebut tidak didasarkan pada kritik yang ilmiah.

Mengaitkan satu bentuk atau karya dengan simbol-simbol tertentu bukanlah persoalan gampang dan remeh. Terlebih ketika karya yang dianggap simbol tertentu tersebut, hanya tersirat. Dan sayangnya dugaan tersebut hanya berpijak pada pencocok-cocokan gambar semata. Dugaan-dugaan yang dikemas dengan teori konspirasi ini mendapatkan panggung menyingkirkan penjelasan ilmiah atas satu karya.

Latar belakang karya arsitektur yang berdasarkan keilmuan menjadi tak berarti dihadapan dakwaan atas tafsir-tafsir simbol. Padahal ilmu arsitektur meski tak bebas nilai telah berdiri diatas bangunan yang ilmiah dan dengan teori yang teruji.

Bahkan arsitektur Islam adalah ranah yang telah dirintis oleh para arsitek muslim dengan menyerap dan meminjam dari wujud-gagasan-praktis dari pengetahuan arsitektur yang telah ada dan melakukan mekanisme islamisasi dengan dihubungkan dengan sumber nilai Islam. (Andika Saputra: 2016)

Runtuhnya Otoritas
Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan keriuhan yang terjadi seputar karya Ridwan Kamil. Sekali lagi, kita luput dari satu metode ilmiah untuk menafsirkan (atau mengkritik) satu karya yang dikaitkan dengan simbol-simbol konspiratif tersebut. Akhirnya, memang tak bisa dibuktikan secara ilmiah. Sayangnya, spekulasi-spekulasi seperti ini mendapatkan sambutan meriah dan dukungan tak sedikit dari umat.

Sesungguhnya fenomena seperti ini hanyalah fenomena gunung es. Otoritas keilmuan tak lagi berharga di hadapan dugaan berbalut teori konspirasi. Semua bangunan keilmuan, metode ilmiah yang telah  disusun dan diuji sekian lama, runtuh di atas hamparan dugaan-dugaan.

Ilmu astronomi tak lagi dianggap oleh para penikmat teori bumi datar. Padahal al-Battani (wafat 929) dan al-Biruni (973-1050) adalah astronom muslim yang berpengaruh besar dalam dunia ilmu pengetahuan.

Kritik terhadap vaksin dilancarkan dari figur yang tak berlatar belakang medis atau farmasi. Alih-alih mengkritik secara ilmiah, misalnya terhadap kandungan atau prosesnya, kritik terhadap vaksin lebih didasarkan pada satu kabut teori konspirasi. Padahal proses vaksin awalnya justru dimulai dari wilayah Kesultanan Turki Usmani untuk menghentikan wabah cacar (smallpox).

Dari persoalan sejarah, meluas kabar burung tentang singgahnya sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib ra. ke Garut, Jawa Barat. Dari segi logika pun isu hal ini tidak masuk akal. Lamanya perjalanan dari Jazirah arab ke Nusantara pada masa lampau tidak memungkinkan Ali bin Abi Thalib ra. untuk melakukan perjalanan itu. Apalagi jika kita membandingkan dengan perjalanan hidup Ali bin Abi Thalib dan merujuknya ke berbagai literatur (kitab-kitab sirah).

Persoalan ini menghadapkan kita pada dua sisi. Di satu sisi kita sebagai umat Islam menuntut syarat yang ketat kepada siapa pun dalam berpendapat soal agama. Pendapat harus didasarkan pada dalil yang kuat dan penjelasan yang runut dengan metode yang ilmiah oleh para ulama. Di sini, ulama adalah sosok yang otoritatif dalam membicarakan perkara agama.

BACA JUGA  Pasca Serangan di Ladang Minyak Aramco, AS Tawari Saudi Bantuan Keamanan

Sayangnya di lain sisi kita mengabaikan persoalan otoritas dalam bidang lain. Berbicara arsitektur kita tidak menuntut metode dan rujukan yang ilmiah serta latar belakang pembicara yang otoritatif. Berbicara soal medis kita mengabaikan pula otoritas dan metode yang ilmiah. Demikian pula astronomi, ekonomi, dan lainnya.

Otoritas atau kepakaran satu figur justru semakin sulit diberikan ketika kita menilai kebenaran pada afiliasi politik. Kasus yang menimpa Ridwan Kamil adalah satu contoh yang nyata. Sebagian orang akhirnya menilai negatif karya Ridwan Kamil karena afiliasi politiknya.

Politik sebagai panglima
Politik yang telah membelah masyarakat lewat politik polarisasi membuat sebagian orang sulit bersikap objektif. Polarisasi politik telah membuat kita menilai orang lain berdasarkan afiliasinya. Keberpihakan politik dianggap sebagai penentu dari setiap kebenaran.

Hal ini tentu saja problematis. Pilihan politik terlebih pada politik elektoral dengan slogan “lesser evil” sama sekali tak bisa dianggap sebagai ukuran satu kebenaran. Politik (elektoral) seperti saat ini selain diusung oleh aktor yang non-ideologis, juga senantiasa dinamis.

Siang menjadi lawan, sore hari bisa menjadi kawan. Kepentingan-kepentingan pragmatis (terutama kekuasaan, jabatan dan keuntungan finansial) menjadi pertimbangan utama para aktornya dalam berpolitik.

Beberapa bulan lalu kita telah melihat bagaimana fenomena Rocky Gerung menjadi idola umat. Pernyataannya tentang “kitab suci adalah fiksi” tak membuatnya menjadi sasaran kritik. Ia tetap dielu-elukan dengan seribu pembenaran terhadap pernyataannya.

Jargon ‘akal sehat’ Rocky yang berlandaskan nilai-nilai yang sekular tak mendapat tentangan dari umat yang mendukungnya. Kita bahkan turut meneriakkan jargon yang sama. Semua ini disebabkan satu hal: afiliasi politik Rocky Gerung yang dianggap sejalan.

Di ranah politik praktis-pragmatis semacam ini, bukan kebenaran tetapi pembenaran-lah yang duduk di atas singasana. Hanya dengan meluruskan kembali ketertiban berpikir umat tak lagi mencari kebenaran yang diombang-ambingkan oleh politik. Sehingga kebenaran ditentukan oleh nilai-nilai yang dipandu oleh Islam dan disaring dengan kriteria yang ilmiah.

Di sini kita perlu mendudukkan kembali berbagai persoalan umat dengan memberikan kedudukan yang sesuai pada figur yang otoritatif dalam bidangnya. Menempatkan kembali ilmu pengetahuan dalam suluh umat Islam. Sebab peradaban Islam adalah peradaban yang erat kaitanya dengan ilmu pengetahuan.

Peradaban Islam dan ilmu pengetahuan
Peradaban (Tamaddun) Islam menurut Hamid Fahmy Zarkasyi jika ditelisik lebih mendalam diintegrasikan dari 3 hal, iman, ilmu dan amal “…yang tidak hanya memancarkan ilmu pengetahuan yang sangat luas, tapi juga menghasilkan amal-amal.” (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

Para sejarawan modern sepakat bahwa al-Qur’an dan al-Sunnah merupakan sumber yang memberikan kekuatan pendorong bagi bangkitnya tradisi intelektual, ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

Hamid Fahmy Zarkasyi dalam Tamaddun Sebagai Konsep Peradaban Islam mengingatkan bahwa al-Qur’an tidak mengandung konsep-konsep yang mendetail seperti konsep politik, ekonomi, negara dan sebagainya. Konsep-konsep dalam al-Qur’an menurut beliau adalah seminal concept atau konsep awal. Al-Qur’an menurutnya

“…mengajarkan tentang al-ilm, al-alim (manusia), dan al-ma’lum (alam semesta) yang saling berkaitan. Yang terpenting dari seluruh kegiatan keilmuan manusia sebagai al-alim (yang mengetahui) adalah keterkaitannya yang terus menerus dengan al Alim (yang Maha Mengetahui).” (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

Doktor yang pernah yang menempuh studi di Pakistan dan Inggris ini kemudian melanjutkan bahwa “Tanpa mengaitkan dengan Tuhan, ilmu yang kita peroleh menjadi sekuler, seperti ilmu-ilmu Barat sekarang ini. Ini menunjukkan bahwa ilmu yang menjadi asas peradaban Islam adalah ilmu yang terikat pada Tuhan, ilmu yang teologis, dan bukan ilmu yang godless (sekuler).” (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

Asas ilmu dan peradaban Islam itu adalah konsep seminal dalam al-Qur’an dan al-Sunnah. Konsep-konsep itu kemudian ditafsirkan, dijelaskan dan dikembangkan menjadi berbagai disiplin ilmu pengetahuan Islam. Maka tidak ada sisi kehidupan intelektual  Muslim, kehidupan keagamaan dan politik, bahkan kehidupan sehari-hari seorang Muslim yang awam yang tidak tersentuh sikap penghargaan terhadap Ilmu. Ilmu memiliki nilai yang tinggi dalam Islam. (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

BACA JUGA  Ali Syari'ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Dari penghargaan yang tinggi terhadap ilmu inilah kemudian terbentuk tradisi keilmuan dalam masyarakat Islam. Dari para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, dan para ulama yang datang kemudian, hingga peradaban Islam bersentuhan dengan perabadan lainnya. (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

Berawal dari kajian terhadap al-Qur’an, umat Islam menghasilkan ilmu-ilmu keagamaan sendiri, mereka kemudian mempelajari berbagai ilmu dari peradaban lain.Para ulama kemudian bersentuhan dengan peradaban lain dan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan seperti kedokteran dari Yunani dan Persia. Dari India umat Islam belajar matematika.

Mereka tidak menutup diri atau membuang pemikiran ilmiah dari peradaban lain, melainkan menyaring dan melakuan Islamisasi terhadapnya. Perkembangan ilmu pengetahuan dalam peradaban Islam selalu merujuk kepada perintah al-Qur’an dan al-Sunnah yang berarti peradaban berdasarkan din.

Dari aspek politik, ekspansi wilayah kekuasaan Islam menjalar dengan cepat. Islam dalam perkembangan sejarahnya tidak datang dengan membawa kehancuran pada peradaban lain. Sebab Islam tidak masuk ke satu kawasan untuk menjajah, melainkan membebaskan dari ketidakadilan dan penindasan penguasa. (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

Bahkan lewat ekspansi kekuasaan itulah, salah satunya di Andalusia (Spanyol), orang-orang Kristen Bangsa Eropa terpesona pada peradaban ilmu umat Islam, sehingga mereka terdorong untuk belajar dan bahkan meniru gaya hidup orang Islam. Sebab wajah tamaddun Islam tidak melulu kekuasaan yang hegemonik, tapi juga berwajah ilmu pengetahuan dan kemakmuran. (Hamid Fahmy Zarkasyi : 2015)

Ilmu pengetahuan-lah yang seharusnya mendorong arah politik umat Islam bukan sebaliknya; politik yang mencemari ilmu pengetahuan. K.H. Wahid Hasyim pernah menulis:

“….menurut pandangan Islam, ilmu harus bebas dari pertimbangan-pertimbangan politik.Demikianlah maka di dalam riwajat kita didapati, bahwa angkatan pertama dari pada ummat Islam dahulu kala, tidak menundukkan politik kepada ilmu.” (K.H. Wahid Hasyim : 1985)

Sudah saatnya umat kembali menempatkan ilmu pengetahuan dalam posisi yang berharga. Mendudukkan kembali otoritas atau kepakaran. Meletakkan metode yang ilmiah dalam penilaian. Menggiatkan kembali dunia literasi. Membaca dan menulis.

Membangun peradaban dengan instan
Era media sosial telah membawa kita pada dunia yang instant. Benar bahwa internet telah membawa demokratisasi dalam masyarakat. Namun di media sosial kepakaran menjadi tak berharga. Semua (merasa) layak berbicara. Kita dengan mudah menemui beragam pembicara yang digemari umat. Namun tak semua menghasilkan karya.

Hujanan like dan share telah memanggil-manggil para pemuda Islam untuk berlomba-lomba naik ke panggung di depan lensa kamera. Meninggalkan dirinya tanpa karya. Alogaritma kecerdasan buatan yang menyesuaikan pengguna, telah menyuapi apa yang kita suka, bukan kita butuhkan. Pembicara yang menyenangkan, membius atau memikat, dan tanpa memaksa kita untuk mencerna.

Jika ulama-ulama masa lampau menulis kitab berjillid-jilid untuk mencerna dan memuat gagasannya, maka kini cukup dengan kamera ponsel dan tripod, seorang dapat dianggap sebagai panutan sepanggung dengan ulama.

Padahal menulis adalah bagian dari merumuskan gagasan. Menuangkan pikiran secara sistematis dan tertata. Dan dalam tulisan disajikan secara ilmiah dan menggantungkan pada rujukan yang jelas yang siap diuji. Bukan sekedar bersuara.

Kita tampaknya telah menikmati kelimpahan pembicara, namun kekeringan akan penulis. Tradisi membaca dan menulis berjilid-jilid dan berkitab-kitab para ulama disapu habis oleh fenomena berbicara dalam media sosial. Di sinilah kita kehilangan rantai emas yang berharga: Berpikir dan berpendapat secara ilmiah dan tertata. Harta para ulama yang tak lagi diwariskan pada generasi kita.

Saatnya kembali membaca, meluruskan kembali cara berpikir kita dan mengambil pena. Membangun tradisi literasi kita, sambil berharap mendapat secercah ilmu atau karya seperti para ulama-ulama besar kita. Seraya menghapus imajinasi akan peradaban Islam yang dibangun dari dunia yang instan dari jempol ‘like’ yang turun bagaikan hujan.

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Lima Pesan Ketua Muhammadiyah di Apel KOKAM, Salah Satunya untuk Pemegang Amanah Negara

Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) menggelar apel dan long march menyambut Muktamar Muhammadiyah tahun 2020.

Ahad, 30/06/2019 17:18 0

Indonesia

KOKAM Solo Raya Gelar Apel Persiapan Muktamar Muhammadiyah ke-48

Muktamar Muhammadiyah ke-48 tahun 2020 akan diselenggarakan di Surakarta

Ahad, 30/06/2019 14:27 0

China

Aktivis Desak Pemimpin Negara-Negara G20 Bahas Soal Uighur

"Tidak ada kelompok etnis yang telah ditindas dan dibantai seperti Uighur"

Ahad, 30/06/2019 11:23 0

Indonesia

Komentari Putusan MK, Din Syamsuddin: Rasa Keadilan Saya Terusik

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin mengatakan bahwa rakyat berhak menilai putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal sengketa Pilpres.

Sabtu, 29/06/2019 15:00 6

Video News

Apa Salah Mursi Bila Dibandingkan Dengan Sistem Militer Indonesia?

KIBLAT.NET- LP3ES menyelenggarakan Diskusi dengan tema: Demokrasi dan Peranan Militer dalam Politik (Kasus Kematian Mursi),...

Sabtu, 29/06/2019 13:01 0

Palestina

Hamas dan PLO Kompak Tolak Konferensi Manama

Konferensi Manama dinilai menipu rakyat Palestina.

Sabtu, 29/06/2019 12:53 0

Afrika

Haftar Perintahkan Pasukannya Serang Kapal dan Kepentingan Turki di Libya

Ia menuduh Turki mendukung pasukan lawannya, pasukan Pemerintah Rekonsiliasi Nasional, merebut kembali kota Gryan. Gyran merupakan tulang punggung utama pasukan Haftar dalam pertempurannya di selatan ibukota.

Sabtu, 29/06/2019 10:05 0

Afghanistan

Pasca Kunjungan Pompeo, Dua Tentara AS Tewas di Afghanistan

Pejabat-pejabat Amerika mengklaim pertempuran dengan Taliban itu terjadi di provinsi Uruzgan selatan, sementara Taliban mengatakan di bagian timur provinsi Wardak.

Sabtu, 29/06/2019 09:17 0

Indonesia

Pasca Putusan MK, Mardani: Saatnya Membangun Oposisi Kritis dan Konstruktif

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menekankan bahwa saat ini waktunya untuk membangun oposisi kritis dan konstruktif.

Jum'at, 28/06/2019 21:19 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Penghalang Kemenangan Umat Islam- Ust. Taqiyuddin, Lc.

KIBLAT.NET- Wasiat yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad untuk menegakkan Agama Islam adalah untuk bersatu...

Jum'at, 28/06/2019 19:08 0

Close