Hari Kedelapan Ramadhan, Kemenangan Tanpa Peperangan (Perang Tabuk)

KIBLAT.NET – Pada tanggal 8 Ramadhan tahun 9 H,bertepatan dengan 8 Desember 630 H, kaum Muslimin menyongsong pasukan Romawi hingga ke daerah yang bernama Tabuk. Sebelumnya, ketika Rasulullah mendengar adanya persiapan pasukan yang dilakukan Romawi pasca perang Mu’tah.

Maka, Rasulullah mengakomodir segala persiapan untuk berangkat ke medan perang. Saat itu bertepatan dengan musim kemarau yang sangat panas dan kering. Orang-orang menghadapi keadaan yang lebih sulit dan jarang menampakkan diri. Sementara itu, buah-buahan sudah mulai masak, sehingga mereka lebih suka berada di kebun dan keteduhan pepohonannya. Jarak yang harus mereka tempuh jika harus berperang juga sangat jauh dan sulit.

Melihat pelbagai pertimbangan, beliau memutuskan untuk berangkat menghadapi pasukan Romawi di daerah perbatasan mereka, sekalipun keadaan saat itu cukup sulit dan berat. Beliau tidak ingin membiarkan pasukan Romawi masuk lebih jauh ke wilayah Islam.

Setelah Rasulullah memutuskan untuk berangkat, beliau mengumumkan kepada para shahabat agar bersiap-siap untuk berperang melawan pasukan Romawi. Beliau mengirim utusan untuk mendatangi berbagai kabilah Arab dan penduduk Mekkah agar ikut bergabung. Jarang sekali beliau mengumumkan secara langsung keinginan untuk terjun ke suatu peperangan. Namun, karena melihat keadaan saat itu yang sangat rawan dan situasinya yang cukup berat, beliau mengumumkan secara langsung keinginan untuk berperang dengan pasukan Romawi.

Kaum Muslimin Berlomba-lomba Melakukan Persiapan

Setelah mendengar pengumuman Rasulullah yang menyeru untuk berperang melawan pasukan Romawi, seketika itu juga kaum Muslimin berlomba-lomba melaksanakan seruan tersebut. Dengan gerak cepat mereka langsung melakukan persiapan perang. Berbagai kabilah dan suku dari berbagai tempat bergabung ke Madinah.

Tidak ada seorang Muslim pun yang rela apabila dia ketinggalan dalam peperangan kali ini, kecuali orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit. Bahkan, orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa dan miskin juga datang kepada beliau, meminta bekal dan kendaraan kepada beliau, agar bisa ikut serta memerangi pasukan Romawi. Ketika Rasulullah mengucapkan kepada mereka,“Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” mereka pun kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (Lihat: At-Taubah: 92)

Utsman bin Affan menyiapkan kafilah dagang menuju ke Syam sebanyak 200 unta lengkap dengan barang dagangan dan 200 uqiyah. Maka seketika itu dia mengeluarkan sedekahnya, lalu masih ditambah lagi dengan sedekah 100 ekor unta dengan barang-barang yang diangkutnya, kemudian ditambah lagi dengan 1000 dinar yang diletakkan di bilik Rasulullah n. Beliau menerimanya dan bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Utsman karena apa yang dilakukannya setelah hari ini.” Bahkan, Utsman masih mengeluarkan sedekah lagi, lalu ditambah lagi, dan masih ditambah lagi, hingga semuanya senilai 900 ekor unta dan 100 ekor kuda, tidak termasuk uang kontan.

Abdurrahman bin Auf juga datang sambil menyerahkan 200 uqiyah perak, Abu Bakar menyerahkan semua hartanya dan tidak menyisakan bagi keluarganya, kecuali Allah dan Rasul-Nya, yang nilainya sebanyak 4.000 dirham. Abu Bakar adalah orang yang pertama kali menemui beliau untuk menyerahkan sedekah. Umar juga datang menyerahkan separuh dari total hartanya. Al-Abbas juga menyerahkan harta yang cukup banyak, begitu pula Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslamah, yang semuanya datang sambil menyerahkan sedekah.

Ashim bin Adi menyerahkan 70 wasaq kurma, lalu disusul orang-orang yang menyerahkan apa pun yang dimilikinya, ada yang sedikit dan ada yang banyak. Bahkan, di antara mereka ada yang hanya menyerahkan satu atau dua mud kurma, karena memang hanya itulah yang bisa dia keluarkan. Para wanita juga datang untuk menyerahkan berbagai macam perhiasan milik mereka. Hampir tidak ada seorang pun yang menahan apa pun yang dimilikinya dan tidak merasa sayang terhadap hartanya, kecuali orang-orang munafik.

Rasulullah dan para sahabat menghabiskan waktu lima puluh hari dalam ekspedisi ini, dua puluh hari bermukim di Tabuk. Tetapi, pasukan Romawi justru nyiut nyalinya, muncul ketakutan dan kekhawatiran yang merambati hati mereka, sehingga mereka tidak berani maju atau langsung merencanakan serangan. Mereka berpencar-pencar di batas wilayah mereka sendiri.

Maka, Rasulullah memanfaatkan kesempatan in untuk mendulang kepentingan politik dengan mendatangi kabilah-kabilah di sekitar daerah Tabuk. Berbagai kabilah yang dulunya tunduk kepada kekuasaan bangsa Romawi—sebagai keputusan yang diambil para pemimpin mereka sebelum itu—meyakini sikap tadi sebagai langkah yang salah dan kini sudah habis masanya. Mereka berbalik mendukung orang-orang Muslim. Dengan begitu wilayah kekuasaan pemerintah Islam semakin bertambah luas, hingga langsung berbatasan dengan wilayah kekuasaan bangsa Romawi.

Setelah menyelesaikan agenda politik, Rasulullah dan para sahabat kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan.

Redaktur : Dhani El_Ashim

Diambil dari buku Peristiwa-Peristiwa Penting di Bulan Ramadan oleh DR Abdurrahman Al-Baghdady.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat