... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Momen ‘Lebaran’ dan Aksi Protes 21-22 Mei 

Foto: Saling seranga kembang api antara aparat kepolisian dan massa

KIBLAT.NET – Bagi masyarakat Jakarta, jalanan lengang dan pesta kembang api identik dengan lebaran, momen pulang kampung dan libur bersama karena telah tiba hari lebaran. Masyarakat menyambut momen Idul Fitri itu dengan kebahagiaan dan gegap gempita.

Bagi yang balik desa, mereka bisa bertemu dengan keluarga tercinta, sementara yang di Jakarta, setidaknya menikmati lengangnya ibu kota dan sejenak beristirahat dari penatnya ritme kehidupan kota yang disebut “lebih kejam dari ibu tiri” itu.

Namun, momen lengangnya jalanan ibu kota dan pesta kembang api seakan dimajukan di sekitar Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Tak harus menunggu bulan Ramadhan usai, hari kelimabelas bulan suci di tahun 1440H ini, jalanan Jakarta lengang, setidaknya di jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Pasalnya, masyarakat yang tidak puas atas penyelenggaran pemilu 2019 mengadakan aksi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat di depan Gedung Bawaslu sejak Selasa (21/05). Kepolisian pun menutup akses jalan MH Thamrin menuju gedung Bawaslu.

Selasa malam itu, jalanan pun menjadi lengang. Bakda Maghrib, para pekerja kantoran keluar dengan wajah sumringah mendapati jalan MH Thamrin kosong melompong, menyisakan satu dua tukang kopi keliling.

Penat seharian di kantor seakan hilang dengan mendapati jalan mereka pulang, kosong. Satu dua pekerja kantoran memanfaatkan momen jalanan kosong ini dengan berswa foto. Tidak sedikit melakukan pose tiduran dan duduk di jalan.

Jalan MH Thamrin, dari Bunderan HI menuju gedung Bawaslu steril dari aksi massa. Hanya ada aparat polisi yang sedang bersiap untuk menjaga di depan gedung Bawaslu. Akibatnya, pekerja kantoran yang akan pulang setelah seharian bekerja, mendapati jalan MH Thamrin kosong, dan masyarakat merasakan hawa yang sejuk pada Selasa malam.

“Enak ya, kayak lebaran,” ujar seorang wanita berhijab kuning kepada teman kerjanya.

Selasa itu memang benar-benar aksi damai, tidak ada kericuhan. Setidaknya hingga pukul 21.30, ketika Munarman, salah satu pimpinan FPI membubarkan massa dan berpamitan kepada polisi yang berjaga di depan Bawaslu.

Karenanya, pekerja kantoran di sepanjang jalan MH Thamrin dari Bundaran HI ke gedung Bawaslu tidak ada perasaan mencekam. Bahkan yang ada hanyalah rasa syukur bisa merasakan lengangnya jalanan ibu kota. Hal ini terlihat dari wajah mereka yang sumringah dan tingkah mereka yang memanfaatkan sepinya jalan untuk melakukan swafoto maupun video bersama.

Baru kemudian, pukul 23.30, massa yang berbeda dari peserta aksi Selasa (21/05) siang, disebut memprovokasi aparat kepolisian hingga berakhir dengan kericuhan. Sepanjang jalan Wahid Hasyim ke arah Gondangdia, kericuhan terjadi hingga pukul 04.00 WIB hari Rabu (22/05).

Selama kericuhan terjadi, tembakan gas air mata dari aparat polisi ke massa seakan pesta kembang api. Suaranya keras, beberapa yang ditembakkan polisi memercikkan api dan sekilas menampakkan keindahan dalam kontras gelapnya malam.

Massa pun sempat membuat bakar-bakaran ban di jalan Wahid Hasyim, membuat asap hitam mengepul di jalanan. Suara tembakan dari polisi pun tak kunjung berhenti, hingga radius 300 meter masih terdengar.

Pesta kembang api sesungguhnya baru terjadi keesokan harinya, Rabu (22/05), ketika massa aksi kembali mendatangi Gedung Bawaslu. Mereka sudah menyiapkan masker dan juga pasta gigi untuk menghalau perihnya gas air mata yang ditembakkan aparat.

Massa yang datang, seakan sudah siap jika sewaktu-waktu kembali terjadi kericuhan seperti tengah malam sebelumnya. Terbukti akses untuk wanita dan anak-anak serta orang-orang yang tidak berkepentingan dibatasi. Mereka dilarang untuk memasuki jalan MH. Thamrin dari jalan Kebon Sirih.

Benar, jika hari Selasa kericuhan terjadi ketika massa damai sudah pulang, kali ini kericuhan sudah terjadi antara massa demonstran dengan aparat kepolisian sejak pukul 19.30 WIB. Terpantau, massa mulai memprovokasi kepolisian dengan cara melempar batu ke aparat yang berjaga di depan gedung Bawaslu.

Kericuhan benar-benar pecah ketika massa mulai menembakkan petasan ke arah aparat, lalu disusul pelemparan molotov.

Sontak, massa demonstran mulai tercerai berai ketika aparat mulai menyerang balik dengan petasan dan juga gas air mata. Hampir satu jam terjadi perang petasan antara massa dan polisi. Selain tentunya polisi menembakkan gas air mata yang disambut lemparan batu oleh massa.

Tak hanya melempari polisi dengan batu dan molotov, massa juga menyerang polisi dengan peluru kelereng. Sementara polisi membalas dengan tembakan gas air mata. Seperti latihan perang, mereka menembakkan seluruh peluru yang ada di senjata mereka.

Beberapa kali polisi melakukan refill peluru, berkotak-kotak peluru gas air mata dikeluarkan. Polisi yang masih merasa kurang puas pun mengantre mengambil peluru gas air mata, untuk kemudian menembakkannya ke demonstran.

“Ada peluru lagi gak bro, punyaku habis ini,” ujar polisi berbaju hitam dengan logat timurnya.

Massa pun ketika ditembaki gas air mata oleh kepolisian sempat mundur, baik ke jalan Wahid Hasyim arah Tanah Abang atau Gondangdia. Kericuhan 22 Mei 2019 baru benar-benar berhenti ketika matahari mulai menyingsing.

Ramadhan kali ini memang mencekam, setidaknya bagi masyarakat Jakarta. ‘Lebaran’ yang dimajukan ini bukan membawa kebahagiaan dan disambut gagap gempita, namun dengan penuh ketakutan dan kecemasan.

Bagaimana tidak, jika suara petasan kembang api di hari raya adalah keindahan tersendiri, suara ledakan yang terjadi sejak malam 22 hingga 23 Mei bukan menciptakan percikan warna indah di udara, tapi di jalanan.

Seperti laiknya perang petasan, kembang api itu diarahkan ke manusia, entah massa menembaki polisi maupun sebaliknya. Suara dentuman pun terdengar sangat keras, apalagi teriakan polisi dan massa yang kadang saling bersahutan untuk meluapkan emosi.

Semoga, jelang 10 hari terakhir bulan Ramadhan ini kita bisa memaksimalkan ibadah dan amal shalih. Sehingga lebaran atau Idul Fitri yang sesungguhnya dapat diraih dengan ampunan sesungguhnya, bukan sekedar “permainan” belaka.

Penulis: Muhammad Jundii

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Dompet Dhuafa Sebut Tiga Relawannya Dipukul Oknum Brimob

Benny juga menuturkan bahwa dua mobil milik Dompet Dhuafa dirusak. Mobil tersebut dipukul beberapa kali oleh Brimob dengan menggunakan tameng serta popor senapan.

Jum'at, 24/05/2019 10:02 0

Timur Tengah

IUMS Seru Warga Saudi Cegah Rencana Eksekusi Mati Tiga Ulama

mengeksekusi dan membunuh ulama rabbani—khususnya terhadap tiga ulama tersebut seperti disebutkan oleh media— merupakan dosa besar dan mendapat murka dari Allah.

Jum'at, 24/05/2019 09:20 0

Arab Saudi

Saudi Tembak Jatuh Drone Syiah Hutsi di Najran

milisi teroris Hutsi didukung Iran sengaja menargetkan lokasi sipil. Mereka tidak mempertimbangkan apa pun bahaya terhadap sipil.

Jum'at, 24/05/2019 08:01 0

Analisis

Umat Islam di Persimpangan Kerusuhan 22-23 Mei 2019

Perintah Menkopolkam Wiranto agar aparat tak membawa senjata api banyak diabaikan para petugas di lapangan. Kata dia, pendekatan kekerasan yang digunakan polisi dalam menekan para demonstran juga banyak menuai kritikan.

Jum'at, 24/05/2019 06:45 2

Video Kajian

Ust. Miftahul Ihsan, Lc: Sebaik-baik Kalian adalah…

KIBLAT.NET- Siapakah sebaik-baik manusia? Simak jawabannya di sini! Editor: Abdullah Muhammad

Jum'at, 24/05/2019 05:00 0

Video News

PKS akan Ajukan 20 Gugatan Sengketa Pemilu ke MK

KIBLAT.NET, Jakarta- Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengajukan 20 gugatan ke Mahkamah Konstitusi atas sengketa Pemilihan...

Kamis, 23/05/2019 18:24 0

Foto

Ada Setangkai Mawar di Tengah Kawat Berduri

Di setiap peristiwa selalu ada momen yang memberi ribuan arti, menyelipkan jutaan makna.

Kamis, 23/05/2019 17:58 0

Video Kajian

Ust. Zamroni: Menahan Amarah di Bulan Ramadhan

KIBLAT.NET- Bulan Ramadhan sebagai bulan diwajibkannya puasa, kita tak hanya dituntut untuk menahan dahaga dan...

Kamis, 23/05/2019 17:30 0

Suriah

Ketika Faksi Oposisi Suriah Bersatu Rebut Wilayah dari Rezim Assad

HTS merebut kota Kfar Nabuda di provinsi Idlib pada Selasa (21/05/2019) dengan bantuan Front Pembebasan Nasional (NLF), sebuah gabungan kelompok oposisi yang didukung oleh Turki.

Kamis, 23/05/2019 17:00 0

Video News

Keadaan Sekitar Bawaslu Pasca Aksi Demo Semalam

KIBLAT.NET, Jakarta – Hingga siang hari ini, area sekitar Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) masih...

Kamis, 23/05/2019 16:44 0

Close