Para Pemimpin Faksi Islamis Suriah Sepakat Bentuk Koordinasi Militer

KIBLAT.NET, Idlib – Petinggi faksi oposisi Islamis yang aktif di Suriah utara, Senin (27/05/2019), dilaporkan menggelar pertemuan untuk membahas situasi terakhir di wilayah tersebut. Ini merupakan pertemuan pertama antara pemimpin pejuang Suriah setelah perselisihan panjang antara mereka.

Pertemuan itu terlihat dalam sebuah foto yang diunggah di internet, seperti dilansir Arabi21.com. Dalam gambar tersebut, para pemimpin faksi duduk bersama dalam satu majelis. Pemandangan yang sangat langka dalam beberapa tahun terakhir.

Keterangan foto itu menunjukkan bahwa pertemuan ini terjadi pada Ahad malam. Para komandan faksi itu membahas perkembangan di lapangan, khususnya di Kafr Nabudah. Pertempuran sengit berlangsung di kota itu antara pejuang dan militer Suriah, setelah militer rezim untuk kedua kalinya berhasil merebut kota strategis tersebut.

Foto pertemuan tersebut menyebar di saat para pejuang di lapangan menghadapi sengitnya serangan militer Suriah dan Rusia untuk mempertahankan sebagian Kafr Nabudah.

Dalam foto itu terlihat Abu Muhammad al-Jaulani (HTS), Jaber Ali Pasha (Ahrar Syam), Abu Saleh Tahhan (Jaisyul Ahrar), Abu Adnan al-Zabadani (Ahrar Syam), Hassan Soufan (Ahrar Syam), Ahmed Issa al-Sheikh (Suqour Syam), dan Jami Saleh (Jaisyul Izzah). Sejumlah komandan lapangan juga berda dalam pertemuan itu.

Menurut keterangan sumber Arabi21.com di Idlib, pertemuan bersejarah ini mengisyaratkan kembali bersatunya ketiga faksi tersebut setelah perselisihan selama bertahun-tahun antara mereka.

Sumber Arabi21.com di Idlib yang meminta tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa para komandan yang berkumpul itu sepakat menyatukan upaya dan operasi militer untuk menghalau bersama serangan militer Suriah. Para komandan faksi sedang membahas operasi militer dari bertahan ke menyerang.

Sumber itu menunjukkan bahwa faksi-faksi saat ini sedang berupaya membentuk koordinasi di lapangan. Upaya ini dalam rangka menghindari kekalahan seperti di Ghutah Damaskus, di mana saat itu rezim Assad dan Rusia memanfaatkan perselisihan internal untuk menghabisi faksi-faksi pejuang.

Kesepakatan lain yang dihasilkan, tidak menerima segala bentuk perjanjian dan gencaan senjata dengan rezim. Selama ini, rezim tidak komitmen dengan segala perjanjian yang disepakati. Rezim justeru memanfaatkan kesepakatan itu meraih kemajuan di lapangan dengan didukung usaha diplomatik Rusia.

Sumber: Arabi21.com
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat