Dapat Tekanan, Korban Tragedi 21-22 Mei Melapor ke LPSK

KIBLAT.NET, Jakarta – Tim Advokasi Korban Tragedi 21-22 Mei bersama keluarga korban mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk meminta perlindungan. Anggota Tim Advokasi, Wisnu Rakadita mengatakan bahwa beberapa korban tragedi mengaku mendapat tekanan agar tidak lagi mencari keadilan.

“Terjadi intimidasi atau tekanan serta ancaman untuk tidak melanjutkan upaya mencari keadilan atas wafatnya Farhan Syafero, Sandro, Harun Arrasyid serta Adam Nooryan yang merupakan korban tragedi 21-22 Mei 2019,” kata Wisnu kepada Kiblat.net melalui siaran persnya.

Ia mengungkapkan bahwa keadilan merupakan hak setiap orang tanpa terkecuali. Maka, siapa pun tidak boleh menghalangi warga negara atau pencari keadilan untuk mendapatkan keadilan.

Oleh sebab itu, pihaknya selaku kuasa hukum dari korban kekerasan tragedi 21-22 Mei 2019, melaporkan dan meminta perlindungan hukum kepada LPSK, sehubungan dengan adanya indikasi pelanggaran HAM berat oleh aparat Brimob. Sebagaimana ketentuan Pasal 1 butir 8 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2014 Tentang Peubahan atas UndangUndang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban.

“Pasal tersebut menyatakan, perlindungan adalah segala upaya pemenuhan hak dan pemberian bantuan untuk memberikan rasa aman kepada Saksi dan/atau Korban yang wajib dilaksanakan oleh LPSK atau lembaga lainnya sesuai dengan ketentuan undang-undang ini,” paparnya.

Ia meminta LPSK memindahkan atau merelokasi terlindung ke tempat yang lebih aman, melakukan pengamanan dan pengawalan. Serta melakukan pendampingan saksi dan/atau korban dalam proses peradilan kepada Korban Tragedi 21-22 Mei 2019 dan Korban.

BACA JUGA  HNW Usul Mahfud MD Silaturahim ke Habib Rizieq

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Izhar Zulfikar

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat