... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Saat Tangis Rakyat Dibayangi Humanis Aparat

Foto: Bentrokan di dapan Bawaslu dalam aksi protes kecurangan Pemilu 2019 yang berujung ricuh pada 21-22 Mei (Jundii/Kiblat)

KIBLAT.NET – Tanggal 21-22 Mei 2019 barangkali sulit dilupakan oleh masyarakat Indonesia. Di tanggal itu, aksi menolak pemilu curang yang awalnya damai lalu menjadi ricuh. Entah siapa dalangnya, yang jelas sudah ada korban jiwa.

Menurut Tim Advokasi Korban Tragedi 21-22 Mei, 9 orang dinyatakan meninggal dunia dan masih kemungkinan bertambah. Akibat meninggalnya pun terbilang misterius karena ditembus timah panas. Pasca kericuhan, Komnas HAM menerima aduan 70 orang yang belum diketahui rimbanya.

Selain dipaparkan fakta korban meninggal dari kalangan rakyat, publik juga dijejali dengan postingan yang menjunjung sisi humanis dari pihak aparat. Jika anda aktif di media sosial (terlebih instagram), barangkali anda akan sering melihat dua personil Brimob yang saling bersandaran. Lalu salah satu di antara mereka sedang video call dengan buah hati.

Belum lagi video dan meme yang mengglorifikasi kepolisian. Mereka yang tidur di jalanan di sela-sela tugas, mengaji, dipotret lalu diberi kata-kata pemanis yang bertujuan menimbulkan empati. Hingga kini, postingan seperti itu masih bersliweran di media sosial.

Sikap untuk menunjukkan keseharian aparat misalkan berjaga, tidur di jalan, mengaji memang tidak masalah. Akan tetapi jika berlebihan tentu kurang bijak jika di sisi lain foto yang ditonjolkan ada darah yang tertumpah.

Di balik foto yang terlihat humanis, ada ibu yang tak berhenti menangis. Ada seorang bapak yang rela kesana-kemari melakukan pengaduan karena anaknya menjadi korban. Apalagi, mereka tidak mengetahui siapa yang melakukan tindakan tersebut.

BACA JUGA  Penjelasan Lengkap Ustadz Abdul Somad Soal Ceramah Tentang Salib yang Viral

Masyarakat juga dibuat heran saat Presiden Jokowi yang mengundang korban penjarahan saat riduh 21-22 Mei ke Istana Negara. Padahal, ada pula warga yang meninggal tanpa tau sebab musabab. Tapi belum terdengar presiden memanggil keluarga mereka.

Presiden memang bertugas untuk mengayomi masyarakat. Tapi, seharusnya semua masyarakat. Tidak dibeda-bedakan, siapapun yang menjadi korban, negara tetap melakukan perlindungan. Karena memang tujuan negara adalah melindungi segenap tumpah darah warga.

Sikap Kemensos yang masih melakukan pertimbangan untuk korban tewas juga dipertanyakan. Jika memang ingin pengkajian soal pemberian santunan, seharusnya mereka mendatangi satu persatu korban. Keluarga mereka ditanya, apakah terlibat kericuhan. Itu jika mereka sungguh-sungguh ingin menjamin kesejahteraan masyarakat.

Jika diperhatikan, saat ini seakan ada kontradiksi dari aparat dan pemerintah menyikapi peristiwa 21-22 Mei. Aparat dan korban penjarahan dijunjung sedemikian rupa, namun korban meninggal ditinggal begitu saja. Adanya statemen polisi yang mengatakan pihaknya tidak menggunakan peluru tajam seolah membuat polisi diam melihat korban meninggal.

Sikap yang cenderung membeda-bedakan semacam ini hanya membuat polarisasi di masyarakat menguat. Pendukung pemerintah menganggap hilangnya nyawa warga sebagai hal yang biasa, bahkan cenderung menyalahkan tanpa mengetahui fakta sebenarnya. Sementara, oleh para oposan tindakan pemerintah semakin membuat marah.

Maka, sebaiknya pemerintah dan kepolisian bersikap adil saat menyikapi kejadian yang cenderung sensitif. Jangan sampai tangis rakyat dibayangi humanis aparat. Akhirnya, nyawa pun menjadi tidak berharga hanya karena persoalan junjungan di Pilpres.

BACA JUGA  Hukum Membagikan Daging Kurban dalam Kondisi Sudah Dimasak

Penulis: Taufiq Ishaq

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Saat Tangis Rakyat Dibayangi Humanis Aparat”

  1. Brian

    Hahahah….
    Mungkin mmg itu yg diajarkan di kepolisian, wong yg ketembak cuma “8 org koq”…. Santai aja laaah.

    Justru yg diundang mmg harus korban penjarahan, itu “contoh yg sempurna”…orang yg merasa gak pas belum belajar…. (belajar mengeraskan hati spt batu bung).

    Dan memang disaat ada yg berlumuran darah, harus selfie utk menunjukkan kalau itulah kepolisian…. Hehehe..

    Jangan heran, memang itu yang “BENAR”, justru yg gak begitu belum pintar…. Hehehe…blm keras hatinya…

    (Hasbunallah wanikmal wakil, nikmal maula wanikman natsir. Ya Allah ampuni saya yg belum bisa berbuat banyak atas kejadian ini…..)

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Ust. Salafuddin: Apakah Pacaran Membatalkan Puasa?

KIBLAT.NET- Tak bisa dipungkiri, banyak sekarang kawula muda muslim yang berpacaran. Apakah berpacaran dapat membatalkan...

Jum'at, 31/05/2019 17:30 0

Indonesia

Muhammadiyah Tetapkan 1 Syawal 1440H Jatuh pada 5 Juni 2019

Muhammadiyah berharap keputusan ini tak menimbulkan polemik di antara umat Islam.

Jum'at, 31/05/2019 16:27 0

Suriah

Gadis Kecil Ini Minta Dunia Selamatkan Anak-anak dari Krisis Suriah

Bana Alabed, seorang gadis Suriah berusia 9 tahun dari Aleppo, menekankan perlunya "tindakan segera" untuk menyelamatkan anak-anak di negaranya dan di seluruh dunia dari momok perang.

Jum'at, 31/05/2019 15:30 0

Indonesia

KPU Matangkan Persiapan Hadapi Sidang Gugatan Pemilu 2019 di MK

KPU siapkan dokumen dan rekrut kuasa hukum hadapi gugatan Prabowo.

Jum'at, 31/05/2019 14:59 0

Indonesia

Resmi: Ditemukan Luka Tembak di Tubuh Harun Ar-Rasyid

Harun Ar-Rasyid merupakan korban tewas akibat kericuhan aksi 22 Mei lalu.

Jum'at, 31/05/2019 14:25 0

Indonesia

Hari Jadi Kabupaten Boyolali Barengi Idul Fitri, PNS Tak Wajib Ikut Upacara 

Nantinya, PNS yang tidak bisa hadir dimohon untuk memberitahu atau izin terlebih dahulu.

Jum'at, 31/05/2019 14:18 0

Artikel

John Walker Lindh: Dokumen FBI (Bag-2)

John Walker Lindh, warga AS yang pernah bertempur di pihak mujahidin di Afghanistan baik sebelum maupun sesudah 11/9 telah bebas dari penjara pada hari Kamis (23/05) pekan lalu.

Jum'at, 31/05/2019 14:09 0

Indonesia

Elemen Umat Islam Keberatan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Boyolali Barengi Idul Fitri

Pemerintah Kabupaten Boyololi akan memperingati hari jadi ke-172. Peringatan itu bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1440H yang jatuh tanggal 5 Juni 2019.

Jum'at, 31/05/2019 13:30 0

Timur Tengah

Raja Salman Serukan Sikap Tegas Hadapi Ancaman Iran

Raja Saudi Salman mengatakan, bahwa pengembangan kemampuan nuklir dan rudal Iran dan ancamannya terhadap pasokan minyak global menimbulkan risiko bagi keamanan regional dan internasional.

Jum'at, 31/05/2019 12:26 0

Suriah

Pemerintah Idlib Fasilitasi Media-media Internasional Liputan di Front Pertempuran

"Kami menyediakan semua fasilitas, perlindungan, dan layanan yang diperlukan untuk memastikan berfungsinya pekerjaan mereka dengan benar dan untuk menyampaikan gambaran sebenarnya dari wilayah-wilayah yang dibebaskan, dan semua hal disediakan secara gratis," kata Al-Ahmad.

Jum'at, 31/05/2019 11:08 0

Close