... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Kontroversi Garis Keras ala Mahfud M.D.

Foto: Prof Mahfud MD.

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

Karena tambah hari tambah kendor kekuatan cultuur dan adatnja (Islam) jang mengikat mereka itu bersama-sama mendjadi satu, lama kelamaan kita akan menghadapi rupa-rupa bagiannja ummat Islam, jang telah terpisah jang satu dengan lainnja, masing-masingnja mengandung tjita-tjita kebangsaannja sendiri-sendiri (ke-Maduraann, ke-Sundaan, ke-Djawaan, ke-Lampung-an, ke-Minangkabau-an, ke-Bugisan, ke-Ambon-an, dan lain-ain sebagainja)” – H.O.S. Tjokroaminoto

KIBLAT.NET – Kutipan tokoh Sarekat Islam dan guru para pendiri bangsa tersebut pantas direnungkan kembali. Terutama jika kita ingin -meminjam istilah Bung Hatta- menukik lebih dalam mencari motivasi bersatunya suku-suku dari berbagai wilayah di Indonesia. Ikatan apa yang kiranya lebih kuat daripada ikatan agama, sehingga mereka merasa sebagai satu bagian Menggapai persatuan?

Hanya saja berbicara persatuan tampak mudah dikatakan, tetapi sulit diamalkan. Satu kejadian terakhir yang membuat panas di media sosial adalah pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Moh. Mahfud M.D.

Moh. Mahfud M.D. di sebuah stasiun televisi menyatakan sebagai berikut;

Kemarin itu sudah agak panas dan mungkin pembelahannya sekarang kalau lihat sebaran kemenangan ya mengingatkan kita untuk lebih sadar segera rekonsiliasi. Karena sekarang ini kemenangan Pak Jokowi ya menang dan mungkin sulit dibalik kemenangan itu dengan cara apapun

Tapi kalau lihat sebarannya di beberapa provinsi-provinsi yang agak panas, Pak Jokowi kalah. Dan itu diidentifikasi tempat kemenangan Pak Prabowo itu adalah diidentifikasi yang dulunya dianggap provinsi garis keras dalam hal agama misal Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh dan sebagainya, Sulawesi Selatan juga.

Saya kira rekonsiliasinya jadi lebih penting untuk menyadarkan kita bahwa bangsa ini bersatu karena kesadaran akan keberagaman dan bangsa ini hanya akan maju kalau bersatu.

Hal ini tentu saja memicu kontroversi. Berbagai tokoh mempertanyakan maksud pernyataan mantan bakal calon (yang kemudian gagal) wakil Presiden Joko Widodo tersebut. Ahli hukum tata negara menyatakan dalam akun Twitternya;

“Garis keras itu sama dgn fanatik dan sama dgn kesetiaan yang tinggi. Itu bkn hal yg dilarang, itu term politik. Sama halnya dgn garis moderat, itu bukan hal yg haram. Dua2nya boleh dan kita bs memilih yg mana pun. Sama dgn bilang Jokowi menang di daerah PDIP, Prabowo di daerah hijau.”

Dalam cuit selanjutnya ia kembali menjelaskan;

“Dlm term itu sy jg berasal dari daerah garis keras yi Madura. Madura itu sama dgn Aceh dan Bugis, disebut fanatik krn tingginya kesetiaan kpd Islam shg sulit ditaklukkan. Spt halnya konservatif, progresif, garis moderat, garis keras adl istilah2 yg biasa dipakai dlm ilmu politik.”

Di cuit lain, menanggapi pertanyaan Refrizal, politisi asal Sumatera Barat, ia menjelaskan;

“…Saya bilang, Pak Jkw kalah di provinsi yg “dulunya” adalah tempat garis keras dalam keagama. Makanya Pak Jkw perlu rekonsiliasi.”

“Sy katakan DULU-nya krn 2 alsn: 1) DULU DI/TII Kartosuwiryo di Jabar, DULU PRRI di Sumbar, DULU GAM di Aceh, DULU DI/TII Kahar Muzakkar di Sulsel. Lht di video ada kata “dulu”. Puluhan tahun terakhir sdh menyatu. Maka sy usul Pak Jkw melakukan rekonsiliasi, agar merangkul mereka.”

Profesor tersebut juga menekankan dua kata kunci pernyataan dia, yaitu “dulu” dan “rekonsiliasi.” Melihat pernyataan ini kita harus objektif melihatnya, dan mengaitkannya dengan konteks, yaitu konteks suara dalam Pilpres 2019 yang berpusat di Jawa Tengah dan Timur dan suara pendukung Prabowo yang kuat di luar Jawa terutama Sumatera, dan usulan rekonsiliasi darinya.

BACA JUGA  KH Luthfi Bashori: Saya Garda Depan Boikot Film The Santri

Namun di balik konteks tersebut, tertimbun kerancuan pernyataan mantan Menteri Pertahanan di era Gus Dur tersebut. Pertama istilah ‘garis keras’ yang ia pakai. Apa yang dimaksud garis keras? Istilah ini sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: “strategi dan taktik untuk memperjuangkan paham dan sebagainya dengan perlawanan atau oposisi.”

Istilah garis keras memang term politik yang dipakai pada beragam kelompok. Termasuk dalam kelompok sekular. Istilah ini menjadi persoalan justru ketika Mahfud mengaitkannya dengan kata agama, atau dalam konteks pernyataan dia, agama Islam. Istilah Islam Garis Keras adalah istilah yang tendensius dan memberikan persepsi negatif.

Dalam ranah akademik, jika kita berselancar menulis kata Islam garis keras pada google scholar, maka kita akan menemukan beragam tulisan di jurnal-jurnal akademik dengan tendensi yang sama: negatif. Islam garis keras dikaitkan dengan kekerasan, pengkafiran dan bahkan terorisme. Semuanya senada, memberi kesan tidak menghargai pendapat, pendiran orang lain dan memaksa pendiriannya dengan kekerasan. Apakah kesan ini yang mau disampaikan oleh Mahfud?

Profesor Mahfud tampaknya ingin lepas dari makna tersebut. Alih-alih ia mencoba mengelak dengan menjelaskan dalam cuitnya bahwa yang ia maksud dengan garis keras adalah ‘fanatik’ dan kesetiaan tinggi pada agama. Hal ini serupa saja buruknya.

Menurut ulama besar, Buya Hamka, istilah fanatik adalah istilah yang diciptakan penjajah. ““Orang Barat menimbulkan kata fanatik, karena setelah mereka menancapkan penjajahan di negeri-negeri Islam, orang Islam itu melawan. Bergelimpangan bangkai mereka terhantar ditengah medan pertempuran, namun mereka masih tetap melawan. Dan meskipun telah beratus-ratus yang syahid , namun yang tinggal masih meneruskan perlawanan.” (Hamka: 2000)

 Meski penjajahan telah sirna, nyatanya menurut ulama asal Sumatera Barat ini, istilah fanatik tetap lestari. ““Sebab alat penuduh yang bernama fanatik itu masih tinggal di negeri ini, untuk mengemplang kepala kita, (dengan) pusaka penjajah,…” (Hamka: 2000)

Bahkan Buya Hamka menegaskan,

“Tuanku Imam Bonjol melawan Belanda adalah karena fanatik. Tengku Cik Ditiro melawan Belanda adalah karena fanatik, Pangeran Diponegoro melawan Belanda adalah karena fanatik. Semuanya adalah karena fanatik. Yang habis mati bertimbun mayat, menegakkan kemerdekaan adalah orang-orang fanatik. Kalau tak ada lagi orang-orang fanatik di negeri ini, maka segala sampah, segala kurap akan masuk kemari, tidak dapat ditahan-tahan. Sayangnya orang-orang yang mempertahankan yang munkar itulah sekarang yang dengan fanatik menantang tiap orang yang ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. “ (Hamka: 2000)

Ulama lain dari Nadhlatul Ulama, K.H. Wahid Hasyim mengungkapkan hal senada. Timbulnya istilah tak lepas dari penjajahan. “…timbulnya perkataan ta’asshub (fanatisme) di dalam kalangan Islam ialah setelah orang Barat,merasa tidak dapat menembus keteguhan pendirian umat Islam dengan cara hujjah, lalu menuduh ummat Islam adalah fanatik. “

Padahal orang yang memakai istilah fanatik pada umat Islam sebenarnya juga sedang fanatik terhadap pahamnya. Putra pendiri Nadhlatul Ulama ini mempertanyakan hal tersebut.

“Bukan mereka sendirikah yang fanatik terhadap kebiasaan, kepercayaan, untuk mempertahankan kepentingan-kepentingan mereka sungguh luar biasa sekali? Jadi tuduhan orang Barat melemparkan kata-kata fanatik kepada umat Islam semata-mata seperti siasat perang, mengadakan tembakan-tembakan pancingan, dan dengan demikian dapat diketahui mana-mana yang lemah,…” (K.H. Wahid Hasyim: 1985)

BACA JUGA  Ali Syari'ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Seperti juga Buya Hamka, K.H. Wahid Hasyim mengingatkan betapa istilah fanatik tetap digaungkan selepas masa penjajahan.

“…golongan modern ini ma’mum pada orang-orang Barat. dengan pendirian yang teguh pula. Sebenarnya mereka ini juga fanatik, akan tetapi tidak pada Islam, hanya kepada orang-orang Barat. Akan tetapi mereka juga tidak suka dinamakan fanatik, dan menamakan dirinya,’ modern’, ‘progressif.” (K.H. Wahid Hasyim: 1985)

Oleh sebab itu, istilah fanatik menurut K.H. Wahid Hasyim orang yang memegang teguh pendirian bukanlah ta’assub (fanatik). “Tetapi yang demikian itu adalah kesatriaan dan memegang dengan perasaan tanggung jawab yang penuh. “ (K.H. Wahid Hasyim: 1985)

Persoalan lain yang bersarang dalam pernyataan Mahfud M.D adalah memberi contoh garis keras atau fanatik agama pada pergolakan di era 1950-an, dalam hal ini mengaitkan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan agama Islam.

PRRI bukanlah pergolakan atas landasan agama. Benar bahwa tokoh Islam seperti Moh. Natsir dan Sjafruddin Prawiranegara terlibat dalam PRRI. Tetapi PRRI di Sumatera, seperti pergolakan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) di Sulawesi, lahir dari ketidakpuasan daerah terhadap pemerintahan pusat. (Venjte H.N. Sumual: 2011).

Ketidakpuasan ini termasuk penolakan daerah terhadap pemerintah pusat yang semakin dekat dengan kelompok komunis pada masa itu. Akhirnya sejumlah pemimpin militer melakukan inisiasi di daerah masing-masing. (Venjte H.N. Sumual: 2011) Gerakan koreksi terhadap pemerintah pusat tersebut dapat disimpulkan bukanlah gerakan agama. Dan perlu diingat, gerakan semacam PRRI dan Permesta tidak pernah menghendaki pemisahan diri dari Republik Indonesia.

Tokoh Permesta.

Lagipula seorang tokoh Permesta sekaligus PRRI adalah Ventje Sumual, seorang perwira militer yang disebut Soekarno sebagai brilian. Ventje adalah perwira militer beragama Kristen dan berasal dari Sulawesi Utara. Apakah mungkin gerakan berlandaskan agama Islam dipimpin oleh perwira militer Kristen?

Ketidakpahaman Prof. Mahfud M.D. menilai PRRI tentu saja berdampak fatal. Ia gagal ‘memahami’ bahwa gerakan semacam PRRI adalah gerakan ketidakpuasan daerah (luar Jawa) terhadap pemerintah pusat di Jawa. Mahfud gagal melihat bahwa pergolakan daerah di masa lalu adalah persoalan ketidakadilan dan ketidakpuasan yang tidak remeh.

Bagaimana mungkin ia menjalankan fungsinya sebagai ahli hukum tata negara sekaligus anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, jika ia gagal memahami konstelasi politik penting yang pernah terjadi di Indonesia. Bagaimana mungkin ia memahami aspirasi masyarakat luar Jawa, jika ia keliru memandang sejarahnya?

