... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Abbas Madani, Pemimpin Kharismatik FIS

Foto: Abbas Madani (kanan) dan Ali Belhadj (kiri), dua pendiri FIS

KIBLAT.NET – Konstelasi politik di Indonesia masih memanas. Walaupun pemilu telah lewat, rasa tegang dan cemas tetap ada, menanti siapa yang bakal keluar menjadi pemenang. Tak terkecuali di belahan bumi lain dan di waktu yang telah lampau terlewati. Trauma umat Islam akan kegiatan perpolitikan di alam demokrasi telah membatu dan sulit dihilangkan.

Adalah FIS (al-Jabhah al-Islamiyah lil-Inqadh) yang merupakan partai politik di Al-Jazair berideologi Islam. Partai yang dipimpin oleh Abbas Madani dan Ali Belhadj ini menang pada pemilu 1991 pada putaran pertama maupun kedua. Namun, FIS diberangus karena ketidaksukaan pemerintah dengan Islam. Terjadi kudeta militer dan pembubaran paksa FIS sebagai pemenang sah pemilu dalam demokrasi. Kedua pimpinan tertinggi FIS dipenjara dan aktivis-aktivinya ditangkapi. Sungguh luka lama yang tak mungkin terobati.
Tersiar kabar bahwa April tahun ini, Abbasi Madani pendiri FIS wafat di tempat pengasingan, Qatar. Tokoh yang menjadi inti dari pergerakan FIS ini tidak pernah absen dari perjuangan walau telah dizalimi sedemikian rupa. Hingga pada akhirnya tokoh yang satu ini wafat pada usia 88 tahun di rumah sakit Doha setelah menderita sakit yang lama.

Bagaimanakah sepak terjang pimpinan FIS ini semasa berjuang di Al-Jazair hingga terjadi akhir hayatnya?

Abbas Madani, Pemimpin FIS (al-Jabhah al-Islamiyah lil-Inqadh)

Mereka melarang jalannya demokrasi, karena jika demokrasi itu untuk (kemaslahatan) Prancis, itu berlaku. Tetapi tidak berlaku untuk Aljazair. Jadi, sebenarnya kita masih terjajah.” Ungkap Abbas di sebuah video pada tahun 1990 ketika berbicara masalah perjuangan revolusioner Aljazair.

Keyakinan Abbas akan demokrasi seketika hilang manakala kemenangan sah FIS dalam pemilu diberangus oleh pemerintah lewat kudeta militer.

Jauh sebelum terjadi peristiwa naas itu, perjalanan hidup seorang Abbas bukanlah mudah. Tokoh islamis Aljazair yang lahir di Diyar Ben Aissa pada 28 Februari 1931 ini pernah menjadi anggota FLN di masa mudanya.

Sebelum bergabung dalam FLN, Abbas belajar di sekolah Prancis pada karena memang masa itu Aljazair di bawah kekuasaan kolonial Prancis. Kemudian melanjutkan di sekolah perkumpulan ulama dan lulus dari fakultas pendidikan. Situasi dan kondisi yang tegang membuat Abbas melebur ke dalam FLN serta langsung terjun dalam pertempuran kemerdekaan Al-Jazair 1954. Ia menanam bom di fasilitas radio Algiers, tetapi dalam usaha perlawanan itu dirinya tertangkap oleh penjajah Prancis pada 17 November 1954.

Partner Ali Belhadj ini baru menghirup udara bebas setelah mendekam selama 8 tahun di penjara. Masa-masa peperangan ia habiskan di dalam tahanan. Setelah terbebas dari belenggu penjara, Abbas menjadi guru di sebuah sekolah di Aljazair. Tahun 1962 saat itu umurnya memasuki angka tiga puluh dan diangkat sebagai pengajar di sebuah sekolah di ibukota Aljazair. Sejak awal Abbas berkomitmen memerangi paham sosialis dan sekuler pada awal kemerdekaan. Ia bersama Muhammad Khadr berpartisipasi dalam memperjuangkan nilai-nilai masyarakat Islam dan menentang kesesatan pemerintah. Kita tahu bahwa Abbas memiliki ikatan kuat dengan madrasah ulama dan juga sekolah rakyat Aljazair, sebuah gerakan untuk kebebasan demokrasi. Keyakinan Abbas adalah tidak ada patriotisme kecuali dalam pembentukan negara Islam dengan budaya Arab yang memegang peranan utama di dalamnya.

