Demo Sudan: Energi Baru dan Seruan Keteguhan saat Ramadhan

KIBLAT.NET, Khartoum – Deretan panjang orang berkumpul untuk pertama kalinya pada malam Ramadhan di luar markas militer Sudan di Khartoum pada hari Ahad (12/05/2019). Mereka berharap bulan suci ini dapat menyuntikkan lebih banyak energi ke dalam aksi protes yang kini telah berlangsung sebulan.

Sepanjang hari telah disuarakan bahwa “Ramadhan adalah yang paling indah di alun-alun”. Ini mendorong para pemrotes untuk menunggu dan berbuka puasa di lokasi di mana mereka mulai berkemah pada tanggal 6 April untuk menuntut berakhirnya pemerintahan mantan Presiden Omar al-Bashir, hingga dia digulingkan dari kekuasaan dan diambil alih oleh dewan militer .

“Fokus bulan ini bagi masyarakat adalah memperkuat aksi duduk, protes itu sendiri memiliki efek pemersatu yang juga akan menjadikan Ramadhan ini spesial,” kata Mohammed Hayder kepada MEE.

“Di sini kita semua orang Sudan. Orang-orang dari daerah terjauh di Sudan, dari Nyala, dari utara, semua orang ada di sini di luar markas militer,” kata mahasiswa berusia 23 tahun itu.

“Kami memiliki tradisi untuk makan bersama, memiliki musaharati (penabuh genderang) dan minum Helu Mur (minuman Sudan yang biasa dikonsumsi selama Ramadhan). Selain itu kami dapat membuat semua orang di sini bersama-sama di jalan-jalan.”

Puluhan ribu minuman disediakan di lokasi protes setelah matahari terbenam, dan anak-anak disuguhi jus segar yang dituangkan ketika yang lain meneriakkan salam Ramadhan kepada orang yang lewat.

Sebuah tenda besar ber-AC didirikan di tempat duduk untuk memberikan bantuan bagi para pengunjuk rasa yang berkemah di lokasi melalui hari-hari yang panjang, di mana suhu meningkat menjadi 50 derajat Celcius selama akhir pekan.

Sudanese Professionals Association (SPA), sebuah kelompok yang telah mengorganisir protes sejak mereka mulai pada bulan Desember dan sekarang memimpin negosiasi dengan dewan militer yang berkuasa, mengundang orang untuk berbuka puasa dan berdoa di tempat duduk bersama.

“Kami juga mengundang para syekh sufi dan persaudaraan religius dan simbol-simbol seni dan teater dan olahraga dan media serta para pemimpin sipil dan semua spektrum masyarakat Sudan,” kata kelompok itu.

“Ramadhan akan lebih sulit daripada revolusi, itu akan menjadi tantangan yang lebih besar,” kata Imad al-Din (29 tahun).

“Di sini tanpa air. Kita harus bersabar di tenda-tenda dan tidak semua tenda ber-AC … tetapi orang-orang yang duduk di sini, kami rela mati seperti para martir [revolusi].”

“Sudah biasa bagi keluarga di lingkungan untuk berbuka puasa bersama di jalan pada akhir hari, dan sekarang mereka dapat melakukannya dalam skala yang lebih besar di tempat aksi,” katanya.

“Semua orang di sini akan minum dari satu cangkir, semua Sudan akan duduk bersama. Impian saya adalah untuk Ramadhan terindah di sini, di tempat protes.”

Duduk di sisi jalan di luar markas militer, Hayder mengatakan dia sudah ada di sana sejak awal aksi sebulan yang lalu. Dia menantikan lebih banyak orang bergabung dengan mereka, untuk memperkuat tuntutan para pengunjuk rasa.

Barikade yang terbuat dari batu, perabot bekas dan tempat sampah yang terbalik dibuat oleh para pemrotes pekan lalu setelah komandan kedua dewan militer Mohamed Hamdan Dagolo, yang dikenal sebagai Hemeti, mengindikasikan telah kehilangan kesabaran dengan aksi para pemrotes.

Tetapi Hayder mengatakan dia tidak khawatir terhadap tentara yang berusaha untuk menggusur para pengunjuk rasa selama bulan Ramadhan, karena tentara setempat bersama mereka dan karena para pengunjuk rasa bertekad untuk tetap tinggal.

“Rakyat ada dan akan terus berada di sini,” katanya. “Kami di sini untuk mewujudkan tuntutan kami, yang terkenal, bahwa kami menginginkan pemerintahan sipil, bukan pemerintahan militer.”

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat