Para Politisi Itu, yang Mana yang Tidak Machiavelli?!

KIBLAT.NET – Ketika membicarakan ilmu dan filsafat politik, tidak bisa tidak kita harus menyebut nama Niccolo Machiavelli. Karena memang tidak ada tokoh filsafat politik yang lebih kontradiktif dan lebih diperbincangkan dibanding dirinya.

Machiavelli dalam satu sisi, namanya selalu bersinonim dengan kejahatan dalam berpolitik. Bahkan pada titik paling ekstrim, ia biasa dicela sebagai guru terbaik perihal penipuan, pengkhianatan, kelicikan,  dan kebrutalan dalam berpolitik. Namun di lain pihak, dirinya bisa saja dipuji sebagai pahlawan Italia yang bersemangat, yang mengabdikan dirinya bagi kebaikan umum warga negaranya, sebagai demokrat besar, dan sebagai pemikir yang memberi sumbangsih besar pada kebebasan manusia untuk berekspresi di atas panggung perpolitikan.

Adanya pandangan bahwa Machiavelli adalah sinonim kejahatan politik sangatlah wajar. Terlebih ketika para diktator-diktator yang termasyhur di muka bumi ini menyanjungnya. Sebutlah Napoleon Bonaparte yang menyatakan bahwa karya-karya Machiavelli adalah satu-satunya karya politik yang layak dibaca. Benito Mussolini bahkan menganggap penikir kelahiran Florentine ini sebagai godfather spiritual dan intelektual. Begitu pun dengan Hitler yang dikabarkan menyimpan The Princes karya Machiavelli di samping tempat tidurnya.

Latar Belakang Machiavelli

Namun dari sekian pembicaraan mengenai Machiavelli, pembicaraan mengenai personal Machiavelli serta latar belakang karyanya sangat jarang. Tidak banyak yang tahu bahwa Machiavelli adalah pribadi yang tulus, jujur, dan menurut standar moralitas di zamannya kehidupan pribadinya bisa dikatakan sempurna tanpa cacat.

BACA JUGA  Yuk, Ikuti! Serial Webinar: Kiat Selamat Meski Hirup Udara Hoaks

Pada tahun 1498, Machiavelli ditunjuk sebagai sekretaris utama Republik Florentine, jabatan yang dijalaninya selama empat belas tahun. Jabatan tersebut membuatnya sering dikirim ke luar negeri, yang membuatnya berjumpa dengan tokoh-tokoh politik seperti Louis XII dari Perancis dan Maximillian dari Jerman. Kesempatan dan pengalaman tersebut memperluas wawasannya serta memperdalam pemikiran serta pandangannya dalam berpolitik.

Ketika itu, semenanjung Italia masih terbagi menjadi lima Negara kota yang terpisah: Milan, Venice, Naples, Negara-Negara Paus, dan Florentine. Masing-masing Negara kota tersebut senantiasa bertikai memperebutkan kontrol atas masing-masing wilayah. Untuk mempertahankan diri dari serangan Negara kota lainnya, mereka biasanya bersekutu dengan salah satu kekuatan besar Negara utama seperti Perancis, Jerman, dan Spanyol. Florentine sendiri bersekutu dengan Perancis.

Namun ketika Perancis diusir dari Italia oleh kekuatan lain pada tahun 1512, masuklah dinasti Medici dan mengakhiri pemerintahan republik di Florentine. Machiavelli pun ditahan dalam operasi bersih-bersih Medici, dan setelah menjalani hukuman singkat dia diasingkan ke tanah kelahirannya dekat San Casciano. Di sanalah, karya-karya besarnya lahir, termasuk diantaranya The Prince, Discourses, dan A History of Florence. Semenjak itu, dia tidak pernah lagi benar-benar kembali ke dunia politik.

Machiavelli hidup pada era dimana moralitas politik mencapai titik paling rendah, individu dan Negara bersaing memperebutkan kekuasaan. Di tengah kondisi internal semacam itu, Negara mendapat ancaman eksternal dari Negara-Negara besar. Kondisi ini membuat para politisi Negara-Negara kota tersebut menjadi sangat ahli dalam menggunakan tipu daya dan diplomasi, berusaha untuk saling menjatuhkan antara Negara kota dengan Negara kota lainnya. Machiavelli berkesempatan mengamati semua itu secara langsung, dia menyaksikan secara langsung Cesare Borgia yang tidak ambil pusing dengan pembunuhan terhadap saudara dan saudara iparnya demi kepentingannya sendiri. Di atas segala intrik dan realitas kekerasan politik inilah filsafat politik Machiavelli dibangun.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat