... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Antara Kematian Mursi dan Kematian Demokrasi di Mesir

KIBLAT.NETMuhammad Mursi ‘Isa al-Ayyat adalah presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis. Kalimat itulah yang ditekankan oleh media-media Barat ketika memberitakan kematiannya. Setelah ditahan kurang lebih enam tahun dan menjalani berbagai pengadilan dengan beragam tuduhan, akhirnya pada Senin (17/06/2019) presiden Mesir kelima tersebut menghembuskan nafas terakhirnya. Berdasarkan laporan sebuah televisi Mesir, Mursi meninggal setelah sebelumnya pingsan di ruang sidang.

Terkait kematiannya, para kritikus baik dari dunia Barat maupun Timur satu suara untuk menyalahkan betapa buruknya kondisi penjara tempat Mursi ditahan. Hal pertama yang mereka soroti adalah perihal Mursi yang tidak mendapatkan akses pengobatan untuk penyakitnya, yaitu diabetes, tekanan darah tinggi serta gangguan pada livernya. Karena sebelumnya, sudah banyak lembaga kemanusiaan yang mengingatkan pemerintah Mesir bahwa perawatan medis yang tidak tepat bisa mengakibatkan kesalahan fatal.

Pada bulan Maret tahun lalu, sebuah panel yang berisikan politisi dan pengacara asal Inggris melakukan peninjauan terhadap kondisi Mursi. Mereka menyimpulkan bahwa Mursi tidak mendapatkan perawatan medis yang memadai, sementara dirinya menderita diabetes dan gangguan pada liver. Bahkan pada saat itu, panel berani menyimpulkan bahwa kondisi yang dialami Mursi bisa mempercepat kematiannya.

Crispin Blunt, anggota parlemen yang memimpin panel tersebut, memberikan pernyataan setelah kematian Mursi. “Sayangnya, kami terbukti benar.”

Putra Mursi, Abdullah juga pernah mengatakan kepada The New Nork Times pada 2016, bahwa keluarga khawatir Mursi akan jatuh koma karena penyakit diabetes.

Dikutip dari The New Nork Times, Direktur Eksekutif Human Rights Watch untuk wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara mengatakan Mursi sebagai korban penganiayaan. “Saya pikir ada kasus yang sangat kuat untuk mengatakan bahwa ini merupakan kelalaian kriminal, penyimpangan yang disengaja dalam memberika hak-hak dasar untuk tahanan. Dia (Mursi) sangat jelas telah dipilih menjadi korban penganiayaan.”

Amr Darrag dan Yehia Hamed, mantan menteri di era Mursi, kompak menyebut bahwa kematiannya sama saja dengan pembunuhan yang disponsori oleh Negara. Gamal Eid, pengacara dan juga aktivis HAM, mengatakan bahwa Mursi adalah korban dari kondisi penjara yang brutal.

Perlakuan Diskriminatif

Tidak seperti kebanyakan tahanan di penjara Mesir, sebagai mantan presiden, Mursi mendapat perlakuan diskriminatif dalam penjara. Dalam pernyataannya, Human Rights Watch menyatakan bahwa Mursi dilarang menerima kiriman makanan dan obat-obatan dari keluarganya. Selain ditahan di sel isolasi, Mursi dilarang mengakses berita, surat, atau sarana komunikasi lainnya dengan dunia luar.

Dalam menjalani tahun-tahunnya di penjara, Mursi hanya diijinkan tiga kali menerima kunjungan dari istri dan keluarganya. Bahkan sebelum kematiannya, Mursi tercatat jatuh pingsan selama dua kali di ruang sidang. Dan di setiap pengadilan, Mursi selalu menyampaikan permohonan kepada hakim untuk perawatan medis khusus atau untuk dipindahkan ke fasilitas medis yang memadai. Namun otoritas Mesir nampaknya selalu mengabaikan permohonan tersebut.

