20 Ramadhan 222 H, Akhir dari Pemberontakan Babak Al-Khurmi

KIBLAT.NET – Di Persia ada desa bernama (Khurmah) dekat dengan Ardabil, muncul kelompok Bathiniyah yang dinisbatkan kepada nama tersebut. Kelompok itu bernama (Khurramiyah) tahun 201 H. Dimulai oleh Javidan bin Sahl (atau Shahrak) yang menganut keyakinan-keyakinan Persia seperti Iman kepada 2 Dewa Cahaya dan Kegelapan, reinkarnasi, membolehkan menzinai perempuan mahrom (incest), membolehkan khamr dll. (1)

Ketika matinya Javaidan, Babak Al-Khurmi mewarisi narasi-narasinya. Hal ini karena dirinya adalah kekasih dari istri Javaidan. Keduanya mengatur rencana untuk meyakinkan pengikutnya bahwa bahwa ruh Javaidan (sang Tuhan) telah berpindah kepadanya. Ia memulai pemberontakannya (201 H) di gunung Albadin di Azerbeijan, kemudian muncul di Khurmah. (2)

Babak Al Khurmi mengaku bahwa dirinya keturunan Fatimah binti Abu Muslim al-Khurasani dan mengabarkan impian orang-orang Persia tentang pemimpin yang akan menghapuskan negeri Arab dan mengembalikan negeri Persia. Kemudian ia memperbolehkan membunuh setiap orang yang menyelisihinya sekaligus menjarah hartanya -ini adalah fase baru pemikiran Mazdakiyah dan Bathiniyah (3). Keadaan ini dimanfaatkan oleh penjahat dan perampok untuk bergabung ke dalamnya, sebagaimana gerakan-gerakan yang anti terhadap Daulah Abbasiyah menjadi penumpang gelap di barisannya Babak Al-Khurmi. Juga tidak diragukan lagi bahwa adanya ketidakadilan membuat sebagian orang bergabung dengan Babak Al-Khurmi. Kabar Babak telah meluas hingga utusan-utusan datang ke Azerbeijan untuk memberikan baiat kepada Babak Al-Khurmi. Gerakannya telah mencapai kota-kota yang relatif jauh seperti Asfahan dan lainnya.(4)

Perselisihan antara al-Amin dan al-Ma’mun kemudian kekacauan Daulah Abbasiyah di masa kepemimpinan al-Ma’mun dengan munculnya pemberontakan Alawiyyin dan Abbasiyyin adalah sebab utama yang memberi kesempatan gerakan Babak Al-Khurmi itu untuk berkembang dan menguat. Seperti halnya kekuatan Babak juga menguat dengan kerjasama bersama Romawi yang saling memberi kabar dan pengintaian. Jika pasukan Babak kalah dalam pertempuran, mereka berlindung ke wilayah Romawi.

Prestasi pertama bangsa Turki adalah totalitas mereka dalam menumpas pemberontakan Babak al-Khurmi yang berlangsung selama 20 tahun dan menghilangkan nyawa 4 juta muslim. Itu adalah angka yang sangat besar saat itu. Pengaruh Babak Al-Khurmi telah meluas dan berkembang hingga Hamedan, Isfahan, Mossazan dan Mahrojan pada tahun 218 H.(5) Tampaknya para pemimpin negeri-negeri ini berbaiat kepada Babak pasca kematian al-Ma’mun dan menganggap pilihan bergabung kepada Babak Al-Khurmi meskipun bukan suatu kebaikan akan tetapi minimal menjauhkan diri dari keburukan.

Memerangi Babak Al-Khurmi telah menjadi prioritas utama al-Mu’tashim dan focus utama di tahun-tahun pertama masa kekhilafahannya. Ia mengerahkan segala kemampuannya untuk mempersiapkan pasukannya. Fokus mencari informasi perang sampai-sampai membangun pos-pos di sepanjang jalan, sehingga informasi pun datang setiap harinya.

Al-Mu’tashim mengirim pasukan yang dipimpin oleh Ishaq bin Ibrahim (218 H) . Mu’tashm mengangkatnya sebagai penguasa di wilayah pegunungan. Pasukan tersebut memperoleh kemenangan atas Babak Al-Khurmipada 8 Dzul Hijjah 218 H. Banyak para pengikut Babak yang terbunuh sehingga sisanya harus mundur ke negeri Romawi. Namun kemenangan itu belum sepenuhnya memadamkan api pemberontakan. Ishaq kembali ke Baghdad dan tiba di sana 11 Jumadil Ula 219 H beserta para tawanan.(6)

BACA JUGA  Netanyahu Perintahkan Pembangunan Rumah di Tepi Barat Dilanjutkan

Kemudian al-Mu’tashim mengirim pasukan lain (220 H) yang dipimpin Abi Sa’id Muhammad bin Yusuf dan ia memperoleh kemenangan lagi. Seperti sebelumnya, kemenangan itu belum menuntaskan pemberontakan, namun hal itu membangkitkan semangat dan persiapan mental kedua kubu untuk memulai perubahan. Kemudian Allah menganugerahkan kepada umat Islam seorang lelaki yang bernama Muhammad bin al-Ba’its. Ia penguasa dua benteng di wilayah Azerbeijan. Ia memiliki hubungan kuat dengan Babek sampai-sampai pasukan ekspedisi Babak singgah di benteng Ibnu al-Ba’its, ia menjamu dan memuliakan mereka. Kemudian Allah membalikkan hatinya, ia melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap pasukan Babak ketika singgah di bentengnya. Ia menawan komandannya -yang bernama ‘Ashimah- dan mengirimkannya kepada al-Mu’tashim. Mu’tashim mengetahui bahwa pria ini sangat berharga karena mengetahui informasi tentang markas Babak, pasukannya dan strategi perangnya. (7)

Kemudian al-Mu’tashim (220 H) mengangkat seorang komandan pasukan berbangsa Turki, Haidar bin Kawus al-Asyrusni, dikenal “Al-Afsyin”. Komandan baru ini sudah sangat akrab dengan tempat dan strategi perang pasukan Babak Al-Khurmi yang seringnya dilancarkan pada malam hari berupa serangan cepat, dan menyergap di celah antara dataran tinggi. Al-Afsyin telah bersiap secara maksimal, memperkuat pengintaian dan benteng serta mengamankan jalur logistik. Ketika jalur perjalanan telah aman dan pengamanannya beberapa tahap dan setiap tahap dijaga oleh kelompok militer. Salah satu keberhasilan dari strategi ini adalah ditangkapnya sejumlah mata-mata Babak. Cara Al-Afsyin melumpuhkan mata-mata Babak Al-Khurmi adalah dengan menawarkan upah dua kali lipat dari yang ditawarkan Babak Al-Khurmi kepada mereka.(8)

Al-Mu’tashim mengirim bantuan uang dalam jumlah yang besar kepada Al-Afsyin yang dibawa oleh komandan berdarah Turki yang bernama Bigho Al Kabir. Uang tersebut guna pembiayaan perang dan untuk dibagikan kepada pasukannya. Hampir saja harta tersebut dirampas oleh pasukannya Babak Al-Khurmi.  Namun intel-intel kaum muslimin yang berada di kampnya Babak segera memberi tahu . Pasukan yang membawa harta tersebut bermanuver sehingga harta yang dibawa sampai ke pasukan Al-Afsyin.

Berkat informasi yang diberikan oleh tim pengintai dan system pengaturan yang ketat untuk menjaga jalan membuat al-Afsyin mampu menyerang Babak Al-Khurmi di tengah pasukannya saat ia mengepung salah satu benteng kaum muslimin. Terjadi pertempuran sengit di mana al-Afsyin berhasil membuat kemenangan besar pertama atas Babak dan menewaskan kira-kira lebih dari 100.000 pengikutnya, dan memaksa Babak untuk mundur dan kembali ke ibukotanya (al-Badz) karena telah kalah. (9)

Pertempuran demi pertempuran terus dilangsungkan dua pasukan khilafah yang dipimpin oleh al-Afsyin dan Bigha al-Kabir. Terjadi perang sengit antara Bigha al-Kabir dan Babak Al-Khurmi pada tahun 221 H. Pada pertempuran tersebut Babak Al-Khurmi mampu mengalahkan Bigha al-Kabir dan membunuh banyak pasukannya. Kesalahan Bigha pada pertempuran ini adalah dirinya bersama pasukannya bermanuver sendiri tanpa berkoordinasi dengan komando umum Al-Afsyin. Disisi lain, pertempuran-pertempuran yang terjadi antara Babak dan al-Afsyin, berakhir dengan kemenangan di pihak Al-Afsyin. Peperangan demi peperangan terus terjadi sampai memasuki tahun 222 H, ketika Al-Mu’tashim membantu al-Afsyin dengan pasukan lainnya disertai uang tiga juta dirham. Al-Afasyin mampu menembus benteng Babak dan pusat pemberontakannya “Al-Badz” pada tanggal 20 Ramadhan 222 H, setelah pengepungan dan pertempuran sengit, serta ketekunan, jihad dan susah payah! Dibebaskanlah tawanan muslim yang berjumlah lebih dari tujuh ribu orang. (10)

BACA JUGA  FPI Batal Gugat Pembubaran ke PTUN

Babak Al-Khurmi beserta keluarganya kabur dari al-Budz, akan tetapi seorang pemimpin kota bernama Sahl bin Sinbath berhasil menangkapnya. Sahl menipunya dengan mengaku bahwa ia adalah pengikut setia Babak Al-Khurmi, kemudian Babak ditawan dan dikirim ke Al-Afsyin. Al-Afsyin membuat penyambutan besar untuk tawanan ini yang telah menyulitkan Khilafah Islamiyah. Ia melaporkan apa yang terjadi kepada Al-Mu’tashim. Al-Mu’tashim menyuruhnya untuk membawa Babak Al-Khurmi dalam keadaan tertawan. Rombongan sampai pada ke Baghdad pada tanggal 3 Shafar 223 H.(11) Keduanya sambut oleh Harun bin Al-Mu’tashim . Al-Mu’tashim memerintahkan agar Babak dinaikkan ke atas gajah sehingga manusia bisa melihatnya dan perbuatannya sebagaimana yasupaya manusia tahu fitnah negeri seperti yang terjadi di Azerbeijan. Kemudian ia dihadapkan kepada al-Mu’tashim, ia memerintahkan untuk memotong kedua tangan dan kakinya, memenggal kepalanya dan membelah perutnya pada 13 Rabi’ul Akhir 223 H. Kemudian memerintahkan untuk membawa kepalanya ke Khurasan “Dikelilingkan di setiap kota dan desa, supaya rakyat memahami bahaya yang ditimbulkan Babak dan banyaknya jumlah pasukannya, gerakannya yang mengancamstabilitas kerajaan dan mengubah agama rakyat.(12) Tubuhnya disalib dan digantung di Samarra’, dan saudaranya yaitu Abdullah bin Syarwain dikirim ke gubernur Baghdad untuk dibunuh di sana dan memperlakukannya sebagaimana al-Mu’tashim memperlakukan saudaranya.(13)

Al-Mu’tashim menganugerahkan komandan pasukannya dengan memberinya dua permata, memberinya dua puluh juta dirham, mengangkatnya menjadi pemimpin As-Sind, dan memerintahkan para penyair untuk memujinya. Ini lah waktu siaran media untuk menghormatinya, syair-syair banyak melantunkan kebaikan-kebaikannya. Pasukannya juga dihadiahi sepuluh juta dirham. Dengan ini selesailah pemberontakan yang menewaskan seperempat juta kaum muslimin.(14)

Naskah: Min Maatsiril Atrak Fi Ramadhon
Penerjemah: Zamroni
Editor: Arju

  • Al-Muthahhir al-Maqdisy, al-Bada’a wat Tarikh, Maktabah ats-Tsaqofah ad-Diniyah, Bir Sa’id, Mesir, 4/30-31. Abdul Qahir al-Baghdadi : al-Farqu bainal Firaq, Darul Afaq al-Jadidah, Beirut, Cet. II, 1977 M, hlm 252. Al-Ghazali, Fadha’ikh al-Bathiniyah, tahqiq : Abdurrahman al-Badawi, Muassasah Darul Kutub ats-Tsaqofiyah, Kuwait, hlm. 15
  • Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, Darul Kutub al-Ilmiyah, Beirut, 1995 M/1414 H, 5/139. Ibnul Nadhim, al-Fahrasat, tahqiq : Ibrahim Ramadhan, Darul Ma’rifah, Beirut, Cet. II, 1997 M/1417 H, hlm. 417.
  • Ibnul Nadhim, al-Fahrasat, hlm. 416.
  • Al-Muthahhir al-Maqdisy, al-Bada’a wat Tarikh, 6/116. Nidzam al-Mulk, Siyasat Namh, 286
  • Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/206.
  • Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/206-207
  • Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, al-Maktabah al-Murtadhawiyah, an-Najf al-Asyraf, Iraq,1358 H, 3/199. Tarikh ath-Thobari, 5/210.
  • Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/210-211.
  • Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/211-212.
  • Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, 3/199-200. Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/212 dan setelahnya.
  • Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/229 dan setelahnya.
  • Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, 3/200. Al-Mas’udi, Muruj adz-Dzahab, asy-Syarikah al-‘Alamiyah lil Kutub, Beirut, Cet. II, 1990 M, hlm. 444
  • Khalifah bin Khiyath, Tarikh Khalifah, 142. Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/233-234.
  • Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi, 3/200. Ath-Thobari, Tarikh ath-Thobari, 5/234.
Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat