... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

DPR Dorong Pelaksanaan Rapat Gabungan Bahas Korban Pemilu

Foto: Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Foto: Tempo).

KIBLAT.NET, Jakarta – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Bambang Soesatyo meminta Komisi II DPR RI yang membawahi bidang pemerintahan dalam negeri untuk segera menggelar Rapat Kerja Gabungan dengan KPU, Bawaslu, Kementerian Kesehatan dan Kepolisian untuk mencari tahu lebih detail terkait banyaknya petugas KPPS yang meninggal dunia. Sehingga bisa meminimalisir terjadinya berbagai teori konspirasi yang kadangkala menyesatkan masyarakat.

“Sebenarnya KPU maupun pemerintah dan DPR RI sudah mengantisipasi hal ini dengan membatasi jumlah pemilih per TPS tidak lebih dari 300 orang agar meringankan beban kerja petugas KPPS. Belajar dari pengalaman Pemilu 2014 yang tidak serumit Pemilu 2019, kala itu jumlah pemilih per TPS bisa mencapai 500. Petugas KPPS yang meninggal mencapai ratusan,” ujar Bamsoet saat menerima audiensi Aliansi Masyarakat Peduli Tragedi Kemanusiaan Pemilu (AMP-TKP) 2019, di Ruang Kerja Ketua DPR RI, Jakarta, dalam rilis yang diterima Kiblat Selasa (14/05/2019).

Hadir dalam audiensi tersebut antara lain Ketua Pengarah (AMP-TKP) Din Syamsuddin, Sekretaris (AMP-TKP) Ahmadi Thaha, Marah Santi Siregar, Fahmi Idris, Iwan Piliang, Siane Indriani, Amidhan, Hatta Taliwang dan Nasrullah.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen ini tidak menutup mata terhadap banyaknya persoalan yang ditinggalkan Pemilu 2019. Karenanya perbaikan mutlak dilakukan.

“Penggabungan Pilpres dan Pileg ternyata menimbulkan beban kerja yang luar biasa bukan hanya bagi petugas KPPS, melainkan juga bagi kandidat maupun partai politik. Belum lagi besarnya potensi gesekan di masyarakat. Karenanya sedang ditinjau ulang untuk memisahkan kembali Pileg dan Pilpres,” tutur Bamsoet.

BACA JUGA  Ucapan Sukmawati Soal Nabi Muhammad dan Soekarno Bernuansa Penodaan Agama

Selain itu, Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini juga menyarankan agar Bangsa Indonesia mulai bergerak ke sistem e-voting. Selain mengurangi beban kerja petugas, juga untuk menunjukan kepada dunia betapa bangsa kita sudah maju dan modern dalam penyelenggaraan Pemilu.

“Tentu yang paling penting dilakukan adalah sistem rekrutmen petugas KPPS yang juga harus diperketat. Diseleksi dengan baik memperhatikan track record kesehatan calon petugas KPPS, sebab temuan IDI menyatakan mayoritas petugas KPPS yang meninggal memiliki salah satu riwayat dari 13 penyakit kronis yang ada di Indonesia. Disamping ada juga yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas,” terang Bamsoet.

Dari Pemilu 2019 ini, Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini melihat pentingnya pemberian asuransi bagi setiap petugas KPPS. Pelatihan dan bimbingan teknis juga harus disiapkan dari jauh-jauh hari, terutama menyangkut kesiapan mental dan psikologis.

“Capek fisik kadang masih bisa diatasi, tapi jika sudah terkena tekanan psikologis karena semua pihak ingin menang. Itukah yang kadang kala sulit diatasi. Tekanan maupun teror dari pihak-pihak yang ingin mengganggu jalannya Pemilu pasti akan selalu ada. Karenanya selain dibekali asuransi, petugas KPPS juga harus disiapkan mental dan psikologisnya,” pungkas Bamsoet.

Reporter: Fanny Alif
Editor: M. Rudy

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

China

Cina Blokir Semua Versi Bahasa Wikipedia

Menurut sebuah laporan oleh Open Observatory of Network Interference (OONI), Cina mulai memblokir semua edisi bahasa Wikipedia bulan lalu.

Kamis, 16/05/2019 16:37 0

Artikel

Ramadhan, Momentum Pererat Hubungan dengan Pasangan

Selain momentum untuk memperkuat iman, Ramadhan juga bisa menjadi momentum perkuat hubungan dengan pasangan.

Kamis, 16/05/2019 16:15 0

Afghanistan

Media Menjadi Senjata Kunci Taliban Hadapi Perang Informasi

Taliban memiliki 6 majalah dan mempublikasikannya ke dalam Bahasa Pashto, Dari, Urdu, dan Arab.

Kamis, 16/05/2019 14:39 0

Asia

Muslim Sri Lanka Dirundung Ketakutan Akan Aksi Balas Dendam

Masjid-masjid, bisnis milik Muslim dan rumah-rumah dijarah dan dibakar, sementara seorang pria dibunuh oleh perusuh yang menggunakan pedang.

Kamis, 16/05/2019 13:22 0

Info Event

Program Dakwah Visit Dompet Dhuafa USA Mempererat Silaturrahmi Muslim Indonesia di Amerika

Ada ribuan masyarakat Muslim Indonesia yang saat ini menetap di Amerika Serikat, ada kebutuhan dakwah yang sekaligus dapat menyatukan masyarakat Indonesia.

Kamis, 16/05/2019 13:09 0

Amerika

Pentagon Minta Ganti Dana untuk Ongkos Negosiasi Taliban

Awal tahun ini, Pentagon dilaporkan meminta dana kepada Kongres untuk mengganti biaya transportasi dan biaya lain yang dikeluarkan Taliban untuk menghadiri negosiasi damai.

Kamis, 16/05/2019 12:33 0

Opini

Menyikapi Perginya Para Pemimpin Umat

KIBLAT.NET – Kepergian Ustadz Bachtiar Nasir ke Arab Saudi memicu bermacam-macam reaksi dari berbagai kelompok....

Kamis, 16/05/2019 12:24 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Khawatir Ramadhan Kita Tak Diterima

Khutbah Jumat: Khawatir Ramadhan Kita Tak Direrima

Kamis, 16/05/2019 11:34 0

Eropa

Austria Sahkan UU Larangan Jilbab untuk Siswi SD

Austria telah mengesahkan undang-undang untuk melarang gadis muslimah mengenakan jilbab di sekolah dasar. Anehnya, penganut Yahudi Yarmulke dan Sikh tidak termasuk dalam larangan itu.

Kamis, 16/05/2019 11:26 0

Feature

Pejuang Taliban di Medan Perang Digital Meningkat Dua Kali Lipat

Jumlah pejuang Taliban yang menjadi reporter lapangan meningkat dua kali lipat di 34 provinsi Afghanistan

Kamis, 16/05/2019 11:10 0

Close