... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Media Sosial Kok Dibatasi?

Foto: Media Sosial. (Ilustrasi)

KIBLAT.NET – Pemerintah membatasi layanan media sosial sejak aksi tolak pemilu curang di Bawaslu. Mereka beranggapan bahwa pembatasan ini bertujuan untuk menghilangkah hoaks selama Jakarta belum kondusif.

Akibat dari tindakan ini, warganet banyak memberikan keluhan. Dari mulai susah kirim gambar hingga sulitnya menghubungi keluarga. Wajar saja, media sosial tidak hanya digunakan oleh warga Jakarta tapi mayoritas masyarakat Indonesia.

Medsos  sebenarnya memiliki tujuan untuk mempermudah seseorang untuk berhubungan. Baik saling tukar kabar atau membahas soal bisnis dan pekerjaan. Artinya, media sosial sudah menjadi hal yang sulit ditinggalkan.

Para elit pemerintahan sekarang sepakat untuk membatasi ini karena maraknya hoaks di masyarakat. Terlebih jika sedang terjadi aksi seperti yang berlangsung di Bawaslu.

Memang, dengan pembatasan dari hulu ini otomatis masyarakat akan berpikir ulang ketika ingin menshare informasi. Terlebih dalam bentuk video. Karena keluhan paling banyak adalah sulitnya mengirim dan mendownload video.

Namun, sikap ini juga mendapat kritikan dari berbagai pihak. Kepala Divisi Akses Atas Informasi SAFEnet, Unggul Sagena menilai harus transparan soal pembatasan media sosial. Sebab, perlu ada alasan yang jelas tentang tindakan tersebut.

Lumrah jika para ahli IT bersuara untuk menolak pembatasan ini. Karena tidak ada kejelasan dari pemerintah seberapa efektif tindakan tersebut dalam meminimalisir hoaks. Apalagi, masa berapa lama pembatasan ini belum jelas.

BACA JUGA  Perkuat Jaringan di Timur Tengah, KAMMI Libya Dideklarasikan

Seberapa besar hoaks berkurang dengan cara demikian? Apakah hanya bersifat sementara atau selamanya? Dasar hukumnya apa? Yang paling mendasar, media sosial kok dibatasi? Barangkali, sekelumit pertanyaan itu yang bersarang di kepala masyarakat.

Agaknya terlalu berlebihan jika mengantisipasi hoaks dengan memangkas hulu dari masalah ini. Yaitu media sosial. Penulis sangat yakin, banyak masyarakat yang justru merasakan kerugian. Misalnya mereka harus menginstal berbagai jenis VPN.

UU ITE yang berlaku saat ini seharusnya sudah sangat cukup untuk memberantasa hoaks. Di sana sangat kompleks karena penyebar sudah bisa dipidana. Apalagi polisi sangat mahir dalam menangkap pelaku hoaks.

Tentu pertimbangan efisiensi tidak bisa digunakan. Karena kalau dikalkulasi, lebih banyak masyarakat yang tidak menyebar hoaks daripada penyebar. Bagaimana jika hoaks sudah tersebar? Itu tugas pemerintah untuk menjawab. Bukahkah terlalu repot jika menjawab satu persatu? Itu merupakan tugas mereka. Sesimpel itu sebenarnya.

Terlebih, sosial media merupakan sarana mengamalkan kebebasan berpendapat di Indonesia. Jika ini dibatasi, berapa orang yang kemudian kehilangan hak berpendapat? Ironisnya, negara lah yang membatasi hak ini. Akhirnya, kebijakan tersebut mengingatkan pada era Orde Baru. Jika orde baru yang dibatasi adalah televisi, mungkin di era sekarang yang dibatasi adalah media sosial.

Penulis: Taufiq Ishaq

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Ust. Zamroni: Belajar Maaf dari Rasulullah

KIBLAT.NET- Rasul adalah sosok pemaaf, yuk kita teladani sifat pemaaf beliau. Selengkapnya, simak di sini!...

Jum'at, 24/05/2019 17:30 0

Artikel

Ramadhan dan Tadarus Al-Quran

Di antara amalan yang paling utama pada bulan Ramadhan adalah tadarus Al-Quran. Tadarus Al-Quran adalah aktivitas interaksi dengan Al-Quran, baik dengan membacanya, memahaminya, mengkhatamkannya, mendengarnya, mentadabburinya, menghafalnya dan mempelajarinya.

Jum'at, 24/05/2019 16:30 0

Khazanah

Hari Kesembilan belas Ramadhan, Wafatnya Penakluk Kota Akka, Sultan Muzhaffar

Pada tanggal 19 Ramadhan tahun 587 H, bertepatan dengan hari Jumat, 10 November 1191 H, Sultan Muzhaffar meninggal dunia. Nama lengkapnya adalah Taqiyyuddin Umar bin Syahinsyah bin Ayyub. Ia sangat disayangi oleh pamannya, Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Jum'at, 24/05/2019 15:57 0

Amerika

Pentagon: Tidak Ada Rencana untuk Menyerang Iran

Para pejabat militer AS yang terlibat dalam perang perencanaan di Timur Tengah mengatakan bahwa tidak ada rencana nyata untuk penempatan pasukan besar-besaran ke Timur Tengah, apalagi untuk menghadapi Iran.

Jum'at, 24/05/2019 14:31 0

Profil

Abbas Madani, Pemimpin Kharismatik FIS

"Mereka melarang jalannya demokrasi, karena jika demokrasi itu untuk (kemaslahatan) Prancis, itu berlaku. Tetapi tidak berlaku untuk Aljazair. Jadi, sebenarnya kita masih terjajah." Ungkap Abbas di sebuah video pada tahun 1990 ketika berbicara masalah perjuangan revolusioner Aljazair.

Jum'at, 24/05/2019 14:10 1

Irak

Derita Pengungsi Irak saat Ramadhan: Hidup Terancam, Minim Bantuan

Meskipun pemerintah Irak mengumumkan bahwa ISIS telah diusir dari negara itu lebih dari satu setengah tahun yang lalu, 1,5 juta orang terlantar masih tinggal di kamp-kamp pengungsian ​​dalam kondisi yang mengerikan.

Jum'at, 24/05/2019 14:00 0

Manhaj

Ketika Telah Mencapai Nishab, Allah Akan Binasakan Pelaku Kezaliman

Kezaliman memiliki batasannya dan batasan kezaliman itu adalah hukuman yang Allah berikan kepada pelaku kezaliman baik di dunia maupun di akhirat.

Jum'at, 24/05/2019 13:27 0

Malaysia

Malaysia Danai Siswa Palestina yang Ingin Lanjut Kuliah

Pemerintah Malaysia melawan kontroversi atas upayanya untuk membantu Palestina melalui beasiswa pendidikan.

Jum'at, 24/05/2019 13:27 0

Video News

Kondisi Sekitar Bawaslu Semalam, 23 Mei 2019, Pukul 21.30

KIBLAT.NET- Pasca kerusuhan yang terjadi pada 21 dan 22 Mei 2019, beginilah kondisi dan situasi...

Jum'at, 24/05/2019 12:42 0

Feature

Momen ‘Lebaran’ dan Aksi Protes 21-22 Mei 

"Enak ya, kayak lebaran," ujar seorang wanita berhijab kuning kepada teman kerjanya.

Jum'at, 24/05/2019 11:13 0

Close