... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Zona De-Eskalasi Tak Efektif, Turki-Rusia Saling Lempar Tanggung Jawab

Foto: Zona De-Eskalasi Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Rusia mengatakan bahwa Turki bertanggung jawab untuk menghentikan serangan oposisi di provinsi Idlib terhadap target-target sipil dan tentara Negeri Beruang Merah. Hal itu dinyatakan pada Jumat (31/05/2019) sebagai isyarat bahwa Moskow akan terus memberikan dukungan terhadap rezim Suriah untuk melancarkan serangan ke wilayah yang telah disepakati sebagai zona de-eskalasi meski diprotes keras Ankara.

Dalam satu bulan terakhir telah terjadi eskalasi besar-besaran dan paling luas sejak musim panas dalam perang antara rezim Basyar al-Assad dengan pasukan oposisi. Meningkatnya situasi kekerasan ini memicu kekhawatiran akan terjadinya krisis kemanusiaan karena ribuan orang dilaporkan telah bergerak menuju perbatasan Turki untuk mengungsi dan menyelamatkan diri dari ancaman serangan udara.

Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan telah berbicara dengan kolega Rusianya, Presiden Vladimir Putin, sehari sebelumnya bahwa ia ingin ada gencatan senjata di Idlib untuk mencegah terus bertambahnya korban di kalangan warga sipil, dan melonjaknya arus pengungsian ke Turki. Dalam pembicaraan lewat telepon tersebut, Erdogan menambahkan bahwa Suriah membutuhkan sebuah solusi politik. Demikian pernyataan yang dirilis Kantor Kepresidenan di Ankara.

Berulang kali Erdogan telah mengajukan komplain kepada Moskow terkait dukungan negara pewaris ex-Soviet itu terhadap serangan-serangan rezim Damaskus ke Idlib. Provinsi di barat laut Suriah itu kini menjadi benteng terakhir pejuang oposisi.

Di wilayah Atmeh yang berbatasan dengan Turki pada Jumat (31/05/2019) terlihat puluhan hingga ratusan warga melakukan protes. Mereka menuntut diakhirinya serangan udara rezim, dan mendesak pemerintah Turki untuk membuka pintu perbatasan, namun Ankara menolaknya.

BACA JUGA  Patroli Gabungan AS-Turki di Suriah Dimulai

Abu l-Nur, seorang pejabat penanggung jawab kamp pengungsian di Atmeh yang sudah kewalahan menampung banyaknya pengungsi, mengatakan lebih dari 20.000 keluarga saat ini terpaksa tidur di antara pohon-pohon zaitun dan semak belukar di dekat area perbatasan. “Mereka tidak memiliki tempat perlindungan dan air, dan ini di luar batas kemampuan kami. Kami melakukan semua yang kami bisa,” katanya kepada Reuters.

Walau demikian, dalam pernyataannya pada hari Jumat, Kremlin semakin memperjelas posisinya bahwa mereka tetap tidak terpengaruh dengan seruan Erdogan untuk melakukan gencatan senjata. Sebaliknya, Rusia malah menuntut oposisi sebagai pihak yang harus mengimplementasikan gencatan senjata.

Ditanya sejumlah wartawan terkait seruan Erdogan untuk melakukan gencatan senjata, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov mengatakan, “Kami betul-betul memerlukan gencatan senjata di Idlib, dan yang perlu dilakukan bagi para teroris (baca: pejuang oposisi) itu adalah menghentikan serangan terhadap sipil dan sejumlah fasilitas tertentu yang ditempati pasukan kami. Ini adalah tanggung jawab pihak Turki.”

Lonjakan Arus Pengungsi

Sebelumnya Rusia memprotes sejumlah serangan roket dan pesawat tak berawak dari arah Idlib yang menargetkan pangkalan militer dan udara utama Rusia di Hmeymim. Peskov menggambarkan serangan itu sebagai tindakan sangat berbahaya. Namun ia bungkam ketika disinggung mengenai pasukan Assad yang didukung kekuatan udara Rusia harus menghentikan serangan. Peskov pun menyangkal terjadi ketidaksepakatan antara Moskow dan Turki terkait Idlib.

BACA JUGA  Pulangkan Warganya di Suriah, Malaysia Gandeng Intelijen Asing

Situasi di Idlib ini telah meningkatkan ketegangan hubungan antara Turki dan Rusia yang berkepentingan untuk meminimalisir dampak konflik ke negara mereka mengingat kedekatan wilayah Suriah dengan kedua negara itu. Pada bulan September lalu, Rusia yang menjadi sekutu dekat Basyar al-Assad, bersama Turki sepakat membentuk zona de-militerisasi di idlib.

