... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Para Penjelajah dan Rempah-Rempah Penjajahan

Foto: Rempah-rempah penjajahan.

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblat.net

”Siapa pun yang menguasai Malaka dapat mencekik mati Venesia.” – Tome Pires

KIBLAT.NET – Bulan Ramadhan sedang kita jalani. Nyatanya, meski orang berpuasa bisnis kuliner di bulan ini tak meredup, malah semakin semarak. Bulan puasa membuka peluang bagi pedagang takjil dadakan. Satu lagi yang tetap berjaya adalah pedagang masakan padang. Entah rumah makan atau restoran padang mahal, semua tetap laris. Hanya jam bukanya saja yang menyesuaikan orang berpuasa.

Siapa dapat menolak lezatnya masakan padang? Terlebih hidangan rendang. Hidangan ini memang lekat di lidah siapa pun. Rendang, konon sebenarnya pengucapan yang keliru. Yang benar adalah Randang.

Rendang, maksud saya Randang, bukan sekedar kuliner tetapi bagian dari proses budaya yang filosofinya mengeratkan. Namun siapa sangka, akibat perbedaan pandangan politik, randang tempo hari malah hendak diboikot. Meski gerakan ini diragukan konsistensinya, nyatanya sejak dahulu makanan pun tak lepas dari soal politik. Salah satunya adalah bumbu yang menjadi bagian dari masakan nusantara, yaitu rempah-rempah.

Rempah adalah sebutan yang mengelompokkan beberapa macam tanaman seperti jahe, lada, lengkuas, kayu manis dan lainnya. Rempah di masa lalu begitu penting hingga mengguncang kehidupan dunia.

Latar belakangnya tentu saja jelas. Rempah-rempah adalah komoditas yang mahal. Firaun alias Ramses II hidungnya dijejali biji lada untuk mengawetkan jenazahnya. Belakangan diketahui bahwa rempah-rempah lain juga ditemukan dalam tubuhnya. Soal mengawetkan jenazah ini ternyata bukan hanya tradisi mesir kuno, tetapi bahkan hingga abad pertengahan di Eropa. (Jack Turner: 2011)

Jenazah para bangsawan seperti Kaisar Otto I jenazahnya juga dibumbui dengan rempah-rempah. Sayangnya rempah bukan saja mahal tetapi sulit dicari bagi bangsa Eropa. Orang Eropa hanya memiliki garam, cuka dan anggur untuk bahan pengawet. Oleh karena itu jika hendak mengawetkan jenazah agar bisa sedikit bertahan lama, tidak membusuk sebelum dikubur, maka hendaklah jenazah yang malang itu direbus dengan air mendidih. (Jack Turner: 2011)

Proses mumifikasi menggunakan rempah.

Hal ini yang dilakukan terhadap jenazah Uskup Reignald dari Cologne, Jerman pada tahun 1167. Sayangnya cara ini sangat merepotkan. Perlu kuali yang sangat besar untuk merebus tubuh manusia. Belum lagi jenazah yang direbus akhirnya rusak dan hanya menyisakan tulang dan kaldu.

Orang Asia tentu saja beruntung, karena dekat dengan sumber rempah-rempah. Bagi orang Asia, makanan berbumbu menjadi sangat nikmat. Ragam rempah menghasilkan rasa dan aroma yang bervariasi. Namun malang bagi orang Eropa, semua itu tak tersedia di negeri mereka.

Tak mengherankan jika masakan Eropa tanpa rempah pada masa lalu begitu hambar. Di abad pertengahan, rempah-rempah menjadi begitu bernilai sehingga hanya orang-orang kaya dan bangsawan saja yang mampu mengkonsumsinya.

Lain halnya bagi bangsa Arab. Sejak kemunculan Islam, para pedagang Arab mengambil alih peran Romawi dalam menguasai perdagangan rempah. Mereka berinteraksi dengan pedagang rempah dari India dan timur asia sehingga memperoleh akses lebih mudah terhadap rempah.

Para pedagang muslim bukan saja menjadi pintu masuk bagi akses rempah ke bangsa Eropa, tetapi juga memberi akses bagi pengetahuan medis termasuk yang memakai rempah-rempah.Ibnu Sina dalam karyanya menyebutkan fungsi rempah-rempah sebagai pengobatan. Menurutnya sakit yang disebabkan panas, diobati dengan dingin, begitu pula sebaliknya. Maka itu Ibnu Sina mengelompokkan rempah seperti kayu manis dan pala sebagai obat yang panas.

