... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Jadi, Di Mana Salah UBN?

Foto: Ust Bachtiar Nasir saat di Bareskrim

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA

(Ketua MIUMI Aceh)

Pemanggilan Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) oleh Bareskrim Polri untuk diperiksa sebagai tersangka Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) pada hari Rabu, 8 Mei 2019, merupakan tindakan berlebihan dan mengada-ada. Pemeriksaan tersebut berdasarkan surat panggilan Bareskrim Polri tertanggal 3 Mei 2019. Perlakuan pemerintah rezim Jokowi terhadap UBN ini merupakan tindakan persekusi dan kriminalisasi ulama serta kezaliman yang sedang dipertontonkan kepada rakyat di tengah kegaduhan pilpres 2019. Upaya persekusi dan kriminalisasi ulama oleh rezim tidak hanya menimpa UBN, namun sebelumnya juga menimpa beberapa ulama lainnya seperti Habib Riziq Syihab (HRS), sekjen FUI ustadz Muhammad al-Khaththath, Ustadz Abdul Shomad (UAS), Adnin Armas, dan lainnya.

Tuduhan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) terhadap UBN sangat bernuansa politis. Terkesan mengada-ada dan mencari-cari kesalahan UBN. Tujuannya untuk menekan dan membungkam UBN dan orang-orang yang bersikap kritis terhadap rezim selama ini.

Sikap kritis UBN sangat meresahkan dan menakutkan rezim sehingga dianggap berbahaya bagi rezim ini. Mengingat UBN selama ini dengan suara lantang berani membela Islam dan kebenaran serta keadilan lewat ceramah-ceramahnya dan Aksi Bela Islam 411 dan 212. Dalam Aksi bela Islam 212, UBN dan HRS mampu menyatukan umat dan menghadirkan jutaan umat Islam dari berbagai daerah ke Jakarta. Puncaknya, dukungan UBN terhadap Prabowo-Sandi secara terang-terangan menjelang pilpres 17 April 2019 telah membuat panik rezim. Tentu saja dukungan ini menjadi “magnit” sangat kuat bagi umat sehingga menambah besar dukungan umat kepada Prabowo-Sandi. Selain itu, dukungan dan keikutsertaan UBN dalam Ijtima Ulama III pasca pilpres semakin menambah kepanikan dan ketakutan rezim. Oleh karena itu, rezim berusaha mencari celah hukum untuk mengkriminalkan UBN dengan tuduhan pencucian uang. Jadi kasus hukum yang menjerat UBN ini sangat bernuansa politis.

Tuduhan kriminal pencucian uang terhadap UBN ini sebenarnya kasus lama tahun 2017 yang sudah selesai, terkait dengan dana yang dipakai oleh panitia dalam Aksi Bela Islam 411 dan 212 di mana UBN sebagai ketua GNPF MUI selaku penyelenggara aksi tersebut menggunakan rekening Yayasan Keadilan Untuk Semua (YKUS) dalam menerima infak dari umat Islam. Aksi 411 dan 212 tahun 2016 ini merupakan Aksi Bela Islam terhadap penistaan agama Islam (penistaan Alqur’an surat Al-Maidah ayat 51) yg dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok pada tahun 2016.

Padahal dana itu berasal dari infak sukarela dari umat Islam untuk keperluan aksi tersebut. Ini infak yg ikhlas dari umat Islam untuk acara Aksi Bela Islam tersebut. Ini bukan uang pemerintah dan bukan uang rakyat yang harus dipertanggung jawabkan kepada negara. Selain itu, penggunaanpun jelas yaitu untuk keperluan Aksi Bela Islam seperti yang dimaksudkan oleh panitia dan para donatur itu sendiri. Bukan untuk memperkaya pribadi, kelompok atau pengurus yayasan. Jadi di mana salah UBN?

BACA JUGA  UBN Ditersangkakan, Ketua MUI Sumbar: Jangan Main-main, Ulama Titik Sensitif Umat Islam

Menurut pakar ahli pidana, tindak pidana pencucian uang itu harus ada suatu kejahatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok. Lalu kejahatan itu menghasilkan uang. Ini baru namanya kriminal pencucian uang atau Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Aksi Bela Islam bertujuan untuk membela agama Islam dari penistaan agama yg dilakukan Ahok dan menuntut keadilan agar Ahok si penista agama Islam dihukum dengan hukuman yang tegas. Jadi aksi ini menuntut pemerintah untuk menegakkan hukum dan keadilan. Apakah UBN telah melakukan kejahatan dengan melakukan Aksi Bela Islam? Apakah mendapat dana infak dari umat Islam itu bisa dikatakan kriminal pencucian uang?

Yang anehnya lagi, pemerintah ikut intervensi dalam pengolalaan dana infak yang dikelola oleh suatu yayasan atau LSM. Padahal pengelolaan keuangan suatu yayasan atau LSM itu independen dan tidak boleh ada campur pemerintah. Tidak perlu pertanggung jawaban kepada pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah sepatutnya tidak boleh campur tangan dalam persoalan dana yayasan atau LSM ini. Apalagi sampai membuat tuduhan pencucian uang, tentu ini sangat politis.

Posisi UBN sebagai ulama dan tokoh umat Islam yang mempunyai pengikut dan massa yg banyak di seluruh Indonesia itu tentu sangat mengkhawatirkan rezim. Terlebih lagi UBN mempunyai jaringan dengan seluruh ormas-ormas Islam di seluruh Indonesia dan mempunyai massa yang banyak. Sikap UBN mendukung pasangan capres dan cawapres no 02 Prabowo-Sandi dengan terang-terangan membuat rezim menjadi semakin panik dan khawatir dengan banyaknya orang yang akan mengikuti langkah UBN tersebut. Jokowi merasa khawatir kalah dalam Pilpres 2019 yang telah dilaksananakan tanggal 17 April baru-baru ini.

Puncak kepanikan dan kemarahan rezim adalah adanya Ijtima Ulama III yang diadakan pasca pilpres pada Rabu (01/05/2019) di Bogor yang mengkritisi kecurangan pilpres yang dilakukan oleh rezim Jokowi dan meminta KPU dan Bawaslu untuk mendiskualifikasikan capres dan cawapres no 01 Jokowi-Ma’ruf Amin. Dalam Ijtima Ulama ini, UBN ikut hadir dan menandatangani hasil keputusan ijtima.

Terkait dengan Ijtima Ulama ini, rezim jangan salah alamat. Sebab Ijtima Ulama dihadiri oleh seribu ulama lebih. Kalau mau kaitkan dengan Ijtima Ulama dan dukungan UBN ke aksi Ijtima Ulama tersebut, maka layaknya polisi segera tangkap seribu ulama yang ikut Ijtima Ulama tersebut saja sekalian.

BACA JUGA  Bulan Ramadhan, ACT Masifkan Bantuan untuk Palestina

Jadi polisi jangan mengada-ada dalam hal tuduhan TPPU kepada UBN. Ijtima Ulama itu legal dan terhormat. Polisi tidak boleh beralasan kehadiran UBN di Ijtima Ulama III menjadi sebab melakukan kriminalisasi terhadap dirinya atau mencoba mengungkit-ungkit kasus lama yang sudah selesai. Ini bisa menimbulkan rasa ketidakadilan hukum. Jelas! Ini suatu kedhaliman!

Sikap polisi yang menetapkan UBN sebagai tersangka menjadikan suasana gaduh dan ricuh di seluruh Indonesia. Tindakan ini menimbulkan kecaman, penentangan, dan perlawanan dari rakyat Indonesia, khususnya umat Islam. Maka tidak salah kalau rakyat menduga kasus ini ada kaitannya dengan sikap UBN yang ikut mendukung Prabowo-Sandi dan kehadirannya di Ijtima Ulama. Jadi, kasus ini sangat-sangat politis.

Secara pribadi, saya mengenal sosok UBN. Beliau adalah seorang ulama yang istiqamah dalam membela Islam, kebenaran, dan keadilan. Beliau seorang da’i yang berani menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, meskipun terhadap penguasa. Beliau seorang yang amanah, jujur, dan berakhlak mulia. Beliau seorang mujahid yang berjuang untuk kepentingan Islam, umat, dan bangsa. Beliau juga seorang Pancasialis dan setia terhadap negara NKRI. Tidak mungkin beliau melakukan perbuatan kriminal seperti yang dituduhkan. Umat Islam juga tahu sosok figur UBN dan UBN memang tidak bersalah.

