... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

John Walker Lindh: Dokumen FBI (Bag-2)

Foto: John Walker Lindh

John Walker Lindh, warga AS yang pernah bertempur di pihak mujahidin di Afghanistan baik sebelum maupun sesudah 11/9 telah bebas dari penjara pada hari Kamis (23/05) pekan lalu. Di akhir 2001, Lindh bersama sejumlah pejuang lainnya ditangkap dan menjadi tawanan Aliansi Utara setelah melewati beberapa hari pertempuran, kemudian dipindahkan ke penjara Qala-i-Janghi dekat kota Mazar-e-Sharif. Seorang agen CIA, Johnny “Mike” Spann, sempat menginterogasi Lindh tidak lama sebelum terjadi perlawanan oleh para tawanan yang menyebabkan perwira CIA itu tewas terbunuh.

Nama Lindh langsung viral dengan julukan sebagai “Taliban Amerika” setelah ia ditahan oleh otoritas AS. Kini setelah Lindh bebas mulai muncul opini bahwa julukan “Taliban Amerika” dianggap kurang tepat. Di samping bahwa Lindh telah mengakui bertempur di pihak Taliban, saat itu ia juga merupakan bagian dari sayap utama pasukan tempur al-Qaidah sebelum serangan 11/9.

Sebagai bagian dari kesepakatannya dengan pemerintah, Lindh mengaku bersalah atas dua dakwaan saja, termasuk dakwaan terkait dukungannya terhadap Taliban. Tetapi jelas sekali dari hasil wawancara dengan CNN bahwa kisah Lindh lebih dari itu. Belum diketahui mengapa pemerintah Amerika memutuskan untuk tidak memperluas dengan dakwaan lain sebagaimana tertera dalam surat dakwaan sebelumnya, seperti aktifitas Lindh di kamp atau muaskar al-Faruq dan juga momen pertemuannya dengan Usamah bin Ladin. Para pengacara dan pembela Lindh sebelumnya menentang cara perlakuan otoritas Amerika terhadap kliennya di masa-masa awal penahanan, termasuk tidak setuju adanya surat pernyataan tertulis FBI terkait kasusnya itu. Namun dalam dakwaan resminya, sebagaimana isi surat tertulis FBI yang berfungsi sebagai dokumen pendukung, berisi hal-hal detil yang membenarkan, atau bisa dibuktikan oleh sumber-sumber lain termasuk di antaranya resume wawancara Pelton dengan John Walker Lindh pada awal bulan Desember 2001.

Surat pernyataan tertulis FBI telah diajukan oleh seorang agen khusus yang sebelumnya sudah membaca laporan yang juga telah diajukan oleh agen khusus lainnya. Agen FBI yang dimaksud itu adalah orang yang mewawancarai Lindh pada tanggal 9 atau 10 Desember 2001, setelah CNN menayangkan interview-nya dengan Pelton.

BACA JUGA  Sehari Pasca Reuni 212, Ada Ledakan Granat Menyasar Prajurit TNI di Monas

Lindh diduga pernah menyampaikan kepada FBI bahwa ia terlebih dahulu bergabung dengan kamp paramiliter di Pakistan milik Harakatul Mujahidin (HUM) yang notabene masuk dalam daftar organisasi teroris versi AS, dan sekutu dekat al-Qaidah. Lindh punya kesempatan bertempur untuk HUM di Kashmir, namun ia memutuskan untuk bergabung dengan Taliban. Setelah mendapatkan surat rekomendasi dari HUM, dan setelah disarankan untuk mengikuti training lanjutan di Afghanistan, Lindh kemudian ikut tadrib di kamp al-Faruq. Kepada agen FBI, Lindh mengatakan bahwa ia tahu saat itu Usamah bin Ladin & al-Qaidah memusuhi Amerika & pemerintah Arab Saudi.

Usamah bin Ladin mengunjungi kamp al-Faruq sebanyak tiga hingga lima kali dan memberikan kuliah dengan materi mengenahi situasi lokal, isu-isu politik, kisah-kisah pertempuran saat jihad melawan Soviet, dan lain-lain. Setidaknya ada satu kali pertemuan ketika Lindh bersama sejumlah pejuang lainnya yang ikut berlatih berbincang langsung dengan Usamah bin Ladin selama kurang lebih lima menit, dan Bin Ladin meyampaikan terima kasih kepada mereka karena ikut berjihad.

Dalam satu catatan, Lindh diberikan beberapa opsi: melanjutkan training di kamp al-Faruq, ikut training di salah satu muaskar Bin Ladin lainnya, bertempur di garis depan bersama al-Qaidah melawan Aliansi Utara, atau melakukan serangan ala teroris.

Yang menarik, menurut dokumen pernyataan tertulis FBI, Lindh menjelaskan bahwa ia pernah berjumpa Abu Muhammad al-Masri, seorang pemimpin senior al-Qaidah yang lama menjadi target buruan AS karena diduga terlibat serangan terhadap kedutaan AS di Kenya dan Tanzania pada tahun 1998. Hingga saat ini al-Masri masih bebas. Menurut sumber Dewan Keamanan PBB, al-Masri masih mengorganisir jaringan global al-Qaidah dari dalam negeri Iran. Ketika berada di muaskar al-Faruq, al-Masri bertanya kepada Lindh dan sejumlah pejuang asing lainnya apakah mereka berminat untuk melakukan perjalanan keluar Afghanistan untuk melancarkan serangan terhadap target-target tertentu AS dan Israel.

