... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Menyikapi Perginya Para Pemimpin Umat

Foto: Ustadz Bachtiar Nasir

KIBLAT.NET – Kepergian Ustadz Bachtiar Nasir ke Arab Saudi memicu bermacam-macam reaksi dari berbagai kelompok. Sebagian orang menganggap kepergiannya sebagai strategi, sebagian lain merasa ditinggalkan, bahkan ada sebagian lagi menganggap UBN seorang pengecut karena kabur dari kasus yang menyeretnya.

Kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) pada Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS) yang menimpa UBN memang terindikasi disusupi kepentingan politik. Tak hanya UBN, Ustadz Haikal Hassan juga pergi ke Saudi dengan alasan terlalu banyak tekanan di Indonesia, menyusul Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab yang lebih dulu “hijrah” ke Saudi saat dirinya dikriminalisasi.

Yang harus dipahami umat, ini bukan masalah sepele soal menghindari kasus atau menghindari fitnah. Ini jauh lebih kompleks dari sekedar menyelamatkan diri. Untuk memahaminya, pertama kita harus berbaik sangka. Kita sedang membahas tokoh-tokoh pergerakan, ulama-ulama yang menjadi panutan umat Islam. Setiap langkah dan keputusannya tidak mungkin diambil tanpa pertimbangan.

Mari bersimulasi dalam kepala masing-masing, bagaimana jika kita berada dalam posisi para tokoh tersebut. Apa yang akan kita lakukan jika kebebasan kita terancam oleh fitnah yang ditunggangi oleh kekuatan poltik. Apakah kita juga akan “berpindah”, ataukah akan menghadapi proses hukum yang tidak adil bermodal optimisme? Tentu tidak.

Strategi meninggalkan negeri sudah lama dipakai oleh tokoh-tokoh terdahulu. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir ke Malaysia misalnya, atau tokoh PKI seperti DN Aidit juga pernah diisukan bersembunyi di Vietnam Utara usai pemberontakan di Madiun pada 1948.

BACA JUGA  Khutbah Wukuf di Arafah, Ini yang Disampaikan Habib Rizieq

Dalam kondisi seperti ini, mau tidak mau para pemimpin ini memang harus meninggalkan pengikutnya. Entah dengan keluar negeri, ataupun dalam negeri dibalik jeruji. Bedanya, jika dibalik jeruji maka aparat tidak akan membiarkan adanya komunikasi tokoh dengan pengikutnya.

Lain cerita jika sebelumnya ia menyelamatkan diri terlebih dahulu. Tokoh itu dapat tetap menjaga komunikasi, berkoordinasi, serta memberikan instrusksi meski dari jarak yang jauh sekalipun. Komando umat tetap ada dan terkendali.

Inilah yang harus dipahami umat. Bukan terburu-buru menyimpulkan tanpa adanya prasangka baik terhadap ulama, apalagi sampai baper karena merasa ditinggal di tengah perjuangan. Tudingan pengecut dari lawan juga bukanlah sesuatu yang layak dirisaukan. Karena apapun yang kita lakukan, mereka akan tetap datang dengan tudingan dan rundungan lain.

Lagipula, dalam memperjuangkan agama, bukan kepergian manusia yang harus kita khawatirkan, melainkan “kepergian” Rabbul Alamin dari sisi kita.

“Mereka membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54)

Penulis: Qoidul Mujahidin

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Korban Tewas Terus Berjatuhan, Mer-C Meminta KPU Hentikan Rekapitulasi Suara

MER-C menanggapi pernyataan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang menyebut banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia disebabkan karena kelelahan.

Kamis, 16/05/2019 11:59 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Khawatir Ramadhan Kita Tak Diterima

Khutbah Jumat: Khawatir Ramadhan Kita Tak Direrima

Kamis, 16/05/2019 11:34 0

Eropa

Austria Sahkan UU Larangan Jilbab untuk Siswi SD

Austria telah mengesahkan undang-undang untuk melarang gadis muslimah mengenakan jilbab di sekolah dasar. Anehnya, penganut Yahudi Yarmulke dan Sikh tidak termasuk dalam larangan itu.

Kamis, 16/05/2019 11:26 0

Feature

Pejuang Taliban di Medan Perang Digital Meningkat Dua Kali Lipat

Jumlah pejuang Taliban yang menjadi reporter lapangan meningkat dua kali lipat di 34 provinsi Afghanistan

Kamis, 16/05/2019 11:10 0

Khazanah

Hari Kesebelas Ramadhan, Kematian Sang Jagal, Jenghis Khan

Jenghis Khan meninggal dunia di wilayah dekat Joe Wattspada 11 Ramadhan 624 H bertepatan dengan 25 Agustus 1227 M dan dikubur di Mongol. Sepeninggalnya, tampuk kekuasaan dipegang oleh anaknya, Oktay.

Kamis, 16/05/2019 11:00 0

Indonesia

Pemerintah dan KPU Terancam Digugat ke Mahkamah Pidana Internasional

Medical Rescue Committee (Mer-C) menilai pemerintah dan KPU sebagai penyelenggara Pemilu tahun ini telah abai kemanusiaan

Kamis, 16/05/2019 10:09 0

Palestina

Ribuan Warga Palestina Peringati Hari Nakbah

"Di antara yang terluka, 16 terkena peluru tajam, satu di antaranya kritis, dan 14 lainnya tertembak peluru logam berlapis karet," kata juru bicara Kemenkes Gaza, Ashraf Al-Qudra.

Kamis, 16/05/2019 07:56 0

Video Kajian

Ust. Miftahul Ihsan, Lc: Akhlak Rasul adalah Al Quran

KIBLAT.NET- Istri Rasul, Aisyah RA pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW. Menurut beliau, akhlak Rasul...

Kamis, 16/05/2019 05:00 0

Video News

BPN Tunggu Keberanian Bawaslu Ungkap Kasus Kecurangan Pemilu

KIBLAT.NET – JAKARTA, juru bicara BPN Andre Rosiade menuturkan bahwa pihak BPN menunggu keberanian Bawaslu...

Rabu, 15/05/2019 21:01 0

Video Kajian

Prabowo Ingin Buat Surat Wasiat, Kenapa?

KIBLAT.NET- JAKARTA, Dalam acara mengungkap fakta-fakta kecurangan Pilpres 2019 yang diselenggarakan Badan Pemenangan Nasional (BPN),...

Rabu, 15/05/2019 20:45 0

Close