... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Mullah Akhundzada: Perang AS Dihukum dengan Kekalahan

Foto: Mullah Haibatullah Akhunzadah, pemimpin Taliban

KIBLAT.NET, Kabul – Baru-baru ini Imarah Islam (Taliban) merilis pernyataan publik pemimpin mereka, Maulawi atau Mullah Hibatullah Akhundzada yang berbicara dalam satu momen Idul Fitri. Akhundzada mengatakan bahwa jihad dan perlawanan yang sah yang dilakukan oleh Taliban melawan penjajah sudah mendekati fase kemenangan. Upaya perang yang dipimpin Amerika Serikat yang beliau gambarkan sebagai “kekuatan angkuh bersenjata” telah dihukum dengan kekalahan oleh jihad suci untuk mempertahankan diri Mujahidin Taliban. Hasilnya, menurut Mullah Akhundzada bahwa Imarah Islam Taliban kini mampu mengontrol dan mengambil semua inisiatif baik di bidang militer maupun politik. Beberapa bulan terakhir, pihak AS dan pemerintah Afghan mendesak diberlakukannya sebuah gencatan senjata, namun oleh para pemimpin Taliban permintaan tersebut tidak direspon secara langsung. Justru, para elit mujahidin itu nampaknya tidak akan memerintahkan pasukannya untuk meletakkan senjata.

“Jangan ada yang berharap kita akan menyiramkan air dingin ke medan pertempuran Jihad yang sudah memanas, atau melupakan pengorbanan kita selama empat puluh tahun sebelum kita berhasil meraih tujuan kita,” kata Akhundzada di depan publik rakyat Afghan. Pesan Akhundzada ini memang disampaikan di internal bangsa & rakyat Afghan. Tetapi secara substansi, sebagaimana yang disampaikan Taliban kepada para pejuang dan pendukung mereka bahwa  kemenangan itu sudah dekat.

Pesan Mullah Akhundzada ini dirilis dalam beberapa versi bahasa, yaitu Bahasa Pashto, Dari, Arab, Urdu, dan Inggris untuk menjangkau audiens publik yang lebih luas. Akhundzada juga secara regular mempublikasikan kemenangan Imarah Islam di berbagai operasi militer Jihad Taliban di saat kelompok perlawanan jihadis terbesar di dunia itu berada di atas angin dalam proses negosiasi langsung dengan AS untuk mengakhiri penjajahan asing di Afghanistan.

Secara bersamaan, upaya Taliban di bidang militer dan politik yang dilakukan secara paralel dimaksudkan untuk mengakhiri penjajahan dan menegakkan sistem Islam. Sebagaimana pernyataan lebih lanjut Akhundzada, “Langkah-langkah yang dilakukan oleh Imarah Islam di bidang militer dan politik ini merupakan bagian dari sebuah kebijakan & perintah integral supaya dalam prakteknya bisa saling menopang.”

BACA JUGA  Siapa Pemilik Granat Sasar Anggota TNI di Monas?

Dalam pesan Akhundzada ini tidak ada bagian pidato yang menyebutkan Taliban akan memberikan jaminan upaya kontraterorisme seperti yang diucapkan oleh Utusan Khusus AS Zalmay Khalilzad yang mengklaim bahwa kantor biro politik Taliban menawarkan hal itu.

Ada sejumlah pernyataan Akhundzada yang dianggap rancu oleh media Barat. Di antaranya, Akhundzada mengklaim bahwa Imarah Islam tidak ingin memonopoli kekuasaan sebagaimana ia dan pejuang-pejuang Taliban lainnya meyakini bahwa seluruh elemen bangsa Afghan harus terwakili di pemerintahan. Di samping itu, “Imarah Islam ingin membentuk pemerintahan yang berdaulat, menjunjung tinggi supremasi Islam, dan inklusif yang bisa diterima oleh seluruh rakyat Afghan di negeri yang mereka cintai.”

Meski demikian, secara jelas Akhundzada melihat konsep pemerintahan yang dimaksud adalah Imarah Islam seperti yang pernah eksis di era kekuasaan Taliban. Di sinilah terjadi perbedaan definisi & sudut pandang antara Taliban dengan media Barat. Akhundzada menyebut frase “Imarah Islam” sebanyak 19 kali dalam pernyatannya itu, dan ia menyandang 2 predikat yaitu sebagai Pemimpin Imarah Islam dan Amirul Mukminin yang biasa digunakan di era kekhalifahan.

Pemimpin Taliban ini juga menyatakan bahwa hak-hak semua laki-laki dan perempuan harus diberikan kepada mereka, tentu dalam koridor sistem pemerintahan Islam. Taliban telah berjuang dan bertempur dengan kesabaran dan determinasi tinggi dalam rangka ingin menegakkan Syariat atau Hukum Islam, dan selama ini mereka juga telah membentuk pemerintahan bayangan. Akhundzada mengatakan, “Seluruh wilayah yang sudah ada badan pemerintahan Mujahidin-nya menjadi ujian besar bagi Mujahidin itu sendiri. Apakah kalian berhasil atau gagal melayani masyarakat dan menegakkan keadilan sebagaimana klaim & slogan kalian?”

BACA JUGA  Pria Asal Sukabumi Ini Rela Berkuda untuk Hadiri Reuni 212

Akhundzada secara singkat menyinggung tentang dialog internal Afghan sebagai cara untuk menyelesaikan masalah-masalah internal bangsa Afghan pasca berakhirnya penjajahan asing. Namun media Barat masih belum bisa menerima hal ini karena dalam beberapa putaran negosiasi langsung Taliban-AS, Taliban menolak keterlibatan pemerintah Afghan.

Di bagian lain, Akhundzada menyerukan kepada segenap anggota pasukan militer & aparat keamanan Afghan untuk bertaubat. Katanya, “Tidak ada alasan yang bisa membenarkan permusuhan kalian terhadap para mujahidin bangsa kalian sendiri atas perintah penjajah yang sangat memusuhi agama dan negeri kita.”

Kita asumsikan bahwa pernyataan Mullah Akhundzada benar-benar seperti itu, atau setidaknya telah disetujui oleh Akhundzada, maka berarti pemimpin Taliban itu telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah upaya diplomatik. Negosiasi dengan AS difokuskan pada upaya mengakhiri penjajahan asing sebagaimana seruan Akhundzada. Di pihak lain, dialog langsung Taliban-AS yang menegasikan pemerintah Afghan telah membuat ketegangan hubungan Washington dengan pemerintah boneka Kabul.

Meski demikian, Taliban juga menggunakan inisiatif diplomatik lainnya untuk membangun legitimasi Imarah Islam. Akhundzada mengatakan upaya-upaya tersebut dikelola untuk mencapai konsensus Afghanistan bagi negara-negara tetangga maupun kawasan.

Dari sini bisa dipahami pula bahwa Akhundzada melihat diplomasi luar negeri sebagai salah satu cara Imarah Islam untuk men-deligitimasi pemerintah Afghan. Setelah menolak keterlibatan mediator pemerintah dalam proses negosiasi, pemimpin Taliban itu menuding pemerintah Kabul mencoba menyabotase dialog antara Imarah Islam dengan tokoh-tokoh politik Afghan non-pemerintah. Di situlah Akhundzada kemudian mendorong dialog internal Afghan dengan mengecualikan pasukan maupun pemerintah Kabul sebagai satu kekuatan utama lokal yang menghalangi jalan Taliban menuju kekuasaan.

Sumber: TLWJ

Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Tazkiyah

Konsisten Beramal Sholeh Pasca Ramadhan

Kami lihat banyak manusia yang beribadah di bulan Ramadhan, mereka sholat, puasa dan pergi ke masjid. Jika telah selesai bulan Ramadhan, mereka berhenti dari ibadahnya. Benarkah yang mereka lakukan?

Rabu, 05/06/2019 14:07 0

Indonesia

KontraS: Polisi Langgar HAM dalam Penegakan Hukum Tersangka 21-22 Mei

Salah satu dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan polisi adalah perlakuan diskriminatif terhadap para tersangka.

Rabu, 05/06/2019 13:09 0

Indonesia

Pengamat Terorisme: Pelaku Bom Kartasura Masuk Kategori ‘Milenial Lone Wolf’

Lone Wolf adalah sebuah istilah bagi pelaku bom yang beraksi sendirian dan termotivasi secara individual.

Rabu, 05/06/2019 12:41 3

Indonesia

Mengejutkan! Anak-anak yang Menjadi Korban Meninggal Kerusuhan 22 Mei Bukan Cuma Harun Ar-Rasyid

Selain itu, ada puluhan orang yang hingga saat ini belum kembali ke keluarganya.

Rabu, 05/06/2019 12:26 0

Video Kajian

Ust. Abdush Shomad, S.Pd.I: Belajar dari Umat Terdahulu

KIBLAT.NET- Dalam Al Quran, Allah SWT banyak mengisahkan kisah-kisah umat terdahulu yang penuh hikmah. Yuk...

Selasa, 04/06/2019 17:00 0

Indonesia

Pasca Bom Kartasura, Kapolda Jateng Tinjau Lokasi

Pasca Bom Kartasura, Kapolda Jateng Tinjau Lokasi

Selasa, 04/06/2019 16:29 0

Indonesia

Pelaku Bom Kartasura Sempat Dilarikan ke PKU Muhammadiyah dalam Keadaan Hidup

Pelaku Bom Kartasura Sempat Dilarikan ke PKU Muhammadiyah dalam Keadaan Hidup

Selasa, 04/06/2019 16:19 0

Khazanah

Mereka yang Merugi di Bulan Ramadhan

Namun, di sana ada golongan manusia yang sebaliknya, menyia-nyiakan waktu-waktu mereka untuk sekedar ngobrol, ghibah, namimah, akhlak yang buruk dan bermalas-malasan dari ketaatan.

Selasa, 04/06/2019 13:49 0

Khazanah

Hari Ketiga puluh Ramadhan, Kisah Keteguhan Umat Islam Mempertahankan Andalus

Pada tanggal 30 Ramadhan 636 H adalah momen bangkitnya panglima muslim Andalus, Muhammad bin Yusuf. Pada saat itu, dihimpun sisa-sisa kekuatan kaum muslimin di Andalus guna memerangi Spanyol, juga mendirikan negara bagi dirinya.

Selasa, 04/06/2019 10:16 0

Video Kajian

Ust. Miftahul Ihsan, Lc: Bagaimana Jika Puasa Ramadhan Kita Tak Diterima?

KIBLAT.NET- Bagaimana jika puasa sebulan kita selama Ramadhan ini tak ada yang diterima? Simak selengkapnya...

Selasa, 04/06/2019 05:00 0

Close