BACA JUGA  Pria Ini Rela Nge-camp di Monas Demi Tepat Waktu Ikuti Reuni 212

Lindh menolak tawaran untuk melakukan serangan di luar negeri Afghanistan, termasuk peluang untuk mendapatkan latihan tambahan, dan ia lebih memilih bertempur di garis depan. Seorang pengamat terorisme Rohan Gunaratna memberikan pandangannya terkait hal ini. Gunaratna mengecilkan peran Lindh di al-Qaidah, dan mengabaikan fakta bahwa mayoritas yang pernah ikut latihan al-Qaidah diproyeksikan untuk bertempur, bukan melakukan aksi terorisme internasional. Setelah meng-interview Lindh, Gunaratna mengkonfirmasi bahwa Lindh dilatih di kamp al-Faruq, dan ia menolak tawaran al-Masri. Ini memperkuat dokumen tertulis FBI yang memiliki bagian detil yang sama.

Dokumen tertulis FBI juga memuat dugaan terkait bagian detil ini berdasarkan wawancara Lindh dengan seorang agen khusus: “Dalam beberapa pekan pertama sejak kedatangan Lindh di al-Faruq sekitar awal Juni 2001, Lindh tahu dari beberapa instruktur atau mudaribnya bahwa Usamah bin Ladin telah mengirim beberapa orang pejuang ke AS untuk melancarkan sejumlah operasi serangan.

Hal ini masuk akal mengingat Bin Ladin diketahui pernah “keceplosan.” Komisi 11/9 menemukan bahwa dalam satu ceramahnya, Bin Ladin meminta kepada para mutadaribin atau peserta training untuk mendoakan bagi keberhasilan misi serangan yang melibatkan 20 pejuang berani mati.

Pasca serangan 11/9, Lindh diduga pernah menyampaikan kepada FBI tentang sesuatu yang sudah dimakluminya dan juga oleh teman-temannya bahwa Usamah bin Ladin telah memerintahkan serangan tersebut, dan akan diikuti dengan serangan-serangan lanjutan. Seluruh muaskar atau kamp milik Bin Ladin kemudian dikosongkan, karena para pejuang mujahidin dikirim ke garis depan untuk melindungi Bin Ladin, dan untuk membuat sistem pertahanan dari kemungkinan serangan AS. Saat itu Lindh masih berada di posisi pertempuran di Takhar sebelum ia dan pasukannya melakukan reposisi.

Sumber: TLWJ
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Elemen Umat Islam Keberatan Peringatan Hari Jadi Kabupaten Boyolali Barengi Idul Fitri

Pemerintah Kabupaten Boyololi akan memperingati hari jadi ke-172. Peringatan itu bertepatan dengan hari raya Idul Fitri 1440H yang jatuh tanggal 5 Juni 2019.

Jum'at, 31/05/2019 13:30 0

Timur Tengah

Raja Salman Serukan Sikap Tegas Hadapi Ancaman Iran

Raja Saudi Salman mengatakan, bahwa pengembangan kemampuan nuklir dan rudal Iran dan ancamannya terhadap pasokan minyak global menimbulkan risiko bagi keamanan regional dan internasional.

Jum'at, 31/05/2019 12:26 0

Suriah

Pemerintah Idlib Fasilitasi Media-media Internasional Liputan di Front Pertempuran

"Kami menyediakan semua fasilitas, perlindungan, dan layanan yang diperlukan untuk memastikan berfungsinya pekerjaan mereka dengan benar dan untuk menyampaikan gambaran sebenarnya dari wilayah-wilayah yang dibebaskan, dan semua hal disediakan secara gratis," kata Al-Ahmad.

Jum'at, 31/05/2019 11:08 0

News

Barat Terjunkan Pasukan Khusus untuk Buru Pemimpin ISIS

Koran Inggris, The Mirror melaporkan bahwa pasukan Inggris yang dikenal sebagai SAS (Special Air Service) bergabung dengan pasukan AS dalam mencari al-Baghdadi.

Jum'at, 31/05/2019 10:56 0

Khazanah

Hari Kedua puluh enam Ramadhan, Berdirinya Khilafah Utsmaniyah

Pada tanggal 26 Ramadhan 923 H, setelah kemenangan sultan Utsmani Salim atas Dinasti Mamluk yang menguasai Syiria, Palestina dan Mesir, yaitu masuknya Mesir dan Syam ke dalam pangkuan Utsmani.

Jum'at, 31/05/2019 10:00 0

Suriah

Hassan Shufan Mundur dari JWT dan Ahrar Al-Syam

Dia menambahkan bahwa dia akan tetap menjadi pejuang "tanpa menjadi anggota faksi atau kelompok apa pun."

Jum'at, 31/05/2019 09:56 0

Fikih

Zakat Fitrah dengan Uang dalam Perspektif Mazhab Syafi’i

Namun mereka berbeda pendapat dalam masalah penunaian zakat fitrah, apakah boleh dibayar dengan uang ataukah tidak?

Jum'at, 31/05/2019 09:43 0

Amerika

AS dan Rusia Bahas Tahap-tahap Pembebasan Suriah dari Blokade Dunia

Moskow dan Washington saling meminta pandangan ke arah pendekatan bertahap, selangkah demi langkah, dalam rangka mengakhiri krisis Suriah. Akan tetapi, permasalahan ini butuh pengambilan keputusan sulit.

Jum'at, 31/05/2019 08:36 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Idul Fitri 1440 H: Madrasah Ramadhan, Membentuk Pribadi yang Tunduk Syariat Allah

Khutbah Idul Fitri 1440 H: Madrasah Ramadhan, Membentuk Pribadi yang Tunduk Syariat Allah

Jum'at, 31/05/2019 08:33 1

Video Kajian

Ust. Miftahul Ihsan, Lc: Bacaan Quran Bagus Saja Tak Cukup

KIBLAT.NET- Membaca Al Quran dengan bacaan dan irama yang bagus saja tak cukup. Lalu, apa...

Jum'at, 31/05/2019 05:00 0

Close