Selain mengajar di sebuah sekolah, ia juga bergabung dengan departemen filsafat di fakultas seni. Kemudian berhasil meraih gelar PhD dalam psikologi Pendidikan di Universitas Aljazair dan ditunjuk sebagai mentor di salah satu sekolah dasar di ibukota. Tak berselang lama Abbas mendapatkan beasiswa dari negara untuk tinggal di London dari 1975-1987 untuk mendapatkan gelar PhD dalam bidang pendidikan komparatif tentang subyek dari sistem pendidikan Prancis, Inggris dan Aljazair. Dalam hal ini ia membela sistem pendidikan yang berakar dalam tradisi Islam tetapi menggunakan jalan dan metode yang ia dapatkan atau pengalaman serta penelitian ala Barat.

BACA JUGA  Pengamanan Reuni 212 Tahun Ini Lebih Ketat, Ada Metal Detector di Setiap Pintu Masuk Monas

Selanjutnya, ia didapuk sebagai profesor ilmu pendidikan di fakultas humaniora Universitas Aljazair.

Pertemuan dengan Ali Belhadj

Selama dua puluh tahun, ia menjadi anggota FLN (Front Pembebasan Nasional). Bahkan pada 20 Mei 1969, Abbas memenangkan pemilihan regional sebagai wakil menteri Aljazair. Selama masa jabatannya hingga 1974, ia diberi tugas untuk menindaklanjuti pelaksanaan agraria.

Pada awal 80-an, Abbas Madani bertemu dengan Ali dan memulai aktivitasnya sebagai seorang da’i.Awalnya ia berdakwah di kampus,karena memang notabene ia adalah seorang profesor dimana pemahaman yang dakwahkan telah tersebar dan populer di sana. Tapi mulai tahun 1982, ia mulai mengganti corak dakwahnya dengan salafi. Dari segi penampilan pun ia mulai menggunakan jubah putih yang membuatnya terlihat lembut dan bagus. Tetapi tetap tujuan tidak berubah walau corak penampilan tak seperti dulu lagi.

Pertama-tama ia menciptakan kelompok elit untuk generasi mendatang. Abbas menggabungkan intelektual tradisional dan intelektual baru. Di posisi sentral antara gerakan reformis dan gerakan Islam oposisi, Abbas ingin memainkan peran koalisi antara keduanya yang sebelumnya diperankan oleh Masaliy Haji.

Abbas yang secara struktural masih tergabung dalam FLN, mengalami kegelisahan intelektual. Ia merasa tidak sejalan dengan FLN yang sosialis. Salah satu gebrakan yang diperjuangkan Abbas sebagai wujud kegelisahannya adalah mengganti bahasa Prancis dengan bahasa Arab dalam pemerintahan. Kemudiaan keikutsertaanya dalam menuntut reformasi dan penerapan syariat Islam. Atas usahanya ini, Abbas kembali dijebloskan ke dalam penjara pada 1982.

Ketika konstitusi Aljazair diubah untuk memungkinkan demokrasi multipartai, maka Abbas dan Ali Belhadj mendirikan FIS (bahasa Arab: الجبهة الإسلامية للإنقاذ, al-Jabhah al-Islamiyah lil-Inqadh; bahasa Prancis: Front Islamique du Salut/FIS) pada 1989. Pendirian ini adalah desakan dari masyarakat yang mayoritas Muslim.

Mereka kecewa sebab satu-satunya partai yang dibentuk pada masa Presiden Boumedienne yakni FLN yang berasaskan sekuler gagal mewujudkan kemajuan. Alasan lain kenapa masyarakat muak adalah pemerintah yang berkuasa di Al-Jazair sejak kemerdekaan membuat kebijakan politik membungkam Shahwah Islamiyah dan memerangi kegiatan di masjid-masjid. Selain itu Boumediene2 melarang kegiatan para ulama anggota Organisasi Ulama Muslim (Jam’iyyah Al-Ulama Al-Muslimin) yang masih tersisa. Kegiatan-kegiatan keislaman pun berubah menjadi lebih mendekati (pola) siriyah, underground.

Kesadaran politik masyarakat muslim ini disambut baik oleh Abbas Madani dengan FIS-nya. Seruan untuk mengubah wajah Aljazair yang sekuler bergema di masjid-masjid. Abbas menyuarakan pengenalan syariah Islam, menekan praktik riba pada perbankan konvensional dan secara substansial mengurangi pajak. Pernyataan ini diungkapkan oleh Abbas Madani dengan harian Qadaya Dawliyah dalam sebuah wawancara pada tahun 1990.

Dalam wawancara ini Abbas membeberkan rencana-rencana yang akan dilakukan FIS ke depan. Dia yakin bahwa sistem demokrasi akan berjalan semestinya jika nantinya FIS keluar sebagai pemenang. Ia menyatakan bahwa mengambil sistem demokrasi karena yakin akan menang telak, publik akan memilih FIS, dan akan memenangkan kursi presiden. Lalu, dengan suara mayoritas FIS akan menang di parlemen, di mana mereka akan mengusulkan untuk membuang demokrasi dan menerapkan syariat Islam. Dalam benaknya, tidak menduga akan terjadi peristiwa besar yang akan memberangus FIS sampai ke akar-akarnya.

FIS dalam Pemilu Aljazair

Komposisi FIS adalah perpaduan para pelajar dari berbagai aliran Shahwah, para pimpinannya, organisasi-organisasi Islam, dan para dai independen. Ditambah pula basis kaum muslimin awam yang percaya pada proyek politik Islam secara umum. Mereka juga menerima kampanye yang mengusung proyek politik Islam secara umum dan opini reformasi secara menyeluruh di berbagai bidang.

Apa yang diyakini Abbas ternyata benar terjadi. FIS benar-benar menggilas partai-partai sekuler yang ada. Setelah pemilu domestik selesai digelar, terlihat jelas bahwa FIS berhasil mengalahkan partai politik sekuler terkuat di Aljazair; partai penguasa, FLN (Front Pembebasan Nasional). Fakta lain adalah bahwa partai-partai sekuler yang baru berdiri hanya mendapatkan suara sedikit.

BACA JUGA  Menyambut Sunrise Ala Peserta Reuni 212

Dengan kemenangan tersebut, FIS menguasai mayoritas wilayah Al-Jazair. Para anggotanya mulai melayani masyarakat dengan rasa senang dan ikhlas yang sudah sejak lama hilang di Al-Jazair. Hal ini membuat FIS semakin populer di tengah masyarakat dan memberikan andil besar untuk meraih kemenangan pada pemilu berikutnya.
FLN selaku partai penguasa berdebar-debar takut melihat popularitas FIS. Akhirnya, pemerintah menetapkan undang-undang pemilu yang melarang FIS memanfaatkan kekuatannya di wilayah-wilayah yang menjadi kantong pendukungnya. Meskipun demikian, FIS tetap menang telak pada putaran pertama pemilu. Dan tampaknya, putaran kedua juga akan dimenangkan oleh FIS. Dengan kemenangan itu maka terpenuhilah syarat-syarat untuk membentuk pemerintahan sendiri dan dapat mengajukan calon presiden untuk memimpin negara.

Seperti apa yang dikatakan Abbas di atas bahwa demokrasi hanyalah milik Prancis, maka kemenangan FIS secara telak ini dianggap sebagai ancaman bagi dunia. Secara terang-terangan presiden Prancis saat itu melakukan intervensi militer untuk mencegah FIS berkuasa. Solusi paling jitu menurut mereka adalah dengan membuat kudeta militer yang disponsori oleh Barat, dalam hal ini Prancis memegang peranan penuh.

Terjadilah kudeta, Pihak militer mendatangkan mantan jenderal, Mohamed Boudiaf untuk menjabat sebagai pemimpin negara. Para pemimpin FIS ditangkap dan dipenjara. Demonstrasi-demonstrasi dibubarkan secara paksa dengan kekerasan.

Tertangkapnya Abbas Madani

Para aktivis ditangkap tak terkecuali Abbas selaku ketua FIS dan wakilnya Ali Belhadj. Ketika di Aljazair terjadi gerakan protes mogok kerja besar-besaran dan secara mendadak terjadi penangkapan dua pimpinan FIS, Abbasi Madani dan Ali Belhaaj secara mendadak, tanpa ada perlawanan sedikit pun. Hal itu karena kedua pemimpin ini sedang memimpin dan mengoordinasi ratusan ribu demonstran. Penangkapan ini merupakan goncangan dan kejutan bagi semua.

Akhirnya, Abbas kembali dipenjara dan divonis selama 12 tahun dengan tuduhan mengancam keamanan negara. Partner Ali Belhadj ini dibebaskan pada tahun 2 Juli 2003 bersama salah seorang jajaran FIS lainnya, AbdelKader Hachani. Namun, agaknya pemerintah Aljazair masih menyimpan rasa takut jikalau Abbas kembali menggerakkan simpatisannya. Maka, 3 tahun pasca pembebasannya, pemerintah secara tegas melarang Abbas Madani dan Ali Belhadj terlibat dalam kegiatan perpolitikan.

Pindah ke Qatar dan Berpulang ke Rahmatullah

Tiga tahun kemudian Abbas pindah ke negara Qatar dengan alasan kesehatan. Sebelum ke Qatar, ia sempat ke Malaysia dan Arab Saudi. Selama di pengasingan di Qatar, Abbas menderita sakit yang cukup lama. Jiwa perlawanannya tetaplah membuncah ketika pada tahun 2012 ia mengecam invasi AS ke Irak dan menyerukan warga Aljazair untuk memboikot pemilu pada tahun itu. Qadarullah, pada Rabu, 24 April 2019 Abbas menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumah sakit Doha. Sebagaimana pernyataan sang wakil FIS:

“Abbas Madani meninggal pada usia 88 tahun di rumah sakit Doha setelah menderita sakit yang lama,” kata rekannya sesama pendiri, Ali Belhadj, yang mendapat kabar tersebut dari kerabat Madani.

Perjuangan Abbasi Madani di kancah perpolitikan Aljazair ini memberikan banyak pelajaran bagi para aktivis yang akan menempuh dengan cara yang sama. Abbas tidak menduga akan berakhir seperti ini karena pada awalnya ia yakin semua akan berjalan sesuai peraturan yang ada dalam demokrasi itu sendiri.
Semoga Allah memberikan rahmat-Nya untuk Abbasi Madani atas perjuangannya menegakkan syariat Islam di muka bumi. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani_El Ashimi
Editor: Arju

Sumber
1. Mukhtashar Syahadati ‘ala al-jihad fi Al-Jazair, Abu Mush’ab As-Suri
2. https://www.aljazeera.com/
3. https://id.wikipedia.org/wiki/FIS
4. muslim-forum.info/
5. https://middleeast.library.cornell.edu/

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Abbas Madani, Pemimpin Kharismatik FIS”

  1. fathulgaib

    Berarti jalan democrazy memang bathil

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Irak

Derita Pengungsi Irak saat Ramadhan: Hidup Terancam, Minim Bantuan

Meskipun pemerintah Irak mengumumkan bahwa ISIS telah diusir dari negara itu lebih dari satu setengah tahun yang lalu, 1,5 juta orang terlantar masih tinggal di kamp-kamp pengungsian ​​dalam kondisi yang mengerikan.

Jum'at, 24/05/2019 14:00 0

Manhaj

Ketika Telah Mencapai Nishab, Allah Akan Binasakan Pelaku Kezaliman

Kezaliman memiliki batasannya dan batasan kezaliman itu adalah hukuman yang Allah berikan kepada pelaku kezaliman baik di dunia maupun di akhirat.

Jum'at, 24/05/2019 13:27 0

Malaysia

Malaysia Danai Siswa Palestina yang Ingin Lanjut Kuliah

Pemerintah Malaysia melawan kontroversi atas upayanya untuk membantu Palestina melalui beasiswa pendidikan.

Jum'at, 24/05/2019 13:27 0

Video News

Kondisi Sekitar Bawaslu Semalam, 23 Mei 2019, Pukul 21.30

KIBLAT.NET- Pasca kerusuhan yang terjadi pada 21 dan 22 Mei 2019, beginilah kondisi dan situasi...

Jum'at, 24/05/2019 12:42 0

Indonesia

Dompet Dhuafa Sayangkan Tindakan Represif Polisi terhadap Tim Medis

Imam menuturkan bahwa tim medis Dompet Dhuafa yang terjun dalam aksi protes adalah resmi dan semata-mata untuk kemanusiaan.

Jum'at, 24/05/2019 11:22 0

Feature

Momen ‘Lebaran’ dan Aksi Protes 21-22 Mei 

"Enak ya, kayak lebaran," ujar seorang wanita berhijab kuning kepada teman kerjanya.

Jum'at, 24/05/2019 11:13 0

Indonesia

Dompet Dhuafa Sebut Tiga Relawannya Dipukul Oknum Brimob

Benny juga menuturkan bahwa dua mobil milik Dompet Dhuafa dirusak. Mobil tersebut dipukul beberapa kali oleh Brimob dengan menggunakan tameng serta popor senapan.

Jum'at, 24/05/2019 10:02 0

Timur Tengah

IUMS Seru Warga Saudi Cegah Rencana Eksekusi Mati Tiga Ulama

mengeksekusi dan membunuh ulama rabbani—khususnya terhadap tiga ulama tersebut seperti disebutkan oleh media— merupakan dosa besar dan mendapat murka dari Allah.

Jum'at, 24/05/2019 09:20 0

Arab Saudi

Saudi Tembak Jatuh Drone Syiah Hutsi di Najran

milisi teroris Hutsi didukung Iran sengaja menargetkan lokasi sipil. Mereka tidak mempertimbangkan apa pun bahaya terhadap sipil.

Jum'at, 24/05/2019 08:01 0

Analisis

Umat Islam di Persimpangan Kerusuhan 22-23 Mei 2019

Perintah Menkopolkam Wiranto agar aparat tak membawa senjata api banyak diabaikan para petugas di lapangan. Kata dia, pendekatan kekerasan yang digunakan polisi dalam menekan para demonstran juga banyak menuai kritikan.

Jum'at, 24/05/2019 06:45 2

Close