... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Antara Ketahanan Politik dan Ketahanan Keluarga

Foto: Keluarga Muslim. (Ilustrasi)

Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si (Penulis dan Pemerhati Politik Islam)

Pernikahan merupakan ikatan sakral “mitsaqon ghalidzan”, perjanjian berat di sisi Allah SWT. Berasal dari pernikahan lah lahir generasi penerus estafet kepemimpinan keluarga, masyarakat, dan negara. Maka seharusnya negara yang kuat adalah negara yang mampu menjaga kokohnya ikatan suci ini. Negara dengan ketahanan politik yang kuat, mengokohkan ketahanan keluarga.

Apa mau diucap, jumlah perceraian di setiap provinsi di Indonesia menunjukkan peningkatan signifikan. Contohnya setiap tahun di kota Bogor sekitar 1.000 kasus gugatan perceraian diterima oleh Pengadilan Agama Kota Bogor.  Sejak 2015 hingga 2018, tren kasus gugatan perceraian terus meningkat didominasi perkara gugat cerai oleh istri.

Berdasarkan data yang dilansir oleh BPS dalam ‘Statistik Indonesia 2018’, Provinsi Jawa Timur (87.475 kasus), Provinsi Jawa Barat (79.047 kasus), dan Provinsi Jawa Tengah (69.857 kasus) menempati urutan pertama, kedua, dan ketiga dalam hal jumlah kasus perceraian terbanyak di Indonesia pada tahun 2017.

Penyebab perceraian sangat beragam bukan saja faktor internal pasangan suami istri, faktor eksternal pun lebih banyak menyumbang terjadinya perceraian mulai tekanan ekonomi, model interaksi sosial yang liberal, penyebaran faham feminisme, sampai kebijakan politik negara berbasis gender.

Tak terbiasa berpikir komprehensif, pemerintah lebih memilih mengadopsi cara dunia Internasional untuk menyelesaikan problem ketahanan keluarga. Meski setiap tanggal 29 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional atau Harganas sejak tahun 1993 dengan berbagai program aksi dilancarkan tetap saja perwujudan ketahanan keluarga jauh panggang daripada api.

Tahun ini Harganas 2019 mengambil tema “Hari Keluarga, Hari Kita Semua”, dengan slogan “Cinta Keluarga, Cinta Terencana”. Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat terhadap pentingnya keluarga kecil, bahagia dan sejahtera dalam kerangka ketahanan keluarga.

Bila ditelisik konsep peringatan Harganas 2019 sejalan dengan “The 2019 edition of Progress of the World’s Women” yakni memberikan penilaian luas terhadap realitas keluarga kekinian dengan mempertimbangkan transformasi ekonomi, demografis, politik dan sosial. Berfokus pada penyelidikan tematis berkala tentang hak-hak perempuan. Berupaya memacu perubahan dalam undang-undang, kebijakan, dan program di tingkat global, regional, dan nasional. Menciptakan lingkungan yang memungkinkan bagi perempuan dan anak perempuan untuk menyadari hak mereka.

Peluncuran “The 2019 edition of Progress of the World’s Women” bertepatan dengan kampanye “Persamaan Generasi Perempuan PBB: Mewujudkan hak-hak perempuan untuk masa depan yang sama”, menandai peringatan 25 tahun Deklarasi Beijing dan Platform Aksi tahun 1995, yang dianggap sebagai salah satu dari agenda paling visioner untuk pemberdayaan perempuan dan anak perempuan.

Prinsipnya mempertimbangkan bagaimana keluarga dapat berubah menjadi agen kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Di sejumlah negara termasuk Brasil, Finlandia, dan Spanyol, bahkan termasuk pengakuan kemitraan sesama jenis, sementara yang lain menawarkan perlindungan hukum untuk anak-anak yang lahir di luar nikah dan untuk keluarga orang tua tunggal. Dalam kacamata feminisme, ini perkembangan yang fantastis selama lima puluh tahun.

Lantas apakah ini patut diapresiasi sebagai contoh positif bagi upaya membangun ketahanan keluarga di Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia? Sebagai bangsa yang besar dengan jumlah dan potensi sumber daya manusia yang tinggi, sikap membebek tak seharusnya dilakukan oleh Indonesia. Kekhasan bangsa Indonesia yang religius dengan budaya ketimuran yang memiliki nilai-nilai keadaban tinggi penting dipertahankan untuk meraih visi ketahanan keluarga. Dalam hal ini Islam sebagai sebuah way of life layak menjadi kunci sukses meraih visi.

Ajaran Islam menempatkan keluarga sebagai benteng pertama bangunan peradaban manusia. Posisi sentral perempuan dikunci sebagai ummun wa rabbatul bait (ibu dan pengurus rumah tangga). Pada perempuan pendidikan pertama dan utama generasi dibebankan. Maka Islam memandang perempuan adalah kehormatan yang harus dijaga dan dimuliakan. Perempuan bukan tulang punggung nafkah keluarga dan ekonomi negara.

Sangat kontras dengan konsep kapitalisme-feminisme yang menempatkan perempuan sebagai “sapi perah” dengan legal stempel women economic driver yang sejatinya adalah bentuk eksploitasi total terhadap perempuan. Dengan kata lain kesetaraan gender hanyalah jualan kaum kapitalis agar mudah mencari buruh murah dan mendapatkan pasar yang luas bagi pemasaran berbagai produknya.

