... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Khazanah

Begini Cara Khalifah Ali bin Abi Thalib Wujudkan Peradilan Bersih, Adil, dan Bermartabat

Menegakkan keadilan merupakan unsur terpenting dalam syariat Islam. Dalam banyak ayat, Allah Ta’ala selalu mengingatkan umat ini agar selalu berpegang pada prinsip keadilan. Ketegasan perintah ini di antaranya Allah Ta’ala tunjukkan dengan menggandengkan prinsip keadilan bersamaan hakikat iman seorang muslim. Artinya, selama dalam dirinya ada keimanan maka keadilan harus senantiasa diperjuangkan. Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ ۚ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَىٰ بِهِمَا ۖ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَنْ تَعْدِلُوا ۚ وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa: 135)

Semua orang memiliki hak yang sama di hadapan hukum. Tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi dari yang lain lalu memaksakan hukum kehendaknya. Tidak ada status sosial yang membedakan. Pejabat, rakyat jelata, kaya, miskin, bahkan terhadap ibu bapak dan kaum kerabat sekalipun. Semuanya sama di mata hukum. Karena itu, seorang pemimpin harus benar-benar memerhatikan persoalan ini.

Dalam hal ini, Khalifah Ali bin Abi Thalib, selama masa kepemimpinannya beliau berhasil memberikan keteladanan yang baik demi tegaknya keadilan. Salah satunya ialah besarnya perhatian beliau terhadap hakim atau qadhi yang menjadi pemutus perkara di tengah masyarakat. Agar seorang hakim dapat mewujudkan keadilan dalam menjalankan hukum-hukumnya, maka Ali bin Abi Thalib mengharuskan bagi seorang hakim agar benar-benar menjaga hal-hal berikut:

Pertama: Mempelajari persoalan yang dihadapi dengan penelitian yang sangat hati-hati.

Tidak diperbolehkan bagi seorang qadhi tergesa-gesa dalam memutuskan sebuah hukum sebelum selesai dalam meneliti dan benar-benar yakin dengan kebenaran hukum. Karena itu, Ali radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Qadhi Syuraih, ”Lisanmu adalah budakmu selama kamu tidak berbicara. Dan jika kamu berbicara maka kamu menjadi budaknya lisan. Maka pikirkanlah apa yang akan kamu putuskan, akibat dari apa yang kamu putuskan, dan bagaimana cara kamu memutuskan.

Kedua: Persamaan antara pihak-pihak yang berselisih (tidak diskriminatif)

Pernah ada seorang tamu yang singgah di kediaman Ali radhiyallahu ‘anhu sedangkan beliau dalam kesehariannya senantisa sibuk. Tamu ini datang untuk menyampaikan sebuah perselisihan yang akan dilaporkan kepada beliau, maka Ali bertanya kepadanya, ”Apakah kamu orang yang berselisih?” Dia menjawab, ”Ya.” Beliau berkata, ”Pergilah dariku, karena kita dilarang untuk menyambut seorang yang bertikai kecuali bersama pihak yang bertikai dengannya.” (Mushannaf Abdur- Razak, 8/300)

Ketiga: Tidak merendahkan atau meneriaki salah satu dari kedua belah pihak yang bertikai

Setalah beberapa saat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menobatkan Abu Aswad Ad-Du’ali sebagai seorang qadhi, kemudian beliau memecatnya, dan ia bertanya, ”Kenapa engkau memecatku, sedangkan aku tidak berkhianat dan tidak melakukan kesalahan?” Maka beliau menjawab, ”Aku hanya melihatmu meneriakkan ucapanmu kepada kedua belah pihak yang bertikai.” (Al-Mughniy, 9/104)

Keempat: Menjauhi hal-hal yang dapat mempengaruhi keputusan karena memiliki hubungan khusus dengan diri Qadhi.

Baik pengaruh ini berbentuk kerabat dekat, harta benda, orang yang dibenci atau lainnya. Ja’dah bin Habirah pernah mendatangi Ali bin Abi Thalib seraya berkata, ”Wahai Amirul Mukminin, dua orang lelaki telah menemuimu, salah satunya sangat mencintaimu lebih dari dirinya sendiri, dan yang lain jika dia bisa menyembelih kamu dia akan menyembelihmu. Apakah kamu memutuskan orang ini dengan keputusan yang baik, dan keputusan jelek kepada yang ini?” Ja’dah berkata, “Ali mencela membencinya seraya berkata, ”Ini adalah suatu keputusan yang seandainya ini hakku, maka aku memilih orang yang mencintaiku. Akan tetapi, keputusan ini hanyalah milik Allah.” (Fikih Ali ibni Abi Thalib, Qal’aji, hal, 508)