Muhammad Sudan, anggota terkemuka Ikhwanul Muslimin di London, menggambarkan kematian Mursi sebagai pembunuhan berencana. Dia mengatakan bahwa mantan presiden itu dilarang menerima obat-obatan atau kunjungan dan hanya ada sedikit informasi tentang kondisi kesehatannya yang bisa diakses publik. “Ini adalah pembunuhan terencana. Ini adalah pembunuhan secara perlahan,” ujarnya.

BACA JUGA  Arti Simbol Bunga dalam Pembantaian Muslim Srebrenica

As-Sisi Belum Berkomentar dan Status Ikhwanul Muslimin

Hingga paragraf ini ditulis, belum ada pernyataan resmi langsung dari kantor Presiden As-Sisi. Bahkan saluran televisi Mesir, yang tentunya dikontrol ketat oleh pemerintah, memberitakan kematian Mursi secara samar-samar. Mereka tidak membuat “Breaking News” untuk melaporkan kematian seorang mantan presiden.

Ada juga yang melaporkan secara sepintas, atau dengan menambah tayangan yang menggambarkan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris. “Kebohongan adalah bagian dari integral dari Ikhwanul Muslimin,” kata sebuah suara di CBC Extra, sebuah stasiun televisi, setelah tayangan sebuah segmen yang menunjukkan Ikhwanul Muslimin sebagai pejuang Negara Islam yang mengancam akan menyerang tentara Mesir.

Sebagaimana diketahui, pemerintahan As-Sisi telah menyatakan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris yang terlarang. Ikhwanul Muslimin merupakan gerakan Islam yang berusia sembilan puluh tahun, didirikan di Mesir pada tahun 1928, ide-ide pergerakan mereka menyebar sangat cepat ke negara-negara mayoritas Muslim lainnya di dunia Arab dan sekitarnya.

Trump juga sempat melontarkan wacana untuk mengikuti langkah As-Sisi, namun Pentagon dan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan keberatannya. Menurut Pentagon dan Deplu AS, Ikhwanul Muslimin tidak memenuhi definisi sebagai organisasi teroris. Para pejabat di departemen itu juga khawatir penunjukan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris dapat mempersulit hubungan dengan sejumlah negara sekutu di Timur Tengah.

Reaksi Tokoh Dunia

Meskipun begitu, beberapa tokoh dan pemimpin dunia tetap memberikan pernyataan dan komentar terkait kematian Mursi.

Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani menyampaikan belasungkawa atas kematian Mursi. “Kami sangat sedih ketika mendengar berita kematian mendadak mantan presiden Dr. Muhammad Mursi. Saya menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada keluarga dan rakyat Mesir. Innalillahi wainna ilaihi rajiuun,” kata Sheikh Tamim dalam cuitan Twitter-nya.

Sedangkan Recep Tayyip Erdogan, presiden Turki, tak segan-segan menyalahkan pemerintah Mesir atas kematian Mursi. “Sejarah tidak akan pernah melupakan para tiran yang menyebabkan kematiannya, dengan memenjarakannya dan mengancamnya dengan eksekusi,” ujar Erdogan, sekutu dekat Morsi, dalam sebuah pidato yang disiarkan televisi di Istanbul pada Senin (17/06/2019).

Erdogan menyebut mantan presiden Mesir itu sebagai martir. “Semoga Allah mengistirahatkan saudara laki-laki kita, Mursi. Semoga jiwa martir kita ada dalam damai,” tegasnya.

Jubir PBB Stephane Dujarric tak ketinggalan menyampaikan belasungkawa kepada kerabat dan pendukung Mursi. Dan dalam sebuah postingan Facebook, putra Mursi, Ahmad, membenarkan kematian ayahnya. “Di hadapan Allah, ayahku dan kita akan bersatu,” tulisnya.

Sementara itu, Amnesty International mendesak pemerintah Mesir untuk menyelidiki kematian Morsi. “Kami menyerukan pihak berwenang Mesir untuk melakukan investigasi yang tidak memihak, menyeluruh, dan transparan mengenai kematian Mursi, termasuk soal penjara isolasi serta isolasi dari dunia luar,” kata kelompok hak asasi yang bermarkas di London itu dalam postingan Twitter-nya.

Amnesty International juga menyerukan penyelidikan atas perawatan medis yang diterima Mursi, dan bagi siapapun yang dianggap bertanggung jawab atas perlakuan buruk harus dimintai pertanggungjawaban.

Dari Pakistan, Jamaat Islami mengatakan bahwa dunia Islam telah kehilangan seorang pahlawan sejati. “Mursi berdiri tegak di hadapan semua tekanan yang bertujuan memaksanya untuk menarik perjuangannya untuk hak-hak dasar rakyat Mesir dan dukungannya kepada Palestina,” kata ketua kelompok tersebut, Senator Sirajul Haq dalam pernyataannya di Twitter.

BACA JUGA  Perjuangan Penegakan Islam di Aljazair, dari Era Kolonialisme Hingga Kebangkitan FIS

Jamaat Islami juga mengumumkan bahwa pada hari Selasa (18/06/2019) akan menyelenggarakan shalat ghaib untuk Mursi di seluruh Pakistan.

Dan dari Malaysia, Kementerian Luar Negeri Malaysia mengatakan pihaknya terkejut dan sedih dengan “kematian mendadak” Muhammad Mursi.

“Selama masa jabatannya sebagai presiden, Mursi menunjukkan keberanian dan ketabahan moral dalam upayanya untuk memimpin Mesir menjauh dari dekade pemerintahan otoriter dan membangun demokrasi sejati di sana,” kata Menteri Luar Negeri Malaysia, Saifuddin Abdullah. “Saya ingin menyampaikan belasungkawa terdalam saya kepada keluarga yang ditinggalkan Tuan Mursi dan orang-orang Mesir,” ujarnya.

Kematian Mursi dan Masa Depan Demokrasi Mesir

Muhammad Mursi meninggal pada usia 67 tahun. Dia memenangkan pemilu pertama Mesir pada tahun 2012. Tetapi dicopot satu tahun kemudian dalam sebuah kudeta militer. Ketika pingsan dan meninggal, dia sedang diadili atas tuduhan spionase.

Kematian Mursi bisa dipandang sebagai tonggak menyedihkan dalam transisi demokrasi Mesir yang gagal pasca Arab Spring pada 2011. Kemenangan Mursi dalam pemilu adalah puncak dari perjuangan Ikhwanul Muslimin. Tujuh tahun lalu pada bulan ini, yaitu 30 Juni 2012, Muhammad Mursi tercatat sebagai presiden terpilih pertama dalam pemilu demokratis di dunia Arab dan menjadi perwakilan gerakan Islamis pertama yang menduduki jabatan presiden di dunia Islam.

Banyak warga Mesir yang berharap kemenangan Mursi akan memberikan masa depan cerah untuk Mesir. Setelah puluhan tahun di bawah pemerintahan yang keras dan korup ala Husni Mubarak, yang pada akhirnya digulingkan pada tahun 2011.

Namun Mursi mendapat tantangan yang berat di pemerintahannya, dirinya harus berhadapan dengan militer yang kurang simpatik padanya, dan pada musim panas 2013, sebagai sebuah konsekuensi demokrasi, dirinya harus menghadapi demonstrasi besar di Tahrir Square, tempat dirinya merayakan kemenangan.

Demonstrasi tersebut menjadi alasan bagi sang Menteri Pertahanan, Jenderal Abdel Fattah As-Sisi melakukan kudeta militer. Pada 3 Juli 2013, As-Sisi secara resmi merebut kekuasaan dan kemudian terpilih sebagai presiden. As-Sisi kembali memerintah Mesir dengan tangan besi, dan harapan akan tumbuh mekarnya demokrasi di Mesir kini telah padam, bahkan (mungkin) telah sepenuhnya padam.

Refleksi Bagi Gerakan Islam

Dari perspektif gerakan Islam, kematian Mursi tentu tidak perlu dimaknai sesuram itu. Selalu ada refleksi positif yang bisa ditangkap di tengah suasana duka akan kematiannya.

