... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Muslim Krimea di Bawah Ancaman Persekusi dan Pengusiran Rusia

Foto: Muslim Krimea

KIBLAT.NET – Rusia sudah lama menargetkan komunitas Tatars dengan berbagai macam ancaman termasuk penahanan secara ilegal dan ancaman-ancaman lainnya. Rusia bahkan ingin mengusir mereka keluar dari Krimea. Namun demikian, etnis minoritas Muslim tersebut tetap bertahan menolak untuk menerima kedaulatan Moskow.

Rusia Aneksasi Krimea

Tidak lama setelah Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea, Ukraina bagian timur pada bulan Maret 2014, Moskow melancarkan berbagai operasi dan tindakan represif ke wilayah minoritas Muslim Turkis yang dikenal sebagai Tatars. Sementara istilah Turkis merujuk pada sub-etnis atau komunitas ras dan bahasa yang lebih besar pada era Khilafah Utsmani, bukan negara Turki modern hari ini.

Di tengah keprihatinan Uni Eropa terhadap tindakan represif Rusia yang menahan banyak warga Tatars secara ilegal di wilayah yang dicaplok Moskow itu, sebenarnya agresi terhadap komunitas Muslim tersebut bukanlah sebuah fenomena baru. Dalam sejarahnya, imperialis Rusia hampir selalu memusuhi Muslim Tatars. Ketika kaisar Catherine II menguasai Kesultanan Krimea di tahun 1783, komunitas Tatars menghadapi penindasan secara sistematis. Seabad kemudian, brutalisme terhadap bangsa Tatars semakin meningkat ketika Joseph Stalin memimpin bekas negara Uni Soviet. Sejak itu, Tatars terus mengalami tekanan dan penindasan yang sangat kejam.

“Dan hari ini Rusia melakukan hal yang tidak jauh beda, tetapi dengan cara pelan-pelan namun mematikan,” kata Riza Shevkiyev yang mengetuai Crimea Fund, sebuah lembaga finansial, sayap organisasi induk MejlisMejlis sendiri merupakan badan pemerintahan otonomi yang dibentuk pasca ambruknya Uni Soviet yang belum genap berusia seratus tahun. Selama ini badan otonomi Mejlis ikut berperan aktif dalam menentukan arah politik nasional Ukraina. Tetapi sejak Rusia mencaplok dan menguasai Semenanjung Krimea pada tahun 2014, Moskow melarang keberadaan Mejlis.

Dalam satu peristiwa, pasukan pro-Rusia mengepung dan menduduki kantor pusat Mejlis saat agresi Rusia tahun 2014, dan dua tahun kemudian lembaga peradilan tertinggi yang dibentuk Rusia di wilayah itu melarang Mejlis.

Shevkiyev pergi meninggalkan Krimea pada bulan Januari 2015 setelah diinformasikan bahwa ia akan ditangkap apabila tetap berada di Krimea. Dalam sebuah wawancara terbaru dengan TRT World, ia menyatakan bahwa ada puluhan dakwaan rekayasa di pengadilan terhadap dirinya di Krimea, beberapa di antara kasusnya tersebut masih belum terselesaikan hingga hari ini.

Penahanan Tidak Sah

“Para tokoh pemimpin dan aktifis Tatar di Krimea ditahan secara tidak sah dan mereka diancam dengan ancaman dakwaan kejahatan,” kata Shevkiyev sambil mengernyitkan alis matanya.

Di belakang Shevkiyev terlihat bendera Krimea menggantung di dinding kantornya, terbuat dari kanvas biru yang menjadi warna tradisional orang-orang Turkis lengkap dengan stempel Tamga warna keemasan yang menjadi simbol orang-orang nomadik Euroasia jaman dahulu. Simbol yang tergambar di bendera Krimea merujuk pada Girays, yaitu dinasti penguasa yang memerintah kesultanan Krimea oleh para Khan saat itu. Bendera ini juga yang dianggap memiliki sejarah panjang dan dijadikan simbol perjuangan Mejlis.

“Saya masih ingat suatu hari ketika kantor pusat Mejlis yang ada di Simferopol dikepung dan digeledah oleh puluhan aparat keamanan pro-Rusia yang sedang mabuk, menggunakan penutup wajah dan membawa senjata. Mereka mengganti seluruh simbol/bendera Krimea dan Ukraina dengan bendera Rusia,” kata Shevkiyev mengingat peristiwa itu.

Aksi penggerebekan tersebut terjadi persis setelah referendum Krimea yang diboikot secara luas oleh warga Tartars itu dinyatakan selesai. Hari berikutnya, polisi mengumumkan akan menyita aset dan properti milik Yayasan Krimea.

BACA JUGA  Ali Syari'ati: Pemikir Syiah yang Dibenci Syiah

Banyak aktifis mengkritik cara pendekatan tangan besi Rusia terhadap Muslim Tatars, sebuah komunitas yang terus gigih menentang aneksasi Rusia di Semenanjung Krimea. Di tengah aksi penangkapan-penangkapan dan situasi ketakutan yang ditebar Moskow, banyak warga Tatars yang memilih pergi meninggalkan Krimea dan menyelamatkan diri di kota-kota Ukraina lainnya.

Hidup dalam situasi ketidakpastian akibat kebijakan represif Moskow, banyak warga Tartars yang hidup saat ini teringat dengan era Stalin ketika bapak-bapak mereka dijadikan target deportasi masal yang dilakukan secara terkoordinasi ke negara-negara Asia Tengah, dari Uzbekistan hingga Kazakhstan. Setiap keluarga Tatars Krimea punya kisah tragis yang terkait dengan sejarah kelam tersebut.

Karena adanya protes masif yang dikoordinir oleh komunitas aktifis akhirnya Tatars Krimea dibolehkan kembali ke tanah air mereka di Semenanjung Krimea pada tahun 1980an. Sayangnya, setelah 70 tahun kepulangan mereka di negeri mereka sendiri, sejarah sepertinya kembali terulang.

Persekusi Berdalih Isu Terorisme

Represi yang dialami warga minoritas Muslim Tatars saat ini disikapi berbeda di Rusia, terutama di Krimea. Pihak berwenang Rusia secara sengaja menganggap aktifitas Tatars sebagai terorisme. Dengan mengenakan sebuah pin Tamga di kerah bajunya, Shevkiyev mengungkapkan keprihatinannya bahwa penggambaran aktivitas masyarakat Tatars Krimea yang aktif secara politik sebagai ekstrimis dan teroris telah mematikan otonomi politik, sebaliknya memberikan legitimasi terhadap penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan.

“Rusia selalu memainkan kartu ‘ekstrimisme dan terorisme’ untuk membungkam setiap perkumpulan, memberangus media, dan menutup fasilitas-fasilitas pemerintah,” kata Shevkiyev menerangkan.

Sejak 2014, Tatars Krimea terus berada di bawah tekanan luar biasa Rusia, dan kecuali Turki, negara-negara mayoritas Muslim selama ini bersikap diam atas situasi tersebut. “Berbagai persekusi dan kebijakan represif yang dilakukan pihak berwenang penjajah (Rusia) memunculkan sebuah ancaman akan keberadaan Tatars Krimea sebagai sebuah bangsa,” kata Shevkiyev yang berbicara pelan-pelan dalam bahasa Rusia.

Dengan dalih atau tudingan ‘ekstrimisme’ itu, Moskow melarang buku-buku terkait Islam, dan (sebaliknya) memperkenalkan buku-buku sejarah yang isinya menghasut kebencian etnis terhadap komunitas Tatars di Krimea.

Ancaman Eksistensial Identitas Tatars

“Kami tidak bisa membayangkan bahwa perang akan berdampak begitu panjang. Anak-anak yang sudah berusia lima tahun akan tumbuh dengan mentalitas Rusia. Mereka tidak akan mampu menghadapi propaganda Kremlin. Kami dulu di deportasi dan tinggal di Uzbekistan dan Kazakhstan, dan kami tetap berupaya menjaga budaya, bahasa, dan kesadaran karena orang-orang tua kami menanamkan bahwa Krimea adalah tanah air kami dan kami harus kembali,” kata Shevkiyev.

Dan sekarang, dengan kedatangan Rusia menjajah Krimea, masyarakat Tatars akan semakin terpinggirkan. “Persekusi dan tudingan terkait terorisme yang tidak berdasar itu mengancam identitas kami,” kata Shevkiyev. Kelompok etnnis Tatars Krimea mulai menerima Islam di pertengahan abad ke-14. Ketika Rusia ekspansi pada tahun 1783, banyak di antara orang-orang Tatars yang hijrah menyelamatkan identitas agama mereka ke Turki Utsmani.

Banyak orang-orang Tatars yang taat beragama didakwa dengan tudingan terorisme dan menjadi anggota Hizbut Tahrir, organisasi Islam yang sudah dilarang di Rusia sejak tahun 2004, bukan di Ukraina.

“Tatars Krimea bukan teroris,” kata Said Ismagilov, pria 40 tahun yang menjadi mufti bagi komunitas Muslim di Ukraina sekaligus salah satu tokoh Islam di negara tersebut. “Mereka hidup dalam ketidakpastian dan kebingungan mengenahi masa depan mereka. Di wilayah terjajah seperti Krimea dan Donbass, situasi semakin sulit karena Rusia semakin represif. Masjid-masjid dipaksa tutup, orang-orang ditangkap dan dipenjarakan di wilayah ini. Di Krimea, orang-orang Muslim diculik dan dibunuh dengan dalih terlibat atau terkait ekstrimisme agama,” kata Ismagilov.

BACA JUGA  Hukum Perang Islam Ternyata Tak Menyelisihi Hukum Perang Internasional

Sebagai etnis Tatars yang terlahir di Donets, Ismagilov tinggal di kota Kiev sejak September 2014. Orang-orang Muslim yang hidup dalam tekanan di Ukraina timur, terutama para imam dan pemimpin Tatars, mereka hidup di komunitas masyarakat yang memiliki ikatan sangat kuat. Hal ini dianggap sebagai sebuah ancaman bagi otoritas Rusia yang kemudian menerapkan kebijakan melarang masyarakat berkumpul secara kolektif dengan dalih terkait ‘ekstrimisme agama’.

Persekusi terhadap Praktik Agama

“Situasi di Krimea sungguh menyakitkan. Semua Muslim berusaha untuk bisa bertahan. Rusia secara terbuka menerapkan kebijakan represif, dan ingin mengubah Krimea menjadi sebuah kawasan basis militer. Mereka menggunakan segala cara untuk memastikan pihak atau orang-orang yang tidak bisa menerima (kebijakan Rusia) akan pergi meninggalkan Krimea. Kami berusaha komunikasi dengan orang-orang Muslim di Krimea melalui internet. Tidak ada sambungan telepon langsung, di samping bahwa itu bukan cara yang aman. Mereka menyampaikan kepada kami tentang masalah-masalah mereka, dan kami mencoba membantu sebisa mungkin,” kata Ismagilov dengan nada agak frustrasi.

Aneksasi atau pencaplokan wilayah secara ilegal Rusia di Krimea bahkan ikut mempengaruhi sikap penduduk Rusia terhadap komunitas Tatars Krimea. Suzanna Ismailova menceritakan pengalamannya ketika travelling ke desa-desa di Krimea untuk memberikan edukasi bagi orang-orang asli Tatars yang pulang ke tanah air mereka dari Ural, Tashkent, dan Kazakhstan, akibat kebijakan deportasi Rusia tahun 1944.

“Seluruh anggota keluarga besar kami yang tinggal di daerah-daerah tersebut mengalami hidup yang sulit untuk mempraktekkan ajaran Islam secara penuh. Setelah Rusia masuk dan menguasai Semenanjung Krimea, penduduk Rusia dan warga sekitar berubah jadi agresif,” kata Ismailova yang mengkhawatirkan kondisi keluarganya.

Sebagai seorang ibu enam anak yang kini berusia 40 tahun, Ismailova terlihat lembut dengan kerudung birunya. Ia adalah pendiri organisasi Maryam, sebuah organisasi kewanitaan bagi Muslimah di Krimea. Selain itu, Ismailova juga menjadi anggota aktif di Pusat Budaya Islam di ibukota Kiev.

Secercah Harapan

Di era Soviet, kami sebagai sebuah bangsa mengalami tekanan luar biasa dari pemerintah, dan ketika kami dipaksa deportasi ke kota-kota yang berbeda di sejumlah negara Asia Tengah, bangsa Tatars lupa bagaimana mempraktekkan Islam. Meskipun demikian, mereka tetap memegang teguh tradisi dan agama mereka, dan itu membuat kami bersatu kembali ke identitas kami,” kata Ismailova.

Meskipun Rusia terus agresif mengeksploitasi narasi-narasi bernada rasis dan anti-Muslim seperti yang berkembang di Barat, dan juga mereka (Rusia) mengancam identitas Tatars sebagaimana yang dilakukan penganut Stalinisme, banyak warga Muslim Tatars termasuk Ismailova masih memancarkan harapan bagi masa depan mereka.

“Persekusi agama ini bahkan membuat kami semakin kuat dan bersatu,” kata Ismailova sambil tersenyum lebar di wajahnya. “Dan saya tahu, suatu hari nanti kami akan pulang kembali ke tanah air kami, dan Krimea akan kembali ke pangkuan Ukraina,” pungkasnya.

Sumber: TRT World
Penerjemah: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ratusan Petugas KPPS Meninggal, Din Syamsuddin: Sistem Pemilu Harus Direvisi

"Ini harus segera direvisi. Bahkan MUI akan mendesak bahkan bila perlu memberikan prakarsa untuk kelurusan kiblat bangsa ini terkait dengan politik"

Kamis, 25/04/2019 10:43 0

Afrika

Balas Pembantaian Etnis Muslim Fulani, JNIM Serbu Kamp Militer Mali

Organisasi bersenjata yang terbentuk dari aliansi kelompok-kelompok jihad ini menekankan bahwa operasi itu sebagai pembalasan atas pembantaian 160 etnis Muslim Fulani bulan lalu. Pembantaian itu dilakukan oleh etnis yang didukung oleh militer pemerinta.

Kamis, 25/04/2019 08:37 0

Indonesia

Banyak Petugas TPS Meninggal, KSHUMI Duga Ada Kelalaian KPU

Ketua Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI) Chandra Purna Irawan menanggapi banyaknya petugas TPS yang meninggal

Rabu, 24/04/2019 21:40 0

Indonesia

Petinggi KPU Bisa Dipidana Terkait Salah Input Data

Ketua Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI) Chandra Purna Irawan menyatakan perlunya proses pidana dilakukan terhadap petinggi Komisi Pemilihan Umum (KPU)

Rabu, 24/04/2019 21:13 1

Opini

Merenungi Harga Mahal Demokrasi

Sebagai seorang muslim, mungkin kita harus memikirkan kembali kelayakan demokrasi untuk dihargai semahal ini.

Rabu, 24/04/2019 18:13 0

Amerika

Lawan Islamofobia, Wanita Ini Nekat Pose Berjilbab di Depan Massa Anti-Islam

Foto Shaymaa Ismaa'eel yang berpose di depan pemrotes anti-Muslim menjadi viral di media sosial. Dia mengaku sempat dicegah petugas ketika hendak melakukannya, namun justru membuatnya semakin termotivasi. 

Rabu, 24/04/2019 17:36 0

Video Kajian

Ust. Tri Asmoro: Pandai Mengelola Perubahan Peran dalam Kehidupan

KIBLAT.NET- Sebenarnya tanpa kita sadari kehidupan ini hanyalah perubahan-perubahan peran. Terkadang di satu sisi, seseorang...

Rabu, 24/04/2019 17:18 0

Indonesia

FPI Poso Tuntut UNSIMAR Pecat Dosen Karena Dianggap Hina HRS

Front Pembela Islam (FPI) Poso mendesak pihak Universitas Sintuwu Maroso (UNSIMAR) untuk memecat salah satu dosennya karena dianggap menghina sejumlah tokoh. 

Rabu, 24/04/2019 17:07 0

Indonesia

Banyak Korban Jiwa Berjatuhan, Ketua DPR Kritisi Pemilu 2019

Dilaporkan puluhan petugas penyelenggara Pemilu 2019 meninggal ketika menjalankan tugasnya.

Rabu, 24/04/2019 15:43 0

China

AS dan Cina Lanjutkan Perundingan untuk Akhiri Perang Dagang

Pembicaraan untuk perdagangan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Cina akan dilanjutkan minggu depan, setelah dua negara dengan ekonomi besar itu hampir mencapai kesepakatan.

Rabu, 24/04/2019 15:11 0

Close