Melalui ahli medis abad pertengahan Islam, Eropa mewarisi kerangka kerja yang identik dan di sekolah-sekolah medis di Eropa seperti Salerno, Bologna (Italia), Montpellier, Paris (Perancis) karya Ibnu Sina dipelajari. (Jack Turner: 2011)

Begitu besarnya pemanfaatan rempah sehingga ia menjadi bagian dari ritual keagamaan. Kecuali dalam Islam, rempah di berbagai agama lain memainkan peran besar dalam ritual-ritual keagamaan, termasuk dalam agama Kristen.

Generasi kristen awal seperti Tertullian (155-220 M)  menolak pemakaian rempah dalam ritual keagamaan sebab rempah diidentikkan dengan pemujaan berhala. Generasi Kristen awal mengalami persekusi oleh Romawi dan diburu karena kepercayaannya. Mereka diberi kesempatan bertobat oleh penguasa (Romawi) jika mau mengorbankan diri atau membakar dupa atas nama Kaisar Romawi. Hal ini ditolak para penganut Kristen awal. (Jack Turner: 2011)

Mereka yang memilih ikut ‘bertobat’ dan membakar dupa diejek dengan sebutan Turficati (pembakar dupa). Namun penolakan itu tak berlangsung selamanya. Perlahan rempah mulai memasuki kehidupan agama Kristen di abad pertengahan. Aroma rempah tak lagi dianggap aroma pemujaan berhala atau makanan setan. (Jack Turner: 2011) Penulis gereja abad pertengahan melihat rempah-rempah sebagai simbol makna spiritual dalam berbagai bentuk. Di gereja ortodoks Rusia bahkan sampai sekarang memakai rempah-rempah dalam minyak sucinya.

Kolonialis ketika memasuki tanah jajahan merebut semua sumber daya yang ada.

Begitu tingginya permintaan akan rempah tidak diimbangi dengan pasokan yang didapat. Sebagai benua pengimpor rempah, Eropa adalah persinggahan terakhir perjalanan rempah-rempah dari Asia, terutama dari negeri tersembunyi surga rempah-rempah, yaitu Maluku.

BACA JUGA  Seorang Pria Ledakkan 'Bom Bunuh Diri' di Depan Pos Polisi Kartasura

Sejak kemunculan Islam perdagangan rempah dikuasai pedagang Arab dari Mesir menuju ke Eropa. Dari nusantara, rempah kemudian dibawa oleh pedagang Arab melalui Samudera Hindia ke India menyambung ke negeri Arab di Ormuz (Teluk Persia), Jeddah dan laut merah atau ke Afrika timur. Perjalanan rempah dari timur tengah menembus ke Eropa via Venesia (Italia). Pintu gerbang ini yang menjadi jalur rempah menuju eropa selama masa pra Turki Usmani.

Jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani membuat Turki Usmani berkuasa mengendalikan perdagangan rempah ke Eropa. Namun sejak abad ke-15, para penguasa dan pedagang di Eropa mulai mencari-cari jalan memangkas rantai perdagangan rempah dengan menuju ke sumbernya langsung. Hal ini memicu era eksplorasi dan ekspansi yang berujung pada kolonialisme yang brutal di berbagai wilayah di dunia.

Kisah ekspansi brutal ini dimulai dari kisah Christopher Colombus yang legendaris. Colombus atau Christobal Colon tidaklah seharum namanya dalam kisah-kisah sejarah di Amerika Serikat modern. Meski namanya terpatri dalam berbagai tempat di Amerika (Columbia University misalnya), nyatanya Colombus meninggalkan jejak berdarah di benua Amerika. (Tink Tinker dan Mark Freeland: 2008)

Colombus adalah seorang pedagang budak. Profesi itu telah ia jalani sebelum melakukan ekspedisi mencari dunia baru. Dorongan mencari rempah-rempah ke India malah membawa Colombus ke benua baru yang kemudian dikenal sebagai Amerika.

Christopher Columbus, pahlawan atau penjahat?

Kala itu, ekspedisi pelaut Eropa belum membawa mereka sampai ke India, apalagi ke nusantara. Dunia lama Eropa bahkan belum mengenal Benua Amerika.Maka tak mengherankan Colombus menyangka dirinya telah menemui India, negeri penghasil rempah-rempah. (Jack Turner: 2011)

Di sana nafsu Colombus telah membuat 7,5 juta jiwa penduduk asli melayang. Pembantaian, penyiksaan, pemerkosaan dan penculikan penduduk asli menjadi tumbal pertama ekspansi ke dunia baru. (Tink Tinker dan Mark Freeland: 2008)

Colombus memaksa penduduk asli menyerahkan emas secara rutin pada orang-orang spanyol itu. Tanggal 6 Desember 1492, Colombus tiba di Kuba. Catatan perjalanan dengan optimis soal kehadiran tanaman lada. “Semua bermandikan buah, yang diyakini laksamana (Colombus) sebagai rempah-rempah dan lada, namun karena belum matang , ia tidak dapat mengenalinya dengan pasti.” (Jack Turner: 2011)

Optimisme atau lebih tepatnya ilusi tentang rempah-rempah terus memenuhi benaknya, meski tak ada satupun rempah-rempah di sana. Yang mereka temukann di hutan Amerika Tengah adalah vanila dan lada jamaika (pimenta). Rasanya yang ‘nano-nano’ membuat mereka menyangka tanaman itu serupa dengan lada. (Jack Turner: 2011)

Colombus kembali menuju Spanyol. Namun dalam perjalanannya kapalnya berhenti di Portugal. Di sana berita perjalanan Colombus yang (secara keliru) mengaku telah menemukan India dan surga rempah-rempah membuat gempar Raja Portugis, Joao II. Tak ada alasan untuk menolak pengakuan keliru Colombus . Karena belum pernah ada yang tahu lokasi India sebelumnya. (Lawrence A. Coben: 2015)

Pengakuan Colombus segera menjadi konflik politik antara Spanyol dan Portugis. Perebutan wilayah ekspansi segera menyulut konflik yang genting. Hal ini membuat Paus Alexander VI menengahi mereka. Muncullah perjanjian Tordesillas tahun 1493. (Jack Turner: 2011)

Perjanjian Tordesillas menjadi keputusan Paus yang membelah bumi seperti jeruk, dan membagi keduanya untuk Spanyol dan Portugis.Portugis mendapat daratan di sisi Timur dan Spanyol di sisi Barat. Bumi bagaikan milik mereka berdua.

Hal ini memicu persaingan dua kerajaan yang saling berlomba menemukan surga rempah-rempah ke wilayah yang sama sekali belum mereka ketahui. Colombus dengan bodohnya kembali ke Amerika dan berkuasa hingga melakukan genosida terhadap sekitar 7,5 juta penduduk asli di sana.

Portugis menempuh jalurnya sendiri. Setelah perjalanan panjang, Vasco da Gama dari Portugis membawa babak baru dunia perdagangan dan kolonialisme. Vasco da Gama berhasil sampai di Kalikut, India. 30 awak kapal tewas karena penyakit kudis, menyisakan hanya sekitar tujuh atau delapan awak yang sehat di setiap kapal. Kapal ketiga ditinggalkan, Dari 170 yang berangkat, hanya 55 orang yang selamat kembali ke Lisabon, Portugal. (Jack Turner: 2011)

Jalur yang dibuka Vasco da Gama membuat Portugal semakin berekspansi. Mereka segera mencari jantung produksi rempah-rempah di Asia Tenggara. Pelabuhan Malaka-lah target mereka selanjutnya.

Rempah-rempah.

Segera setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis di tahun 1511, membuat mereka menguasai jalur perdagangan rempah-rempah dunia. Malaka adalah titik pertemuan yang dilalui semua rempah-rempah timur yang berlayar menuju Barat. Malaka, adalah pelabuhan terkaya di dunia. Tome Pires (1468-1540), penulis Suma oriental dengan hiperbolis mengatakan,”Siapa pun yang menguasai Malaka dapat mencekik mati Venesia.” (Jack Turner: 2011)

BACA JUGA  Apakah Janin di dalam Kandungan Wajib Dikeluarkan Zakatnya?

Memang, sejak jatuhnya Malaka ke tangan Portugis, para pedagang muslim di nusantara beralih ke pelabuhan-pelabuhan lain seperti di Jawa dan secara tidak langsung membantu mengokohkan pengaruh Islam ke berbagai wilayah di nusantara. Tetapi Malaka adalah teras bagi dunia rempah-rempah dunia yang paling mahal: Cengkih, pala dan bunga pala. Dan Harta karun sebenarnya terletak di timur nusantara, sebuah kepulauan di bawah kekuasaan muslim, bernama Maluku.

Maluku bagi orang Eropa kala itu adalah satu misteri, Letaknya tak diketahui. Namun penguasaan Malaka membuat orang-orang Portugis segera memulai penjelajahan mereka menuju surga rempah-rempah itu. Ekspedisi pertama dimulai ditahun yang sama mereka menguasai Malaka. Antonio de Abreu memimpin perjalanan di bulan Desember 1511 untuk mencari Maluku. (Jack Turner: 2011)

Upayanya tidak sia-sia, ia berhasil menemukan jalan menuju Banda dan mengisi penuh kapalnya dengan pala dan bunga pala. Tak ada ruang untuk cengkih, ia kembali ke Malaka dan menyerahkan kelanjutan ekspedisi kepada Francesco Serrao.

Francesco Serrao berhasil menemukan Ternate pada 1512, dan segera memanfaatkan konflik yang berkecamuk di sana. Ia memihak Sultan Ternate yang berkonflik dengan Sultan Tidore, dua penguasa di jejeran pulau di Maluku. Kisah selanjutnya tentu jelas. Portugis berhasil menancapkan pengaruhnya di Ternate. Namun yang menarik adalah kisah kawan dari Serrao, yaitu Fernando Magellan. Seorang pelarian berkebangsaan Portugis yang kemudian membelot pada Kerajaan Spanyol, saingan berat Kerjaaan Portugis. (Jack Turner: 2011)

Magellan berhasil menuju ke Maluku setelah ia menempuh jalur lain yang sebenarnya telah ditempuh Colombus. Hanya saja Magellan tidak senaif Colombus. Setelah melalui selatan Benua Amerika, ia meneruskan perjalanan berlayar ke arah Barat menyeberangi Samudera Atlantik hingga Pasifik. (Jack Turner: 2011)

Perjalanan Magellan bukannya mulus, Samudera Pasifik (berasal dari kata pasif, yang berarti tenang) menjadi tantangan karena mereka menembus Samudera Pasifik tanpa persiapan dan pengetahuan. Di perjalanan menembus samudera yang begitu luas mereka kehabisan makanan dan akhirnya hanya memakan serbuk gergaji yang dicampur kotoran tikus. (Jack Turner: 2011)

Setelah perjalanan panjang dan lama, termasuk 90 hari berlayar tanpa makanan dan dilanda keputusasaan, mereka tiba di dunia baru yang kini dikenal sebagai Filipina. Magellan tewas dalam pertarungan dengan penduduk asli Filipina. Sisa rombongan ekspedisi Magellan terus berlayar sampai akhirnya budak melayu Magellan, mengenali gunung berapi berbentuk kerucut kembar Ternate dan Tidore. (Jack Turner: 2011)

Juan Sebastian de Elcano adalah orang Spanyol yang meneruskan ekspedisi Magellan. Namanya menjadi mahsyur di mata Kerajaan Spanyol. Ia bukan saja menemukan negeri surga penghasil rempah-rempah, tetapi juga memberi spanyol klaim atas kepulauan itu dengan berpihak pada Sultan Tidore. (Jack Turner: 2011)

Maluku menjadi kekayaan umat Islam yang diperebutkan dua kerajaan besar kala itu, Spanyol dan Portugis. Itupun tak bertahan lama. Pada 1605, benteng Ternate jatuh ke tangan V.O.C. Belanda juga menguasai Sri Lanka sebagai produsen kayu manis dunia. (Jack Turner: 2011)

Selat Malaka pada tahun 1750 M usai ditaklukkan Belanda.

Pada tahun 1641, Malaka jatuh ke tangan Belanda. Imperialisme Belanda lewat V.O.C. segera menjadi penguasa yang memonopoli rempah-rempah. Kolonialisme segera bercokol di bumi penghasil rempah-rempah. Pusat-pusat perdagangan rempah penghasil lada seperti Banten jatuh satu persatu. Aroma rempah-rempah segera membaur dengan amisnya darah. Memakan gelombang melayangnnya nyawa manusia di atas hamparan kolonialisme.