Indonesia dirajut atas kesediaan berbagai pihak untuk berdiri dalam satu naungan republik. Dibutuhkan ikatan yang kuat untuk menyatukan berbagai pihak yang berbeda tersebut. Maka ikatan Islam-lah yang mula-mula menyatukan banyak wilayah di Indonesia.

Maka benarlah pernyataan tokoh Islam, H.O.S. Tjokroaminoto, bahwa Islam-lah yang mengikat berbagai perbedaan ini. Semakin lemah ke-Islaman, maka semakin longgar ikatan di Indonesia. Tanpa Islam akan rontoklah naungan bernama Indonesia ini.

Sayangnya, pernyataan Mahfud jauh panggang dari api. Ia malah memakai istilah yang rancu dan negatif terhadap ghirah umat Islam di luar Jawa. Indonesia sudah dihadapi krisis legitimasi kepemimpinan dengan mekanisme sistem pemilihan presiden yang mengabaikan pemerataan suara, terutama suara diluar Pulau Jawa. Kini Pernyataan Prof Mahfud malah semakin membuat situasi menjadi rumit. Alih-alih merekatkan ia malah meretakkan Indonesia yang tengah bersuhu panas ini.

Maka rekonsiliasi apa yang Anda maksudkan, Prof?

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Korban Meninggal Banjir dan Longsor Bengkulu Capai 29 Orang

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho memaparkan bahwa korban bencana di Bengkulu mencapai 29 orang meninggal

Senin, 29/04/2019 14:46 0

Indonesia

Dr. Tiar Anwar Bachtiar: Politik Islam di Indonesia Baru Sebatas Wacana

Dr. Tiar menjelaskan selama ini politik Islam di Indonesia baru sebatas wacana atau ideologi saja, tetapi belum ada implementasinya.

Senin, 29/04/2019 14:16 0

News

Laporan: Tentara Bayaran dari Irak Pergi ke Libya untuk Bantu Haftar

Haftar menerima dukungan militer dan politik dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir.

Senin, 29/04/2019 13:27 0

Indonesia

Pemerintahan Islam Akan Mudah Diaplikasikan Jika Banyak Kajian Ilmu Politik Islam

"Sudah saatnya harus lahir sarjana-sarjana politik Islam, bukan sekadar terjun ke politik praktis tetapi harus melahirkan riset politik Islam"

Senin, 29/04/2019 11:55 0

Amerika

Tak Lagi Dipercaya, Kepala Penjara Guantanamo Dipecat

Sejak menjadi seorang komandan, Ring berulang kali melakukan komplain tentang kondisi yang memburuk di penjara dan tantangan yang dihadapinya ketika berhadapan dengan tahanan yang sudah lanjut usia.

Senin, 29/04/2019 11:34 0

Amerika

Trump: Mereka Kaya, Saya Tidak Akan “Melepaskan” Arab Saudi

"Mereka tidak punya apa-apa selain uang tunai, kan?" katanya kepada orang banyak. "Mereka membeli banyak dari kita, $ 450 miliar yang mereka beli."

Senin, 29/04/2019 11:00 0

Indonesia

17 Orang Meninggal Akibat Banjir dan Longsor Bengkulu

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa korban meninggal pasca banjir dan longsor di Bengkulu terus bertambah.

Senin, 29/04/2019 10:23 0

Video News

Pengakuan Sang Putra Tentang Meninggalnya Ketua KPPS

KIBLAT.NET- JAKARTA- Hilarius Hendra Hermawan putra pertama dari ketua KPPS Fransiskus Asis Ismantara, menjelaskan bagaimana...

Senin, 29/04/2019 10:04 0

Indonesia

Simpatisan Jokowi Siapkan Uang 100 Milyar Bagi yang Membuktikan Kecurangan Pemilu

koalisi ini mengaku telah menyiapkan uang 100 Milyar bagi siapapun yang bisa menjawab tantangan tersebut.

Senin, 29/04/2019 09:19 0

Wilayah Lain

Sri Lanka Larang Pemakaian Cadar

"Larangan itu untuk memastikan keamanan nasional. Tidak boleh seorang pun menutupi wajah dengan cara yang tidak dapat dikenali," kata pernyataan tersebut.

Senin, 29/04/2019 07:54 0

Close