Bagi umat Islam khususnya para aktivis gerakan Islam, tentunya tidak mengenal kata kegagalan di dalam kamus perjuangannya. Dan siapapun yang mengaku sedang memperjuangkan Islam, tentu harus mengedepankan khusnudzon ketimbang sikap nyinyir. Bagaimanapun seorang Muhammad Mursi telah memberikan sesuatu yang sangat berharga bagi perjalanan perjuangan gerakan Islam secara global, yaitu sebuah pelajaran, pelajaran yang tidak boleh disia-siakan dan harus segera menjadi bahan introspeksi, bahan renungan, untuk langkah yang lebih mantap dalam perjalanan dan perjuangan di masa mendatang.

Selamat jalan Muhammad Mursi, akhirnya engkau terbebas dari kefanaan dunia, semoga kita dapat bertemu di Surga…

Penulis: Rusydan Abdul Hadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

IM: Mursi Wafat, Perjuangan Rakyat Mesir Tidak Akan Berhenti

Dalam pernyataan tersebut, IM menegaskan bahwa Mursi meninggal dalam keadaan membela kebenaran.

Selasa, 18/06/2019 15:22 1

Indonesia

Mursi Gugur, IM Tuntut Lembaga HAM Bergerak Hentikan Kejahatan di Penjara Mesir

Organisasi Islam Ikhwanul Muslimin menegaskan bahwa terbunuhnya Muhammad Mursi adalah tanggungjawab rezim Mesir.

Selasa, 18/06/2019 15:00 0

Indonesia

Kyai Cholil Nafis: Semoga Mursi Diterima Sebagai Syuhada

Ketua Komisi Dakwah MUI, Kyai Cholil Nafis memberikan tanggapan soal wafatnya Mantan Presiden Mesir, Muhammad Mursi.

Selasa, 18/06/2019 14:44 0

Mesir

Inilah Detik-detik Terakhir Dr. Muhammad Mursi Sebelum Meninggal di Persidangan

KIBLAT.NET – Abdul Mun’im Abdul Maqsud, pengacara mantan presiden Mesir Muhammad Mursi, mengungkapkan rincian detik-detik...

Selasa, 18/06/2019 13:50 0

Suriah

Pemerintah Darurat Idlib Seru Pegawainya Turun ke Front Pertempuran

Pernyataan itu juga menyeru pembentukan komite khusus di lembaga-lembaga pemerintahan untuk mengumpulkan dana sumbangan bagi para pejuang.

Selasa, 18/06/2019 12:37 0

Indonesia

Majelis Pertubuhan Islam Malaysia: Rezim Mesir Bertanggungjawab Atas Wafatnya Mursi

Presiden Mejelis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia, Mohammad Azmi Abdul Hamid mengaku sedih atas berita wafatnya Muhammad Mursi.

Selasa, 18/06/2019 11:44 0

Indonesia

Dapat Tekanan, Korban Tragedi 21-22 Mei Melapor ke LPSK

Tim Advokasi Korban Tragedi 21-22 Mei bersama keluarga korban mendatangi Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk meminta perlindungan. Anggota Tim Advokasi,

Selasa, 18/06/2019 10:49 0

Mesir

Syaikh Abu Qatadah Ucapkan Belasungkawa Atas Wafatnya Dr. Muhammad Mursi

“Ya Allah, jadikanlah kematiannya laknat bagi orang-orang yang melampau batas dan murtad. Semoga Allah melaknat orang-orang yang mendukung musuh Islam meskipun dengan satu kalimat menyerang umat Islam,” ucap Syaikh Al-Filistini.

Selasa, 18/06/2019 07:39 0

Mesir

Mursi Meninggal Setelah Berbicara 20 Menit di Persidangan

Ia disidang atas tuduhan jadi mata-mata Qatar

Selasa, 18/06/2019 06:57 0

Afghanistan

Kritik ISIS, Syaikh Ashim Umar: Jihad Itu Lekat dengan Persatuan dan Kerja Sama

Yang sedang dibicarakan oleh Ashim Umar dalam pesan Idul Fitri tersebut adalah jelas tentang Negara Islam atau ISIS ala Abu Bakar al-Baghdadi.

Senin, 17/06/2019 14:20 0

Close