Bagaimanapun, kasus ini telah dirasakan masyarakat dan bisa menimbulkan rasa ketidakadilan hukum. Ujungnya nanti dirasakan sebagai kedhaliman hukum dan ketidakadilan. Maka akan timbul timbul aksi dari rakyat untuk menuntut keadilan. Di samping itu, Pilpres 2019 menyisakan banyak kecurangan yang merugikan pasangan cawapres dan cawapres no 02 Prabowo-Sandi, sehingga menimbulkan kegaduhan dan keributan rakyat yang berpotensi terjadinya konflik. Tentu saja kita tidak berharap demikian. Maka hasil Pilpres 2019 ini harus dihitung dengan penuh kejujuran dan keadilan. Agar semua pihak dapat menerima keputusan KPU pada tanggal 22 Mei nanti mengenai hasil pilpres 2019 dan berlapang dada terhadap keputusan tersebut, baik yang menang maupun yang kalah.

Sebagai penutup, saya bersama rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, meminta kepada Polri untuk membebaskan segera UBN dari tuduhan ini, karena beliau tidak bersalah dan tidak pula melanggar hukum. Saya khawatir, tindakan persekusi dan kriminalisasi ulama oleh rezim ini semakin menimbulkan kegaduhan bangsa dan perlawanan rakyat terhadap rezim ditengah kegaduhan Pilpres 2019 yang penuh kecurangan ini. Saya harap rezim ini menyadari kesalahannya dan segera membebaskan UBN dari tuduhan yang menjeratnya. Semoga Allah SWT menjaga UBN. Amin…

Banda Aceh, Jumat, 5 Ramadhan 1440 H / 10 Mei 2019.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

Ingin Bunuh Trump, Pria AS Diancam Hukuman hingga 140 Tahun Penjara

Seorang pria menghadapi dakwaan di AS setelah jaksa menuntutnya karena telah mengancam akan membunuh Presiden Donald Trump dan mengirim ancaman bom ke orang lain dan surat berisi bubuk putih yang mencurigakan.

Senin, 13/05/2019 12:00 0

Afrika

Demo Sudan: Energi Baru dan Seruan Keteguhan saat Ramadhan

Mereka berharap bulan suci ini dapat menyuntikkan lebih banyak energi ke dalam aksi protes yang kini telah berlangsung sebulan.

Senin, 13/05/2019 11:23 0

Suriah

Al-Jaulani Turun ke Front Pertempuran di Pedesaan Hama

"Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani, komandan HTS, dari garis depan front desa Hama," tulis Umar dalam postingannya di Channel Telegram, yang dilansir Enabbaladi.net, Ahad.

Senin, 13/05/2019 10:54 0

Suriah

Pemimpin HTS Serukan Mobilisasi Umum untuk Lindungi Idlib

Pemimpin Haiah Tahrir Syam (HTS) Abu Muhammad Al-Jaulani menyerukan para pejuang agar mengangkat senjata untuk mempertahankan Idlib dari kampanye pemboman oleh rezim Bashar Assad dan sekutunya.

Senin, 13/05/2019 10:50 0

Wilayah Lain

Masjid dan Toko Warga Muslim Sri Lanka Diserang Massa

Jam larangan keluar ini berlaku mulai jam enam sore hingga jam enam pagi.

Senin, 13/05/2019 09:13 0

Palestina

Dua Bulan, 900 Warga Palestina Jadi Korban Penangkapan Israel

"Jumlah perintah penahanan administratif yang dikeluarkan pada bulan Maret dan April mencapai 112, dan jumlah tahanan administratif mencapai sekitar 500 tahanan," jelas laporan tersebut.

Senin, 13/05/2019 08:28 0

Video Kajian

Ust. Miftahul Ihsan, Lc: Ini Cara Al Quran Menolongmu di Hari Akhir

KIBLAT.NET- Al Quran kelak akan menolong para ahlul Quran di hari kiamat. Bagaimana Al Quran...

Senin, 13/05/2019 05:31 0

Video Kajian

Ust. Zamroni: Ini Janji Allah untuk Orang Puasa

KIBLAT.NET- Di Bulan Ramadhan, Umat Islam diwajibkan berpuasa Ramadhan. Apakah janji Allah untuk mereka yang...

Ahad, 12/05/2019 17:30 0

Indonesia

MUI Pantau Tayangan Televisi Selama Remadhan

Dengan adanya pemantauan diharapkan televisi nasional mendukung terciptanya suasana khusyuk bagi umat Islam selama Ramadhan

Ahad, 12/05/2019 16:40 0

Indonesia

UBN Ditersangkakan, Ketua MUI Sumbar: Jangan Main-main, Ulama Titik Sensitif Umat Islam

"Saya khawatir tuan-tuan memantik api yang tak akan sanggup tuan-tuan padamkan," tandas Buya Gusrizal

Ahad, 12/05/2019 16:02 0

Close