Tetapi Moskow, yang berambisi membantu Assad merebut kembali wilayah yang jatuh ke tangan oposisi, selalu komplain bahwa kekerasan terus meningkat di Idlib, dan menuding pihak oposisi didominasi oleh Jabhah Nusrah telah menguasai wilayah yang luas di provinsi itu.

Sejak pertemuan di Sochi antara pemimpin Turki dan Rusia, ide awal untuk membentuk zona de-militerisasi dan de-eskalasi nampaknya tidak bisa berjalan mulus. Kremlin menyalahkan Ankara dan menuding belum berbuat banyak yang menjadi bagian tanggung jawabnya. Sebaliknya, Turki yang mengkhawatirkan arus gelombang pengungsi dari Idlib terus mendesak pihak-pihak untuk menahan diri, termasuk melakukan gencatan senjata.

Pekan lalu PBB mengatakan lebih dari 200.000 orang mengungsi sejak pemerintah Suriah dukungan Rusia mulai melancarkan serangan pada akhir bulan April. Sementara data organisasi medis dan kemanusiaan PBB (UOSSM) menyebut angka 300.000 orang. Kebanyakan mereka adalah para pengungsi yang sudah berulang kali mengungsi sejak awal perang karena berpindahnya area pertempuran maupun karena bergesernya garis depan pertempuran.

Sumber: Reuters
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Info Event

7 Tahun LDK Fokmista Rutin Salurkan Santunan Untuk Ratusan Anak Yatim di Bali

Kegiatan penyaluran santunan itu bertema "Having Fun For Ramadhan Ke-7, Buka Puasa dan Santunan Bersama 100 Anak Yatim Piatu"

Ahad, 02/06/2019 21:19 0

Video Kajian

Ust. Abdush Shomad, S.Pd.I: Kenapa Harus ada Ramadhan?

KIBLAT.NET- Kenapa Allah menciptakan Bulan Ramadhan? Apa tujuan dibuatnya bulan Ramadhan? Simak di sini! Editor:...

Ahad, 02/06/2019 17:30 0

Indonesia

Majelis Hukum dan HAM Muhammadiyah Siap Advokasi Mustofa Nahra

"Secara resmi belum, karena dia sudah punya pengacara, tapi istrinya menelepon saya mungkin Muhammadiyah bisa membantu dampingi kasus hukum nya (Mustofa)," ujar Ghufroni.

Ahad, 02/06/2019 12:49 0

Video Kajian

Ust. Miftahul Ihsan, Lc: Keutamaan Surat Al Fatihah

KIBLAT.NET- Sebagai surat pembuka di Al Quran, apa sajakah keutamaan Surat Al Fatihah? Yuk simak...

Ahad, 02/06/2019 11:18 0

Khazanah

Hari Kedua puluh delapan Ramadhan, Disyariatkannya Kewajiban Zakat Fitrah

Pada tanggal 28 Ramadhan 2H, bertepatan dengan 23 Maret 624 M adalah diwajibkannya sakat fitrah, yang merupakan salah satu syiar (simbol kemuliaan ) bulan Ramadhan.

Ahad, 02/06/2019 10:57 0

Opini

Sepenggal Kisah Kepemimpinan Abu Bakar Ashshiddiq

Abu Bakar Ashshiddiq ra Siapa yang tak kenal sosok sahabat Rasululllah Muhammad SAW, Abu Bakar...

Sabtu, 01/06/2019 22:40 1

Indonesia

Jaring Masukan terkait RUU P-KS, DPR Bikin Lomba Orasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) melalui Radio Parlemen, Bagian Televisi dan...

Sabtu, 01/06/2019 22:01 0

Indonesia

Muhammadiyah Siapkan Bantuan Hukum untuk Korban Aksi 21-22 Mei

Muhammadiyah Buka Bantuan Hukum Pasca Aksi 21 Mei KIBLAT.NET, Jakarta – Pengurus Pusat Muhammadiyah membuka...

Sabtu, 01/06/2019 21:44 0

Video Kajian

Ust. Salafuddin: Mana yang Lebih Utama? Khatam atau Kaji Al Quran?

KIBLAT.NET- Bulan Ramadhan adalah bulannya Al Quran, banyak Umat Islam yang berlomba untuk mengkhatamkan Al...

Sabtu, 01/06/2019 17:30 0

Indonesia

Pemprov DKI Jalankan Mudik Gratis, Pendatang: Terima Kasih, Pak Anies

KIBLAT.NET, Jakarta – Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta mengadakan Jakarta Mudik Bersama untuk yang pertama kalinya....

Sabtu, 01/06/2019 16:33 0

Close