Rempah-rempah sebagai komoditas sangat berharga mulai kehilangan aroma harumya pada abad ke-19 ketika berbagai tanaman rempah mulai berhasil ditanam oleh para kolonialis Eropa di Amerika dan Afrika. Pala berhasil tumbuh pesat di Madagaskar, Pemba dan Zanzibar. Begitu pula di Brazil yang telah menumbuhkan cengkih, lada, kayumanis dan pala. (Jack Turner: 2011)

Selera makan orang Eropa rupanya juga telah berubah. Rempah tak lagi menjadi satu penyedap hidangan spesial. Kehadiran kentang, labu dan tomat sebagai bagian dari santapan orang Eropa mengurangi prestise rempah-rempah. Cabai Amerika yang mudah ditanam mengalahkan pedasnya rasa lada.

Di atas semua itu, dunia menjadi berubah mengikuti kehendak perut. Rempah yang telah membuat Paus membelah bumi seperti jeruk hingga aroma amis darah sebagai nafsu menguasai rempah oleh Colombus hingga Portugis telah tergantikan berbagai komoditas lain. Kopi dan gula menjadi lambang kemakmuran liberalisme ekonomi dan imperialisme. Komoditasnya mungkin saja berubah, tetapi korbannya tetap sama, umat Islam dan kekayaan alam negerinya menjadi rebutan para penjajah, dulu hingga kini.

 

.

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video News

Kerusuhan Aksi Massa 22 Mei 2019, Siapa Bertanggung Jawab?

KIBLAT.NET – Kerusuhan Aksi Massa 22 Mei 2019, Siapa Bertanggung Jawab? Aksi massa menolak Pemilu...

Senin, 27/05/2019 05:07 0

Video Kajian

Ust. Miftahul Ihsan: Cara Sohibul Quran Naik Surga

KIBLAT.NET- Sohibul Quran adalah mereka yang sangat dekat dengan Al Quran. Dan inilah cara mereka...

Senin, 27/05/2019 05:00 0

Video Kajian

Ust. Zamroni: Manfaat Menghayati Sholat

KIBLAT.NET- Sholat hendaknya kita nikmati dan hayati. Namun, Seringkali kita lalai dan tidak khusyu dalam...

Ahad, 26/05/2019 17:30 0

Afrika

Sudan Dukung Arab Saudi Lawan Agresi Iran

Wakil Kepala Dewan Transisi Sudan Jenderal Mohamed Hamdan Daglo telah berjanji untuk mendukung Arab Saudi menghadapi "semua ancaman dan serangan" dari Iran dan milisi Hutsi Yaman.

Ahad, 26/05/2019 17:00 0

India

Modi Kembali Memimpin, Warga India Pesimistis Akan Jaminan Pekerjaan

"Ada begitu banyak orang di Delhi dan persaingannya sangat ketat," kata Ahmed.

Ahad, 26/05/2019 15:54 0

Suriah

Nestapa Hasna Dbeis, Disiksa Rezim Assad dalam Kondisi Hamil

Setelah melahirkan dan membesarkan seorang balita selama empat tahun di penjara Suriah, Hasna Dbeis yang berusia 30 tahun kini bebas.

Ahad, 26/05/2019 15:12 0

Indonesia

Ribuan Pengunjung Padati Area JCC di Hari Terakhir Hijrah Fest Ramadhan 2019

Hijrah Fest Ramadhan 2019 berlangsung pada Jumat hingga Ahad (24-26/05/2019)

Ahad, 26/05/2019 15:10 0

Suriah

Serangan Udara Rusia Bunuh Anak-anak di Kafranbel, Idlib

Pihak militer Rusia mengklaim serangan udara yang terjadi pada Ahad malam di kota Kafranbel provinsi Idlib itu dilancarkan setelah mereka mengidentifikasi sebuah area yang digunakan sebagai tempat peluncuran roket yang menargetkan pangkalan udara penting mereka di Hmeimim.

Ahad, 26/05/2019 12:55 0

Indonesia

Arie Untung Jelaskan Nilai Lebih Hijrah Fest Ramadhan 2019

Setelah sukses dengan Hijrah Fest 2018, Arie Untung selaku founder kembali menggelar acara tersebut pada 2019.

Ahad, 26/05/2019 12:02 0

Indonesia

Begini Penyesalan Felix Siauw Tak Sempat Jenguk Ust. Arifin Ilham Sebelum Wafat

Ustadz Felix menyebut, kepergian Ustadz Arifin Ilham merupakan sebuah musibah yang berkelanjutan.

Ahad, 26/05/2019 11:32 0

Close