Bagaimanapun besarnya kekayaan fisik suatu negara tanpa tersedianya bibit unggul generasi penerus akan berdampak ‘hilangnya’ suatu negara dalam beberapa dekade berikutnya. Bila perempuan dieksploitasi dalam sektor ekonomi dan politik maka perempuan akan teralihkan perannya dari tugas utamanya mendidik generasi bahkan enggan melahirkan generasi. Bila pernikahan sejenis dilegalkan sebagai keluarga maka fungsi reproduksi akan terhenti. Sungguh mengerikan keadaan yang akan terjadi, hilangnya peradaban manusia.

Maka keberadaan negara sebagai entitas politik yang berperan sebagai pengurus urusan rakyatnya sekaligus peran perlindungan rakyat dari ancaman entitas politik lain yang lebih kuat (negara penjajah kapitalis) mengharuskan negara memiliki karakter independent. Negara wajib berdiri di atas asas yang kuat dan sahih. Negara wajib memiliki seperangkat sistem pengaturan komprehensif dan solutif. Negara yang mampu menolak setiap intervensi asing yang akan memporak-porandakan bangunan sosial (termasuk keluarga), ekonomi dan politik. Ini merupakan kebutuhan strategis.

Dalam Islam model negara yang memiliki ketahanan politik yang kokoh telah dicontohkan oleh pemimpin terbaik sepanjang sejarah manusia, Muhammad SAW. Tak hanya menyatukan keluarga dan kekerabatan, bahkan negara Madinah al Munawaroh merupakan bibit negara yang berhasil menyatukan ikatan antar bangsa di dunia.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Mesir

IM: 60 Ribu Tahanan Mesir Hadapi “Malapetaka” Pasca Kematian Mursi

Peringatan ini dikeluarkan setelah kematian mendadak presiden Mesir terkudeta Muhammad Mursi di persidangan.

Senin, 24/06/2019 10:43 0

Suriah

HTS Beberkan Perjalanan 50 Hari Pertempuran di Pedesaan Idlib dan Hama

Selain itu, Rusia ingin mengamankan pangkalan Hameimim di Lattakia. Para pejuang mengontrol sejumlah wilayah yang mampu menjangkau pangkalan udara Rusia itu.

Senin, 24/06/2019 09:30 0

Amerika

Polisi Tangkap Puluhan Pendemo Harian The New York Times

“Katakanlah fakta!” teriak-teriak para demonstran di depan kantor New York Times.

Senin, 24/06/2019 08:02 0

Indonesia

DSKS Gelar Jalan Sehat Untuk Eratkan Ukhuwah Umat Islam

Jalan sehat ini diharapkan dapatmendinginkan suasana pasca sidang gugatan hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi

Ahad, 23/06/2019 18:44 0

Indonesia

Jejak Perjuangan Syaikh Ahmad Surkati di Tanah Betawi

Syaikh Ahmad Surkati adalah pendiri Al Irsyad Al Islamiyah dan guru sejumlah tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia

Ahad, 23/06/2019 18:05 0

Khazanah

Begini Cara Khalifah Ali bin Abi Thalib Wujudkan Peradilan Bersih, Adil, dan Bermartabat

Menegakkan keadilan merupakan unsur terpenting dalam syariat Islam. Dalam banyak ayat, Allah Ta’ala selalu mengingatkan umat ini agar selalu berpegang pada prinsip keadilan. Ketegasan perintah ini di antaranya Allah Ta’ala tunjukkan dengan menggandengkan prinsip keadilan bersamaan hakikat iman seorang muslim. Artinya, selama dalam dirinya ada keimanan maka keadilan harus senantiasa diperjuangkan.

Sabtu, 22/06/2019 17:16 0

Video Kajian

Ust. Farid Okbah, MA : Mereka yang Dijamin 8 Pintu Surga

KIBLAT.NET- Siapakah mereka yang dijamin masuk 8 pintu surga? Yuk simak di sini! Editor: Abdullah...

Sabtu, 22/06/2019 10:00 0

Arab Saudi

Laporan PBB: Tidak Masuk Akal MBS Tak Terlibat Pembunuhan Khashoggi

Sejumlah opini berkembang mengaitkan insiden itu dengan keluarga kerajaan.

Sabtu, 22/06/2019 08:00 0

Indonesia

IGI Kritisi Jokowi Soal Instruksi Revisi Sistem Zonasi

"Sistem ini sudah berjalan selama tiga tahun dan terus mengalami perubahan menuju cita-cita tersebut. Perintah presiden merevisi justru merupakan sebuah kemunduran terhadap upaya mencapai cita-cita semua sekolah sama baiknya," kata Ramli melalui keterangan tertulisnya pada Jumat (21/06/2019).

Sabtu, 22/06/2019 07:29 1

Artikel

Dari Piagam Jakarta ke Pancasila: Mencari Makna Ketuhanan (Bag. 3)

Memandang Piagam Jakarta menjadi satu momok menakutkan bertentangan dengan kenyataan sejarah. Faktanya, Piagam Jakarta justru menjadi titik awal Pancasila

Sabtu, 22/06/2019 00:40 0

Close