Kelima: Musyawarah

Seorang qadhi wajib bermusyawarah kepada orang-orang yang berilmu dan mempunyai pendapat supaya tidak terlepas dari kebenaran. Ali radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu dari anggota majelis syura yang mana Khulafa’urrasyidin meminta musyawarah para anggota dewan syura ketika menghadapi sebuah permasalahan. Diriwayatkan oleh Al-Khishaf di dalam bab Adabil Qadhi, “Bahwa Utsman bin Affan ketika didatangi oleh dua orang yang bertikai maka beliau memerintahkan kepada seseorang, ”Panggil Ali” dan memrintahkan kepada orang lain, ”Panggil Thalhah, Zubair dan beberapa orang dari para shahabat Rasulullah.” Ketika mereka datang, Utsman berkata kepada kedua orang yang bertikai, ”Berbicaralah.” Ketika keduanya sudah berbicara, kemudian permasalahan ini dipaparkan kepada para shahabat, dan beliau bertanya, ”Lalu apa pendapat kalian?” Jika mereka berpendapat dengan sebuah keputusan yang sesuai dengan pendapat Ali radhiyallahu ‘anhu maka kemudian diputuskan hukum bagi kedua belah pihak yang bertikai, tanpa melihat pandangan para shahabat setelah adanya kesesuaian pendapat Ali dengan para shahabat yang lain. (Syarhu Adab Al-Qadhi, Al-Khishaf, 1/305, Masu’atu Fikhi Ali bin Abi Thalib, hal, 508)

Demikianlah keteladanan dari sahabat Ali bin Abi Thalib dalam mewujudkan lembaga keadilan yang adil bagi masyarakat. Semua pihak harus diperlakukan secara adil di hadapan hukum. Tidak ada satu pihak pun yang merasa dilebihkan. Semuanya sama di hadapan hukum. Bahkan bila khalifah sekalipun yang bersalah maka tetap diputuskan hukum sesuai dengan petunjuk al-Quran dan hadis Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Fakhruddin

Sumber: Buku Biografi Ali Bin Abi Thalib Karya Ali Muhammad Ash-Shalabi, Penerbit Beirut Publishing, Jakarta Timur.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Ust. Farid Okbah, MA : Mereka yang Dijamin 8 Pintu Surga

KIBLAT.NET- Siapakah mereka yang dijamin masuk 8 pintu surga? Yuk simak di sini! Editor: Abdullah...

Sabtu, 22/06/2019 10:00 0

Arab Saudi

Laporan PBB: Tidak Masuk Akal MBS Tak Terlibat Pembunuhan Khashoggi

Sejumlah opini berkembang mengaitkan insiden itu dengan keluarga kerajaan.

Sabtu, 22/06/2019 08:00 0

Indonesia

IGI Kritisi Jokowi Soal Instruksi Revisi Sistem Zonasi

"Sistem ini sudah berjalan selama tiga tahun dan terus mengalami perubahan menuju cita-cita tersebut. Perintah presiden merevisi justru merupakan sebuah kemunduran terhadap upaya mencapai cita-cita semua sekolah sama baiknya," kata Ramli melalui keterangan tertulisnya pada Jumat (21/06/2019).

Sabtu, 22/06/2019 07:29 1

Artikel

Dari Piagam Jakarta ke Pancasila: Mencari Makna Ketuhanan (Bag. 3)

Memandang Piagam Jakarta menjadi satu momok menakutkan bertentangan dengan kenyataan sejarah. Faktanya, Piagam Jakarta justru menjadi titik awal Pancasila

Sabtu, 22/06/2019 00:40 0

News

Tak Ditahan, Ustadz Rahmat Baequni Kena Wajib Lapor

Hamynudin mengatakan Ustadz Rahmat Baequni dibolehkan pulang pada pukul 19.00 WIB.

Sabtu, 22/06/2019 00:10 0

Artikel

Dari Piagam Jakarta ke Pancasila: Jalan Menuju Kompromi (Bag. 2)

Lahirnya Piagam Jakarta bukan berarti tanpa keberatan. Dari kalangan non-muslim, Johannes Latuharhary yang berlatar belakang pendidikan hukum, misalnya menyatakan keberatan atas tujuh kata dalam sila pertama.

Jum'at, 21/06/2019 23:37 0

Indonesia

Datangi Muhammadiyah, Delegasi Bangsamoro Bahas Soal Pendidikan

Delegasi dari Kementerian Pendidikan Bangsamoro bertemu dengan Lembaga Hubungan dan Kerjasama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah di Pusat Dakwah Muhammadiyah.

Jum'at, 21/06/2019 22:25 0

Artikel

Dari Piagam Jakarta ke Pancasila: Jalan Panjang Dasar Negara (Bag. 1)

Persepsi negatif tentang Piagam Jakarta terjadi akibat sikap paranoid dan kekeliruan memahami dan menafsirkan Pancasila itu sendiri.

Jum'at, 21/06/2019 19:17 0

Indonesia

Habib Bahar Dituntut 6 Tahun Penjara, Pengacara Singgung Pembunuhan Harun

"Ini anak-anak ditembaki, jangankan dihukum, orangnya saja yang mana belum terungkap," kata pengacara Habib Bahar soal kematian anak-anak dalam ricuh Aksi 21-22 Mei

Jum'at, 21/06/2019 18:02 0

Turki

Protes Wafatnya Mursi, Masyarakat Turki Demo Kedutaan Mesir

Pendemo mendesak pemerintah Mesir harus bertanggung jawab atas kematian Mursi

Jum'at, 21/06/2019 17:12 0

Close